Visitor

Friday, March 28, 2014

Proyek Menulis, "Letters of Happiness"

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali and get discovered! 

               
Lukisan Terakhir Peri Pasir

ditulis oleh Lidya Oktariani

Namaku Juna. Lengkapnya I Ketut Hafidzhul Rifajunnaid. Usiaku kini sudah genap 30 tahun. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dan almarhumah istriku tercinta yang ke-8. Istriku adalah seorang pelukis pasir yang terkenal di seantero Bali. Kami menikah di usia 22 tahun dan saat itu istriku baru saja lulus kuliah S1 di Institut Seni Indonesia, Denpasar, jurusan DKV. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku telah diizinkan oleh Sang Maha Cinta untuk menikahi wanita itu. Dialah Ni Made Humaira Az-Zahra—aku memanggilnya “Peri” karena bola matanya begitu cantik bak permaisuri.

Kami berkenalan pertama kali di SD 5 Benoa, di kelas 3B. Peri selalu tersenyum kepadaku dan selalu bersemangat ketika kami diberikan tugas kesenian. Kemahirannya dalam melukis sudah kelihatan sejak dulu. Tetapi hanya satu yang membuatku terkadang sedih ketika bersamanya. Peri sering tidak masuk sekolah karena sakit—mulai dari batuk, sinus, muntah-muntah hingga demam tinggi. Karena kekuatan tubuhnya yang tidak seperti anak biasanya, aku berniat ingin menjadi dokter ketika dewasa nanti.
              
Ibunda Peri selalu mengizinkan aku untuk berkunjung ke rumahnya. Katanya, kalau aku main bersama Peri, dia selalu bisa tersenyum dan menghentikan tangisannya. Setelah lulus dari SMA, aku pun mengambil kuliah jurusan Kedokteran di Universitas Udayana dan Peri lulus terlebih dahulu karena kepintarannya.
                
Di usianya yang ke-10 tahun, ia sudah berhasil melahap puluhan piala penghargaan atas karya lukisan pasirnya. Bahkan, kalau kita sempatkan untuk jalan-jalan ke beberapa restoran dan tempat wisata di Nusa Dua—kota kelahiran kami, lukisan pasir Peri dipajang di mana-mana. Namun, Peri sempat mengalami berbagai masalah psikis dan penurunan fungsi metabolisme tubuh yang membuatnya tidak bisa berjalan seperti remaja biasanya. Aku tidak tahu penyakit apa yang sedang diderita Peri sampai membuatnya lemah seperti itu.
                
Di hari ulang tahun Peri yang ke-14, aku menghadiahinya mahkota dari pasir yang dikeraskan. Peri mengambil beberapa daun yang berjatuhan di dekat pohon untuk ditempelkan di mahkota tersebut, lalu memakainya. Cantik sekali, ucapku dalam hati. Peri lalu berkata,
               
“Juna, aku harus ke rumah sakit sekarang. Kakiku lemas sekali.”  
“Kalau begitu, aku akan menemanimu ke sana ya.”
                
Peri rajin sekali ke rumah sakit untuk check up kesehatannya. Tapi entah mengapa, aku melihatnya seperti tidak sakit. Ia tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya sedang mengidap suatu penyakit apapun. Keterbatasannya membuat ia jarang sekali bermain dan berkumpul bersama teman-teman sekolahnya. Namun aku selalu berusaha menemaninya belajar dan juga menghabiskan waktu untuk pergi ke pantai bersama agar ia tidak bosan. Peri tidak bisa berlari karena otot kakinya yang suka nyeri. Karena tubuhku jauh lebih besar darinya, biasanya aku meminta Peri untuk naik ke atas punggungku dan aku membawanya berlari mengelilingi pantai. Kemudian setelah lelah, kami beristirahat sejenak dan Peri membuatkanku lukisan pasir yang diberi lem perekat bergambarkan dua sejoli muda yang saling menggenggam tangan sebagai ucapan terima kasih.
                
Di usia yang  ke-17, Peri divonis oleh dokter hanya akan bertahan beberapa tahun saja karena penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan. Namun ia tidak mempedulikan. Peri terus menjalani kehidupannya seperti biasa dengan semangat yang tinggi. Aku benar-benar ingin cepat lulus sekolah dan kuliah supaya aku bisa mengetahui penyakit apa sebenarnya yang sedang diderita Peri.
                
