Visitor

Monday, April 14, 2014

Materi Tauhid Sesi 12: Dapat Apa Dari Dunia?

Kita sering habis-habisan berbuat untuk sesuatu yang justru akan kita tinggalkan. Sedang untuk sesuatu yang bakal abadi, sering kita tidak sungguh-sungguh.

Seorang anak muda datang bersama istri dan keluarganya. Minta nasihat agar dilakukan mentalnya untuk jadi ustadz di pedalaman. Tapi keluarganya bingung. Ia selama ini kerja di pabrik. Gajinya 800 ribu, masih ada bonus-bonus dan tunjangan ini-itu. Tapi itu pun seringnya nombok, dan punya hutang. Panggilan hatinya kuat sekali untuk berdakwah. Karenanya ia pamit untuk kemudian menjadi dai pedalaman. Niatan ini lumayan disetujui, sekaligus jadi beban pemikiran istri dan orangtuanya. Bergaji saja nggak bisa hidup pas-pasan (nombok), apalagi kalau sampe nggak punya gaji sama sekali. Tapi niatannya untuk kembali ke Allah sangat kuat. Satu tahun kemudian, hidupnya lebih punya sekarang ini. Bulan pertama saja, gaji sebesar 50 ribu per bulan utuh. Apa sebabnya? Allah menanggung hidupnya. Orang-orang kampung yang diajarkannya digerakkan Allah untuk memberikan sebagian hasil panen penduduk kepada dia. Malah katanya lebih hingga bisa dijual untuk bisa membelikan sesuatu buat istri, anak dan orangtuanya.

Seorang pemasar di bidang konstruksi, mencoba untuk hidup mementingkan Allah. Menyesampingkan dunianya. Ia lalu menjadi memegang prinsip bahwa Allah itu segala-galanya. Rapat-rapat ia beritahu bahwa ia harus break 10 menit sebelum adzan. Dan klien-kliennya malah disuruh nunggu. Katanya, kalau berkenan menunggu, saya senang sekali. Kalau nggak, ya baiknya reschedule jadwal yang nabrak waktu shalat. Katanya, pernah kejadian, ada satu klien, yang direksinya itu bule. Si bule ini mempersilahkan dia mem-break, sebab nggak mungkin di-reschedule. Lalu apa yang terjadi? Meeting dicukupkan sampai waktu break saja. Batalkah? Tidak. Bule ini kini percaya pada dirinya. Dia sudah perhatian sama Tuhannya, pasti dia orang jujur, begitu kata bule ini meyakinkan. Dan bule ini masih menambahkan, bahwa dia disiplin dengan waktu audiensi bersama Tuhannya, pasti pekerjaan-pekerjaan yang dipercayakan kepadanya pun akan juga disiplin.

Saya yang masih kuliah ini jadi ngaca. Karena bulan ini bulannya pemilu, saya mau bahas sedikit tentang demokrasi.

Yap, walaupun saya nggak paham-paham amat sama demokrasi dan sistem politik yang ada di Indonesia, saya sih hanya mengeluarkan pendapat saya saja ya. Andai boleh berkata ‘andai’. Ya, saya tahu itu bisa menjadi bisikan setan sih. Tapi biar gimana pun, saya berharap untuk negara ini benar-benar bisa memiliki pemimpin yang amanah. Kalau kata orang yang saya akui ilmunya lebih dalam daripada saya, beliau mengatakan sistem politik yang ada di Indonesia ini tidak mengarah pada syariat Islam apalagi hukum-hukum Allah. Termasuk demokrasi. Kalau mereka-mereka, pemimpin-pemimpin yang ada di negeri ini mampu mengatur dengan sistem yang sudah ada—yakni hukum Allah, saya percaya sekali bahwa negara ini akan berkah. Tapi sayangnya, kata ‘liberalisme’ sudah mulai berceceran ke mana-mana. Di Al-Qur’an pun telah dijelaskan. Hanya saja kita ini masih jauh sekali dari Al-Qur’an. Sehingga harapan saya pada pemimpin yang amanah sepertinya menjadi pesimis.

