Visitor

Sunday, April 13, 2014

Materi Tauhid Sesi 11: Memberi Perintah Kepada Allah

Perintah Tunggu
Tidak ada yang lebih penting di dunia ini yang harus kita kerjakan kecuali shalat. Shalatlah pekerjaan utama kita, sedang yang lainnya adalah pekerjaan sambilan.

- Yusuf Mansur

Apa yang terjadi dengan diri kita ketika kita mendengar adzan? Apakah langsung bergegas menuju panggilan-Nya? Atau malah santai-santai aja?

Jika kita tidak menyambut seruan itu, sungguhlah berarti kita termasuk dalam kategori memberi perintah kepada Allah. Yaitu perintah “tunggu” tersebut.
“Tunggu ya, saya sedang melayani pelanggan.”
“Tunggu ya, saya sedang nyetir.”
“Tunggu ya, saya sedang menerima tamu.”
“Tunggu ya, saya sedang nemain klien.”
“Tunggu ya, saya sedang rapat.”
“Tunggu ya, saya sedang dagang nih.”
“Tunggu ya, saya sedang belanja.”
“Tunggu ya, saya sedang ngajar.”
“Tunggu ya, saya sedang ngerokok.”
“Tunggu ya, saya sedang buru-buru.”
“Tunggu ya, saya sedang di kelas. Lagi ada kuis.”
“Tunggu ya, saya sedang bekerja.”

Dan seterusnya.

Coba saja berkaca pada diri sendiri, dan kebiasaan ketika menghadapi waktu shalat. Perintah tunggu inilah yang kita berikan kepada Allah.


Siapa Sih Kita?
Sesiapa yang tidak mengusahakan shalat di awal waktu, sungguh dia adalah orang yang tidak mengenal Allah. Rezeki-Nya-lah yang selalu kita cari. Pertolongan-Nya-lah yang sedang kita butuhkan. Dan Allah datang di setiap waktu shalat membawa apa yang kita butuhkan, memberi apa yang kita inginkan, di luar kebaikan-Nya yang bersifat sunatullah.

Kita ini manusia, makhluk ciptaan Allah. Diciptakan dari saripati tanah. Kita ada, lantaran ada hubungan yang diizinkan Allah dari hubungan laki-laki dan perempuan yang kemudian terjadilah kita. Ya, dari sperma, kita menjadi manusia.

Tapi begitulah, kita ini memang manusia yang nggak tahu diuntung dan nggak tahu diri. Kita nggak kenal siapa kita. Lihat saja, kita berani-beraninya “memerintah” Allah untuk menunggu kita. Iya kan?

Kalau memperhatikan orang-orang kebanyakan yang mereka muslim tapi asyik sama dunianya, banyak. Banyak banget. Seperti yang dicontohkan di atas. Mereka bahkan nggak ngerasa berdosa kalau nyepelein adzan. Berbeda dengan orang yang selalu waspada dan takut kalau masih ngerjain sesuatu pada saat mau dekat adzan. “Jangan sampe Allah menunggu saya. Kalau bisa, saya yang menyambut Allah. Sebab nggak ada pantes-pantesnya. Masa saya mau ngejar rezeki-Nya tapi saya nggak ngejar yang Punya Rezeki?”

Masya Allah.

Likullii syai-in baabun. Wa baabut taqorrub ilallaahi, ash-sholaah.

Segala sesuatu ada pintunya. Dan pintu supaya bisa mendekatkan diri kepada Allah itu adalah shalat.

No comments:

Post a Comment