Visitor

Wednesday, April 30, 2014

Materi Tauhid Sesi 27: Hadirkan Allah Dalam Kehidupan

Tidak sedikit manusia yang disorientasi dalam hidupnya. Kosong, kering, gersang. Tanpa makna. Karena hidup tanpa Allah.

Sebelumnya, saya ingin cerita sedikit. Kala saya ngerjain tulisan bab yang lalu tentang cerita Bintang dan bagaimana semangatnya mengucur deras, ternyata mampu membuat saya “jingkrak” lagi. Saya pun mengakui suka turun-naik. Ngerjain tugas kadang membuat saya butuh teman untuk sekadar ngobrol karena saking banyaknya materi yang harus dibahas. Teori ini itu harus saya gali. Belum lagi buku-buku yang belum sempat saya baca semuanya. Menyadari usia saya akhir tahun ini sudah memasuki usia 22, dan saya kuliah in syaa Allah tidak akan lama lagi, hehehe. Saya coba pompa semangat saya dan meyakinkan diri kalau saya bisa melalui semua ini. Tanggal 3 Maret 2014 saya mulai aktif kuliah semester 8, dan mungkin akan berakhir di Agustus. Saya kurang tahu sih untuk tahun ini kami kedapetan libur lebaran berapa bulan. Kalau dihitung-hitung, setelah Agustus-September-Oktober mungkin akan libur UAS lalu masuk lagi semester baru. Ya, dan seharusnya saya sudah wisuda, hehehe. Tapi saya nambah lagi satu semester sebanyak 6 sks saja. Saya ingin fokus seminar. Karena kurang lebih 5-6 bulan saya kuliah nanti saya akan langsung ambil bimbingan. Kalau pakai perhitungan saya, pertengahan tahun 2015 saya sudah bisa bimbingan dan in syaa Allah saya cuma butuh waktu 2 bulan paling lama. Setelah itu saya mau ambil sidang pertengahan tahun. Materi yang ingin saya bawakan di skripsi sudah saya persiapkan dari sekarang. Bahkan buku-bukunya sudah dipegang. In syaa Allah bi’ithnillah semoga Allah membantu saya.

Inilah yang saya namakan rencana manusia. Boleh saja manusia berencana. Tapi kalau saya sih, membuat daftar seperti itu hanya untuk menyemangati diri sendiri. Dengan begitu, kita jadi masang target. Hidup saya tidak mau dibawa seperti air yang mengalir begitu saja. Tidak. Saya mau ada tujuannya. Dan makanya itu, saya minta ke Allah untuk dilancarkan sampai hari H. Saya masih ada waktu cukup banyak untuk mempersiapkan diri. Hari ini, tepat tanggal 14 April 2014 pukul 22:25 WIB. In syaa Allah, di tanggal yang sama namun tahun yang berbeda—2015, saya sudah bisa fokus ke seminar dan bimbingan. Jika Allah mengizinkan, saya bisa ambil sidang. Secepat itukah? Siap?

Biar Allah yang menentukan. Saya usaha saja, hehehe. Dan sekali lagi, intro saya panjang ya? Hehehe. Begitulah saat saya benar-benar lagi semangatnya. Saya percaya, Allah kasih saya keterlambatan ini pasti mengandung hikmah. Yang nantinya buat pelajaran saya. Saya tidak kecewa, sungguh. Walau saya harus ngulur satu semester sedangkan beberapa teman saya sudah ada yang sidang dan lulus. Tapi saya yakin sekali, Allah akan menggantikannya dengan yang lebih baik. Saya menginginkan lulus di tahun 2014 tapi Allah belum mengizinkan. Maka dari itu, saya yakin, pasti Allah akan berikan yang sungguh diluar dugaan saya, entah itu akan datang di tahun 2015 atau tahun berikutnya, atau bahkan di tahun sebelumnya. Saya belum tahu. Sebagaimana pesan yang ingin saya sampaikan, bahwa kita tidak boleh kecewa akan kenyataan-kenyataan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Cukup perbanyak perbaiki diri, dekati Allah, bersyukur, dan tetap berusaha melakukan yang terbaik. Sekali lagi...

Perbaiki diri.

Dekati Allah.

Bersyukur.

Dan tetap berusaha melakukan yang terbaik.

Lihat ya tahun-tahun berikutnya, Allah akan kasih kejutan apa ke saya?
Percaya. Ini yang terbaik.

You guys are the winner, ya pals!


Sunnatullah

Betul memang dunia ini sudah dibuat-Nya berjalan dengan sunnatullah-Nya. Sesiapa yang bekerja, maka dia akan gajian. Sesiapa yang belajar, maka ia akan mendapatkan ilmunya. Semua itu sudah sunnatullah. Maka, sesiapa yang melibatkan Allah, di dalam ikhtiarnya, ada Allah. Dan itu artinya, ibadahnya semata-mata hanya untuk Allah. Ikhtiarnya pun menjadi berkah.

Kedudukan ikhtiar adalah menjadi ibadah, manakala kita kemudian sudah secara hati dan pola hidup bertauhid. Tapi kemudian ikhtiar menjadi salah apabila secara hati dan pola hidup tidak bertauhid. Salah-salah malah menjadi syirik, sebab menganggap ikhtiar itu adalah segalanya. Contohnya, ada seseorang yang ingin mendapatkan pekerjaan, ia apply semuanya. Memang benar dia lolos, tapi dia tidak beribadah kepada Allah. Itu adalah sunnatullah. Tapi, tidak mengandung keberkahan. Karena tidak melibatkan Allah di dalamnya.

Beda hidup antara yang memiliki Allah dan yang tidak. Ada orientasi. Dan setinggi-tingginya orientasi adalah ke Allah, menuju Allah.

Teman-teman, kalau sudah melibatkan Allah dalam hidup kita, percayalah kita tidak akan capek. Kita tidak akan galau. Kita tidak akan berpusing-pusing ria. Kita tidak akan bingung. Karena kita sudah tahu tujuannya mau ke mana. Seperti contoh orang yang ingin bekerja tadi. Saya pun mencoba untuk melibatkan Allah di setiap jalan hidup saya. Ketika saya berangkat kuliah, begitu sampai di kampus, lalu saya jalan lagi ke kelas, saya belajar di kelas sama teman-teman, saya mampir ke mushola, saya ke kantin, lalu saya jalan kaki ke depan stasiun, saya pulang ke rumah, saya sampai di rumah, saya ketemu ibu saya. Dan semua itu saya lakukan tidak sendirian. Walau hanya ada satu tubuh saja yang saya rasakan, saya tetap merasa Allah ada temani saya. Walau tidak ada orang di samping saya yang menemani, tapi Allah temani saya. Kalau saya sudah mulai sedih, saya coba ingat-ingat rezeki apa yang sudah saya dapatkan dari Allah, saya senyum kembali. Begitulah semestinya.

