Visitor

Thursday, April 24, 2014

Jadikan Allah Sebagai CCTV Kita

Terinspirasi dari seorang sahabat di akun sosial, saya berusaha menjabarkannya dengan gaya bahasa saya sendiri.

Bismillah...



Dari sekian banyak sesi materi tauhid yang sudah saya posting, sebenarnya apa pun yang menjadi tulisan saya pada saat itu selalu dapat inspirasi dari buku yang saya baca. Saya belum sempat baca kitab al-hadist atau kitab-kitab fiqh atau tadabbur yang semacamnya—saya tahu itu bahasan yang berat. Makanya, saya baca yang ringan-ringan saja dulu. Ternyata, dari setiap bacaan itu membuat saya ingin menulis banyak tentang tauhid. Lagi-lagi, ya tauhid. Kalau seseorang kehilangan tauhid mereka, sungguh telah hilanglah juga keislaman mereka. Pentingnya kita bertauhid dan berkaca, serta belajar dari kehidupan sehari-hari menjadi hal yang ingin saya sampaikan di sini.

Mulai dari cerita seorang anak kepada orangtuanya, suami kepada istri, bagaimana menanggapi gaji yang kecil, sedekah itu seperti apa, makna ikhlas itu bagaimana, kaitannya tauhid dengan ibadah wajib itu apa, dan seterusnya. Kalau saya nggak dikelilingi teman-teman yang suka nge-share daily hadist, mungkin saya akan menjadi orang yang menyepelekan sunnah. Apalagi sekarang teman yang hobinya datang ke majelis tauhid mulai semakin banyak. Dan dengan demikian, semakin banyaklah orang-orang yang memberitahu saya dan mengajak saya untuk ikut larut dalam kenikmatan bertauhid.

Bagi sebagian besar umat muslim yang ada di seluruh dunia, mungkin hanya ada beberapa saja yang mampu benar-benar merasakan ‘CCTV’-nya Allah. Tapi itu baru hipotesa saya. Karena jujur, saya sendiri dan teman-teman masih susah memasukkan ‘CCTV’ tersebut di setiap perjalanan kehidupan saya. Susah banget malah. Saya justru merasa ‘CCTV’ itu bahkan tidak ada. Padahal mah, kitanya saja yang ditipu oleh keindahan dunia.

Kalau CCTV yang sering kita lihat di kantor-kantor, sebuah ruangan, rumah, atau bahkan minimarket, semuanya punya kapasitas yang ada batasannya. Tidak bisa sebuah CCTV itu merekam keseluruhan apa yang dijalani dari masing-masing individu. Dari mulai tidur malam sampai bangun di pagi harinya. Dari hal yang paling kecil misalnya, mengunyah permen karet. Bisa saja CCTV tak menangkap kejadian kita ngunyah permen karet karena ketutupan sama mulut atau badan kita.

Lalu bagaimana dengan ‘CCTV’-nya Allah?

Allah memperhatikan kita, mengawasi kita, melihat kita, menjaga kita sehari 24 jam, seminggu 7 hari. Tidak luput satu detik pun diri kita dan apa yang kita kerjakan oleh Penglihatan Allah.


وكان اللهُ عَلى كُلِّ شَيْءٍ رَقِيْباً
Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” 
(QS. Al-Ahzab: 52)


Kita tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana hebatnya ‘CCTV’ itu. Subhanallah. Dan memang kita tidak bisa mencakup itu semua tanpa seizin-Nya. Maha Besar Allah. Dialah Ar-Raqiib. Yang Maha Mengawasi.

Ar-Raqiib.

Bagaimana bisa kita lari dan pergi dari Penglihatan-Nya sedangkan di bumi ini kita hidup dan mencari penghidupan. Kelak setelah Allah menentukan hari itu adalah hari terakhir kita bisa melihat anak-anak kita, suami kita, istri kita, cucu-cucu kita, dunia yang penuh dengan keindahan, harta, jabatan, apakah kita bisa menolak walau hanya sedetik saja? Tidak. Tentu tidak akan bisa. Hari itu pasti akan datang. Hari di mana kita berpisah dengan dunia. Dan memulai kehidupan di alam kubur yang mengerikan. Saya mengatakan mengerikan di sini dengan maksud pada makna sebenarnya, bukan konotasi. Siapa yang ingin mati dan dikubur? Semua pasti bilang tidak. Takut. Ya, bagaimana nanti malaikat bertanya dan menyiksa kita. Dan apakah yang akan dijawab oleh tangan dan kaki yang akan dibiarkan berbicara sementara mulut ditutup rapat-rapat.

Di saat ngebahas kayak gini, saya tiba-tiba teringat oleh ucapan dari Ustadz Bachtiar Nasir. Dalem banget.

“Siapa yang punya negara ini? Siapa yang berkuasa di kota ini?”
“Bukan SBY! Bukan Jokowi! Bukan pemerintah!”
“TAPI ALLAH..............”

