Visitor

Sunday, March 30, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Furqan ayat 74
 29 Maret 2014

Oleh Ustadz Deka Kurniawan, Lc

Membangun Keluarga Qayyim

“Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.'”
(QS. Al-Furqan: 74)


Pendahuluan
Terkadang, kita mengidam-idamkan memiliki keluarga yang qayyim atau dirahmati oleh Allah seperti bebasnya dari segala kepelikan masalah rumah tangga. Namun jika melihat kenyataannya, sulit sekali untuk mendekati kata qayyim. Apa sebenarnya yang menjadi masalah utama dari persoalan ini? Mengapa begitu mudahnya para istri dan suami memilih untuk bercerai daripada mempertahankan mahligai rumah tangga yang mereka bangun sejak lama? Dan apa yang membuat anak-anak mereka sulit sekali diatur sehingga timbullah masalah-masalah sosial seperti tawuran, pelecehan seksual, pembunuhan dan penculikan?

Allah mendatangkan bencana atau musibah disebabkan atas dua hal, yaitu karena kesalahan diri sendiri atau yang kedua, karena musibah itu adalah cobaan kesabaran untuk menaikkan derajat seorang hamba. Kedua hal ini menjadi penting untuk memposisikan diri kita sebagai hamba Allah.

Sudah sejauh manakah kita berbuat kerusakan sehingga Allah mendatangkan mala petaka itu?

Sudah sejauh manakah kita bersabar?

Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Dan pada materi tadabbur kali ini kita akan membahas tentang bagaimana membangun konsep keluarga qayyim yang menjadi idaman atau cita-cita muslimin ketika akan berkeluarga.


Siapa Hamba Allah Itu?
Konteks besar bagaimana ayat ini diturunkan adalah bahwa Allah menjelaskan tentang ciri-ciri hamba Allah Yang Maha Pengasih:

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salaam’, dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.”
(QS. Al-Furqan: 63-64)

Wa ibbadurrahman—adalah ungkapan yang spesial dari Allah kepada hamba-Nya. Allah menjelaskan dengan rinci bagaimana ciri-ciri hamba tersebut. Ialah mereka yang ketika disapa oleh orang-orang bodoh dengan ucapan yang menghinakan, ungkapan mereka adalah qaluu salaam—keselamatan. Dan pada saat malam datang, waktu mereka dihabiskan bukan untuk tidur tetapi beribadah kepada Allah dengan bersujud dan berdiri. Dan ciri-ciri berikutnya selain dari pada yang di atas adalah mereka yang berdoa denganRabbana hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yuniiw waj’alnaa lil muttaqiina imamaa.

Dalam penjelasan tafsir beberapa ulama, ayat tersebut memiliki pengertian ayat yang menggambarkan obsesi atau harapan seseorang.


Visi Keluarga Muslim


Visi adalah cita-cita atau harapan. Setiap muslim di dunia ini yang beriman kepada Allah tentu mempunyai visi untuk mencapai sesuatu. Salah satunya adalah visi berkeluarga. Akhir-akhir ini, telah banyak diadakannya seminar-seminar pra-menikah dengan tujuan membangun keluarga yang bersahaja dengan modal iman dan taqwa kepada Allah. Jadi sebenarnya bukan harta, warisan, anak atau jabatan yang dapat menyetir kita menjadi keluarga bahagia. Tapi cukup dengan ilmu tauhid dan Al-Qur’an yang disematkan di dalamnya. Ini baru namanya keluarga qayyim. Dan tidak mudah untuk mencapai visi-visi ini jika kita sendiri masih lalai dalam beribadah atau salah satunya yang masih banyak terjadi di kalangan ibu dan bapak muda—masih mempertahankan bad habit yang menyesatkan kita.

Sebenarnya, Allah sendiri sudah menuntun kita dengan memberikan visi berkeluarga. Namun manakah yang akan kita pakai, hukum-hukum yang kita buat sendiri atau hukum Allah?


Visi #1
Qurrata a’yun atau menyejukkan mata.

Tetapi mata di sini bukanlah mata fisik yang dapat dilihat—lebih kepada mata hati. Jika seseorang sejak awal ingin menikah dengan visi qurrata a’yun, maka sebisa mungkin jauhkanlah diri kita dari hal-hal yang negatif. Misalnya, kebiasaan merokok.