Beberapa tahun setelahnya, aku sering melihat Peri jatuh di tangga sekolah dan tidak ada yang menolongnya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya kering. Aku menggenggam tangannya dengan erat serta membawanya ke Ruang UKS. Seperti biasa, Peri selalu menitikkan air mata ketika aku membawakannya obat yang biasa ia minum sehari sekali. Sebentar lagi kami akan lulus SMA. Dan rasa-rasanya waktu berlalu begitu cepat sehingga kami seperti mengalami 3 hari saja di sini.
                
Sehari sebelum ujian masuk universitas dilaksanakan, aku menemani Peri di rumah sakit. Dokter Alvonso memberitahuku untuk terus mendampinginya. Ibunda Peri juga tidak bisa setiap hari memperhatikan kondisi kesehatan Peri karena sibuk mengurusi baju-baju buatannya yang dijual di pasar. Kalau ibunda Peri tidak bisa memperoleh penghasilan dari hasil dagangannya, mungkin Peri tidak akan sanggup keluar-masuk rumah sakit karena tidak bisa membayar administrasi. Ayahanda Peri sudah meninggal ketika usianya beranjak 1 tahun. Dan wajarlah, aku merasa sangat iba pada keadaan ekonomi keluarga Peri. Belum lagi adik-adiknya yang masih sekolah dan harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak untuk kebutuhan sehari-hari.
                
Walaupun sakit, Peri selalu berusaha memberikan yang terbaik. Begitu juga yang terlihat ketika Peri akhirnya lulus menjadi mahasiswi jurusan DKV selama 3 tahun 6 bulan. Peri bukan wanita biasa. Dia memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh wanita manapun. Kecerdasannya membawanya sukses untuk meraih banyak penghargaan. Meskipun begitu masuk semester 3, Peri tidak bisa lagi berjalan dengan kedua kakinya. Peri harus dibantu dengan kursi roda agar bisa tetap beraktivitas seperti biasa.
                
Biasanya, Peri suka sekali memintaku untuk membacakan ayat suci ketika ingin beristirahat malam. Aku membantunya membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit. Aku memulainya dengan ta’awudz kemudian basmallah. Peri selalu tersenyum ketika melihatku sudah rapi dengan pakaian koko, peci, dan Al-Qur’an di meja kecil yang ada di hadapannya. Keindahan langit di Bali hari itu benar-benar tidak dapat kami lupakan. Betapa banyak yang Dia berikan kepada kami atas nikmat dan karunia ini. Aku menangis kecil melihat Peri sudah tertidur lelap. Aku hanya takut tak bisa melihatnya bangun esok hari. Aku menyadari, apa yang dikatakan Dokter Alvonso adalah benar. Peri memang tidak bisa bertahan lama. Penyakit itu sudah menjangkit di tubuh Peri sejak usianya 14 tahun. Dan kini ia sudah berhasil berjuang melawan rasa sakitnya selama 8 tahun.
                
Sore itu aku mendatangi seorang dokter spesialis penyakit saraf di perpustakaan. Aku pun berkonsultasi dengannya. Beliau memberikanku buku tentang Spinocerebellar Ataxia. Di sana tertulis bahwa SCA tidak dapat disembuhkan. Namun hal terbaik yang dapat dilakukan keluarga dan kerabat penderita adalah dengan terus memberinya semangat untuk hidup. Dengan begitu, ia akan tersugesti secara tidak langsung untuk tidak begitu merasakan sakit. Sejak saat itu, aku fokus mendalami ilmu spesialis saraf otak dan otot manusia. Biarpun dokter senior mengatakan tidak ada obat untuk penyakit tersebut, setidaknya aku bisa mencari tahu lebih luas apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana cara mencegahnya. Aku ingin Peri sembuh. Agar aku bisa benar-benar menikahinya dan hidup bersamanya.
               
“Kau tetap bisa menikahiku, Juna.” ujar Peri tiba-tiba mengagetkan. Peri datang menemuiku dengan kursi rodanya.
Bli, apa kau malu mempunyai istri yang cacat?”
Aku tersenyum mendekatinya.
“Apa kau bersedia menerimaku?” balasku cepat.

