Visitor

Thursday, March 6, 2014

Pertemuan Yang Tak Diduga Part I

5 Maret 2014, 13:00
Tepat kemarin, aku baru saja mengikuti mata kuliah pertama yang belum pernah kuambil sebelumnya. "Kewirausahaan", yang konon katanya sangat erat kaitannya dengan bisnis. Aku jadi penasaran. Malam sebelumnya, aku sempat merencanakan untuk datang ke IBF (Islamic Book Fair) lagi di Istora Senayan. Waktu kuberitahu adikku, Indah, ternyata dia pun kaget karena rencana kita sama. Adikku yang satu itu sedang asyik mencari data untuk skripsinya di Perpustakaan Camel, BEI (Bursa Efek Indonesia). Aku ingin segera bertemu dengan Indah karena ingin cerita banyak dengannya. 

15:49
Seusai kelas, aku langsung buru-buru ke BEI untuk menjemput Indah. Aku memang belum pernah sama sekali turun di Halte Transjakarta Polda. Habis dari situ, aku jalan sedikit ke arah Pacific Place. Duh, tempat ini terasa sangat asing untukku. Kebanyakan dari sumber daya manusia di sini orang berdasi dan berjas semua. Aku pusing melihatnya, hehehe. Tapi tak lama kemudian, aku mulai masuk ke gedung yang cukup besar dengan disain yang cukup menarik, BEI. Ini kali pertamanya aku masuk ke gedung yang penghuninya rata-rata berasal dari orang yang paham akan pasar modal. Sedangkan basic yang kumiliki adalah bahasa dan budaya, jadi aku sama sekali tidak mengerti tentang perkembangan pasar modal di Indonesia.

Begitu masuk ke dalam gedungnya, aku langsung meluncur ke Tower 1. Aku jalan sendirian dan diperhatikan beberapa orang yang berdasi itu. Ada orang bule juga yang memperhatikanku. Tapi aku merasa aneh sendiri, kenapa seperti ini budaya di lingkungan ini? Aku sampai diperiksa ke tangan dan seluruh tubuh pakai alat yang aku tak tahu namanya apa. Aku menganggapnya seperti berlebihan. Pemeriksaan tamu yang datang tidak perlu sampai segitunya juga kali, ya. Dan tapi untungnya, yang memeriksa aku itu satpam wanita. Jadi aku merasa aman dan sudah sepatutnya aku merasa amae dengan sistem penjagaan di sana.

Aku menghampiri Indah pertama kali sambil salam dan menciumnya seperti biasa. Selalu merasa rindu dengan adik yang satu itu. Setiap kali kami jalan dan dia menemaniku belajar, dia selalu berhasil membuatku tersenyum sepanjang hari. Nanti akan kuceritakan bagaimana awalnya aku bertemu dengan Indah, dan rasanya sih, lebih tepatnya kami dipertemukan karena niat dan visi yang sama.

Melihat seisi ruangan yang penuh dengan buku-buku tentang pasar modal, aku jadi linglung sendiri. Indah sudah selesai mencatat dan mem-fotokopi beberapa lembar buku. Aku menunggunya sebentar. Setelah itu kami sama-sama shalat di mushola yang ternyata digabung antara wanita dan pria. Jadi aku tidak boleh melepas jilbabku pada saat berwudhu. Suasanya tenang dan asri. Aku sangat suka. Bersih dan juga tidak bising. Tapi sayang, sepertinya jarang sekali orang-orang yang shalat di sini. Atau ini hanya dugaanku saja. Setelah shalat Ashar, Indah memberitahuku tentang seminar tentang pasar modal yang ada di beberapa ruangan di sebelah mushola. Aku sedikit tersudut sama pojokan yang menyediakan kue-kue cantik yang katanya boleh dicicipi oleh tamu umum. Kalau kita tidak ikut seminar pun, kita tetap boleh mencicipinya. Indah dan teman-teman kampusnya rupanya sudah berpengalaman. Tapi saat itu kami ingin segera meluncur ke Istora Senayan untuk membeli kaus kaki jempol yang lagi diskon besar-besaran. Akhirnya aku meninggalkan pojokan makanan yang segar-segar itu. Sepertinya ada buah juga. Nah, aku paling senang kalau dikasih buah gratis, hehehe.

