Visitor

Monday, March 31, 2014

Tentang Kemarin

Sabtu, 29 Maret 2014
Seperti biasanya, aku selalu menanti-nantikan setiap weekend bersama teman-teman qgeners. Kami berkumpul bersama di aula AQL untuk bertadabbur. Hari itu kami dibimbing oleh Ustadz Deka Kurniawan. Aku sangat suka dengan pembawaan beliau yang humoris, penuh ekspresi, jiwa mudanya tinggi dan beliau sangat bersemangat. Inginnya punya abi seperti beliau, hehehe. Kebetulan, beberapa hari sebelumnya Pipit, Mba Ega dan Mba Nita mengajak kita semua untuk menginap di rumah Mba Nita hari minggunya. Karena keesokannya kami ingin menghadiri acara Doa Bersama Untuk Pemilu 2014 di Masjid Istiqlal yang dipimpin oleh Ustadz Yusuf Mansur dan Ustadz Bachtiar Nasir.

Setelah tadabbur, kami berempat makan malam di Solaria. Aku makan nasi goreng seafood kesukaanku. Rencananya hari itu kami mau nemenin Mba Ega yang akan ketemu si calon, namanya Mas Reno (aku memanggilnya mas karena doi lebih tua dariku, hehe). Mas Reno membawa ibu dan ayah serta adik perempuannya. Sebelum bertemu dengan mereka, aku menemani Pipit yang lagi lahap sekali makannya. Kami memesan Burger King. Aku makan kentangnya saja. Di sana, aku ketemu Acin-senpai bersama Aya-chan. Kenal sama Aya di twitter, facebook dan beberapa akun lainnya tapi baru pertama kali bertemu langsung dengannya. Aku cerita sedikit tentang kuliahku ke Acin-senpai. Rasanya jadi ingin nostalgia masa-masa awal kuliahku dulu. Riyanti, Fera, Fitri, Aria, Indah, Mega, Andi, Dimas, Ferino, Reza dan beberapa teman lainnya dulu sangat kompak ikut kaiwa kurabu. Kami berlatih percakapan bahasa Jepang sehari-hari dengan tema yang berbeda-beda setiap pertemuannya. Salah satu kakak pembimbing kami Kak Acin. Ada lagi Kak Yogi, Kak Vinnie dan kakak-kakak lainnya. Mereka semua waktu itu kalau tidak salah sudah semester 3 dan 5. Jago-jago banget. Kami yang masih semester 1 jelas kurang pede untuk bercakap-cakap seperti itu. Kak Acin benar-benar kenal kami, angkatan 2010. Doi bilang kalau angkatan kami ini kurang kompak. Ada yang masih ketinggalan, tapi sedikit yang sudah beres masa kuliahnya. Aku mengakui dua temanku itu—Yoru dan Sophie yang sudah lebih dulu lulus di awal Maret ini, memang mereka pintar dan rajin. Aku dan Aria sepertinya akan ketinggalan 1 semester dan kami akan mengambil skripsi. Harusnya kami lulus tahun 2014 dan wisuda di akhir tahun. Tapi melihat kenyataan sekarang, in syaa Allah aku akan mengambil sidang di pertengahan tahun 2015 dan wisuda di akhir tahun.

Aku cerita banyak sama Acin-senpai.

“Iya Kak, dulu waktu masih semester-semester awal aku jarang masuk dan menyepelekan mata kuliah. Apalagi nilai bahasa Jepangku C. Sampai akhirnya aku berusaha untuk bangkit, aku buktikan di nilai bahasa Jepang 5 dan 6 aku bisa dapat A.”

“Tuh kan! Sebenarnya kamu tuh bisa! Apalagi itu bahasa Jepang 5 sama 6 yang tingkat kesulitannya itu tinggi. Tapi kamu bisa kan? Kamu cuma nggak mau berusaha kemarin. Semua kita sama aja. Awalnya nggak paham sama sekali. Tapi karena kemauan yang kuat, akhirnya kita bisa. Memang kamu pikir aku sama Kak Yogi dulu udah pernah belajar bahasa Jepang sebelum masuk kuliah? Engga. Boro-boro belajar, ngerti aja kagak.”

Kak Acin memberiku semangat untuk tetap memperjuangkan semester-semester terakhir. Walaupun terlambat, bukan waktunya aku untuk menangisi nasib. Ini pasti ada hikmahnya. Allah telah mempersiapkan hadiah spesial untukku jika aku berhasil nanti.

