Visitor

Saturday, March 22, 2014

Pertemuan Yang Tak Diduga Part II

Prolog
Aku berencana untuk bertemu dengan salah satu sahabat penaku, sahabat yang berkenalan lewat dunia maya—blogger sejak tahun 2008. Dan kami hanya berjumpa di tahun 2012 untuk pertama kalinya. Selebihnya, kami hanya berhubungan lewat chat, whatsapp, dan lain-lain. Walaupun begitu, rasanya aku tetap bersyukur memiliki sahabat yang siap mendengarkan seperti dia. Sofia namanya. Kutahu sejak dulu dia sangat pintar sekali merangkai kata-kata dan gaya bahasanya bagus. Kami memang suka menulis. Dan banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing. Tapi di tahun ini, 2014, sekitar 7 tahun lamanya berteman, rupanya banyak sekali yang berubah. Begitupun ketika dia memberitahuku bahwa dia akan datang ke Indonesia, khususnya Jakarta tahun ini. Sofia berkewarganegaraan Malaysia dan tinggal di Singapore. Dia juga tahu kalau aku ada darah Singapore, makanya kita cocok. Nah, kali ini, aku mengajak adikku, Indah—untuk berkenalan dengan sahabat nun jauh di sana, Sofia.


Halte Grogol Petamburan, 11:00 WIB.
Lagi-lagi, aku dan adikku bertemu di hari Jum’at. Senang sekali rasanya. Dan di siang yang cukup mendung ini, aku berjalan seperti biasa dari rumah ke halte TransJakarta yang menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit kalau jalan santai. Selama di jalan, aku mulai khawatir karena di luar hujan rintik-rintik dan semakin lama semakin deras. Indah juga sudah mulai jalan katanya. Karena berhubung rumah kami yang berbeda kota, Jakarta dan Depok, mau tidak mau kami harus menggunakan salah satu akses transportasi umum—yaitu kereta.

Aku dan Indah ibarat bercermin. Biasanya gaya pakaian hingga sepatu kami hampir serupa, walaupun dia selalu memakai wedges. Sejak pertama kali bertemu dengannya, Indah selalu memakai rok atau gamis seperti yang selalu kuceritakan di blog. Nah, begitu sampai di Stasiun Cawang, aku sudah tahu keretanya akan segera datang yang ke arah Tanah Abang. Aku langsung buru-buru berdiri untuk menunggu gerbong belakang dibuka. Wajahnya adikku langsung kelihatan dari luar dan kami spontan membuka mulut seolah-olah teriak karena kaget.


Stasiun Manggarai – Stasiun Cikini, 12:10
Perjalanan kami yang kukira awalnya akan panjang di kereta ternyata cukup membuatku bingung sendiri karena ternyata daerah Cikini itu dekat ya! Hehehe. Aku dan Indah turun di Stasiun Cikini dan kami agak pusing karena tidak ada kendaraan umum yang lewat di sana. Rupanya rute ke TIM tidak begitu jauh dari stasiun. Kami berjalan santai ditemani rintik-rintik hujan dan udara yang dingin. Indah tidak bisa berhenti berbicara. Aku mendengarkannya, seru.


Taman Ismail Marzuki, 12:35
Sesampainya di TIM, aku benar-benar dibuat rindu dengan beberapa bus yang sedang parkir di sana. Baru ingat, ternyata aku pernah ke sini. Waktu itu, sekitar 12 tahun yang lalu bersama teman-teman sekolahku untuk masuk ke Planetarium. Indah belum sempat shalat Dzuhur dan kami akhirnya mencari-cari mushola terdekat. Bertemulah kami dengan mushola sederhana di dekat Planetarium. Aku segera menghubungi sahabatku, yang kala itu kami janjian ingin berjumpa—Sofia, si penulis puisi berantakan.