Masa-masa seperti ini saya anggap sebagai pelepasan masa remaja saya menuju dewasa. Saya senang loh sudah dianggap dewasa. Yap, 21 tahun. Rasanya gimana gitu. Saya sudah bukan 19 tahun lagi. Dan karena batas remaja akhir adalah 19 tahun, maka saya mulai masuk fase menuju dewasa awal. Jadi, pemikiran saya katanya masih akan terus kritis dan penuh rasa ingin tahu. Saya dianggap adik bungsu oleh sahabat-sahabat saya yang usianya sudah jauh dari saya. Dan mereka mengakui, bahwa saya punya semangat yang tinggi untuk belajar banyak hal baru. Saya senang sekali. Dengan begitu, saya ingin memanfaatkan masa-masa ini sebagai masa pengenalan saya dengan Allah. Yap, saya mau kenal lebih dekat dengan Tuhan saya.


Kalian juga, kan?

Tuesday, April 29, 2014

Materi Tauhid Sesi 26: Bintang We Are Not Game Over Yet

Jalan hidup itu Allah yang punya. Kita hanya bisa meniti, tapi tidak bisa mengatur. Kita hanya bisa meminta, tapi kita tidak bisa memaksa. Namun jika percaya bahwa di semua kejadian ini ada Allah dibaliknya, percaya bahwa Allah akan mengatur yang terbaik, percaya bahwa Kehendak Allah itu pasti baik adanya, kemudian mau menerima hidup ini seadanya keadaan, dan berkenan memperbaiki diri, in syaa Allah segalanya berjalan dengan sangat baik. Bahkan kita akan melihat, kehidupan di kemudian hari adalah kemenangan buat yang percaya bahwa memang kehidupan ini milik Allah. Berbaik-baik saja dengan-Nya, dan mulailah mendekatkan diri kepada-Nya.

Masalah hidup itu sunnatullah. Biarlah ia ada, asal Allah sediakan jalan keluarnya. Dan Allah, sebagai Pemilik Kehidupan ini, terkadang membiarkan kejadian-kejadian buruk menimpa kita, untuk sesuatu maksud di kemudian harinya. Mudah-mudahan kita mampu menemukan segala hikmah kejadian hidup, dan diberikan kekuatan serta kesabaran menghadapi semua ujian hidup ini.

Hidup kita belumlah berakhir. Kalau kita memang masih hidup, bangun, bangkit!

Semua yang terjadi, terjadilah. Ubah masa lalu dengan menatap masa depan. Apa pun yang terjadi, kehidupan tidak berakhir di sini. Dan memang jangan sampai ia berakhir saat kita kalah. Kehidupan akan terus berlangsung, karena itu hiduplah terus. Bertaruhlah, bahwa Allah akan membantu perjuangan kita memperbaiki hidup kita. Termasuk memperbaiki kesalahan kita di dunia ini.

Dan yang menjadi masalah, bukan berapa buruknya masa lalu kita. Tapi yang menjadi masalah buat kita, adalah seberapa indah masa depan yang akan kita bangun. Selama kita masih hidup, itu tanda bahwa Allah masih memberi kita kesempatan mengubah apa yang mau kita ubah. Bersama-Nya. Bersama Allah Yang Maha Mengubah Keadaan.

Sekarang saatnya kembali kepada Allah. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah.

“Apakah belum tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman untuk membuat hati mereka tunduk mengingat Allah? Dan untuk tunduk terhadap apa yang diturunkan dari kebenaran Al-Qur’an?” (QS. Al-Hadid: 16)

Kalau kita lihat sekeliling kita, cukup banyak orang-orang yang putus asa di negeri ini. Banyak orang-orang yang kehilangan motivasi dan spirit dalam menjalani hidup ini. Sebagiannya sebab mereka menghadapi masalah hidup yang harusnya tidak menjadikan mereka lemah. Masalah hidup, semestinya mengantarkan “para penikmatnya” untuk kembali kepada Allah.

Kok menyebutnya dengan para penikmat?

Ya, kita menyebutnya permasalahan itu kalau dinikmati, malah menyenangkan. Makanya, seharusnya, ya dinikmati.

Berterimakasihlah karena kita diberi masalah. Sebab kita akan menjadi kuat, kita akan menjadi belajar, dan karunia Allah biasanya akan datang lebih banyak lagi ketika sebelum bermasalah. Asal syaratnya: sabar, ikhlas, syukur.

“Siapa yang tidak bersyukur atas nikmat-Ku, dan tidak bersabar di setiap ujian-Ku, dan tidak ridha atas Ketetapan-Ku, dan carilah Tuhan selain diri-Ku.” (Hadist Qudsi)

Dan berterimakasihlah diberi masalah oleh Allah. Banyak yang sesat justru ketika mereka tidak bermasalah, hidup enak, nyaman, tiada rintangan. Lalu Allah beri masalah, hingga mereka ingat kelalaiannya, kesalahannya, kealpaannya.


Bintang

Perjalanan kehidupan berbuah hikmah kisah Bintang, kisah yang menjadi pembelajaran di dalam materi ini mudah-mudahan berhasil membangun motivasi kita semua yang mengikutinya.

Bagi mereka-mereka yang bermasalah, kadang tanpa mereka sadari, kehidupan baru justru baru saja mereka mulai.

Selalu ada kekuatan di balik permasalahan yang Allah hidangkan dalam hidup kita. Dan kita belajar dari kisah Bintang, bahwa tidak ada kata terlambat untuk memohon bantuan dan pertolongan Allah. Allah teramat kuasa. Jika ada sesuatu yang kita sebut tidak mungkin, maka kata-kata tersebut tidak berlaku untuk Allah.

Sedikit saya mengingatkan pada diri saya, bahwa jika masih senang mencari rezeki haram, masih merasa harus menempuh cara-cara yang tidak disukai Allah dalam mencari rezeki, itu tandanya diri berada dalam keputusasaan juga. Seolah kita tiada iman yang mengajarkan bahwa Allah-lah Yang Memberi Rezeki hingga menyebabkan kita “putus asa”, dan mencari rezeki bukan dari jalannya Allah. Dan bila diri kita sedang tidak bermasalah, lalu diseru kembali kepada Allah, terima, perhatikan. Kalau perlu, dengar, dan taati, sami’naa wa atho’naa. Sebab siapa tahu, kita-kita yang tidak bermasalah inilah sesungguhnya yang lebih membutuhkan nasihat ini, ketimbang mereka yang bermasalah.

Di tengah kehidupan yang banyak permasalahan dan keinginan, atau bahkan di tengah kemungkinan-kemungkinan yang mungkin saja terjadi, isu tentang “Kembali Kepada Allah”, harus senantiasa disuarakan terus oleh siapa saja. Kasihan diri kita kalau sampai jauh sama Allah.

