Visitor

Tuesday, April 15, 2014

Materi Tauhid Sesi 13: Romantisme Bertauhid

Supirnya Ustadz Yusuf Mansur

Saya izin kutip keseluruhan isi tulisan beliau ya. Mohon jangan keberatan. Soalnya saya udah agak ngantuk juga nih, hehehe.

Kita tidak mengenal Allah. Itu yang menyebabkan kita tidak menyambut kedatangan-Nya. Tidak di shalat fardhu, dan lebih tidak lagi di shalat tahajjud. Beruntunglah orang-orang yang tahu bahwa Allah itu selalu datang. Datang dengan segala karunia-Nya, datang dengan segala pertolongan-Nya.

Untuk kemudahan berkendaraan, Allah karuniakan saya supir. Saya tidak menganggap supir saya ini lebih rendah dari saya. Malah saya seringkali membesarkan hatinya, bahwa ke mana saya ceramah, maka dia dapet juga pahala kebaikannya. Asal dia mau membaca basmallah dan berdoa agar amalan ceramah saya, pun ia dapatkan. Saya pun mendorong supir saya untuk menghafalkan Al-Qur’an. Saban waktu hafalannya nambah. Alhamdulillah.

Namun, ketika saya tidak mendapati supir saya tepat waktu, tidak kurang saya pun suka terbesit rasa kesal. “Bagaimana sih? Udah tahu mau jalan, kok malah nggak ada?” begitu saya berpikir.

Di satu waktu, saya memberitahu supir saya, agar dia standby langsung di depan lobi satu tempat, sebab sudah akan jalan lagi ke tempat yang lain. Dan saya sudah wanti-wanti dengan sangat. Yang demikian itu, agar tidak jadi hambatan bagi perjalanan saya. Tapi rupanya dia tidak mengindahkan. Begitu saya keluar, dia tidak ada. Begitu saya telepon, katanya sedang antar saudara saya ke depan jalan utama, mencari taksi. Saya “marah”, namun bersabar rasanya lebih baik. Karena saya tidak bisa menunggu lebih lama, saya bilang sama dia sambil bercanda ngilangin kesal, saya naik taksi juga dah. Dan dia saya suruh pulang. Ada suara bersalah di ujung seberang hp sana. Namun saya tidak mau berlama-lama lagi. Saya tutup teleponnya dan saya segera mencari taksi. Sebelum taksi yang saya pesan sampe, supir saya sudah datang dan meminta maaf.

Sekarang saya sadar, bahwa selama ini saya sering mengecewakan Allah. Tuhan saya yang sudah demikian baik kepada saya, kepada keluarga saya, kepada semua manusia, tidak memandang apakah manusia itu beriman atau tidak. Dan sekarang saya membiarkan Allah menunggu saya.

Saya tidak dapat membayangkan, andai yang mengucapkan kalimat, “Tunggu ya pak!” adalah supir saya.
Ya, ketika saya perlu dia, dia lalu mengatakan itu. Lebih konyol lagi kalau dia bilang, “Pak, kalau nggak sabar, silakan naik taksi aja. Saya mau makan dulu.”

Wuih, saya tidak dapat membayangkan, apa yang saya akan lakukan terhadap supir saya itu. Lebih lagi saya tidak mampu membayangkan jika sayalah yang menjadi supir buat majikan saya. Saya harus selalu standby untuk majikan saya. Lalu kenapa kita tidak pernah siap siaga untuk Allah, Tuhan kita?

Disebut siap siaga bila kita selalu stel panca indera kita. Kita, menjadi weker, atau alarm, untuk diri kita sendiri. Selalu waspada setiap waktu shalat datang. Syukur-syukur bila kita mau menjaga wudhu kita. Jadi, nggak perlu mengantri ketika saat shalat datang. Makin cepat kita datang ke Allah, rasanya hidup kita akan didahulukan ketimbang orang-orang yang selalu telat datangnya. Makin kita bergegas menuju jalan Allah, menyambut Allah, doa-doa kita pun akan semakin cepat dikabulkan, masalah-masalah kalau datang cepat selesainya, hajat kalau ada bisa Allah segerakan pencapaiannya. Tapi apa boleh buat. Selama ini kita menyadari bahwa sama yang namanya shalat, kita jarang mementingkannya.

