Visitor

Tuesday, March 25, 2014

Pertemuan Yang Tak Diduga Part III




24 Maret 2014
Siang hari itu aku dan adikku sama-sama pergi ke perpustakaan untuk mencari kelengkapan data skripsi. Walaupun kami berbeda jurusan, tapi biasanya kami selalu berusaha untuk  sharing  agar bisa memperoleh ilmu baru. Aku yang sudah terbiasa menggeluti dunia sastra mungkin akan sedikit kaget jika harus dikenalkan dengan dunia pasar modal—jurusan adikku.

Sehari sebelumnya, kami memang sempat merencanakan untuk bertemu. Aku yang sudah sampai lebih dulu di Perpustakaan Japan Foundation pukul 11:00 langsung menghubungi adikku. Dia juga akan jalan ke kampusnya untuk memeriksa beberapa buku di perpustakaan.

Sampai kira-kira pukul 2 siang, aku terus menghubungi adikku. Hanya saja, waktu itu kami sempat salah paham. Aku memberitahu adikku untuk turun di Halte Bundaran Senayan. Gedungnya ada di sebelah kanan dari arah Blok M. Adikku ingin menemaniku di Japan Foundation. Karena waktu itu aku sudah pernah menemaninya di Perpustakaan Pasar Modal di BEI.

Adikku turun di Halte Sarinah karena ia pikir harusnya ia turun di Halte Bundaran HI. Padahal aku bilangnya Halte Bundaran Senayan. Nah, akhirnya aku pun keluar dan langsung naik bus ke arah Bundaran HI. Adikku itu jalan kaki dari Sarinah ke depan Grand Hyatt. Kebetulan di beberapa halte ada yang sedang perbaikan, jadi aku salah paham lagi, ternyata aku turun di Halte Sarinah melewati Halte Bundaran HI. Padahal adikku sudah menunggu aku duduk di buranchi yang ada di depan Grand Hyatt. Mau tidak mau akhirnya aku jalan kaki dari Sarinah ke Grand Hyatt. Tapi begitu aku jalan, kulihat lagi hpku dan adikku ternyata jalan ke KFC, bukan di Grand Hyatt lagi. Sebentar lagi aku sampai di Bundaran HI dan aku tidak melihat adikku sama sekali. Aku mulai bingung, kutelfon adikku tapi tidak aktif. Bbmnya pun hanya checklist saja. Duh, gimana ini.

Aku berpikir, sepertinya sih adikku itu berjalan menuju KFC yang ada di Sarinah. Kan KFC yang ada di daerah sini cuma ada di Sarinah, pikirku. Aku berbalik dan naik lagi ke tangga yang tadi kuturuni. Sebenarnya aku cukup lemas karena berjalan cukup jauh. Tapi aku mengambil sisi positifnya saja, rupanya ini memang jadi membuat olahraga kami, hehehe. Menunggu berbuka puasa dengan olahraga sore, bukan?

Aku menelfon adikku sekali lagi dan akhirnya diangkat. Dia bilang, dia sedang menungguku di KFC. Lah, aku udah di KFC, kamu di mana?

“Kak, aku di KFC Oil Center”, ujar adikku bingung.
“Kakak di mana?” tambahnya.

Aku semakin bingung. Rupanya ada 2 KFC di daerah ini. Aku sudah semakin lemas dan hampir putus asa. Tapi adikku menenangkan.

“Yaudah kalo gitu aku ke sana ya. Kamu tunggu di situ. Kita buka puasa di KFC Sarinah aja ya.”

Aku lega banget. Langsung aku mencari tempat duduk di depan halte bus dekat Sarinah. Beberapa kali aku memperhatikan sekeliling, rupanya adikku belum muncul juga. Kasihan dia, harus berjalan kaki lumayan jauh dan mondar-mandir saja dari tadi demi bertemu denganku. Dan tiba-tiba...

“Kamu di man...??”
“EHHH...!!!! Kakak!!!!!!!!!!!!!!”