Bintang, laki-laki 40 tahunan, adalah seorang ayah yang kepayahan ekonomi dan rumah tangganya. Bintang merasa hidupnya semakin gelap dan tidak menentu. Dia di ambang perasaan bahwa hidupnya akan segera berakhir, atau malah ia merasa ia ingin saja segera mengakhiri hidupnya. Biasa, beban kehidupan memang bisa membuat seorang kepengen saja rasanya mengakhiri hidupnya. Bunuh diri, seakan menjadi jawaban yang menyelesaikan semua perkara dunia. Rasa malu, rasa takut, hina, tidak punya harapan, dan masih banyak lagi kekhawatiran-kekhawatiran akan keburukan demi keburukan, melekat di hati dan di pikiran. Orang-orang seperti Bintang seakan-akan tegar, tapi lemah. Sungguh lemah. Dan bertambah lemah apabila ia mengingat keburukannya menghantam kanan kirinya. Ia jaminkan rumah mertuanya. Ia jual tanah orangtuanya. Ia pinjam surat kendaraan besannya. Ia pakai nama kawannya untuk pinjaman ke bank. Para tetangga yang tidak bisa ia kembalikan dananya.

Deretan ini menambah lemah Bintang.

Ya, Bintang merasa hidupnya akan segera game over, tamat. Ibarat lampu digital, cahayanya melemah. 100, 90, 80, 70... terus turun... 60, 50, 40, 30...


Berdoa Untuk Ketenangan Hati

Di posisi cahaya tinggal 30 ini Bintang “berkenalan” dengan doa.

Salah seorang kawannya menasihati dia tentang kekuatan doa: “Bintang, berdoalah. Berdoa bisa mengubah segalanya. Minimal bisa mengubah segalanya. Minimal doa akan menentramkan hati. Kita mengadu pada manusia saja yang kita anggap bisa membantu, in syaa Allah sudah akan membahagiakan hati, apakah kalau kita mengadu pada Allah. Manusia belum tentu mau membantu. Tapi kalau Allah sudah pasti mau membantu. Sebab Allah sendiri yang menjanjikan, Dia akan mengabulkan siapa yang meminta pertolongan-Nya.”

Bintang meyakinkan dirinya, benarkah?

Benarkah nasihat kawannya ini? Benarkah Allah akan membantunya bila ia berdoa? Apa iya dia yang dosanya banyak, lalu doanya akan didengar Allah? Bintang rupanya termasuk orang-orang yang payah dalam meyakini kekuatan doa. Pun payah meyakini Kekuasaan Allah. Yang dihitungnya selalu hitung-hitungan matematis manusia. Berikut ini adalah suara-suara di dalam hati dan pikirannya:
1. Tidak akan bangkit
2. Tidak akan sanggup membayar hutan
3. Rumah mertuanya bakal disita
4. Keikhlasan orangtuanya menyediakan tanahnya untuk dijual, sia-sia
5. Akan game over
Itulah suara yang menang, yang ia biarkan muncul menguasai dirinya.

Jelas itu adalah sederetan kalimat-kalimat lemah yang ia suarakan sendiri sehingga seakan-akan hidupnya betul-betul sudah tidak memiliki kemampuan apa-apa, dan akan segera berakhir.

Belum lagi tambahan dari terbayangnya wajah-wajah seram para penagih, wajah-wajah memelasnya para istri dari orang-orang yang namanya ia pakai untuk meminjam ke bank. Wuah, komplit. Wajar juga kalau Bintang merasa dirinya bakal game over.

Kita pun belum tentu kuat jika berada di dalam posisi Bintang.

Bila kita pelihara suara-suara melemahkan ini, niscaya hidup kita akan semakin lemah saja. Lemah tak berdaya, hingga berujung pada putus asa. Maka, jangan biarkan suara ini muncul. Lawan. Lawan dengan iman dan semangat. Lawan dengan keyakinan dan doa.

Di posisi seperti inilah Bintang berkenalan dengan doa. Berkenalan dengan Kuasa dan Kebesaran Allah. Dan memang Allah jugalah yang menancapkan keimanan ke dalam hati hamba-hamba-Nya yang lemah. Memberikan taufik dan hidayah-Nya, sehingga berangsur-angsur Bintang percaya akan Kuasa Allah. Allah membuat perjalanan waktu kemudian ikut juga mengajarkan, bahwa Allah itu ada. Dan Bintang mau mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa datang kepada Allah adalah jawaban buat segala masalah yang sedang dihadapinya. Tidak peduli seberapa besarnya masalah kita, Allah sanggup mengatasinya.

Bintang mau meyakini, bahwa kalau Allah sudah berkenan, maka segala sesuatu bisa saja terjadi. Terjadi bukan karena perasaan manusia. Terjadi bukan karena apa yang dipikirkan. Dan terjadi bukan karena apa yang diusahakan manusia. Tapi terjadi karena Allah menghendaki itu terjadi.

Ya, ketika di awal memohon pertolongan Allah, keadaan Bintang memprihatinkan. Tapi ketenangan Allah masukkan ke dalam hatinya. Ia merasakan kesejukan luar biasa sehingga ia bisa tegar menghadapi hidup ini.

Bintang menemui babak baru dalam hidupnya. Babak menikmati perjalanan doa, menikmati perjalanan memelihara diri yang biasa kita sebut takwa, dan menikmati perjalanan pertaubatannya.


Allah, Tuhan Yang Memberi Harapan

Setelah perkenalannya dengan doa dan Kekuasaan Allah, sesuatu merayap dalam hatinya Bintang. Sesuatu yang membesarkan hatinya. Sesuatu yang tiba-tiba saja sanggup membuat dia merasa hidupnya masih punya harapan. Allah memang Maha Pemberi Harapan. Sedikit saja harapan Allah bentangkan bagi hamba-Nya, maka harapan itu akan “menghidupkannya” kembali.

Bintang disergap kerinduan yang mendalam kepada Allah.

Dan tiba-tiba saja terbentang lembaran-lembaran dari hari-hari yang sudah ia jalani. Dia melihat dengan jelas, bagaimana dulu shalat tiada tertegak dengan baik. Tertegak qoomuu kusaalaa, tertegak seperti orang malas. Shalat seadanya, dengan sikap tidak sempurna. Masjid, mushalla, jarang dia datangi untuk shalat berjamaah. Untuk shalat sunnah? Betul-betul jarang dia lakukan.

Bintang terus melihat dirinya. Dulu ia tidak pernah ikut pengajian, dengan alasan sibuk tiada waktu. Batinnya benar-benar kosong dari Allah. Kesuksesan sedikit yang sudah Allah berikan, sudah melalaikannya dari Allah.

Bintang ikhlas dengan keadaannya. Bintang ikhlas menerima kesusahannya.