Kami menikah di hari Jum’at sesaat setelah aku melaksanakan shalat Jum’at bersama di Masjid Agung Ibnu Batutah. Keluarga Peri dan keluargaku berkumpul bersama di rumah sakit. Aku tidak masalah jika harus melakukan ijab kabul di ruangan sederhana itu. Kami pun tidak menggelar pesta yang megah atau mengundang banyak tamu. Setelah menikah, aku mengajak Peri untuk membacakan Surah Al-Kahf sebagai bentuk rasa syukur kami yang tiada tara kepada Dia. Istriku sangat cantik dengan balutan kebaya Bali yang dimodifikasikan menjadi pakaian muslimah syar’i dan jilbab yang panjang. Sejak kecil, Peri tidak pernah membuka kerudungnya. Barulah malam itu ia membukanya untukku. Inilah yang membuatnya begitu istimewa di mataku. Peri adalah seorang gadis muslimah yang begitu menjaga dirinya. Jika melihat ibunda Peri, Ibu Mahfudzah—seperti melihat Peri dewasa. Selama tinggal di Bali, belum pernah sekali pun aku bertemu dengan keluarga muslim yang benar-benar menjaga syari’at. Ketiga adik perempuannya pun ikut menyalamiku sambil mengenakan busana berwarna putih yang cantik dengan jilbabnya. Nuranisa, adik kedua Peri, mendekatiku dan berkata, “Tolong jaga mbok Ira, ya, bli.

Peri tersenyum melihat kedekatanku dengan ketiga adiknya itu. Fathirah, Nuranisa dan Arafah yang sangat lincah dan periang. Fathirah berusia 17 tahun, Nuranisa 13 tahun dan Arafah yang masih sangat kecil, 8 tahun. Mereka semua adalah calon bidadari-bidadari surga. Aku tidak pernah merasa sebahagia hari itu ketika Sang Maha Cinta telah mengizinkanku untuk menyatukan hati yang saling mencintai. Sungguh, Dia telah titipkan muslimah yang sangat terjaga, Humaira. Dan keempat wanita yang juga amat kucintai. Ibunda Humaira dan ketiga adik kecil istriku.

2 tahun usia pernikahan kami, Peri mengejutkanku dengan tidak bisanya ia bangkit dari tempat tidur sesaat sebelum kami ingin melaksanakan shalat Subuh bersama. Aku berusaha mendengarkan suara Peri yang saat itu memintaku untuk membantunya duduk. Baru kali ini aku melihat wajah Peri takut sekali dan tidak biasanya ia merenung sambil menangis. Peri yang tadinya tidak pernah takut pada penyakitnya kini menjadi sangat berbeda. Sebenarnya ia sangat ingin menjadi seorang ibu, tapi aku tidak mengizinkannya. Dalam keadaan seperti itu, mana mungkin ada seorang suami yang sanggup melihat istrinya hamil dan melahirkan bayi dengan penyakit SCA yang mulai menggerogoti tubuhnya. Peri menjadi sangat cengeng dan semakin manja setelah 2 tahun aku menolaknya untuk memberikan nafkah batin. Aku tahu betul bahwa ini akan sangat membahayakan dirinya dan juga calon bayi kami.

“Ju..na...” rintih Peri.
“Ada apa sayang? Mana yang sakit?” jawabku ketakutan.

Peri menangis dipelukanku. Ia menggenggam erat tanganku dan tidak dilepaskan sedikit pun. Bajuku basah oleh air matanya. Aku juga ikut menangis dan membasahi rambutnya yang panjang dan hitam. Belum pernah aku melihatnya begitu takut seperti ini. Ada rasa perih seperti ditusuk duri yang panjangnya melebihi 30 tusuk gigi. Aku turut merasakan apa yang istriku rasakan.
                
Peri menyeka air matanya perlahan. Lalu ia mencoba berbicara dengan fasih, tapi tidak bisa. Sejak sebulan yang lalu, Peri sudah jarang berbicara. Aku pun tahu persis perkembangan kesehatan istriku itu yang semakin lama akan semakin memprihatinkan. Pada awalnya, Peri tidak bisa berjalan seperti layaknya orang biasa. Ia sering sekali mengeluh otot kakinya melemas dan kadang merasa seperti tidak punya kaki. Namun ia masih mampu untuk berbicara, teriak, tertawa dan menangis. Setelah memasuki usia ke-24 tahun, barulah Peri mulai menunjukkan rasa sakitnya lewat tangisannya yang tidak lagi bersuara. Kalau dipaksakan untuk berbicara, Peri suka memegang tenggorokannya yang perih. Telapak tangan Peri sering sekali kaku. Oleh karena itu, setiap hari aku selalu berusaha menyempatkan waktu untuk membantunya melemaskan otot-otot tangan dan kaki. Ini berguna untuk tetap bisa menggerakkan anggota tubuh walaupun tidak sebaik dulu.
                