Tadinya kami ingin masuk ke Planetarium terlebih dahulu sebelum bertemu Sofia. Tapi ternyata loketnya belum buka. Ya, aku dan adikku sangat semangat untuk kembali mengulang masa kecil kita dulu waktu masih bersama rombongan. Tata letak loketnya mungkin agak berubah. Bahkan ada TV di depan kursi panjang tempat mengantre. Dan berhubung perut kami sudah sangat lapar, akhirnya kami memilih untuk makan dulu baru bertemu Sofia. Tapi sewaktu mencari tempat makan yang nyaman dan harganya terjangkau, kami sempat dua kali jalan-jalan dan ternyata tidak cocok dengan street restaurant  yang ada di sana. Barulah setelah aku menyarankan, “Gimana kalau makan bakso?” mata adikku itu langsung membelalak bahagia.

Kami duduk di kursi kecil ukuran anak sekolah dan memesan soto ayam. Alhamdulillah, makanannya enak dan tidak terlalu mahal. Tidak seperti di tempat yang sebelumnya. Maklumlah, kami masih jadi mahasiswi yang belum punya penghasilan. Jadi kalau untuk makan di restauran yang harganya cukup wow, itu akan jadi pertimbangan sekali bagi kami. Beberapa menit sebelum kami melahap habis makanan, adikku itu tidak henti-hentinya berbicara. Yang paling berkesan ketika kami makan di tempat sederhana macam seperti itu adalah tawa dan canda. Tak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata bagaimana bahagianya. Menceritakan sosok si A, si B, kemudian tertawa geli sambil berusaha menutupkan mulut seraya mengingat tak baik wanita tertawa dengan lebarnya.


Bertemu Kru Nulisbuku – entah pukul berapa
Selesai makan, kami ingin sekali bertemu dengan Sofia di beberapa corner yang ada di gedung belakang Planetarium. Aku sudah ada feeling kalau Sofia ada di sini. Jadi kami fokus untuk mencari-cari saja hingga bertemulah kami dengan satu corner yang sangat menyita perhatianku sejak tadi.


YA, APALAGI KALAU BUKAN STAND NULISBUKU. Bagaimana aku tidak girang? Akhirnya aku bertemu dengan sosok nyata yang selama ini berada di dunia maya saja. Salah satu online self-publisher yang sudah hampir tiga tahun kukenal. Aku sangat excited, kuakui. Di dalam stand itu, ada seseorang yang pastinya belum kukenal. Kupikir akan sulit untuk bertemu kru nulisbuku, ternyata kami bertemu juga di sini. Seseorang itu memberikan salam dan senyuman kepada kami yang terlihat sangat girang melihat-lihat beberapa prakarya. Dia menanyakan tentang bagaimana ketertarikan kami akan dunia tulis-menulis. Aku bilang, “Aku udah punya satu karya dari nulisbuku.” ujarku sambil terkekeh. Dan dia membalas, “Hah? Beneran? Wah! Judulnya apa?” aku dengan cepat menjawab, “Ehe. Rahasia dong.” sambil melirik ke arah adikku.

Aku meminta adikku untuk tidak membocorkannya ke dia. Tapi kami hanya memberikan satu clue saja, “Warna cover bukunya pink.”

“Yah. Itu sih terlalu sulit untuk dilacak, hehehe. Kasitau dong.”
“Aduh. Malu. Yaudah, aku kasihtau id twitter aja deh ya. Nanti cari tahu sendiri.” aku terus terkekeh, lucu.
Akhirnya kami menulis writing plan wall-nya nulisbuku. Aku tulis disitu,
“Aku mau nulis buku, pengalaman pribadi, tentunya untuk ibuku.”


Kalau tidak salah ya, hehehe.

Pertemuan singkat dengan kru nulisbuku kami tutup dengan ucapan terimakasih dan hadiah pin cantik. Aku berharap bisa bertemu lagi dengan kru lainnya sehingga bisa semakin mengenal dan menjalin silaturahim yang baik. Ternyata, se-welcome itu mereka terhadap para penulis yang meng-upload naskahnya di nulisbuku. Alhamdulillah, ya.


Akhirnya Bertemu Sofia – sudah tidak lihat jam lagi
Gadis memakai dress dan bertubuh mungil itu Sofia. Tidak banyak yang berubah darinya. Tapi mungkin dia akan sangat kaget melihat perubahanku. Aku juga sangat senang bertemu dan berkenalan dengan “kakak”-nya—yang entah namanya siapa, hehehe. Dan kami bercakap-cakap sebenarnya sangat sebentar tapi karena kami tidak bisa jalan-jalan, akhirnya terpaksa cukup mengambil beberapa foto dengan buku masing-masing saja deh.