Dengan mantap, ia ambil wudhu sebagai permulaan, dan ia tegakkan shalat sunnah taubat. Ia bertaubat kepada Allah dari seluruh dosa yang sudah ia buat. Ia bertaubat kepada Allah. Ia bertaubat sudah pernah berburuk sangka kepada-Nya. Ia bertaubat pernah mengutuk Allah, tanpa dia sadari. Ia bertaubat pernah tidak ikhlas menerima dirinya bisa ditipu sana sini, hingga ia hancur. Ia pun bertaubat pernah punya perasaan jelek kepada Allah: mengapa katanya, jika Allah ada, kok tidak menjaga dirinya?

Ia mengakui bahwa sesungguhnya ia sendiri sudah tidak bersyukur kepada-Nya. Akhirnya ya wajarlah Allah tarik segala nikmat darinya.


Kembali Kepada Allah

Bintang kembali kepada Allah. Dan memang seharusnyalah kita kembali kepada Allah sebelum terlambat. Kesusahan dunia saja sudah membuat kita menjadi susah, apalagi nanti kesusahan akhirat.

Allah memang senantiasa menguji hamba-Nya. Tapi Allah tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sendirian dalam menjalani ujian hidup ini. Allah akan selalu menemani.


Titik Balik Yang Penuh Ujian

Hari-hari berikutnya Bintang hanya fokus kepada Allah. Ia memasrahkan segalanya. Ia tahu, bahwa ia bakalan game over. Tapi kali ini ia songsong “kematiannya”, seperti prajurit Allah yang kepengen syahid di jalan-Nya. Kejadian ini terjadi ketika lampu digital itu berada di titik 30. Begitu kira-kira yang disampaikan di atas. Bahwa, ibarat lampu digital, cahaya kehidupan Bintang turun drastis. Dari angka 100, ke 90, 80, 70, 60, 50, 40, hingga ke titik 30. Di titik 30 inilah Bintang menyeru Allah dan kembali kepada-Nya. Inilah titik baliknya Bintang. Secara teori, cahaya lampu itu akan naik kembali, seiring dengan kembalinya Bintang kepada Allah, Tuhannya. Dari titik 30, naik jadi 40, 50, 60, 70, 80, 90. Dan begitu terus sampai ke titik 100.

Begitukah yang terjadi?

Mestinya.

Tapi tunggu dulu!

Secara teori sih seharusnya begitu. Tapi nyatanya, keadaan makin terpuruk. Cahayanya semakin melemah. Rumah mertuanya disita. Ruko yang disewanya sudah tidak beroperasi lagi. Mobil dan motor juga sudah tidak ada di garasinya. Semuanya habis. Bahkan Bintang mendekam beberapa saat di sel polisi.

Apakah Bintang putus asa?

Sesaat ia seperti ke titik nadir. Kembalinya ia kepada Allah seakan-akan percuma. Dia merasa, seperti yang suka disuarakan juga oleh orang-orang yang lemah imannya dan tidak bertauhid dengan baik—bahwa Allah tidak mendengar doanya. Dan Bintang menemukan keadaan dia ini, ketika dia sudah berada di dalam sel. Banyak manusia yang kembali kepada Allah, namun tidak tahan dengan ujian yang seperti ini. Bagi Bintang, rupanya ini memang titik balik.


Allah Tidak Akan Membiarkan Hamba-Nya Sendirian Dalam Menjalani Ujian Kehidupan

Di dalam sel, Bintang hampir saja meratapi keadaannya berlama-lama. Tapi, sebuah pelajaran membuatnya kembali “hidup”.

Salah seorang kawannya di sel mati. Dan Bintang melihat proses kematian kawannya ini, hingga kemudian ia dikeluarkan dari sel. Bintang histeris dalam kesunyiannya. Ia tidak bisa bicara. Ia tertegun. Ia adalah Bintang. Bukan kawannya yang mati itu. Bintang terguncang kesadarannya beberapa kali, ia masih hidup.

Ngomong-ngomong aku nulis ini sambil merinding. Masya Allah.

“Tiap-tiap jiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Maka barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh dia telah beruntung. Dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran: 185)


Charge Your Life!

Keanehan terjadi lagi. Sesuatu merayap kembali dalam batinnya. Memenuhi rongga-rongga hati dan pikirannya.

Tiba-tiba Bintang menjadi bersemangat menjalani hidupnya.

Bintang akhirnya keluar dari sel sebagai pemenang. Ia melangkahkan kakinya ke orangtuanya, minta restu. Kemudian ke istri dan anak-anaknya. Meminta mereka ikut bersamanya. Bersama membangun kembali ekonomi keluarga. Bintang memulai kehidupannya dengan menjadi penjual bensin eceran. Kecil-kecilan.

Semua yang ia punya telah hilang, tapi ia merasa berkah. Diganti sama Allah dengan karunia yang teramat besar—iman. Dan ia menjadi sangat bahagia.

Itulah cerita seorang Bintang, kira-kira 10 tahun yang lalu. Kini Bintang gagah banget. Pom bensin, atau SPBU, ia punya. Ditambah beberapa waralaba minimarket yang dikelola istrinya. Proyek-proyek lain yang sifatnya dadakan pun kerap ia terima, yang menambah pundi perbendaharaan rezeki dari Allah. Allah memang Maha Besar. Jalan rezeki memang Allah yang punya. Bukan manusia. Masa depan pun Allah yang punya. Bukan manusia. Segala puji bagi Allah.

Saya merinding lagi nulisnya.

Dan akhir kata, saya ucapkan terimakasih untuk tulisan yang begitu menyemangati saya, Ustadz Yusuf Mansur. Sungguh, semoga teman-teman yang membacanya pun bisa ikut terpompa semangatnya. Aamiin.

Sekali lagi, saya pun pernah mengalami terpukul yang teramat dalam. Walau begitu, Allah nolongnya sangat cepat. Saya hampir nggak percaya bahkan saya masih “hidup”. Tapi itulah Maha Baik Allah. Allah ganti dan kasih yang jauh lebih baik dari yang kita minta. 

Subhanallah.


Jangan nyerah pada keadaan kawan. Innallaha ma’ana. Kalau Allah sudah menakdirkan sesuatu itu untuk kita, walaupun kita tidak menggenggamnya, percayalah, akan ada suatu waktu kita bisa benar-benar MENGGENGGAM DIA. Manusia bisa berkata tidak mungkin. Tapi bagi Allah, tidak ada yang mustahil. Clear?

Monday, April 28, 2014

Materi Tauhid Sesi 25: Allah Maha Pemurah

Kenapa sih kita harus bersyukur?

Sebab tak mampu seorang manusia pun menghitung nikmat Allah selama hidup mereka.

Allah memanjangkan umur kita, memberikan kita kesempatan untuk memperbarui iman kita, kemudian mengejar ketinggalan kita. Jangan mengeluh lagi buat kita yang sudah dikasih kesempatan taubat walaupun rezekinya masih seret-seret atau hidupnya masih susah. Ini kesempatan kita betul-betul.

