Visitor

Wednesday, April 16, 2014

Materi Tauhid Sesi 14: Bicara Tauhid, Bicara Keyakinan

Jawab Panggilan

Apakah kita termasuk yang dipanggil-Nya?
Apakah kita tahu bahwa kita termasuk yang dipanggil-Nya?
Apakah kita termasuk yang memenuhi panggilan-Nya?
Coba marilah kita jawab bersama, dengan jawaban yang jujur.


Ketika diabsen guru, satu demi satu anak menjawab, “Hadir, pak!”

Sesungguhnya, ketika azan memanggil, bolehlah kita sebut “Allah sedang mengabsen kita”. Banyak di antara kita yang tidak bisa menjawab panggilan adzan, bukan karena dia tidak mendengar. Tapi lebih dikarenakan dia tidak di dalam masjid/mushalla/tempat shalat.

Ibarat anak yang sedang diabsen gurunya, meski namanya sama, dan dia dengar dari luar kelas, tentu dia tidak akan menyahut. Sebab dia tidak berada di kelas itu. Kiranya, demikianlah juga adanya analogi adzan dan jawaban adzan.

Indah betul rasanya bila kemudian kita bisa menjawab: Allahu akbar, Allahu akbar. Yang begini ini sebab muadzin mengucapkan kalimat Allahu akbar, Allahu akbar. Kecuali hayya ‘alashsholaah dan hayya ‘alal falaah, jawaban yang lain, sama dengan kalimatnya muadzin.

Bayangkan Allah sedang mengabsen kita, lalu kita mengacungkan tangan, “Saya sudah di sini ya Allah...”
Subhanallah.

Dan sekarang bayangkan juga betapa sedihnya hati kita bila kemudian Allah mengabsen, tapi kita masih di pasar, masih meeting, masih makan minum, masih di kantor, masih di kampus, masih di perjalanan. Rugi sekali kita ini. Kita tidak bersama-sama dengan orang yang bersama Allah.


Budek Ya

Bila tidak punya anak, maka kita sungguh akan senang bila kita memanggil anak kita dan anak kita menjawab panggilan kita. Dan sebaliknya, kita akan sebal manakala kita tahu anak kita mendengar panggilan kita, namun ia tidak menjawab panggilan kita.

Sebagai orangtua, hal yang biasa bila kita memanggil anak kita. Dan sebagai orangtua, adakalanya kita memanggil anak, lalu anak segera bergegas menuju kita, dan adakalanya dia lebih peduli dengan kegiatannya.
Pada saat anak kita menjawab panggilan kita, kita senang. Dan bila anak kita tidak menjawab panggilan kita, kita kemudian menjadi tidak senang.

Ada juga anak yang menjawab tapi seperti tidak menjawab. Misalkan anak kita sedang main gitar di depan rumah, atau sedang menggambar. Kita panggil, dia nyahut. Tapi kita tunggu beberapa lama, dia yang sudah nyahut, tapi tidak kunjung datang. Sebab sibuk dengan gitar atau asyik dengan menggambarnya.

Kita panggil lagi. Lalu dia tidak nyahut lagi. Akhirnya kita samperin. Begitu kita samperin, barulah kemudian anak kita berdiri dan meninggalkan kegiatannya.

Begitulah kita kepada Allah.

Ada juga bahkan anak yang tidak sedikit kesal karena dipanggil sama kita orangtuanya. Panggilan kita dianggap mengganggu mainnya, mengganggu aktivitasnya.

Masya Allah, kita pun kadang suka begini. Lihat saja, sebagian dari kita malah berkata begini: “Ya Allah, sudah Ashar lagi aja...”

Terhadap anak yang tidak mendengar panggilan kita, kita lalu berkata begini ke anak kita: “Budek ya...”
Jika demikian, apa kira-kira perkataan Allah kepada kita, ketika dipanggil oleh-Nya lalu kita tidak bergegas memenuhi panggilan-Nya?


Tidak Bergegas

Jika kita memanggil anak kita, kita akan bertambah senang bila anak kita bukan sekadar menjawab panggilan kita, tapi bergegas memenuhi panggilan kita.

Kelakuan manusia sekitar kita, adalah kelakuan kita. Tidak jarang kita dimudahkan Allah untuk berkaca tentang kelakuan kita dari melihat kelakuan orang lain. Khusus perihal shalat, kita sering melihat, langkah kita adalah seperti bukan langkah yang mengenal Allah. Sudah mah tidak bergegas, kelakuan kita pun ampun. Tidak mencerminkan sedang ditunggu Allah. Seakan-akan benar-benar kita tidak tahu siapa yang sedang menunggu kita. Astaghfirullah. Saya pun yang menulis ini termasuk dari yang disebut ini.

Lihat saja kelakuan kita. Di pinggir masjid, di teras, kita masih “tega” merokok dulu, menghabiskan batang rokok yang masih tanggung kita hisap belum habis. Ada lagi orang yang jalan menuju Allah sambil ngobrol cekikikan, dan jalan dengan teramat pelan. Ada lagi yang sudah komat, masih terima bbm. Ada yang kemudian sampai mengganggu jamaah lainnya karena lupa mematikan hp. Ada lagi yang kemudian tidak merapikan pergelangan lengan bajunya. Ada yang mengendorkan dasinya. Ada yang mengeluarkan bajunya padahal sudah rapi sebelum masuk masjid. Dia jadi celaka, sebab dia buang air kecil sebelum wudhu. Itulah sebab ia tidak merapikan lagi pakaiannya. Dan ini yang miris, yang sering saya perhatikan juga sambil menunjuk diri sendiri—habis salam yang dicari-cari bukan Al-Qur’an tapi malah hp. Baru aja selesai shalat, udah megang-megang hp aja.

Ada yang berkata, “Saya nggak gitu kok”.

Kalau nggak begitu, ya bagus. Tetapi buat yang senyam-senyum pertanda pernah kayak gini, mikir coba. Ketika kita menghadap pimpinan atau bos, coba kalau sambil ngobrol atau meeting terus malah smsan, pasti dimarahi kan? Lalu bagaimana ketika kita shalat? Waktu shalat Subuh rasanya berat sekali, kita nggak tahan kantuknya. Apalagi imamnya bacanya panjang bener. Udah deh, yang ada kita merem-merem sambil nguap terus. Beda banget perlakuannya sama bos kita. Tapi tidak untuk Allah. Kita tidak seperti itu ke Allah pada saat shalat. 

No comments:

Post a Comment