Percakapan itu bermula dari pertanyaan si “kakak” yang penasaran dengan bukuku. Judulnya memang islami sekali dan lantas ia langsung bertanya, “Sejak kapan berhijab?” kujawab, “November 2012. Baru sih.”

Ya, ternyata dia juga tahu buku-buku Felix Siauw yang banyak macamnya itu—mulai dari Yuk Berhijab, Fatih, sampai Udah Putusin Aja. Sofia memang belum berhijab. Tapi aku yakin suatu hari dia bisa mengikutiku, hehehe. Ya, semua itu butuh proses kok. Dan aku tidak pernah memaksa satu orang pun, entah itu saudara atau teman untuk berhijab. Karena aku pun, dulu, tidak pernah punya keinginan untuk berhijab atau hijrah bahkan. Tapi memang semua itu mengalir begitu saja sehingga tidak bisa diungkapkan lagi betapa bahagianya ketika kita benar-benar bisa menjemput hidayah itu.


Senang. Sekali lagi, senang. Walaupun di pertemuan pertamaku dan Sofia di tahun 2012, kami berfoto belum berhijab. Tapi di tahun 2014 ini, aku berfoto dengan hijabku. Dan semoga, ya semoga. Aku sangat berharap di tahun berikutnya kami bertemu, aku bisa melihatnya sudah mantap berhijab. Aamiin. Ohya, teman-teman pembaca, tahu tidak? Waktu kami masih aktif di blog awal-awal dekat, kami sering saling membaca blog masing-masing loh. Aku memang selalu berdoa agar suatu hari nanti kami benar-benar bisa menerbitkan buku. Dan kali ini sudah terbukti. Walaupun masih “indie” dan “self-publishing” tapi kebanggaan itu tetap ada. Inilah awal kami berjuang untuk menulis. Dan perjalanan itu sangat panjang, teman-teman.


Planetarium, 15:25 WIB – akhirnya lihat jam
Bertemu Sofia sudah. Bertemu kru nulisbuku juga sudah di awal-awal tadi. Sekarang saatnya kami membeli tiket untuk menonton ‘bioskop luar angkasa’. Lama sekali aku tidak melihat-lihat di tempat ini. Memori 12 tahun lalu mungkin sudah hampir kulupakan. Karena saking lamanya. Tapi hari ini, tepat hari ini, aku dan adikku kembali mengulang kenangan itu, hehehe. Kami memesan tiket, dan beberapa kali hampir sempat terpeleset. Lalu ia meraih tanganku, mengenggam, berbicara banyak tak berhenti ketika menunggu waktu pembukaan pertunjukkan. Ada juga yang kami lirik-lirik, mulai dari buku tentang tata surya, anak-anak kecil yang sedang berlari berombongan, orang-orang yang sedang mengambil air wudhu, dan beberapa ibu-ibu mereka yang menjaga anak-anak.

Ketika akan masuk ke ruang pertunjukkan, aku cukup grogi karena sudah lama sekali tidak merasakan nuansa Planetarium ini. Aku pengen deh, diberikan kesempatan untuk melihat bintang-bintang di langit malam sungguhan bersama adikku di Boscha. Kemudian kami bernostalgia dengan adegan di film Petualangan Sherina—yang saat itu Sherina dan Saddam terkunci di Boscha. Aduh, aku suka sekali film masa kecilku itu. Dan beberapa menit lagi aku akan menceritakan betapa aku dan adikku sangat kagum akan benda-benda langit luar angkasa yang Allah ciptakan itu. Sungguh sempurna. Padahal itu baru replikanya saja. Bohongan. Apalagi yang betulan.

Maha Suci Allah.