“Allah mengilhamkan kepada jiwa itu kefasikan dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang membersihkannya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 8-10)

Apa yang terjadi hari ini, sangat terkiat dengan kemarin. Ini bukan menghukum diri, ini untuk mengoreksi. Kita mencari tahu dengan cermin kejujuran diri, justru agar kita termasuk orang-orang yang beruntung, yakni berkenan untuk menyucikan jiwa kita yang kotor. Ada yang menjawab sedang tidak bicara dengan ibunya, sebab satu dua hal. Ada yang mengatakan sebelumnya senang sekali berzina. Ada yang kebanyakan makan uang haram. Ada yang mengatakan baru saja bertaubat dari judi dan meninggalkan shalat. Ya itulah. Perlu banyak-banyak bersyukur. Karena kemurahan Allah-lah, kita-kita ini masih diberi umur panjang dan kesempatan bertaubat. Dua ini saja, rasanya lebih mahal dari apa yang menjadi hajat kita.


Masa Pemberlakuan Azab

Hendaknya kita mengenolkan dulu semua perbuatan buruk kita dengan bertaubat. Menghentikan perbuatan buruk, pacaran misalnya. Perlu ada pernyataan lisan dari kita. Pernyataan memohon ampun. Pernyataan permohonan maaf. Kita minta ampun sama Allah, minta maaf pada-Nya atas semua kesalahan-kesalahan kita.

Cara yang paling efektif di awal adalah shalat sunnah taubat. Shalatnya cukup 2 rakaat saja dengan bacaan bebas di setiap rakaatnya. Tapi, persiapkan diri yang betul, dengan benar-benar mendidik diri sebelum shalat, bahwa sebentar lagi kita akan menegakkan shalat dengan membawa dosa-dosa yang mau kita mintakan ampun kepada Allah. Allah sudah berjanji akan mengampuni kita bila kita mau datang kepada-Nya, bahkan Allah akan memberikan ampunan-Nya lebih banyak ketimbang dosa yang kita bawa kepada-Nya. Habis itu perbanyak shalat-shalat taubat di setiap kesempatan.

Lebih bagus lagi kalau kita bisa mengerjakannya di setiap fardhu. Ditambah shalat hajat. Sunnah taubat untuk masa lalu. Sunnah hajat untuk masa depan. Kemudian setelah itu, kejar semua ketertinggalan kita dengan banyak-banyak istighfar, dan menghidupkan sunnah-sunnah semaksimal-maksimalnya kemampuan kita. Bukan seadanya. Tapi semaksimalnya. Yang disebut ibadah sunnah itu, qabliyah-ba’diyah, dhuha, tahajjud, witir, baca Al-Qur’an shalat berjamaah, sedekah dan menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang buruk.

Terus motivasi diri kita. Allah itu Maha Pemurah. Untuk mengejar ketertinggalan kita, Allah sediakan ampunan dan jalan-jalan kebaikan yang luar biasa yang in syaa Allah menjadi enteng buat kita mengubur dosa-dosa kita, mengenolkan maksiat kita, dan selanjutnya kita melaju bebas di jalan-jalan kebaikan.

Sunday, April 27, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. At-Takatsur ayat 1-8
 26 April 2014

Oleh Ustadz Hendra Hudaya, Lc


Pendahuluan


Teman-teman yang dirahmati Allah, apakah kalian pernah merasakan barang sehari tidur di ranjang yang mewah, makan dengan makanan yang beragam, membeli apa pun yang kita mau, memakai baju dan tas yang bermerk, punya banyak gadget, bebas jalan-jalan ke luar negeri maupun dalam negeri, atau bahkan tidak pernah kekurangan harta dan keinginan yang selalu tercapai?

Bagaimana rasanya?

Apakah semua materi yang kita pergunakan sungguh-sungguh dapat membahagiakan hati kita?

Atau malah sebaliknya, membuat kita susah.

Ada orang kaya yang iri dan berkata kepada orang miskin:

“Sungguh beruntungnya kau wahai orang miskin. Tidak perlu berpusing-pusing memikirkan akan digunakan untuk apa uang sebanyak yang saya punya. Bahkan sampai ada perasaan takut karena uang yang saya simpan di bank atau di rumah akan hilang. Kau hanya perlu menjalani hidup yang sederhana tanpa memikirkan uang dan harta benda yang kau miliki.”

Ya, begitulah kira-kira ilustrasinya. Orang-orang kaya itu semakin didekatkan dengan harta benda dan kesenangan duniawi, mereka akan cenderung takut kehabisan atau khawatir hartanya akan dicuri, diambil oleh orang lain. Sedangkan orang-orang yang tidak memiliki kebanyakan harta, mereka tidak perlu cemas akan kehilangan materi. Karena memang hidup mereka biasa dijalani dengan kesederhanaan. Makan seadanya, tas dan baju yang digunakan tidak bermerk, bahkan ponsel tidak punya, tidur di ranjang yang tidak empuk, dan lain sebagainya.

Orang-orang beriman tidak memikirkan statusnya apakah mereka kaya atau mereka miskin. Tetapi mereka meyakini bahwa kekayaan harta benda, kesenangan duniawi atau kesulitan ekonomi, kekurangan rezeki adalah takdir yang Allah gariskan pada setiap hamba-hamba-Nya. Mereka itulah yang tidak pernah merasa bangga akan kesenangan-kesenangan yang sifatnya akan membawa mereka pada kehancuran. Melainkan mereka bersyukur dan selalu merendahkan diri mereka kepada Allah. Hanya kepada Allah. Bersujud memohon ampun, memohon dilancarkan rezeki, dan memohon untuk tidak menjadi sombong atas harta-harta yang mereka miliki selama ini.


Pendalaman Surah

Surah At-Takatsur adalah termasuk karakter Al-Makkiyah. Yang biasanya ditandai dengan kata “kalla”. Karakteristik Makkiyah ini adalah surah-surah yang diturunkan sebelum hijrah. Sedangkan Madaniyyah adalah surah-surah yang diturunkan setelah Rasulullah berhijrah ke Madinah. Jadi, patokannya adalah bukan karena tempat, tetapi pada masa. Biasanya surah-surah Makkiyah itu mengandung nilai-nilai keimanan. Madaniyyah menjelaskan hukum-hukum. Surah ini mengantarkan tadabbur pada kali ini mengenai pemantapan keimanan kita.

Alhaakumuttakaatsur. Yang menjadi sorotan disini adalah kata ‘melalaikan’.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,”

Kata “bermegah-megahan” di sini bisa disederhanakan dengan kata “berlebih-lebihan”. Aplikasinya bisa jadi banyak bekerja, banyak tidur, banyak makan banyak dan tertawa. Banyak ibadah, bagus tidak? Belum tentu. Bukan sekadar banyak atau kuantitasnya, tapi juga perhatikan kualitasnya. Kalau bicara dzikir, justru banyak itu perlu. Fazkurullaha dzikran katsira. Tapi kalau amal, titik beratnya bukan di kuantitas. Ahsanu amalaa. Amalan yang paling baik, paling berkualitas. Tajahudnya sih banyak, tapi tidak karena Allah atau ikhlas, ya percuma saja.