Walaupun musti berjalan kaki cukup jauh untuk sampai ke Senayan, raut wajah kami tetap senang dan tidak menggambarkan kelelahan sedikit pun. Aku banyak bercerita tentang kuliahku ke Indah. Begitupun sebaliknya. Kuliah yang barusan itu ternyata sangat seru dan membuat aku semakin bersemangat. Ternyata, aku baru tahu, kalau yang namanya usaha atau bisnis itu bukan hanya sekadar menjual produk yang sedang in di pasaran. Tetapi kita harus memikirkan bagaimana kita bisa berinovasi. Misalnya, produk X yang sudah mendunia memasarkan hanya beberapa unit saja untuk dijual dengan harga yang sangat tinggi dan kualitas yang tidak main-main. Sedangkan produk Y memasarkan ribuan serta puluhan ribu unit tetapi dijual dengan harga yang murah dan kualitas biasa-biasa saja. Kelebihan produk X adalah menjual value, culture, dan icon. Sedangkan produk Y hanya menjual produk semata-mata untuk dipakai sesuai kebutuhan orang saja. Ini letak perbedaannya. Kalau usahawan yang ingin unique dari yang lainnya, mereka senantiasa sudah memikirkan terlebih dahulu produknya ini akan dipasarkan di mana, targetnya siapa, dan berapa banyak unit yang akan dijual. Bukan hanya memikirkan yang penting jualan dengan harga murah dan pembelinya banyak. Usaha dengan nilai jual yang tinggi terletak pada keunikan dan kelangkaan dari yang biasa pembeli nikmati. Kita tidak lagi memikirkan seberapa banyak pembeli yang akan membeli produk kita, tetapi bagaimana membuat orang-orang menjadi pelanggan tetap produk kita. 

Nah, ternyata setelah sekian jam si pak dosen bercerita tentang pemahaman wirausaha yang digelutinya, beliau juga sedikit menceritakan kisah nyatanya yang sudah beberapa tahun memiliki usaha toko online sampai 4 toko. Beliau juga menyarankan untuk kami, para mahasiswa untuk belajar berwirausaha walaupun dengan ide yang berbeda dari yang beliau pikirkan. Dan terserah, nanti akan dilanjutkan atau tidak usaha tersebut tergantung dari mahasiswa.

Aku menceritakannya secara men-detail kepada Indah. Dan tak terasa kami sudah sampai di Istora Senayan. Beberapa anak tangga kami naiki dan kami segera meluncur di tempat bapak-bapak yang menjual kaus kaki. Sebenarnya kalau boleh jujur, aku ingin borong semua barang-barang yang ada di sana, hehehe. Ada gamis, jilbab panjang, kaus kaki, bahkan dvd murathal qari Ahmad Saud dan Muhammad Thaha Al-Junaid. Kami hanya berkeliling sebentar dan tak terasa pukul sudah hampir menunjukkan petang. Aku dan Indah fokus pada satu buku berjudul "Islam Shows" kalau tidak salah yang berbahasa Indonesia. Buku itu merupakan kumpulan komik Islam yang tidak hanya jokes isinya, tetapi juga moral. Ada satu cerita di komik tersebut tentang seorang istri yang meminta izin kepada suaminya untuk shalat malam. Sang suami mengiyakan dan tidur lagi. Tapi sekitar 3 jam kemudian si istri tidak juga selesai-selesai shalatnya. Karena si istri shalat di ruangan lain, jadi sang suami tidak tahu si istri shalat berapa rakaat. "Umi kok shalatnya lama banget ya, tumben." ujar sang suami yang masih setengah tidur. Begitu diperlihatkan, ternyata si istri sedang berjuang melawan kecoak yang ada di atas sajadahnya yang menghadap ke dirinya. Masya Allah! Kami tertawa kecil sambil menutup mulut. Ceritanya sungguh sangat real. Dan mungkin ini juga yang terjadi di masyarakat kita. Ada yang sangat geli dan takut sama binatang kecil yang suka diam berjam-jam di lantai sambil menggoyang-goyangkan antenanya tanpa bergerak sedikit pun. Aku pun jujur suka terlanjur histeris kalau melihat makhluk berwarna cokelat itu tiba-tiba menempel di baju atau kepala. Lebih baik aku disuruh menyentuh cicak daripada kecoak, deh. Cicak lebih lucu daripada makhluk bernama kecoak.

Maghrib sudah berkumandang. Kami makan sore dengan lahapnya dan segera menunaikan shalat Maghrib. Aku memakai kaus kaki baru yang lembut. Dan kami ingin menyegerakan pulang karena matahari sudah terbenam. Indah naik kereta sampai ke Depok Lama dan aku naik Transjakarta sampai ke Grogol. Begitu sampai di rumah masing-masing, kami saling mengabari dan alhamdulillah semuanya dalam keadaan sehat. Tapi mungkin aku agak sedikit lelah karena sejak pagi aku terus berjalan sampai malam. Biarpun begitu, senyum pun tak henti-hentinya digubris sebagai tanda syukur kami Allah telah mempertemukan pertanda cinta dan kasih sayang-Nya yang begitu besar.