Jantungku selalu berdebar-debar ketika melihat keindahan langit malam. Itu selalu. Ada perasaan takut bercampur haru dan bahagia karena saking luasnya langit itu. Dan berapa ratus miliar bintang di luar sana yang Allah tahan untuk tidak jatuh ke bumi. Betapa banyak galaksi yang juga tak bisa terjangkau oleh kita. Kami kembali belajar tentang tata surya untuk melepas kerinduan kami akan masa kecil. Mungkin dulu, sebagai anak kecil kami tidak begitu kagum akan semua yang kami lihat barusan. Kami belum paham maknanya. Dan setelah dewasa, barulah terasa, betapa kuasa Allah sangat besar. Aku selalu membayangkan kecilnya diri ini ketika menghadap ke langit luar sehingga tidak ada alasan untuk kita berlaku sombong. Coba, siapa yang bisa menembus luar angkasa tanpa bantuan apapun? Mampukah kita?

Tidak. Kita ini hanya manusia biasa.
Penuh dengan kedustaan.
Kita punya bumi, dan bumi ini milik Allah.
Satu-satunya tempat hidup yang paling aman dan baik.
Berapa banyak planet tetangga yang Allah ciptakan namun tidak sesuai untuk kehidupan manusia?
Dan betapa kuasa Allah!

Allah ciptakanlah bumi itu untuk kita tempati sekarang. Dan kita lebih kecil dari setitik debu yang tertiup angin bahkan tak bernilai apapun. Makanya, aku selalu takut dan ada perasaan aneh ketika aku menatap langit selain decak kekaguman atas ciptaan Allah.

Aku mengeratkan genggamanku bersama adikku sejak pemutaran ‘bioskop luar angkasa’ dimulai. Kami tidak melepaskannya. Mungkin aneh bagi yang mengetahuinya. Tapi kami sungguhan nyaman. Karena ada rasa takut sedikit yang menyertai, makanya aku genggam erat tangan adikku itu. Sampai kami melepaskannya seusai pertunjukkan dan melambaikan ke atas. Girang sendiri rasanya kami. Bahkan sebelum itu, kami sempat berfoto dan betapa kagetnya, ternyata kami mirip loh.



Menunggu Waktu Maghrib
Sebelum masuk pertunjukkan tadi, aku menemani adikku untuk shalat Ashar. Sambil menunggunya, aku melanjutkan tilawahku dengan terjemahan. Dan waktu sudah mulai menunjukkan pukul lima lewat beberapa menit. Maghrib tidak akan lama lagi. Kami punya cara tersendiri agar tidak bosan selama berjalan-jalan di TIM.

Aku dan adikku melihat-lihat sekeliling dan masuk ke dalam gedung di belakang Planetarium. Kami menemukan brosur mengenai tempat les bahasa Jerman. Ini pas sekali momennya dengan perasaan hati si adikku. Ya, bagaimana tidak? Aku tahu betul ia sangat ingin mendapatkan beasiswa ke Jerman. Dan syukurlah kali ini kami dapat banyak informasi tentang Jerman—dari Goethe Institut.

Dan yang paling kuperhatikan sedari tadi adalah konsep disainnya. Aku memang punya passion di disain. Makanya aku fokus memperhatikannya. Sederhana, tidak norak, tidak menabrak warna, dan eksotis. Itulah yang sangat membuatku kagum.

Setelah akhirnya kami keluar dari gedung, aku dan adikku mengarahkan langkah kaki kami ke luar TIM. Mencari mushola terdekat. Ada beberapa gedung pencakar langit yang bagus dan mewah. Tapi aku tak yakin musholanya sebagus dan se-terawat gedungnya. Kami berjalan kecil ke arah Hotel Ibis Budget Cikini. Nama yang aneh, hehehe. Kami malah melihat-lihat orang yang sedang berenang. Aku tak tahu kenapa sangat tidak suka air kolam renang. Bikin grogi dan buyar pikiran. Habisnya aku ngeri kalau tiba-tiba didorong ke kolam renang. Sebisa mungkin, aku menjauh dari daerah kolam renang.

Langit sore sudah semakin gelap dan kami memutuskan untuk langsung ke mushola saja. Hatiku mulai bergejolak. Kenapa sih selalu saja mushola di nomor-terakhirkan? Sehingga tempatnya pun ditaruh di lorong bawah parkiran motor dan mobil. Agak bau. Kecil dan agak kotor. Apalagi mukenanya, tak terawat. Laki-laki dan perempuan dicampur begitu saja tempat wudhunya. Pokoknya tidak nyaman. Padahal itu tempat ibadah. Padahal kita ini negara dengan penduduk mayoritas 75% muslim. Tetapi untuk urusan ibadah, kenapa kita selalu molor?

