Visitor

Saturday, April 12, 2014

Materi Tauhid Sesi 10: Hidup Bersama Allah

Banyak manusia yang menyibukkan dirinya dengan urusannya. Bahkan ketika bermasalah pun tidak kunjung mendekatkan dirinya dengan Allah. Kalau bisa, bukan hanya pada saat tertimpa masalah saja kita datang ke Allah. Tapi saat kapan pun.

Lupakanlah keinginan kita. Kita berjalan saja menuju Allah dulu. Sadar-sadar, perjalanan ikhtiar kita sudah mencapai keinginan, tahu-tahu sudah nyampe.

Masalah itu terkadang membuat kita jadi mengingat Allah. Jadi rajin shalatnya, puasa, sedekah, dan berbuat kebaikan. Lantaran kalau mikirin masalah terus nggak ada habisnya.

Ketika seseorang berhutang misalnya, bisa saja terjadi satu demi satu mereka yang ia punya hutang kepadanya, membaik dan menjadi kawan. Menagih tetap menagih. Tapi in syaa Allah ada saja yang dimudahkan sama Allah. Kita-kita ini harus yakin, pertolongan Allah bakal datang juga ke kita. Dan inilah yang semestinya kita kejar. Yakni Allah. Bukan solusi buat permasalahan kita dan bukan jawaban dari keinginan kita. Tujuan kita, kita kembalikan lagi ke Allah. Hanya Dia. Bukan yang lain. Bila kita bisa mengubah haluan hidup, maka lompatan besar sebenarnya sudah terjadi. Yakni, Pemilik Segala Solusi, yaitu Allah, sudah ia dapatkan.

Dan hal tersebut lebih mahal dari apa pun di dunia ini.

Kalau kita mengejar solusi dan mengejar keinginan, kita akan letih dibuatnya. Kita kejarlah Allah. In syaa Allah, Dia akan menyediakan jawaban-jawaban-Nya untuk kita. Secara konkrit begini. Seseorang berhutang. Maka jika di pagi-pagi hari dia akan mikirin hutangnya aja, bagaimana caranya biar bisa bayar hutang. Entah dia coba jualan, cari kerja, atau apa pun itu. Padahal Allah sudah kasih ‘solusi’. Yakni, dhuhalah. Berapa rakaat yang mau dilaksanakan? 2 boleh, 4 boleh, 6 boleh, 12 juga boleh. Dan bawa saja hutangnya ke dhuha. Minta sama Allah untuk dilunasin. Ketika dhuha selesai, bahagiakan hati dan pikiran tentang shalat Dzuhur yang akan segera datang. Beh, masya Allah dah yang begitu. Rencanakan shalat di masjid mana, niatin shalat sunnah 4 rakaat qabliyah dan 4 rakaat ba’diyah. Pikirin Allah. Jangan pikirin masalahnya. Nanti mau tidur, alih-alih mikirin problem dan hajat, coba rileks, pikirin bagaimana caranya bisa bangun malam. Ceritain ke Allah semuanya mulai dari beban kita, dan hajat kita. Biar Allah saja yang mikirin urusan kita. Kita mah fokusnya ke Allah saja.

Ini yang dinamakan hidup bersama Allah. Selalu membawa Allah ke mana pun. Mulai dari sebelum berangkat kerja, di perjalanan, pada saat di rumah, bahkan sebelum tidur. Biasakan untuk menghidupkan sunnah. Menurut saya, sunnah itu bukan ‘sunnah’ tapi jadi kewajiban yang kudu dilaksanakan. Kalau orang sudah terbiasa ngerjain sunnah dhuha, sunnah tahajjud, sunnah witir, sunnah hajat, nanti begitu nggak ngerjain pasti berasa kayak ninggalin shalat fardhu. Begitu juga qabliyah dan ba’diyah-nya.

Lalu setelah itu coba untuk ajak orang-orang terdekat untuk menghidupkan sunnah juga. Jangan sendirian. Saya pernah sih nyaranin orang terdekat untuk shalat sunnah dhuha, dan lainnya. Tapi jangankan dhuha, shalat fardhunya saja sudah nggak mau. Saya coba lagi berulang-ulang, ingetin mereka, tetep nggak mau. Nggak gerak. Malahan kabur kalau saya mau deketin. Aneh. Memang saya ini monster apa sampe-sampe mereka kabur ngeliat saya. Ya begitulah. Bersyukurlah kita diberi kesempatan untuk bertaubat. Diberi kesempatan untuk menimba ilmu agama. Jadi ngerti kan. Dan buat mereka yang masih jauh dari Allah, kalau kita sudah peringati, doakan saja mereka. Supaya cepat Allah kirimkan hidayah itu kepada mereka. Tapi juga tidak kunjung datang hidayah, biarlah itu menjadi urusan Allah. Tugas kita hanya menyampaikan. Sekali lagi, hanya menyampaikan.

No comments:

Post a Comment