Setelah mengakhiri percakapanku dengan Acin-senpai dan Aya-chan, aku pamit. Aku dan Pipit berjalan ke Kopitiam untuk menemui keluarganya Mas Reno, Mba Ega dan Mba Nita. Kami ngobrol cukup lama. Banyak yang kami dapatkan di sini. Dan aku baru engeh, ternyata adiknya Mas Reno itu seumuran sama aku, hihihi. Pantaslah aku benar-benar dianggap adik bungsu oleh ketiga kakakku, Pipit, Mba Ega dan Mba Nita. Tapi sungguh, aku berharap jika mereka semua bisa menemukan pasangan yang beriman yang bisa membimbing mereka semua. Mba Ega yang sudah siap dan matang untuk menikah sepertinya memang cocok bersama Mas Reno. Mba Nita juga. Tapi Om Adhli kok sampai sekarang belum melamar ya? Huehehe.


Ngomongin soal pernikahan, aku setuju kalau mereka (Mba Nita dan Mba Ega) menikah lebih dulu dan mudah-mudahan bisa di tahun ini. Kalau aku sih, jangan dipikirin dulu. Aku masih kuliah dan masih perlu banyak yang kupelajari sebelum benar-benar menikah. Lagian, belum ada cowok yang mau melamarku. Wajar kalau aku santai banget menanggapi ini. Tapi untuk mereka, lulus kuliah sudah, kerja sudah, usia sudah matang, ilmu in syaa Allah juga sudah dipersiapkan, tinggal calonnya aja yang bergerak. Senang banget bisa merasakan keakraban seperti ini. Rasa malu dan nervous pun seolah-olah menghantuiku. Seperti sedang benar-benar bertemu dengan keluarganya calon imamku.


Minggu, 30 Maret 2014
Pagi yang cerah di hari minggu. Sampai di Istiqlal pun kami siap mendengarkan isi ceramah. Tapi ada satu yang lucu di hari itu. Pipit, dia cerita sama kami bahwa ada ikhwan yang terus-terusan nge-chat dia. Dan nggak cuma satu, tapi banyak. Ada yang di Path, Twitter, Facebook, dll. Laku keras doi.

Aku kenal dia udah lama banget. Dan cukup bisa menilai karakternya. Pipit bukan perempuan sembarangan yang bisa menerima cowok-cowok yang menyukainya. Kadang kita jadi tertawa gara-gara kelakuan si cowok yang ngotot bahwa dirinya telah bertemu si pujaan hati—Pipit dengan jilbab hitam, behel dan gamis hijau. Padahal sih, hari itu Pipit pakai jilbab putih dan TIDAK BERBEHEL. Subhanallah. Sebegitu semangatnya doi sampai-sampai salah orang. Tapi, ya. Mencari pasangan yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan memang tidak segampang itu. Ini menikah loh. Bukan untuk main-main. Walaupun banyak yang suka sama perempuan satu itu, ternyata toh buktinya sekarang doi masih santai-santai saja menanggapi pernikahan. Pipit sama kaya aku. Kalau doi fokus sama kerjaan, aku fokus sama kuliah.


Menurutku, kecantikan fisik hanya akan jadi bonus untuk perempuan yang hatinya bersih. Pasti dia akan berjodoh dengan pria yang juga hatinya tertuju pada ma’rifatullah. Boleh saja kita mengidam-idamkan seseorang untuk menjadi pendamping kita asal kita terus tekun berdoa. Dan berharapnya hanya kepada Allah saja. Jangan memohon atau berharap sama manusianya. Itu jelas-jelas musyrik. Allah pasti kabulkan dan Dia Maha Tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Kalau kita ingin imam yang hatinya cinta sama Allah dan Rasulullah, serta wajahnya itu bisa menyenangkan hati kita (read: tampan) silakan saja mulai dari sekarang untuk “mempercantik” diri dengan: misalnya, perbanyak ilmu tentang tauhid—agar timbul rasa cinta kepada Allah, perbanyak membaca Al-Qur’an (tahsin, tadabbur, menghafal), perbanyak amalan sunnah, dzikrullah—mengingat Allah, habis itu tawakkal dan serahkan semua keputusan hanya kepada Allah.

No comments:

Post a Comment