Adalah lucu kita menginginkan rezeki-Nya, namun tiada mau mendekatkan diri kepada-Nya. Sedang semua urusan juga akan kembali kepada-Nya.

Belajar apa kita dari cerita di atas?

Bahwa apa pun yang ingin kita kejar di dunia ini adalah semata-mata karena izin Allah. Kalau kita ingin disayang Allah, ingin diistimewakan, maka marilah kita beromantis-romantis dengan-Nya. Dengan banyak cara. Dengan banyak metode. Salah satunya adalah dengan menegakkan kalimat tauhid itu sendiri. Merasa diperhatikan oleh Allah. Merasa selalu diawasi oleh Allah. Dan tidak pernah merasa sendiri. Setiap kali sedih, kecewa, bingung, langsung curhat ke Allah. Itu indah. Allah selalu ada untuk kita. Mau bagaimana pun keadaannya, Allah dengarkan. Walaupun orang awam mengatakan, “Kalau kita curhat ke Allah, kan kayak curhat sama tembok, kayak ngomong sendiri. Soalnya wujud Allah tidak ada.”

Nah. Nah. Lagi-lagi ini yang bahaya. Kadang, kita ini suka dibodohi sama diri sendiri. Saya bilangnya begitu dah. Saya pernah diceritain langsung sama seorang yang awam itu. Saya bilang dia awam supaya kesannya nggak menghina dia. Ya, sebut saja begitu. Dia sendiri yang bilang ke saya kalau, bagaimana dia mau percaya Allah dengerin cerita dia kalau dia nggak bisa ngelihat Allah?

Dan saya mengembalikkan pada diri saya sendiri. Ketika masalah menghadang, kalau saya cerita sama orang, yang ada masalah tambah banyak. Misalnya, orang itu nyebarin ke orang lain lagi. Orang yang saya ceritakan malah ngomelin saya. Orang itu malah bikin saya tambah down. Coba kalau ceritanya sama Allah, apa Allah akan mengecewakan kita? Kagak.

Itulah kenapa saya menganjurkan kita untuk cerita apa-apanya sama Dia aja. Bebas dah. Cerita sendal putus dijalan juga gapapa diceritain. Allah kan yang paling tahu hati kita. Entah itu sedang marah, bosan, bete, kesal, kecewa, senang, dan semua perasaan hati, Allah tahu. Dengan begitu, kita akan terbiasa untuk bergantung pada Allah. Padahal mungkin ini sepele. Tapi inilah tauhid. Jika kita sudah berhasil merasa takut jika berbuat dosa karena merasa Allah perhatikan, kita sudah masuk pada tahap di mana tauhid itu mulai ada di hati kita. Karena jika orang-orang itu biasa-biasa saja berbuat dosa, mereka merasa aman-aman saja, bisa jadi mereka juga tidak takut sama sekali sama Allah. Ini adalah kebalikannya dari sifat mukhlis.

Nah teman-teman. Ibarat kata pernikahan. Orang beriman yang bisa romantisan sama Allah itu beneran indah loh rasanya. Kalau kita bisa romantisan sama pasangan hidup kita, kenapa tidak sama Allah? Walaupun berbeda caranya, tentu. Kalau sama pasangan, kita bisa peluk, sentuh wajahnya, pegang pipinya, bisa digendong, dan lain sebagainya. Tapi kalau sama Allah, dengan taat saja itu sudah romantis banget. Kita lebih dulu datang ke masjid sebelum adzan. Kita sudah siap-siap berwudhu. Kita sudah siap-siap pegang Al-Qur’an. Allah tersenyum melihat ketaatan kita. Subhanallah.

Percayalah, apa yang menjadi hajat kita, apa yang menjadi kesusahan kita, apa yang menjadi beban kita, pasti Allah akan mudahkan setelah itu. Karena Allah tahu kualitas ibadah hamba-Nya, karena Allah tahu kualitas iman hamba-Nya. Maka janganlah kaget kita untuk menerima hadiah yang lebih besar dari yang pernah kita bayangkan. Jangan dibayangin dulu akan dapat reward apa dari Allah. Cukup tersenyum saja menunggu ‘bayaran’ itu. Dan tetap taat. Nggak usah menghayal-hayal dulu. 

No comments:

Post a Comment