Hatta zultumul makobir. Sampai kalian menziarahi tempat untuk dikuburkan. Qobrun adalah kuburan dalam bahasa Arab. Ternyata, kata “kuburan” tersebut diadaptasi dari bahasa Arab yaitu qobrun. Ini sebatas ilustrasi. Yang hanya kiasan dari kematian. Sampai kalian mendatangi kematian masing-masing. Makna kematian di sini diwakili dengan kata al-makobir. Karena tempat itu hanya sebatas dipendamnya jasad yang sudah meninggal. Kita tidak tahu ruh kita ada di mana. Di dalam Al-Quran pun dijelaskan bahwasanya ruh kita setelah meninggal itu hanya Allah saja yang tahu. Malaikat pun tidak tahu. Rasul pun tidak tahu. Jadi, makna dibalik makobir, bukan terletak pada kuburannya. Tetapi kematian. Sampai kalian mendatangi ajal masing-masing. Sebenarnya bukan ajal yang datang kepada kita. Tapi justru kita yang mendatangi ajal tersebut. Kematian itu sudah ditetapkan. Kita ini sedang berjalan menuju ajal masing-masing. Seperti itulah kira-kira ilustrasinya.

Kalla saufata’ lamuun, tsumma kalla saufata’ lamuun. Kata “kalla” ini menunjukkan pengingkaran yang bergitu banyak. Manusia itu terlalaikan dengan dunia, hingga akhirnya Allah memberikan statement “kalla”—sekali-sekali tidak, jangan begitu. Kalian kelak akan mengetahui balasan apa yang kalian perbuat di dunia ini. Diulang lagi, dua kali, ini ta’qid atau penegasan. Di dalam bahasa Arab, jika ada kata yang diulang dua kali atau bahkan lebih itu menunjukkan penekanan. Seperti ayat fabbi ayyi alaa i’Rabbi kumma tukadzziban dalam Al-Qur’an, Ar-Rahman yang diulang sebanyak 31 kali. Pengulangan kata ini menunjukkan banyaknya manusia yang mengingkari nikmat Allah. Sebagaimana dua ayat dalam Surah At-Takatsur yaitu kalla saufata’ lamuun, tsumma kalla saufata’ lamuun, memberikan penekanan pada dua kaum. Ayat ketiga ditunjukkan untuk orang-orang kafir. “Janganlah begitu (orang-orang kafir), kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu.” dan ayat keempat, “Dan janganlah begitu (orang-orang beriman) kelak kamu akan mengetahui.”

Ini merupakan tafsir dari Ibnu Katsir.

Kalla lauta’lamuun na ilmalyaqiin.
Ilmal yaqiin adalah orang-orang yang meyakini adanya hari kiamat atau hari pembalasan walau kita tidak melihatnya secara kasat mata. Sedangkan ainul yaqiin, adalah keyakinan akan neraka, hari kiamat, atau penyiksaan karena perbuatan yang dilakukan di dunia setelah mereka bisa melihat langsung dengan mata kepala mereka sendiri. Naudzubillah tsumma naudzubillah. Jangan sampai kita berkeyakinan kalau sudah melihat langsung neraka itu seperti apa. Berarti kita sudah masuk ke dalam neraka tersebut dan menjadi penghuni neraka. Di hari itu, ketika orang-orang berkata, “Oh. Jadi beneran neraka dan surga itu ada ya?” sudah tidak berguna sama sekali. Penyesalan mereka sia-sia. Karena Allah sudah tidak lagi menerima pertaubatan mereka. Sedangkan yang paling rendah adalah keragu-raguan. Yaitu mereka yang benar-benar tidak meyakini adanya hari pembalasan. Maka dari itu Allah mengancam mereka dengan ilmal yaqiin.

Modal kita adalah yakin tidak dengan ayat ini? Berbeda dengan orang-orang bagi kafir, mereka menganggap ayat-ayat Allah ini adalah semacam bualan belaka.

Latarawunnal jahiim. “Sungguh kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim. Ayat ini juga masih menekankan bahwa benar-benar al-jahim di sini adalah menggunakan ma’rifah. Atau yang artinya “sudah jelas”. Mengapa tidak memakai naqirah, atau pakai tanwin, misalkan latarawunnal jahiiman. Karena sudah jelas dan sudah ada. Kalau pakai naqirah, berarti maknanya masih umum, tidak tahu benar ada atau tidak ada. Melainkan dengan ma’rifah yang berarti sesuatu itu sudah jelas adanya.

Ayat berikutnya, tsumma latarawunnaha ainal yaqiin. Kalimat ini menerangkan adanya jeda, atau “kemudian”, ada jeda statement pertama dengan pernyataan selanjutnya. Untuk mereka yang terlalaikan karena dunianya, belum tentu yakin akan bertemu dengan siksa api neraka jahim. Karena mereka harus melihat dulu seperti apa siksaan itu. Naudzubillah tsumma naudzubillah. “Kemudian sungguh kalian itu (orang-orang yang terlalaikan) akan melihat jahim dengan mata kepalamu sendiri (ainul yaqiin)” .

Sampai ayat ketujuh, tsumma latus alunnayau maidzin aninnaiim. Ayat ini menjelaskan tentang keadaan manusia sekarang-sekarang ini. Mengapa habis waktunya untuk dunia? Baru sadarlah nanti ketika mereka menemui ajalnya dan tidak yakin adanya balasan-balasan atau hari kemudian dengan mata kepala mereka sendiri ketika telah melihat neraka secara langsung. Naudzhubillah tsumma naudzubillah. Di hari nanti, ketika kita sudah ada di akhirat, bukan lagi di dunia, maka kita akan benar-benar ditanya atas segala nikmat di dunia. “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahan di dunia itu)”.

Maka mengapa kita habiskan waktu di dunia ini dengan bermegah-megahan?


Tentang Isi Surah Dan Pesan Yang Terkandung Di Dalamnya


Surah ini mencela orang-orang yang disibukkan oleh kemegahan hidup sehingga tidak menjalankan kewajibannya dan memperingatkan bahwa mereka kelak akan mengetahui balasan keteledoran mereka. Selain itu, surah ini juga mengancam bahwa mereka akan menyaksikan api neraka dan akan ditanya tentang kenikmatan yang mereka dapatkan selama di dunia.