Aku menempatkan istriku di rumah sakit tempatku bekerja. Peri tidak perlu lagi memikirkan biaya rumah sakit yang mahal. Aku yang menanggungnya. Di tahun berikutnya, ketika usia Peri sudah menginjak 25 tahun, kondisinya semakin kritis. Ibunda Peri juga sempat membuatkan papan alfabet dari A sampai Z sebagai media komunikasi kami. Meskipun sudah tidak bisa mendengarnya bicara, aku tetap ingin membacakannya ayat suci agar sampai ke dalam hatinya. Aku tahu Peri mendengarkannya dengan baik.
                
Hari itu, sudah saatnya makan siang. Aku menyuapi istriku perlahan. Ia tersenyum. Lalu ia menunjuk ke arah papan alfabet. Ia menunjuk ke kotak A, K, U, I, N, G, I, N, M, A, T, I. Aku tak kuasa melihat wajah istriku yang sangat pucat dan lemas tak berdaya. Kupeluk tubuhnya yang mengurus sambil terus menciumi kepalanya.
                
“Jangan menyerah. Aku berusaha untuk tidak meninggalkanmu. Oke, mulai besok, aku tidak periksa pasien lagi ya. Aku mau menghabiskan 24 jam bersamamu di sini, oke?” jawabku sambil mengelus-elus rambutnya.
Peri menunjuk lagi, I, Y, A.
“Ohya, sayang, aku ada hadiah untukmu.”
               
Aku mengeluarkan mahkota pasir kecil milik Peri yang pernah menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke-14. Aku memakaikannya dan Peri menangis terisak sampai agak tersedak.
                
“Kamu tidak boleh menangisi penyakit yang Allah berikan kepadamu. Ingat, bahwa tidak ada cobaan yang melebihi batas kemampuan seorang hamba. Allah memberikanmu penyakit ini karena kau mampu bersabar dan melaluinya. Bersyukurlah karena Dia telah memberikanmu kehidupan yang luar biasa dan mempertemukannya denganku.”
                
Aku menggenggam tangan Peri erat sekali sambil terus menatap bola matanya yang cantik. Ia mendengarkan ucapanku barusan. Peri hanya tersenyum sambil terus melihatku. Air mataku jatuh di telapak tangannya. Kami saling menatap sangat dalam. Aku pun turut merasakan kepedihan yang begitu mencekam. Aku tahu, Peri sudah sangat menderita dengan penyakitnya. Setiap hari, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun kecuali tidur. Mandi pun harus dimandikan. Ketika ingin pipis atau buang air kecil, aku yang membantunya. Usianya masih muda. Tetapi karena penyakitnya itu membuat ia terlihat tua, kurus, dan tidak bersemangat. Ketika ingin berkomunikasi dengan papan alfabet pun, tangan Peri sudah tidak selentur dulu. Kini ia semakin lamban dan kaku. Saraf dan otot-otot tubuhnya semakin membuatnya tidak bisa bergerak. Bahkan Peri sudah tidak mau menerima makanan jika suapanku sudah lebih dari 10 sendok. Ia selalu menggelengkan kepalanya pertanda kenyang.
                