Masih ada segelintir orang-orang yang sangat mempertahankan tauhidnya. Berpendapat bahwa dengan ikut terjun di demokrasi, sama saja menikmati ‘pesta’. Tidak ada Al-Qur’an di dalam hati para pemimpin itu. Kalau saja ada, pasti kita bisa merasakan perwujudan mereka dari Al-Qur’an itu sendiri. Lalu bagaimana dengan pemimpin yang berbeda agama? Jelas ini menjadi ketakutan kaum muslimin yang memiliki pandangan kudu, wajib, mempertahankan untuk memiliki pemimpin muslim. Muslim saja tidak cukup sebenarnya. Kita butuh tauhid. Butuh banget. Ciri-ciri pemimpin yang meninggalkan tauhidnya, salah satunya yang paling nyata adalah korupsi. Yap, kalau dia bertauhid, dia tentu tidak mungkin memakan harta haram. Karena takut sama Allah. Karena takut akan dosa. Karena memikirkan nasib umat. Tapi nyatanya apa? Masih banyak saja toh partai-partai dan pemimpin yang korup? Makanya, jangan heran kalau negeri ini banyak sekali ditimpa musibah, masalah, fitnah-fitnah, dan perpecahan.

Ada juga yang bilang, jangan terlalu agamis.

Kita ini negara dengan beragam agama. Kita harus saling menghormati.

Tapi maaf saya harus katakan. Ini bukan masalah saling menghormati antar agama. Ini adalah persoalan keimanan. Kalau bicara keimanan dari masing-masing orang yang keyakinannya beda, saya yakin 1000 tahun pun tidak akan selesai ngebahas hal ini. Karena itu, beda iman. Di dalam Islam, kita wajib untuk mempertahankan pemimpin yang muslim. Walaupun rasa-rasanya sulit mendapatkan seorang muslim yang menjaga amanat Allah. Tapi setidaknya, kita berusaha untuk tidak menjadikan negeri ini dipimpin oleh seorang yang kuffar. Yang cintanya pada dunia. Yang hukumnya dibuat sendiri. Yang tidak takut pada Allah.
Kalau pemimpin itu cenderung punya penyakit Wahn, dan tidak takut sama Allah. Bagaimana dia bisa menjalankan tugasnya sebagai pemimpin di dunia?

Ya, hanya di dunia saja. Tetapi begitu di Yaumul Hisab nanti, habislah semua yang sudah pernah ia kerjakan di dunia. Karena apa-apa yang dikerjakan bukan atas hukum Allah. Orang-orang yang memiliki beda pendapat akan hal ini, tentu tidak punya ilmu yang baik untuk bisa menjawab semua pertanyaan ini. Bukan hanya saya, tapi juga umat muslimin di Indonesia, pasti merindukan pemimpin yang takutnya hanya kepada Allah. Sehingga bayangan-bayangan tentang bagaimana Allah menghancurkan kaum ‘Ad, Tsamud, Fira’un, dan Madyan mulai menakut-nakuti. Kalau penduduk di negeri ini semakin jauh dari Allah, semakin lupa sama Tuhannya, semakin cinta sama dunia, semakin ingin berkuasa, semakin berpecah-belah, bisa saja nasib kita sama seperti kaum-kaum terdahulu yang sudah dimusnahkan Allah. Naudzhubillah. Inilah yang menjadi kekhawatiran umat muslimin jika kita dipimpin oleh seorang yang berbeda keyakinan. Yang sama keyakinannya saja belum tentu amanah. Apalagi yang berbeda?

Sekarang saya minta tolong sama teman-teman semua untuk membuka Al-Qur’annya masing-masing ya.

Buka Al-Qur’an terjemahan surah ke-7, Al-A’raf ayat 96 sampai 99. Tadabburi. Kalau bisa dihafalkan lebih baik. Supaya bisa kasihtau saudaranya yang lain. In syaa Allah akan terhitung amal shaleh. 

No comments:

Post a Comment