Azwaj secara bahasa artinya banyak, sedangkan zauja adalah satu. Tetapi jika kita membaca terjemahan, maka kita akan melihat kata ‘pasangan’. Dan menurut para musafir, kata azwaj ini mengacu pada pasangan. Jika seorang istri berdoa maka itu artinya ia berdoa untuk suaminya. Begitupun juga sebaliknya.

Siapapun yang sudah berumah tangga ikutilah aturan Allah dengan sebenar-benarnya. Karena visi juga merupakan doa. Orang yang tidak punya visi adalah orang yang tersesat. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memiliki atau mendambakan pasangan yang qurrata a’yun.


Visi #2


Waj al’naa lil muttaqiina imamaa.

Allah telah membuatkan visi yang besar dan yang jauh ke depan untuk hamba-hamba-Nya, yaitu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang beriman.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengaplikasikannya kepada keluarga kita?

Misalnya, ajaklah anak-anak kita untuk belajar menjadi pemimpin sejak dini. Jangan berikan barang atau sesuatu yang sebenarnya belum diperlukan oleh mereka. Ini berguna agar mereka terbiasa memprioritaskan hal yang lebih penting. Kalau anak-anak kita sudah terbiasa dengan gadget, teknologi yang canggih, dan pergaulan bebas maka cepat atau lambat mereka akan memiliki karakter yang lemah, tidak konsisten, tidak mempunyai prinsip dan ini yang disebut kebalikannya dari keluarga qayyim.

Berilah pengetahuan tentang Al-Qur’an kepada mereka. Karena sungguh, Al-Qur’an mengandung hikmah yang dapat—bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memberikan banyak rahmat bagi siapapun yang mempelajarinya. Mereka, para anak yang jauh dari Al-Qur’an tidak akan bisa merasakan hikmah. Tetapi jika orangtua sadar betapa pentingnya agama dalam pendidikan anak, maka sungguh, anak itu akan tumbuh dan berkembang dengan akhlak Al-Qur’an, in syaa Allah.

Pemimpin di sini adalah pemimpin yang bisa memberikan perubahan, langkah-langkah dan ucapan-ucapannya dituruti. Allah menegaskan kepada kita untuk tidak hanya menjadi orang-orang yang biasa saja. Berilah perubahan yang baik bagi generasi yang selanjutnya. Jadikanlah Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai hukum dasar bagi semua sistem—mulai dari pemerintahan, pendidikan, politik, ekonomi dan keluarga.

Allah menginginkan kita menjadi keluarga yang luar biasa. Qayyimqurrata a’yun dan muttaqiin adalah keluarga yang lulus.

Saat-saat yang paling indah adalah ketika diri kita dan keluarga kita—qayyim bisa dan mampu terbiasa mengenal Allah secara baik dan benar. Dan memahami ayat-ayat Allah hingga mencintainya. Ilmu yang paling mahal, tinggi, dan agung adalah ilmu mengenal Allah atau ma’rifatullah. Tanpa itu, tidak bergunalah kita sebagai hamba-Nya.

Ada beberapa kasus keluarga yang mulai mengkhawatirkan anak-anak yang tidak bisa menguasai ilmu duniawi. Sebut saja ilmu hitung-menghitung—Matematika. Biasanya, anak-anak itu akan disibukkan hari-harinya dengan les, les, dan les. Hingga ia lupa kepada Tuhannya. Rasa takut atau cemas lebih mudah muncul jika dinilai oleh orang lain. Tetapi jika Allah yang menilainya, maka mereka justru biasa-biasa saja. Ini bahaya. Para orangtua lebih bangga jika anak-anak mereka berprestasi di bidang akademik dibanding memperoleh penghargaan dari kemampuan membaca Al-Qur’an, misalnya. Bahkan beberapa ucapan anak-anak sekolah dasar mengaku: mata pelajaran yang paling membosankan adalah pelajaran agama.

Mengapa?

Karena ketika guru mereka memberikan tugas, ternyata tugas tersebut tidak dinilai. Prihatin. Padahal ilmu agama adalah ilmu yang paling utama atau vital dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Anak-anak ini jujur mengatakan bahwa mereka menyepelekan pelajaran tersebut. Bagaimana mungkin anak bangsa dapat memajukan negeri ini jika tidak ada nilai-nilai Al-Qur’an di dalamnya? Mau dengan dasar apa mereka memimpin?

