Visitor

Sunday, March 23, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Ma’un ayat 1-7
 22 Maret 2014

Oleh Ustadz Hendra Hudaya, Lc

Pendahuluan
Surah ini diturunkan di Makkah sesudah Surah At-Takatsur. Nama surah ini diambil dari kata al-ma’un yang terdapat pada ayat terakhir. Secara etimologi, al-ma’un berarti banyak harta. Surah ini menggambarkan orang yang tidak mau membayar zakat dan tidak mau pula berinfaq untuk membantu fakir miskin. Allah mengancam orang yang mempunyai banyak harta tetapi tidak mempunyai kepedulian sosial.

“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan hari kebangkitan? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan memberi makan fakir miskin. Maka celakalah bagi orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang yang berbuat riya, dan enggan menolong dengan barang yang berguna.”
(QS. Al-Ma’un [107]: 1-7)


Asbabun Nuzul
Adapun sebab turunnya surah ini ialah berkenaan dengan orang-orang munafik yang memamerkan shalat kepada orang yang beriman. Mereka melakukan shalat dengan riya, dan meninggalkan apabila tidak ada yang melihatnya serta menolak memberikan bantuan kepada orang miskin dan anak yatim. (Riwayat Ibnu Mudzir)


Penjelasan Surah
Surat ini diawali dengan kalimat tanya yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban—Ara a’ita. Jika kita perhatikan di beberapa ayat di surah lain pun ada yang mengandung kata tanya seperti ini. Tetapi inilah Qalam Ilahi yang memiliki keagungan dan kedahsyatan dari setiap ayatnya. Pertanyaan bagi kita adalah, siapakah orang-orang yang mendustakan hari kebangkitan (agama) itu?

Di ayat selanjutnya, Allah menerangkan tentang ciri-ciri orang yang mendustakan hari kebangkitan—yakni, pertama: mereka yang menghardik anak yatim.

Makna kata yatim sendiri sebenarnya lebih terpacu pada anak yang belum baliq tetapi sudah ditinggalkan oleh ayah mereka. Lalu bagaimana dengan mereka yang sudah melewati batas usia baliq? Tentu sudah tidak bisa dikatakan yatim lagi. Tapi bukan berarti anak-anak yang ditinggalkan oleh ayah mereka ini bisa diperlakukan semena-mena. Kita bisa melihat keadaan nyata anak-anak yatim yang dipaksa untuk kerja rodi bahkan mendapatkan siksaan dari orang-orang yang dzalim. Kita perlu hati-hati dan jangan sampai mendekati harta mereka. Apalagi menghardiknya.

Kedua, mereka yang tidak menganjurkan untuk memberi makan fakir miskin. Ayat berikutnya ini menjelaskan tentang orang-orang yang enggan untuk memberi makan fakir miskin. Kita juga perlu mewaspadainya. Apakah kita termasuk orang-orang yang jauh dari memberi makan fakir miskin?

Miskin adalah sebutan untuk orang-orang yang mempunyai pekerjaan namun hidup mereka masih dalam keterbatasan. Tetapi, orang-orang yang miskin ini memiliki pekerjaan yang mungkin hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja. Oleh karena itu, tingkatan miskin dan fakir ternyata berbeda. Fakir adalah orang-orang yang tidak memiliki pekerjaan dan tidak mampu dalam hal memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka itulah yang harusnya kita bantu.

Dalam kasus ini, saya ingin mengibaratkan dengan suatu kejadian yang pernah menimpa seseorang. Seperti yang sudah saya paparkan di atas, kita bisa melihat bahwa orang-orang fakir dan miskin ini sebenarnya sangat banyak dan mereka ada di antara kita.