Kata ‘Allah’-nya itu bergetar. Masya Allah. Saya merinding bukan main sama teman-teman. Abi Bachtiar memang begitu setiap kali memberikan tausiyah. Kata ‘Allah’-nya beda banget. Saya pun nggak bisa menggambarkan bagaimana ‘getaran’ itu. Sama seperti ketika pertama kali mendengar puisi yang dibacakan oleh Peggy Melati Sukma di pembukaan IBF Jakarta atau Islamic Book Fair. Kata ‘Allah’-nya itu loh. Saya benar-benar nggak bisa jelaskan deh dengan kata-kata. Dari ubun-ubun sampai tumit kaki merinding semua. Belum lagi hati kecil saya yang langsung gimana gitu. Rasanya beda. Baru kali ini ngerasain kayak gini. Rasanya Masya Allah.

Oke. Kembali lagi ke ingatan saya pada ucapan Abi. Ya, pada saat itu Abi menegaskan bahwa orang beriman tidak boleh takut oleh apa pun kecuali Allah azza wa Jalla. Wallahi. Kita nggak boleh takut sama yang sifatnya sementara, duniawi, apalagi bakalan mati juga entar-entaran. Kita cuma boleh takut sama Allah. Sekali lagi ya, kita cuma boleh takut sama Allah. You see what? Itulah tauhid. Itu baru dasarnya.

Kita udah mikir macem-macem sama konsep pemerintahan di Indonesia ini. Entah mulai dari pemimpinnyalah, sampai ke sistemnya. Kita takut. Seolah-olah kita tidak punya Allah. Padahal, tengoklah bagaimana Nabi Nuh memohon kepada Allah hanya dengan tiga kata dalam doanya. Lalu Allah jadikan banjir yang menghadang dan menghancurkan Firaun beserta bala tentaranya. Lihat lagi bagaimana sederhananya Nabi Musa berdoa memohon perlindungan kepada Allah. Dengan penuh harap, dengan sungguh-sungguh, Allah kemudian kabulkan doa-doa mereka. Tapi ini bukan perkara karena mereka adalah para nabi, golongan orang-orang shalih, lalu doanya jelas langsung dikabulkan. Melihat kita yang bukan apa-apa, bukan ahli agama, bahkan fakir ilmu, dan lain sebagainya lalu kita menjadikan diri kita ini ketika berdoa akan berbeda dengan para rasul dan nabi. Tidak begitu. Apa pun yang kita mohonkan kepada Allah, selama itu baik, tidak melanggar syariat, maka Allah pasti akan kabulkan untuk kita, wallahi itu janji Allah. Saya berkata begini untuk menekankan bahwa semua doa baik itu pasti dikabulkan. Apalagi permintaan kita untuk memohon perlindungan dari godaan setan maupun orang-orang kafir.

Jadi, kembali lagi, bagaimana kita bisa merepresentasikan keberadaan tauhid itu di kehidupan kita. Hingga masuk menjadi satu hal yang menyatu dengan jiwa kita. Orang-orang yang mampu menjaga bersih amal shalihnya, dan tidak mencampuradukkan kemusyrikan di dalam ibadah, adalah sungguh mereka yang mampu bertauhid secara haqq. Mereka yang ketika shalat kepada Allah sungguh-sungguh merasa seperti shalat di hadapan Allah dan Rasulullah. Seperti seorang mahasiswa yang sedang diuji pada saat sidang skripsi. Nah, bedanya, Allah tidak kelihatan. Sedangkan ketika sidang skripsi, jelas kita bisa melihat lawan bicara kita. Mereka-mereka itulah yang tidak hanya pada saat shalat khusyuk, tetapi begitu diberikan cobaan, musibah, mereka tetap khusyuk atau tenang dan percaya bantuan Allah akan datang. Karena mereka yakin, satu detik pun tak terlewatkan oleh Allah apa yang hamba-hamba-Nya perbuat. Bayangkanlah jika ‘CCTV’ Allah itu ada tepat di depan wajah kita, belakang kepala, samping kanan badan, samping kiri badan dan kepala atas. Masya Allah. Apa tidak gemetar ketakutan kita kalau ingin mencuri? Walaupun itu hanya sekadar mencuri permen coklat di warung?


“Dan Dia bersamamu di mana pun kamu berada dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat.”
(QS. Al-Hadid: 4)


Sedikit tambahan dari saya. Muraaqabatullah atau selalu merasakan pengawasan Allah adalah kedudukan yang sangat tinggi dan agung dalam Islam, sekaligus termasuk tahapan utama untuk menempuh perjalanan menuju perjumpaan dengan Allah dan negeri akhirat. Hakikat muraaqabatullah adalah terus-menerusnya seorang hamba merasakan dan meyakini pengawasan Allah terhadap semua keadaannya lahir dan batin. Maka dia merasakan pengawasan-Nya ketika berhadapan dengan perintah-Nya, untuk kemudian dia melaksanakannya dengan sebaik-baiknya. Dan ketika dihadapkan pada larangan-Nya, ia berusaha keras untuk menghindarinya.


Wallahu’alam bisshawab.

No comments:

Post a Comment