Konsep liberalismekah?

Atau dengan mengembangkan ideologi kapitalisme?

Tidak ada satu pun ayat yang disebutkan dari ucapan mereka. Sungguh miris.

Sebenarnya boleh saja para orangtua memberikan kursus kepada anak-anak mereka seperti kursus menari, bahasa, matematika, menggambar atau ilmu-ilmu lainnya. Saya pun sejujurnya termasuk tipikal orang yang suka belajar, termasuk ilmu bahasa. Ketika diizinkan menikah dan mempunyai anak nanti, saya pun tidak akan segan-segan untuk mengajari mereka berbahasa yang baik dan benar. Bahasa lain yang bermanfaat jika dipelajari, seperti bahasa Arab, Inggris, dan Jepang. Tidak masalah untuk memberikan mereka pengetahuan baru selain agama. Tetapi bukan itu tujuan utamanya. Anak-anak harus dicelupkan oleh ilmu tauhid sejak dini. Karena mereka akan sangat mudah menyerap perkataan, gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatan orangtuanya. Maka berikanlah lingkungan terbaik untuk anak-anak kita agar kelak kita mampu menjadi keluarga qayyim.

Qurrata a’yun adalah ketika diri kita bukan hanya bisa tetapi terbiasa menyembah Allah secara baik dan benar—taat dan khusyuk. Artinya bisa menikmati, mendalami, merasakan kehadiran Allah di setiap ibadah, banyak menemukan inspirasi dari ibadahnya, esensinya dipahami dan istiqomah. Anak-anak yang tidak masuk dalam keluarga qayyim selalu memberikan komentar yang sama ketika dinasihati yaitu overdosis advance. Mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan orangtua adalah sesuatu yang membosankan. Terlalu banyak aturan yang membuat mereka tidak bisa bebas. Sedangkan anak muda biasanya senang mencari jati diri sendiri dengan mengikuti tren, gaya, fashion, pergaulan, makanan, dan teman-teman yang bisa membawanya hidup senang. Apakah anak-anak seperti ini lahir dari pola asuh yang salah? Tentunya ini yang menjadi masalah dan beban para orangtua yang dulunya tidak memahami betul ilmu tentang mengenal Allah—ma’rifatullah, sehingga ketika diberikan amanah, mereka lupa mengenalkan Allah kepada anak-anak mereka.


Visi #3
Mampu dan terbiasa hidup dengan akhlak yang mulia.

Menjadikan ibadah sebagai habit merupakan salah satu kunci membangun akhlak yang mulia. Termasuk juga ibadah-ibadah sunnah lainnya. Tutur kata, cara berpakaian dan sikap akan sangat menunjukkan siapa kita sebenarnya, dan bagaimana akhlak kita. Salah satu elemen penting dalam membangun visi berumah tangga yang qayyim adalah dengan mempertahankan keromantisan.

Keluarga islami yang benar-benar qurrata a’yun bukan berarti mereka yang melakukan ibadah secara terus-menerus, membaca Al-Qur’an tak mengenal waktu, bersedekah hingga uang saku habis. Bukan seperti itu. Tetapi keluarga qurrata a’yun adalah mereka yang menjalankan ibadah, syariat dengan sungguh-sungguh serta merasakan kehadiran Allah di sisi mereka. Jika saja mereka terbesit untuk melakukan perbuatan maksiat, maka buru-buru mereka bertaubat karena takut kepada Allah. Amal ibadah yang sempurna tidak dilihat dari sebanyak apa orang itu beribadah siang-malam, tetapi bagaimana mereka bisa mengaplikasikan ibadah seperti shalat itu menjadi suatu hal yang akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Ternyata, banyak survei yang mengatakan bahwa pasangan yang menikah melalui jalur pacaran hanya akan terlihat manis-manisnya saja di awal. Mereka biasanya lebih suka mengumbar kelebihan, kebaikan dan menyembunyikan kekurangan kepada pacar mereka. Setelah menikah, ada yang menyesal karena suami atau istrinya hobi sekali selingkuh. Padahal waktu pacaran tidak seperti itu. Ada juga yang suka sekali menggombali pacarnya tetapi setelah menikah malah bosan.