Kami punya impian yang sama-sama kami genggam dan menyerahkannya itu ke Allah. Tidak ada yang mustahil untuk bisa mewujudkan mimpi hamba-hamba-Nya. Kami pun percaya. Niat untuk beribadah itu sungguh dari hati yang terdalam. Semester ini kami sedang berusaha untuk menulis skripsi walau bedanya adikku itu sudah bersama pembimbing dan sudah menyelesaikan beberapa bab. Sedangkan aku masih belum bisa mendapatkan pembimbing karena mata kuliah Metodologi yang baru saja diambil. Tapi aku tidak boleh patah semangat dan aku tetap akan terus berusaha berjuang bersama dan membuktikan ke Allah kalau aku bisa, kami bisa. In syaa Allah, Indah akan lulus di tahun 2014. Dan aku akan mengambil 1 semester tambahan untuk penyusunan skripsi saja. Mata kuliah umumku sudah habis dan hanya akan fokus di skripsi saja. Begitu pun dengan tema yang sudah kusiapkan. Aku sudah menceritakan ke Indah aku akan menulis skripsi apa dan mengenai budaya apa yang kukaji. Senang rasanya bisa berbagi dengan saudara seperti ini. Tujuan kami hanya satu, semoga Allah meridhai dan merahmati kami dengan rahmat-Nya yang luas. Aamiin.

Seusai urusan kuliah, kami juga bercita-cita untuk bisa umrah atau haji bersama. Tahun ini merupakan tahun pertamaku berkunjung ke Islamic Book Fair. Mudah-mudahan Allah mengabulkan permintaan kami untuk di tahun depan agar kami kembali dipertemukan dan masih bisa merasakan nikmatnya Ramadhan yang jatuh pada bulan Juli tahun ini, kalau tidak salah. Kami juga punya schedule untuk beribadah bersama dan saling mengingatkan. Sudah beberapa hari ini Indah selalu menelfonku untuk membangunkanku shalat malam. Kami kembali bertemu di qiyamul lail. Kemudian sahur, dan berbuka puasa bersama. Tidak lupa juga kami saling mengingatkan sudah kholaskah juz hari ini. Sungguh indah rencana Allah mempertemukan kami walau awalnya kami bertemu di social media. Indah sudah jatuh cinta dengan gaya tulisanku yang santun ketika menulis materi tadabbur di blog. Setelah itu, ia sangat rajin untuk menyapaku walaupun terkadang aku merasa aneh dengan muslimah yang satu itu. Tapi akhirnya kubalas dan kuberikan nomer ponselku agar kami bisa berbicara secara private. Dan berawal dari situlah, akhirnya kami merencanakan untuk bertemu dan ternyata Indah anaknya suka sekali bicara. Setelah pertemuan yang ke-4 kalinya, Indah mulai mengetahui dan memahami gaya bahasa, sikap, respon dan sifatku yang kutunjukkan kepadanya. Ternyata, dibalik semua itu kami punya sedikit sejarah dan kami paham mengapa Allah mempertemukan kami. Indah benar-benar memohon kepada Allah untuk dipertemukan dengan seorang sahabat yang bisa memberinya semangat menghafal Al-Qur'an. Sedangkan aku memohon kepada Allah agar aku diberikan seorang sahabat yang bisa mengingatkanku, menyadariku, dan saling memberikan masukan tentang hafalan Al-Qur'an. Dan itu dikabulkan. Tibalah pertemuan pertama kami di UI yang sudah direncanakan dari sehari sebelumnya. Aku sudah mencoba melahap 1 juz tetapi sepertinya masih saja belum benar dalam hal niat dan perwujudan. Karena Allah mudahkan, akhirnya kami sama-sama memiliki visi untuk menghidupkan kembali sunnah yang sempat kami tinggalkan. Mulai dari laporan tilawatul, fasting (senin-kamis/daud), 5 times (on time), membaca al ma'tsurat setiap pagi dan petang, hafalan sehari 5 ayat pendek, sunnah rawatib, sunnah hajat, sunnah tahajjud, dhuha, witir dan sedekah. Walau ilmu kami masih sangat fakir, tetapi kami berusaha untuk terus mencari ilmu dan memperbaikinya. Aku sudah membuatkan list beserta tanggal dan hal apa saja yang sudah 'done' dilakukan setiap harinya. In syaa Allah, begitu kembali bertemu dengannya, aku bisa memberikannya sebagai bukti laporan selama seminggu. Dan semoga Allah sanggupkan kami untuk beristiqomah di jalan-Nya. Allahumma aamiin.



Kimi to deaetta shiawase inoru no you ni 

No comments:

Post a Comment