2 bulan terakhir ini, aku sudah tidak menerima pasien lagi. Izin pun sudah kudapatkan dari pihak rumah sakit. Aku fokus untuk menjaga istriku. 2 kali seminggu, ibunda Peri datang menjenguk bersama ketiga adiknya. Fathirah yang sudah berusia 20 tahun itu bercerita kepada kakaknya bahwa ia baru saja mendapatkan penghargaan sebagai penulis muda terbaik dan bekerja menjadi jurnalis di stasiun TV. Nuranisa yang sudah beranjak remaja berhasil menghafalkan 30 juz dan akan melanjutkan sekolah di Al-Azhar, Kairo. Arafah yang sedang fokus belajar di sekolah akhirnya bercerita kalau ia ingin sekali menjadi dokter seperti aku agar bisa menyembuhkan banyak orang. Peri mendengarkan semua cerita adik-adiknya itu satu per satu. Wajahnya kini berseri-seri dan tersenyum lebar. Arafah memakai jas putih milikku supaya seolah-olah sudah siap menjadi dokter. Aku tersenyum sesaat melihat kebahagiaan kecil ini. Hidupku benar-benar bermakna dan aku tidak pernah sekalipun merasa kurang. Ibu mertuaku duduk di sampingku sambil memegang pundakku dan berkata,
                
“Tidak pernah Ibu merasa sebahagia ini melihat mereka dan juga kamu dalam keadaan seperti ini, menantuku. Kau tahu, gus? Walaupun Ibu sakit melihat kenyataan yang diberikan keluarga kita, tapi Ibu selalu berusaha bersyukur sebagaimana kau mengajarkan itu kepada anakku...”
                
Aku diam mendengarkan dan Ibu melanjutkan.
                
“Humaira adalah anak yang periang. Dia tidak pernah menyerah pada keadaan yang pelik sekali pun. Dan pertemuanmu dengannya mengubah cara pandangnya. Ibu sering sekali melihatnya tertawa dan... Ibu sungguh bahagia, gus.”
                
Air mata Ibu Mahfudzah mengalir deras dan aku tak sanggup melihatnya. Ibu mengakui bahwa ia tidak sedang bersedih meratapi nasib. Tetapi rasa syukurlah yang beliau rasakan, sangat dalam.
                
Aku mendekati istriku yang saat itu sedang asyik mendengarkan cerita adik-adiknya. Mereka memberikan cerita jenaka agar kakaknya tersenyum. Arafah yang suka bernyanyi pun menyumbangkan suara emasnya untuk kakak tercinta.
                
Tersenyumlah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang Kuasa. Cinta kita di dunia... Oh...
“Bukan tersenyumlah, luh. Tapi... menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang Kuasa. Cinta kita di dunia... dan di akhirat.” balas Fathirah, cepat.
“Wah! Itu baru keren mbok lirik lagu yang terakhirnya, hehehe.” adik kedua Peri tidak mau kalah—Nuranisa, ia ikut berkomentar.
“Iya dong, luh! Soalnya kita kan bisa ketemu di akhirat juga tidak hanya di dunia. Makanya, berdoalah ke Allah supaya kita termasuk dari orang-orang yang beriman.”
                
Peri mendengarkan sambil terus tersenyum. Angin semilir mulai memasuki rongga-rongga hidungku dan kurasakan getaran cinta Sang Khalik kepada kami. Aku menciumi kening istriku yang masih terbaring lemas di ranjangnya. Adik-adiknya pun ikut menciumi pipi dan tangan kakaknya. Ibu masih terus memandang kami dengan tatapan hangatnya. Kebahagiaan seperti ini takkan pernah tergantikan.
                
Malam itu hujan turun sangat deras. Petir juga terus menyambar hingga kaca-kaca di rumah sakit seperti akan retak karena sambaran kilat tersebut. Aku mulai merasakan bahwa rumah sakit ini sudah menjadi rumah utama kami. Pemandangan langit malam pun ditemani oleh guntur dan angin yang berhembus dingin memasuki lorong-lorong. Kakiku tiba-tiba gemetar. Aku baru saja menyelesaikan Surah Al-Mu’minun, surah ke-23. Seperti biasa, aku membacakannya di samping istriku yang sedang tertidur lelap. Suara napasnya terdengar jelas seperti orang yang sedang mengigau.
                
Aku kembali mengenang masa-masa ketika istriku masih bisa berjalan, memakai seragam sekolah, belajar melukis bersamanya, dan memakaikannya mahkota pasir buatanku. Kehidupan remaja istriku itu benar-benar berbeda dari gadis seusianya. Peri tidak suka jalan-jalan ke mal, menghabiskan waktu bercanda dengan teman, menonton bioskop, apalagi membeli kue pelangi atau makan di restoran mahal. Peri lebih suka main di pantai, melukis, belajar di perpustakaan dan memasak di rumah. Ngomong-ngomong, Peri sering sekali bilang kepadaku bahwa dia tidak ingin pindah dari Nusa Dua, ia sangat suka pantainya dan bersyukur ditempatkan di kota yang begitu banyak membuatnya terinspirasi.
                