Namun ini tidak terjadi di dalam rumah tangga pasangan yang menikah karena Allah. Mereka takut berbuat maksiat dan sungguh ingin ibadahnya diterima. Pasangan-pasangan tersebut adalah mereka yang senantiasa berdoa, mengharapkan kekasih, keluarga, anak dan cucu-cucu yang qurrata a’yun. Kebosanan sebenarnya bisa diatasi dengan komunikasi yang baik antara anak dan orangtua. Sekalipun si bapak terkesan jayus, janganlah khawatir anak-anak akan lari ke kamar mereka masing-masing. Justru yang banyak saya temui adalah teman-teman yang mampu menghibur dengan ketidaklucuan mereka. Kehadiran orang-orang semacam ini akan membuat suasana lebih seru dan bermakna. Oleh karena itu, dekatilah keluarga kita, ajak bicara, ngobrol sambil minum teh, atau bahkan jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Bangun kebiasaan komunikasi antar kakak dan adik atau orangtua dan anak. Karena tanpa komunikasi, mereka akan menjadikan diri mereka seperti pada fenomena social-disconnected.


Visi #4
Bermimpi menjadikan dakwah sebagai cita-cita besar.

Siapa yang tidak tahu perjuangan Rasulullah dan para sahabat demi memperjuangkan Islam untuk umat? Kalau tidak ada mereka, jangan harap kita ada di sini. Dakwah sangat penting bagi setiap muslim—bahkan menjadi kewajiban. Bermimpilah menjadikan keluarga kita sebagai keluarga dakwah.

Walaupun dinamika di dalam rumah tangga itu pasti ada, percayalah bahwa hikmah dan berkah di balik itu semua juga datang menghampiri kita. Hendaklah kita mengajak keluarga, teman-teman, saudara dan kerabat untuk menjadi penolong agama Allah. Ada yang mengatakan, dakwah di keluarga itu sulit. Apalagi melihat bagaimana ideologi mereka terbangun. Ada yang menganut sistem jangan fanatik sama agama. Ini yang harus diluruskan. Ketika seseorang pergi berhijrah dari masa-masa jahiliyahnya demi mendapatkan penerangan cahaya Allah, dan kemudian kembali ke keluarganya, justru yang miris adalah ia diusir oleh keluarganya. Hanya karena satu alasan, kamu terlalu fanatik. Padahal yang diberitahukan olehnya bukanlah sesuatu yang negatif, tetapi melainkan syariat. Keluarga yang sudah terbiasa mengemban pendidikan dan sistem liberalisme, serta mengikuti agama budaya, mereka akan sangat sulit untuk berlepas diri dan turut pada syariat Islam sebenarnya. Ini yang menjadi peer bagi kita semua, orang-orang yang berhijrah dan sedang mendakwahkan agama Allah di lingkungan keluarga kita. 

Maka dari itu, wajib bagi kita kaum muslimin untuk mencari pasangan yang memiliki background aktivitas dakwah. Tidak harus yang ahli di mimbar, atau orasi, tapi dia benar-benar ingin memperjuangkan sesuatu. Ada yang ingin diwujudkan untuk umat ini.

Saya ingin bercerita sedikit tentang kisah memilukan yang mungkin terjadi juga di lingkungan kita. Ada seorang adik membuat kakaknya benar-benar bisa mengenal Allah. Jangankan untuk mau membaca Al-Qur’an, untuk shalat saja ternyata selalu menghindar. Ketika si kakak dan keluarganya berkunjung ke rumah si adik, ternyata ia hanya mengirimkan beberapa makanan sebagai persediaan si adik saja. Begitu adzan Ashar berkumandang, si kakak dan keluarganya buru-buru pamit dan pulang. Tahu mengapa? Si kakak rupanya takut disuruh shalat oleh adiknya sendiri. Pada saat ingin pulang, salam pun tak dijawab. Mirisnya. Seseorang yang diingatkan oleh keluarganya untuk mengingat Allah seharusnya perlu berbangga hati. Tetapi ini? Kejadiannya terbalik. Justru ingin segera pulang supaya tak disuruh-suruh beribadah. Betapa hidayah itu benar-benar datang atas kehendak Allah saja. Kita tidak bisa memaksakan. Tugas kita hanya mendakwahkan, memberitahu, menyampaikan walau hanya satu ayat tetapi ayat yang benar. Dan itulah cobaan bagi orang-orang yang berdakwah.