Aku membalikkan wajahku ke arah kanan dan kulihat adikku dengan wajahnya yang kaget bukan main karena melihatku.Aku pun kaget dibuatnya. Kupikir dia sedang berpura-pura tidak menutup telfon supaya ia bisa mengagetkanku dari belakang. Kalau ini benar-benar direncanakan, kamu berhasil dek. Aku kaget beneran.

Salam dan pelukanlah yang kuberikan untuknya ketika kami kembali bertemu. Suara kaget kami berdua bertahan sampai beberapa menit dan semua orang di depan halte itu melihat kami dengan aneh. Baru kusadari, ternyata suara kami benar-benar persis suara tikus terjepit pintu. Pengambilan nadanya dari oktaf semua. Aku ketawa geli sambil terus ingin mencubiti adikku itu. Kami langsung berjalan mencari mushola terdekat.

Seusai shalat, kami berpindah tempat dan memutuskan untuk naik ke lantai 2 di dalam KFC supaya tidak harus langsung meng-order. Masih ada beberapa menit lagi sebelum adzan Maghrib. Aku dan adikku bercerita banyak hal dan sempat merekam suara kami di SoundCloud. Kalau ada teman-teman yang ingin berdengarkan, boleh kok untuk cek link-nya.

CLICK!

Aku dan adikku sebenarnya ingin meng-update voicenote kami di SoundCloud dengan bermacam-macam tema setiap 1 rekaman. Misalnya, hari itu kami berbicara tentang jodoh. Mungkin, selanjutnya akan berbicara soal skripsi atau yang lainnya. Tapi sayangnya, suara adikku itu tidak begitu jelas karena ia masih malu-malu mendekatkan wajahnya ke hpku, sehingga suara yang dikeluarkan juga seperti menjauh. Jujur, aku senang bukan main setiap kali kami bertemu. Selalu ada kejutan di dalamnya. Walau rumah kami jauh, tapi bukan berarti kami tidak bisa bertemu, kan? Bahkan adikku itu sempat ingin berjalan-jalan jauh lagi denganku—kami ini hitori botchi loh. Tapi berhubung seorang botchi akhirnya menemukan teman se-tipe, kita tidak lagi menamakan diri kita sebagai hitori botchi, tapi futari botchi. Apa itu hitori botchi dan futari botchi? Silakan tanya sama mbah gugel, ya.

Oh ya, tambahan, futari botchi itu kosakata buatanku sendiri loh. Belum tentu benar, hihihi.


Ayo Kita Pulang, Dek!
Seperti biasanya, aku tidak pernah mengajarkan adikku untuk berkata ‘Say Goodbye’ tapi ini sementara kok. In syaa Allah kami bisa bertemu kembali dan pasti akan ada kejutan yang banyak. Kami sama-sama naik bus dari Sarinah. Adikku naik ke arah Blok M, turun di Halte Dukuh Atas. Sedangkan aku ke arah Harmoni. Kami berpisah sementara di sana. Dan kembali berpelukan sambil mengucapkan salam. Selama di perjalanan, kami juga saling mengabari dan aku suka khawatir kalau adikku itu sampai di rumahnya terlalu malam. Biasanya aku selalu tunggu dia sampai benar-benar sudah ada di rumah, barulah aku mau tidur. Malam itu kami juga berbincang-bincang cukup lama sampai terkantuk-kantuk. Hikmah yang dapat kami petik hari itu adalah,

“Kesabaran akan membuahkan kasih sayang Allah. Karena ketika kita senantiasa berdzikir ketika sedang menghadapi cobaan, di situlah Allah akan mempersiapkan kado terindah yang akan kita dapatkan di hari yang sudah ditentukan. Jadi, bagaimana pun terpuruknya keadaan seorang hamba, Allah takkan membiarkan ia terlarut dalam kesedihannya ketika ia bisa menjadikan sabar dan shalat sebagai kekuatannya. Karena janji Allah itu pasti. Tidak ada suatu cobaan satu pun yang jika seorang hamba mendapatkannya ia tidak sanggup memikul. Pasti telah datang bantuan dari Allah. Sesungguhnya, keadaan hati yang selalu mengingat nikmat Allah tidak akan jauh. Tidak akan jauh dari rahmat-Nya.”

No comments:

Post a Comment