Suatu ketika, ada seseorang yang ingin menikahi pujaan hatinya. Keinginan mereka adalah menikah di gedung yang mewah, dengan makanan catering yang mahal, ribuan undangan tersebar cepat, pakaian pengantin sangat elegan dan dekor ruangan yang sangat mewah. Ketika hari itu datang, ternyata Allah belum mengizinkan mereka untuk mengikat janji suci. Namun, tamu undangan dan dekorasi gedung sudah siap. Hampir seluruh tamu undangan pulang kembali karena mereka tidak jadi menikah. Lalu apa yang terjadi? Bagaimana dengan puluhan pondok makanan yang sudah disiapkan pihak catering dan gedung? Rupanya, sang wanita hendak memanggil ribuan anak yatim dan kaum fakir miskin untuk diajak makan bersama di tempat yang mewah itu. Subhanallah. Inilah yang membuat hati saya bergetar menyebut nama-Nya karena sungguh dibalik kekecewaan kita yang mendalam terdapat hikmah dan berkah Allah. Ia menyadari bahwa keinginannya terlalu berlebihan sehingga ia lupa bahwa ada hal yang lebih penting dari sekadar keinginannya menikah. Yaitu membagikan kasih sayang, perhatian, dan tentunya curahan cinta kepada anak-anak yatim yang tidak mampu. Mereka, anak-anak itu sangat senang dan bahagia bisa menikmati makanan lezat dan mewah yang belum pernah mereka cicipi sekalipun. Mereka mengucap syukur dan sujud kepada Allah. Tidakkah wanita itu menangis karena tidak jadi menikah dengan pria pujaan hatinya? Tidak. Justru, setelah kejadian itu, ia bertekad untuk terus merasakan kebersamaan dengan anak-anak yatim. Memang terkadang ia tidak menyadari bahwa harta yang dimilikinya adalah kewajiban untuk membagikannya kepada orang lain. Sejak saat itulah, ia memiliki cita-cita mulia untuk tidak lagi mengabaikan anak yatim dan fakir miskin.


Mungkin sebagian dari kita ada yang mengalami hal serupa. Sebenarnya, saya juga memiliki keinginan seperti itu—untuk bisa merasakan makan bersama-sama anak yatim ketika saya menikah nanti. Boleh saja mengundang ratusan tamu tapi jangan lupakan mereka. Merekalah yang wajib untuk hadir dan merasakan kebersamaan itu. Saling mendoakan dan tentunya bisa mempererat tali silaturahim kepada saudara-saudara kita.

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah bersabda: “Hindarilah tujuh perkara yang membinasakan. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah itu?”, Rasulullah menjawab: “1. Syirik, 2. Berbuat sihir, 3. Membunuh orang yang diharamkan Allah untuk dibunuh kecuali dengan alasan yang benar (menurut ajaran agama), 4. Memakan riba, 5. Memakan harta anak yatim, 6. Berpaling di waktu peperangan (bukan untuk bersiasat akan tetapi lantaran takut kepada musuh), 7. Menuduh zina kepada wanita mukmin yang sudah bersuami yang tidak terlintas di hatinya untuk menjalankan kejelekan.”
(Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Di ayat selanjutnya menerangkan ciri-ciri para pendusta disamping menghardik anak yatim dan tidak memberi makan fakir miskin—yaitu, mereka yang riya dalam shalatnya dan tidak menolong dengan barang berguna.


Shalat adalah ibadah yang paling utama yang diperintahkan dalam syariat Islam. Dengan melaksanakannya secara baik dan benar akan menumbuhkan pengaruh positif yang sangat besar dalam aspek kehidupan. Di akhirat pun merupakan amalan yang paling utama untuk menjadi tolak ukur semua amal perbuatan.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Qur’an dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar.”
(QS. Al-Ankabut: 45)

Selanjutnya Allah menegaskan bahwa ada sebagian orang yang melakukan amal kebaikan termasuk shalat untuk memperlihatkan amalnya kepada manusia. Tindakan seperti ini disebut riya. Sikap riya adalah lawan dari ikhlas. Keikhlasan diperlukan dalam setiap amal kebaikan agar memperoleh pahala yang sempurna dari Allah.

Dalam ayat keempat Allah mengungkapkan satu ancaman yaitu celakalah orang-orang yang mengerjakan shalat dengan tubuh dan lidahnya tidak sampai ke hatinya. Bahkan mungkin mereka tidak tahu apa yang diucapkannya ketika shalat. Mereka lalai dan tidak menyadari apa yang dikerjakan oleh sendi anggota tubuhnya. Rukuk dan sujud dalam keadaan lengah, mengucapkan takbir tapi tidak menyadari apa yang diucapkannya. Semua itu adalah hanya gerak biasa dan kata-kata hafalan semata-mata yang tidak mempengaruhi apa-apa.