Aku terinspirasi dari setiap perjalanan kami hari ini untuk menulis lebih banyak lagi tentang keadaan mushola terpencil di Jakarta. Rasa-rasanya aku ingin mengajak adikku jalan-jalan seperti ini lagi tapi dengan tujuan men-survey mushola-mushola yang ada di gedung-gedung atau tempat mana pun di DKI Jakarta. Nah, ide bagus bukan?


Ayo Dakwah Mulai Dari Hal Kecil
Menulis. Merupakan salah satu kekuatan dan kemampuan kami untuk mengeksplor keinginan diri dan belajar untuk mendakwahkannya perlahan-lahan. Kita bisa kok. Dan kita sangat bisa untuk ini. Keinginan kami yang sama, keinginan untuk menjadikan masjid dan mushola lebih diutamakan daripada gedung atau fasilitas lainnya. Pernah terbesit di pikiranku untuk membangun masjid atau mushola yang dapat dikelola dengan baik, terawat, terpisahkan antara wanita dan pria, terutama tempat wudhunya. Bayangkan kalau kita berwudhu dicampur seperti itu. Masa iya kami—para wanita harus membuka sedikit jilbab untuk membasuh kepala dan tangan sampai siku. Bagaimanapun juga kami tidak ingin membuka aurat walau untuk berwudhu dan diperlihatkan ke pria non-mahram.

Sambil menunggu adikku seusai shalat, aku melihat sekeliling. Ada banyak motor di sini. Ada juga yang berlalu-lalang untuk gantian shalat. Ada yang sedang mengambil air wudhu dan tiba-tiba motor jalan di depannya dengan bunyi yang sangat berisik. Sungguh tidak nyaman. Ternyata, di dalam gedung yang sama, ada banyak orang-orang yang sedang menikmati hidangan lezat. Di atas parkiran ada beberapa lantai untuk kamar hotel dan cafe. Kami sudah lihat-lihat tadi. Termasuk ketika kami menonton beberapa orang yang sedang berenang walau aku fokus ke pinggiran kolam renangnya saja. Miris memang. Ketika panggilan shalat itu diabaikan. Dan tetap melanjutkan bermain-main dengan gadget  mereka. Sementara hanya ada tiga sampai lima jamaah saja yang datang untuk panggilan itu.

Semoga, suatu saat nanti—terutama anak cucu kami bisa untuk terus memperjuangkan Islam di masa dan era baru ini, atau bisa kita sebut “akhir zaman”. Ya, harapan itu pasti ada. Dan akan selalu ada.


Mari Kita Pulang – 17:50 WIB
Mama sudah menghubungi terus dari tadi. Waktu aku mencoba mengangkat telefon, ternyata kabarnya mengenai kakakku yang terkena diabetes. Kebetulan kami sempat memesan ice cream di McDonald sebagai penutup perjalanan kami. Aku selalu mengatakan kepadanya untuk suka berjalan kaki agar lebih sehat. Jangan bermalas-malasan, seperti tidur-tiduran atau tidur setelah makan. Itu akan sangat memicu penyakit diabetes. Walaupun kami memakan yang manis-manis, tetap harus dikontrol setiap harinya.

Indah sudah memintaku untuk pulang karena takut kemalaman. Kami berjalan pelan menuju stasiun. Aku akan turun di Cawang dan adikku akan lanjut sampai ke Depok. In syaa Allah kami akan terus saling berkabar sampai tiba di rumah nanti.

“Indah, aku udah sampe rumah nih. Alhamdulillah.”


Epilog
Mataku sudah kriyep-kriyep tapi benar-benar ingin nulis. Mungkin besok aku akan mengeditnya beberapa. Indah, terimakasih ya sudah nemenin aku sampai pagi buta begini dan hasilnya mata kita sudah tinggal segaris, deh.

Ayo kita menulis untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik!

No comments:

Post a Comment