Visi #5
Mengakhiri hidup dengan khusnul khatimah.


Muslim mana yang tidak ingin mendapatkan balasan surga dari Allah? Muslim mana yang tidak ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah?

Semua itu adalah impian atau cita-cita orang-orang mukmin ketika akan menghadap Tuhannya. Maka dari itu, cara terbaik untuk merasakan khusnul khatimah adalah dengan menjauhkan dari perbuatan maksiat. Semaksimal mungkin jangan sampai satu detik pun kita melakukan maksiat.


Visi #6
Mendapatkan kedamaian di alam barzah.

Orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan siksa yang luar biasa seperti salah satunya membusuk berabad-abad lamanya.

Bagaimana caranya agar kita selamat dari azab Allah?

Dan berapa lamakah mereka yang tersiksa di alam barzah?

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’”
(QS. Al-Mu’minuun: 112-114)

Laa. Tidaklah seorang muslim pun yang takut kepada Allah, meyakini adanya hari akhir, dan sungguh-sungguh beriman akan mendapatkan musibah melainkan Allah cabut semua rasa sakit yang pernah ia rasakan, Allah berikan kelapangan dalam dadanya, Allah gugurkan semua dosa-dosanya sebagai bentuk rasa kasih sayang dan cinta Allah kepada orang-orang mukmin tersebut.


Visi #7
Kenikmatan yang luar biasa yaitu surga.

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.”
(QS. Al-Imran: 185)


Visi #8
Bagaimana kita bisa melihat wajah Allah.

Apa yang membuat kasus-kasus anak sekolah melakukan seks bebas, membuat video porno, pesta miras, tawuran dan pembunuhan itu terjadi? Jika saja anak-anak itu telah dibiasakan untuk membangun visi di dalam keluarga, maka semua itu tidak akan terjadi. Inilah yang harus menjadi cita-cita kita dalam berumah tangga. Percayalah, sesulit apa pun masalah yang akan dihadapi, jika kita memohon pertolongan kepada Allah, maka cepat atau lambat Allah akan mendatangkan 1000 bala bantuan kepada kita dan mencabut kesulitan tersebut. Hanya saja, sayangnya, mereka yang mengaku muslim namun tidak benar-benar beriman malah lari dari masalah dan memilih untuk bersenang-senang. Ini bukan penyelesaian tetapi justru akan menambah masalah baru.

Dan setelah kita melihat, menelaah, membaca ketujuh visi yang sudah saya paparkan di atas, in syaa Allah, misi kita selanjutnya adalah merasakan kenikmatan yang paling tinggi—yaitu melihat wajah Allah. Pernah mendengar atau membaca ayat yang berkenaan tentang Nabi Musa ingin melihat Allah ketika beliau sedang berada di Gunung Sinai? Kemudian Allah berfirman:

“Engkau sekali-kali tidak akan mampu untuk melihat-Ku, akan tetapi arahkanlah pandangan (engkau) ke gunung itu, maka jika ia tetap pada tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku!” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.’”
(QS. Al-A’raf: 143)

Maka jadikanlah salah satu visi kita untuk melihat wajah Allah sebagai motivasi yang besar ketika kita mampu beribadah secara total di dunia ini. Jadikanlah dunia ini sebagai tempat untuk mengumpulkan dan mendapatkan rahmat Allah sebanyak-banyaknya. Janganlah menjadi orang yang menyerah karena mereka sesungguhnya adalah teman-teman orang kafir. Dan orang-orang yang merugi adalah orang-orang yang gagal dalam membina keluarganya menjadi keluarga qayyim. Dengan begitu, mereka tidak bisa menjadikan keluarga mereka sendiri sebagai investasi di akhirat kelak.


Keadaan Bangsa Yang Memprihatinkan
Ketika membicarakan keluarga, sebenarnya bukan semata-mata keluarga itu saja. Tapi kita membicarakan bangsa. Karena pilar bangsa ini adalah keluarga-keluarga. Orang itu lahir dari keluarga yang bermacam-macam. Kalau mereka memiliki visi yang benar, maka bangsa ini juga akan berubah menjadi lebih baik. Kita begitu khawatir, di zaman modern ini, teknologi dan informasi semakin menggoda. Dan itu bisa merambat kepada siapa saja. Anak-anak yang baik pun bisa terpengaruh.