Ikhwatifillah, kita ini hidup di fase akhir zaman. Fase kerasulan sudah lewat dengan diutusnya Muhammad bin Abdullah. Fase diutusnya Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, dan Ali juga sudah dilewati. Tertutup sudah masa khilafah. Zaman kerajaan-kerjaan, dinasti-dinasti di Mesir, sudah hancur. Maka di sini kita sudah mulai masuk ke fase keempat yaitu fase fitnatul dajjal. Wujudnya memang belum nampak. Namun ajarannya, dogmanya sudah banyak. Bahkan bisa jadi ada di rumah kita. Melalui media televisi. Ajaran di televisi ini hampir semuanya hanya tontonan saja dan tidak ada tuntunan. Kebanyakan tontonan di televisi ini membawa kita pada kehancuran aqidah. Hanya ada beberapa acara televisi saja yang benar-benar mengikuti syariah. Dan ajaran dajjalisme ini harus kita waspadai. Orang-orang yang tergerak dengan Al-Qur’an membendung ajaran dajjal ini.

Manusia itu cenderung bermegah-megahan dalam urusan dunia. Ini fitrah manusia dan wajar.


“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”
(QS. Al-Imran: 14)


Di ayat ini Allah menjelaskan tentang kenormalan manusia. Allah membuat manusia cinta kepada shahwat. Yaitu seperti cinta kepada pasangan atau lawan jenis, ini normal. Cintanya seorang manusia kepada pasangannya lewat pernikahan. Kemudian cinta kepada anak dan cucu sebagainya. Ketika berkeluarga dapat ini dapat itu. Emas, perak, kendaraan, perusahaan atau harta-harta benda. Itu semuanya wajar. Yang tidak wajar adalah yang berlebihan. Dan manusia itu punya kecenderungan untuk mencintai dunia dengan sangat.

Di Suratul Fajr ayat 15 dan 16 menjelaskan bagaimana persepsi orang-orang pada umumnya. Kita harus belajar untuk jadi orang yang di atas rata-rata.

“Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata: ‘Tuhanku menghinakanku.’”

Ada 3 prinsip yang harus dipraktikkan. Terapkan laa tahab atau jangan takut, jangan galau, jangan khawatir, jangan cemas. Laa tahzan atau jangan sedih, jangan nangis, jangan murung. Laa taghdob atau jangan marah. Jangan khawatir dengan masa depan. Misalnya, kecemasan seseorang yang sudah mulai menua tapi belum juga dikasih jodoh. Ini adalah ketakutan yang tidak boleh ditiru. Yakin saja kita bersama dengan Allah, kita punya Al-Quran, sunnah, punya panduannya, semuanya sudah Allah takar, tinggal kita berjalan sesuai dengan apa yang Allah mau. Salahnya adalah kita berjalan sesuai dengan keinginan kita. Jangan ikuti nafsu yang menyesatkan. Lihatlah matahari, dia berjalan sesuai dengan fitrahnya. Gajah makanannya rumput, tidak pernah makan daging. Tapi manusia? Karena sering melenceng dari fitrah, akhirnya sakit. Allah tidak akan mencabut nyawa hambanya kecuali setelah disempurnakan nikmatnya. Jangan sedih dengan masa lalu. Kita bukan malaikat yang tidak pernah berbuat berdosa. Bukan pula setan yang tidak pernah berbuat baik. Kita ini manusia yang sudah pasti ada baik dan ada buruknya. Hanya ada dua sejarah yang akan terukir. Satu sejarah yang indah, yang satunya lagi kelam. Kalau sejarah itu kelam, masih banyak peluang dengan perbanyak istighfar. Minta maaf sama Allah. Sekarang sudah ada ilmunya. Perbaiki diri itu perlu. Tapi hati-hati dengan niat. Apa yang kita kerjakan jika tidak tulus atau tidak ikhlas, walaupun banyak amalannya ya sama saja. Jadilah orang yang banyak amalannya dan ikhlas. Allah tidak bosan mengampuni kita ketika hamba-Nya datang dengan hati yang bertaubat. Jangan marah dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Berarti dia tidak terima apa yang Allah takdirkan. Karena kita hanya menjalani apa yang Allah mau. Jadi, berharaplah untuk mendapatkan taufiq.

Ya Allah, pertemukanlah keinginan kita dengan apa yang Engkau kehendaki. Aamiin, Allahumma aamiin.

Lalu satu lagi yang harus diingat. Jangan mencintai pasangan 100%. Karena mereka bukanlah Tuhan. Berikan cinta kita yang 100% itu kepada Allah. Hanya kepada Allah. Mereka hanya wasilah, manusia biasa, jangan sampai seorang suami menghamba kepada istrinya. Begitupun sebaliknya. Jangan sampai seorang istri menghamba kepada suaminya. Menghambalah kita semua hanya kepada Allah azza wa Jalla.

Harta yang melimpah, anak yang banyak, perusahaan, kalau saja tidak diperuntukkan untuk jalan Allah maka akan celaka. Sia-sia semua yang kita miliki di dunia ini.

Pesan terakhir, jadikanlah ayat-ayat ini sebagai dzikir, nasihat, hidayah, yang akan membawa kita dari kegelapan menuju cahaya Islam, bi’ithnillah.


Tafsir Ayat Ibnu Katsir

Kalian telah disibukkan oleh anak-anak dan pendukung-pendukung kalian oleh sikap sombong kalian terhadap harta dengan menghitung-hitungnya, dan juga oleh keturunan-keturunan kalian sehingga tidak menjalanakan kewajiban dan ketaatan sampai ajal menjemput.

Sungguh, kalian akan mengetahui balasan kebodohan dan keteledoran atas gemerlapnya dunia.

Dan sungguh jika kalian mengetahui dengan yakin betapa buruknya tempat kembali kalian, kalian pasti akan merasa terkejut dengan gaya hidup kalian yang bermegah-megahan dan tentu kalian akan berbekal diri untuk akhirat. Akan datang suatu hari orang-orang yang menyesal atas perbuatan di dunia.

Suratul Fajr ayat 21-23.


“Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris, dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu sadarlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi baginya kesadaran itu.”

Baru saat itu manusia sadar. Tidak ada lagi manfaat atas kesadaran itu. Ketika nyawa sudah di tenggorokan, tidak ada lagi manfaat untuk taubat kita. Sekarang ini belum terlambat. Allah bersumpah bahwa kalian pasti akan melihat api neraka yang menyala-nyala dengan mata kepala kalian sendiri. Allah akan menanyakan nikmat yang sudah kita dapatkan selama ini di dunia dan dipergunakan untuk apa harta dan rezeki tersebut.