Aku melihat wajah istriku yang terlihat sangat kelelahan. Tak pernah kusangka bahwa aku pernah diberikan kesempatan untuk merawat, menyayangi, mencintai seseorang yang telah membawa diriku untuk lebih mengenal siapa Rabb-ku. Ya, Humaira adalah satu-satunya gadis yang paling menyita perhatianku ketika pertama kali bertemu dan mengenalnya. Bagaimana tidak, Humaira kecil selalu mengenakan kerudung putihnya dan balutan kemeja panjang sementara teman-teman sekelasnya tidak. Kupikir akan sulit sekali menemukan teman sesama muslim di Bali. Tetapi hanya dengan melihatnya saja, membuatku bersemangat.
                
Aku adalah pria yang amat beruntung bisa merasakan kehangatan kasih sayang Humaira, yang banyak disukai orang-orang. Humaira yang mengajarkanku untuk bersabar dalam menghadapi kegusaran hati. Ia yang memintaku untuk kembali melukis di kertas kosong agar aku bisa mendapatkan  nilai yang baik di pelajaran Kesenian—walaupun aku tak bisa melukis. Dia juga yang selalu mengatakan bahwa Allah suka kalau kita tersenyum. Maka, aku tersenyum untuknya sampai di detik-detik terakhir hidupnya. Humaira akan selalu menjadi wanita pujaanku, yang kucintai atas cintanya kepada Rabb-nya, dan yang sungguh mampu meyakinkanku bahwa aku bisa menjadi seorang dokter.
                
Melihatnya tergeletak tak berdaya seperti itu seakan seperti mengiris-iris kalbuku dan menyobekkannya hingga ke tulang sum-sum. Aku tahu istriku sudah tak kuat lagi. Seluruh tubuhnya sudah semakin sulit digerakkan. Kursi rodanya sudah tak lagi dipakai. Papan alfabetnya pun sudah tak pernah disentuh. Aku mendekatinya dan merasakan feromonnya yang begitu khas.
                
“Istriku sayang... apakah kau mendengarkanku?” lirihku kecil.

Humaira tidak bergerak. Wajahnya yang putih menjadi semakin pucat karena terlalu banyak mengkonsumsi obat penetral rasa nyeri. Aku membacakan Surah Al-Kahf seperti ketika kami menikah dulu. Sudut bibirku bergetar lembut merasakan detak jantungnya yang semakin melemah. Sebaris garis panjang muncul di monitor EKG penunjuk detak jantung Humaira seiring dengan lantunan ayat suci yang kubacakan untuknya. Ia nampak begitu tenang meninggalkan dunia ini. Tangisan air mataku pun pecah ketika melihatnya meneteskan air mata untuk terakhir kalinya. Dan aku masih ingat betul lukisan terakhir yang ia berikan kepadaku.
                
“Juna, terima kasih atas semua kebaikan dan perhatianmu kepadaku. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup. Aku hanya takut, kaki dan tanganku tak kuat lagi untuk melukis. Maka dari itu, aku membuatkan lukisan ini untukmu. Ini sudah kurekatkan dengan lem supaya pasirnya tidak jatuh ke mana-mana. Semoga kau suka, ya, Juna.”                

Tulisan tangan Humaira yang hampir sulit dibaca itu membuatku menundukkan kepala dan kembali menangis. Istriku tidak pernah pergi jauh dariku. Dia kekal di dalam hati seseorang yang amat mencintainya. Angin sepoi-sepoi di pantai Kuta menyadarkanku bahwa hari sudah petang. Aku masih menyisakan senyumanku untuk Peri Cintaku, Humaira.

Istriku terkasih, kau tahu apa kebahagiaan terbesar dalam hidupku?
Aku bahagia karena Rabb-ku telah mengizinkan kita untuk bersama di dunia dan menggenggam erat tanganmu seperti lukisan yang kau buatkan untukku.  
Sayang, selamat hari pernikahan ke-8 kita. Aku tidak akan lupa untuk mendoakanmu. Tersenyumlah sayang. Sang Maha Cinta tidak pernah meninggalkan kita.

No comments:

Post a Comment