Kita harus memiliki komitmen yang sangat kuat sebagai visi keluarga mukmin. Ini berguna supaya kita tidak mudah terpengaruh dari orang-orang yang membenci agama—mereka yang menjauhkan umat muslim itu sendiri dari Al-Qur’an.

Misalnya, grup band.


Anak muda mana yang sekarang tidak suka dengan musik? Hampir seluruhnya mereka mendengarkan musik atau bahkan mengagung-agungkan  musik. They said they can’t live without music. Padahal musik tidak membawa pahala atau amal shaleh ketika dikerjakan. Justru kebalikannya. Tetapi banyak yang belum menyadari akan hal ini. Saya menyebutnya sebagai suntikan. Pelan-pelan para grup musik dan penyanyi-penyanyi tersebut membius kaum muda untuk larut dalam lagu-lagu yang mereka bawakan. Belum lagi lirik yang terkesan tidak mendidik, konsep video clip yang syur, alat musik yang mampu membuat tubuh berlenggak-lenggok, dan pesona penyanyi itu sendiri yang menjadikan mereka tuhan atau idola.


Kondisi zaman sekarang begitu bobrok. Pendidikan juga belum berorientasi kepada fitrah dan syariah. Tetapi lebih berbondong-bondong kepada prestasi duniawi. Padahal prestasi yang paling baik adalah aqidah dan akhlak.

Kuliah, sekolah, kursus atau apa pun itu sebenarnya sah-sah dan dibolehkan saja asal kita tidak keluar jalur syariah. Tapi pemikiran bangsa ini adalah pertanyaan para orangtua yang anaknya baru lulus kuliah dan akan kerja apa? Takut kalau anaknya tidak bisa bekerja padahal sudah keluar uang ratusan juta untuk kuliah. Bukan itu yang menjadi poin penting dari kuliah itu sendiri.

Kini, orang sudah ramai menjadikan hawa nafsu dan materi sebagai tuhan. Seolah-olah, jika tidak kerja di kantoran akan mati—tidak punya penghasilan. Lagi-lagi, semua dikaitkan kepada uang, materi, dan benda-benda mahal. Kalau mereka ingat dan tahu kapan mereka mati, mungkin mereka tidak akan lagi mempedulikan harta benda yang ada di dunia. Takut. Rasa takut untuk masuk ke liang kubur itu pasti ada. Orang meninggal mana yang ketika akan dikuburkan mereka masih mampu membawa perhiasan, baju mahal, tas bermerk dan materi lainnya yang dapat dinikmati ketika tidur beralaskan tanah, ditemani oleh cacing-cacing, dan semut yang akan menggerogoti habis tubuh mereka? Pikirkanlah, renungkanlah. Harta tak akan dibawa sampai mati.

Sebenarnya, orientasi pendidikan dalam Islam adalah bagaimana pendidikan itu bisa membuat orang takut kepada Allah. Karena orang-orang yang berilmu itu ciri-cirinya adalah takut kepada Allah. Kurikulumnya mampu mengantarkan kita untuk takut hanya kepada Allah, bukan manusia. Banyak dari sekian sekolah, perguruan tinggi, tempat kursus, dan perkantoran yang manusianya mulai berani meninggalkan shalat, berbuat maksiat, melanggar perintah Allah, dan melakukan kenakalan-kenakalan yang kecil tetapi berdampak besar.

Kalau kita tidak mulai dari sekarang, itu akan sungguh membahayakan bagi keluarga kita kelak.


Ciptakan Keluarga Qur’ani
Ternyata, keluarga yang bertolak belakang dengan keluarga qayyim adalah keluarga yang tidak bisa menjadi tempat yang kondusif bagi tumbuhnya fitrah anak dan generasi muda. Mengapa? Karena keluarga sekarang mendominasikan dengan menghasilkan generasi yang tertutup, gelap, atau generasi yang sengsara. Di rumah mereka tidak lagi merasakan kedamaian dan mulailah bosan.