Kita bisa menemukan orang-orang seperti ini di sekitar lingkungan kita. Tipe-tipe orang pendusta agama ini biasanya melakukan amal ibadah (shalat) karena ingin dilihat manusia—riya. Dan sikap seperti ini akan cenderung membuat mainset seorang pendusta semakin menyepelekan shalat.

Membicarakan riya adalah kebalikan dari ikhlas. Lalu apakah sebenarnya ikhlas itu?

Ikhlas tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Misalnya ada orang yang mengatakan, “Aku ikhlas kok.” itu artinya tidak ikhlas. Karena ikhlas sesungguhnya tidak membutuhkan bukti dari ucapan, tetapi lebih kepada tindakan kita.

Ketika shalat, kita juga perlu kekhusyukan agar shalat kita diterima Allah. Tetapi yang membuat kita tidak khusyuk salah satunya adalah belum ada rasa ikhlas kepada Allah. Inilah yang membedakan orang-orang muslim dengan mukmin—mereka mampu untuk merasakan Allah ketika sedang shalat. Dan karena selalu merasa Allah melihat dan mengawasi, mereka takut untuk berbuat keji.

Ada sebuah catatan bermanfaat untuk kita semua yang saya dapatkan dari seorang sahabat. Mari kita simak.

Shalat dhuha hanya dua rakaat, qiyamul lail juga hanya dua rakaat, itu pun sambil terkantuk-kantuk. Shalat lima waktu? Jarang ke masjid, memilih ayat-ayat yang pendek agar cepat selesai. Tanpa doa, dan segala macam puji untuk Allah. Terlipatlah sajadah yang belum lama tergelar itu. Lupa pula dengan shalat rawatib sebelum maupun sesudah shalat shalat wajib. Satu lagi, semua di atas itu belum termasuk catatan:
“Kalau tidak terlambat.”
atau
“Asal tidak bangun kesiangan.”
Dengan shalat model begini, apa pantas mengaku ahli ibadah?

Padahal Rasulullah dan para sahabat senantiasa mengisi malam-malamnya dengan derai tangis memohon ampunan kepada Allah. Tak jarang kaki-kaki mereka bengkak karena terlalu lama berdiri dalam shalat. Kalimat-kalimat pujian dan pinta tersusun indah seraya berharap kepada Allah Yang Maha Mendengar dengan segala macam keluhan mereka. Ketika adzan berkumandang, segera para sahabat meninggalkan semua aktivitas menuju sumber panggilan. Waktu demi waktu mereka habiskan untuk bersimpuh di atas sajadah-sajadah penuh tetesan air mata.

Sudah saatnya kita kembali pada Allah. Tinggalkan segala macam kenikmatan duniawi dengan semua tipuannya. Kita tentu tidak akan menghabiskan masa muda dengan sia-sia jika itu untuk ibadah kepada Allah. Justru yang sia-sia adalah mereka yang menghabiskan masa muda mereka dengan bersenang-senang. Mempunyai harta yang melimpah tetapi tidak sekalipun berkeinginan untuk membaginya bersama fakir miskin. Diberikan kemampuan dan kelebihan serta kesenangan hidup membuat mereka lupa untuk bersyukur. Ketika shalat tidak bisa merasakan Allah. Lalu apa yang bisa dibawa kelak ketika menghadap-Nya?


Poin-poin penting yang dapat disimpulkan adalah—jangan sampai kita menyepelekan anak yatim dan fakir miskin. Agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang mendustakan agama, maka berhati-hatilah dalam berbuat. Termasuk ketika beribadah dan melakukan amal kebaikan. Jangan sampai niat kita bukan karena Allah. Berilah kesempatan pada diri kita untuk membersihkan dari segala macam penyakit lewat zakat dan infaq.

No comments:

Post a Comment