Apa yang kita miliki sekarang bukanlah milik kita. Melainkan adalah milik Allah. Apa yang kita makan habis lewat belakang. Kerja kita dari pagi sampai malam, kalau hanya untuk makan, minum itu hina sekali. Kerja keras dikejar karena keinginan materi bukannya ridha Allah yang dicari. Kemudian apa yang kita pakai, usang, sobek kita buang. Apakah begitu kita bekerja? Dan yang ketiga, adapun harta yang kamu sedekahkan, itulah yang akan mengekalkanmu. Bisa jadi itu milik orang lain. Bisa jadi harta kita ini ada hak orang lain. Jadi takarlah mulai dari sekarang, mana yang paling banyak: yang kita makan, yang kita keluarkan, yang kita pakai, yang kita copot, atau yang kita sedekahkan?

Kehidupan kita ini sudah di penghujung dan kita butuh penyelamat. Apa saja penyelamat itu dan apa saja penghancurnya?

Pertama, ketakwaan.

Takwa dalam keadaan sunyi maupun ramai. Ini adalah bekal kita. Supaya kita tidak bermegah-megahan. Dasarilah bekal kia dengan takwa kepada Allah. 

Buah dari takwa adalah takut terhadap azab Allah. Dan malu jika berbuat dosa kepada Allah. Surga itu Allah dekatkan bagi orang-orang yang bertakwa. Awaabun—yaitu orang yang senantiasa bertaubat. Sedikit salah, taubat. Dengan cara istighfar maupun shalat sunnah taubat serta sedekah. Yang kedua adalah hafidzuun. Yaitu orang-orang yang menjaga norma-norma atau syariat yang telah Allah gariskan. Menjalankan segala perintah dan menjauhkan larangan-Nya. Selanjutnya, orang bertakwa itu punya rasa takut kepada Allah, meskipun ia tidak bisa melihatnya. Kalau pun ia tidak bisa melihatnya, tapi ia sungguh yakin bahwa Allah melihat dia kapan pun dan di mana pun.

Kedua, mengatakan yang haqq.

Kita harus berani mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Patokannya adalah tegakkanlah kebenaran. Dan yang haqq adalah maqolallah wa maqolarasulullah. Hukum Allah dan sunnah Rasulullah. Tidak ada kebenaran kecuali dua hal tersebut. Selain itu adalah kesesatan. Maqolallah wa maqolarasulullah adalah kebenaran yang hakiki, kebenaran yang mutlak yang tidak bisa diganggu-gugat. Meskipun resikonya adalah nyawa.

Ketiga, sikap hemat.

Dalam keadaan kaya atau miskin kita tetap harus membiasakan diri untuk berhemat. Sebelum berumahtangga, kita sudah punya file aset masing-masing. Ada harta bawaan, dapatan, dan bersama. Harta bawaan adalah yang kita bawa sebelum pernikahan, dapatan adalah warisan atau hadiah setelah menikah. Tapi harta bersama misalnya membangun rumah bersama-sama. Gunakanlah manajemen keuangan secara syariah. Tidak ada orang kaya maupun orang miskin. Yang ada adalah yang sedang Allah kayakan. Dan yang sedang Allah miskinkan. Jangan sombong. Kita hanya dikasih lewat, nyicipin. Ketika meninggal, tidak ada yang membawa harta itu sampai di kuburan. Sekarang berbekallah sebelum terlambat. Allah tidak pernah melihat seberapa banyak hartamu. Tapi Allah melihat seberapa besar syukurmu.

Kemudian tiga hal yang akan menghancurkan kita:

Pertama, nafsu yang diperturut.

Ada nafsu yang selalu menyela dirinya. Menyesal telah melakukan dosa, sehingga terus-terusan saja menyalahkan diri sendiri tanpa memperbaiki. Kemudian ada juga nafsu yang mengajaknya bermaksiat. Ini yang paling banyak. Dari kedua nafsu ini ternyata adalah warisan dari setan. Namun berbeda dengan nafsu muth’mainah yang seirama dengan fitrah kita sebagai manusia. Ini adalah nafsu yang positif. Misalnya, merasa aman dan tenteram selalu berada dalam keridhaan-Nya dan menolak untuk bermaksiat kepada-Nya.

Kedua, kikir.

Sikap pelit. Akibat dari orang yang sangat cinta harta adalah tidak mau berbagi kepada sesama. Ia merasa sudah bekerja dan ia bisa bebas melakukan apa yang diinginkannya dengan hasilnya itu. Dia tidak sadar bahwa ada Allah yang Maha Memberi Rezeki. Sikap bakhil ini harus kita tanggalkan. Ini akan merusak akhlak kita.

Ketiga, bangga diri atau ujub.

Merasa diri sudah shaleh, sudah benar, sudah pintar, sudah banyak amalnya. Padahal belum tentu Allah melihatnya seperti itu. Hal yang wajib kita waspadai adalah kesalahan niat. Kalau niat kita hanya untuk agar dilihat orang, agar dikatakan shaleh oleh orang, maka sungguh itu bukan lilaahi ta’ala. Kita harus perbaiki niat kita sebelum berbuat.


Dimensi Iman


Jangan sampai kita lupa tujuan hidup karena sibuk berlomba dan bermegah-megahan. Ingat tujuan kita untuk menghambakan diri kepada Allah. Bukan menghambakan diri kepada bos, perusahaan dan materi. Boleh bekerja, kalau bisa bekerjalah dengan merdeka. Jadilah pimpinan yang dapat dipercaya. Supaya bisa memutuskan sesuatu sesuai dengan hukum Allah dan Rasul-Nya.

Semua nikmat yang kita peroleh akan dipertanyakan apakah digunakan untuk agama atau tidak. Orang kaya yang kikir tertunda masuk surga 500 ribu tahun lamanya karena tidak mempergunakan hartanya dengan baik. Sedangkan orang miskin yang bersyukur serta beramal shaleh tidak ada hisab harta dan lebih dimudahkan untuk masuk surga.

Ada empat perkara yang akan dipertanyakan ketika kita meninggal nanti.

Pertama, akan ditanyakan tentang usia yang kita habiskan.

Kedua, akan ditanyakan tentang apakah ilmu yang diterima sudah diamalkan atau belum.

Ketiga, akan ditanyakan tentang dapat dari mana dan dibelanjakan ke mana harta yang kita miliki.

Keempat, akan ditanyakan tentang mengapa jasad kita dirusak.
Misalnya, mata yang sudah tidak lagi melihat dengan jelas. Alhasil kita pakai kacamata. Jantung yang mulai rusak, karena kita sering merokok. Telinga yang kurang mendengar karena kita sering menyetel musik kencang-kencang dengan earphone.

Semua itu akan dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap?

Pesan terakhir.
Tampakanlah kesederhanaan sebagai jalan hidup yang membahagiakan agar menjadi teladan bagi orang lain. Seperti pada ucapan dan sikap. Lihatlah Rasulullah yang tidak mewariskan harta benda kepada anak cucu beliau. Ia mewariskan ilmu yang kelak akan bermanfaat untuk keluarga, kerabat maupun umat. Tidur pun di atas pelapah kurma.

Lalu bagaimana dengan kita?



Wallahu’alam bisshawab.