Tidak ada komunikasi yang rutin dengan orangtua maupun saudara menjadi salah satu penunjang kegagalan dalam keluarga itu sendiri. Jika anak bosan, anak akan berupaya mencari jalan terbaik untuk mengatasi kebosanannya. Sayangnya, 7 dari 10 anak yang bosan melampiaskannya dengan mencari ‘permainan’ baru. Tidak heran jika kita melihat banyak anak-anak sekolah yang melakukan seks bebas dengan teman mereka sendiri karena berawal dari orangtua yang lalai.

Lalu bagaimana caranya membuat anak agar tidak bosan?

Jadilah orangtua yang menyenangkan. Atau kalau perlu, cabutlah televisi yang kalian miliki saat ini. Biasakan mereka untuk berkomunikasi dengan Al-Qur’an. Sehingga unsur-unsur pornografi dan kekerasan tidak terjadi pada anak-anak yang masih belum memiliki tanggung jawab penuh pada dirinya sendiri.

Jika seorang ibu sedang sibuk-sibuknya bekerja hingga lupa pada anaknya saya bisa katakan itu adalah kesalahan fatal. Bekerja dan memiliki uang yang banyak tidak akan dapat menggantikan harta yang paling berharga—anak. Dari sikap orangtua yang demikian sebenarnya sangat bisa berpengaruh pada psikis anak yang butuh perhatian. Sehingga mereka cenderung untuk berbuat sesuka hati tanpa meragukan ini boleh atau tidak boleh. Orangtua yang mendidik anak dengan cara seperti ini bukanlah orangtua yang mengajarkan pendidikan Al-Qur’an pada anaknya.

Ketakutan anak-anak remaja bukan lagi kepada Tuhannya, melainkan takut karena belum punya pacar sedangkan teman-temannya sudah. Keadaan miris seperti ini seringkali membuat hati saya menjerit karena tidak tega. Setiap anak yang dilahirkan pasti dalam keadaan suci. Namun, apakah mereka akan berkembang menjadi manusia yang takut kepada Rabb-nya atau justru takut pada sesama manusia?


Keluarga Qayyim, Mulai Dari Mana?
Manusia dikendalikan oleh pikiran. Yang menjadi pengendali terbesar adalah alam bawah sadar kita. Ini yang menjadi pendorong perilaku dan hasrat.

Pikiran itu dikendalikan dari input. Ketika input masuk,  maka dia akan mentransfer pikiran alam bawah sadar yang akan menjadi program. Ketika mendapatkan informasi mulai dari tontonan, bacaan dan makanan, mereka akan dengan mudahnya merekam semua itu dan menjadikannya suatu pola agar terbiasa oleh hal tersebut. Tetapi berbeda jika kita mampu mengendalikan semua itu dengan bimbingan ilmu. Tentu, jika kita atau anak-anak kita jauh dari rasa ma’rifatullah, akan sangat mudah menyuntik hal-hal negatif yang akan membawa mereka tersesat.

Allah sebenarnya telah memberikan tuntunan kepada kita bagaimana memulai keluarga qayyim.

Ternyata kata kuncinya adalah shibgah.

Apa itu shibgah?

Shibgah adalah apa yang mempengaruhi pikiran, mewarnai pikiran, bagaimana tindakan kita ini akan dipengaruhi oleh pikiran kita. Shibgah itu semacam celupan. Dalam konteks pembahasan kita, pikiran kita ini dicelupkan ke mana?

Ke musik?

Film?

Atau ke Al-Qur’an?

Apa yang masuk dalam pikiran kita dan apa yang menjadi nilai diri seseorang itu shibgah.

Kasus-kasus kenakalan remaja yang sudah dijelaskan di atas merupakan shibgah jahiliyah. Dari apa yang dilihat, dibicarakan, ditonton dan didengarkan, mereka berusaha agar ikut serta menjadi salah satu contoh dari yang mereka lihat atau mereka bicarakan.


Ingat tentang kisah Nabi Adam digoda oleh setan? Apa yang membuat Nabi Adam tergoda?

Jawabannya adalah karena setan mampu bersabar dan giat untuk terus membisiki beliau sehingga diturunkanlah Nabi Adam dari surga ke bumi. Kalau setan saja giat menggoda, tidakkah kita ingin untuk lebih menguatkan diri agar tidak tergoda?

Inginkah kita giatkan diri untuk beribadah kepada Allah semata?





Wallahu’alam bisshawab.

No comments:

Post a Comment