Visitor

Thursday, March 27, 2014

Menuju Indonesia Lebih Baik

Sehubungan dengan pemilu yang sebentar lagi akan dilaksanakan di Indonesia, sebenarnya bagaimana baiknya umat muslim menanggapi hal ini? Sementara MUI mewajibkan masyarakat untuk memilih/tidak golput, Syaikh Abdul Malik Ar-Ramadhani menjawab:

“Segala puji bagi bagi Allah, serta shalawat salam dan keberkahan semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya, serta orang-orang yang setia mengikuti jalannya.

Saat ini mayoritas negara-negara Islam menghadapi cobaan berat dalam memilih pemimpin melalui cara pemilihan umum—yang ini merupakan penerapan sistem demokrasi yang sudah dikenal. Padahal terdapat perbedaan yang sangat jauh antara sistem demokrasi dan syariat Islam dalam memilih pemimpin—yang dijelaskan oleh banyak ulama ahlus sunnah wal jama’ah. Untuk penjelasan masalah ini, kita bisa merujuk kepada sebuah kitab ringkas yang ditulis oleh seorang ulama besar, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbaad al-Badr yaitu kitab ‘Al-‘Adhlu fil Islaam wa laisa fi dimokratiyyah al Maz’uumah’ artinya, keadilan yang hakiki ada pada syariat Islam dan bukan pada sistem demokrasi yang dielu-elukan.”

Pemilihan umum dalam sistem demokrasi telah diketahui, yaitu dengan cara seorang muslim atau kafir memilih seseorang atau beberapa orang tertentu sebagai calon presiden. Semua masyarakat—baik perempuan maupun laki-laki wajib memilih tanpa mempertimbangkan mana orang yang shaleh dan mana yang tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sebenarnya semua ini jelas merupakan pelanggaran terhadap syariat Islam. Sesungguhnya para sahabat yang memba’iat Abu Bakr ash-Shiddiq r.a sebagai khalifah sepeninggal Rasulullah di saqiifah milik suku Bani Saa’idah, tidak ada seorang perempuan pun yang ikut serta dalam pemilihan tersebut. Karena urusan politik tidak sesuai dengan tabiat kaum perempuan, sehingga mereka tidak boleh ikut berkecimpung di dalamnya.

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى
“Dan laki-laki tidaklah sama seperti perempuan.”
(QS. Al-Imran: 36)

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
“Maka apakah patut Kami menjadikan orang-orang Islam itu sama dengan orang-orang yang berdosa (orang kafir). Mengapa kamu (berbuat demikian); bagaimanakah kamu mengambil keputusan?”
(QS. Al-Qalam: 35-36)

Melihat fakta yang terjadi sekarang, rupanya ada dua pendapat berbeda dari beberapa ulama yang salah satunya membolehkan kita untuk memilih—atau bahkan harus. Alasan mereka yang mengharamkan golput adalah untuk mengikis atau memperkecil suara untuk para calon pemimpin kafir.

“Kalau seandainya semua orang diharuskan ikut serta dalam pemilu, maka apakah Anda ikut memilih atau tidak?”

Beberapa dari mereka (yang mengharamkan golput) berkata,

“Anda ikut memilih dan pilihlah orang yang paling sedikit keburukannya di antara mereka (para kandidat yang ada). Karena umumnya mereka yang akan dipilih adalah orang-orang yang memasukkan (mencalonkan) diri mereka dalam pemilihan tersebut.”

Padahal Rasulullah pernah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah r.a:

“Janganlah engkau (berambisi) mencari kepemimpinan, karena sesungguhnya hal itu adalah kehinaan dan penyesalan pada hari kiamat nanti.”
(HR. Bukhari No. 6248 dan HR. Muslim No. 1825)

Dan orang yang terpilih dalam pemilu adalah orang yang berambisi mencari kepemimpinan, padahal Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang berambisi mencari kepemimpinan maka dia akan diserahkan kepada dirinya sendiri (tidak ditolong oleh Allah dalam menjalankan kepemimpinannya).”
(HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Akan tetapi jika seseorang tidak mengetahui siapa yang lebih baik (agamanya) di antara pada kandidat yang ada, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan orang untuk memilih padahal kita sendiri tidak mengetahui.

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isra: 36)

Demikian pula jika ada seseorang yang tidak merasa puas dengan kondisi pemilu (tidak memandang bolehnya ikut serta dalam pemilu) secara mutlak, baik dalam keadaan terpaksa maupun tidak, maka bagaimana mungkin kita mewajibkan dia melakukan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan Rasulullah?

Dan semua informasi yang saya dapatkan dari beberapa teman, ulama, web, guru dan juga orang-orang yang saya menghormati mereka sebagai orang-orang yang lebih paham ilmu agamanya dari saya mengatakan bahwa dua pendapat ini terus akan bermain hingga hari itu tiba.

Padahal sebenarnya sistem politik yang ada di Indonesia ini saya akui memang jauh dari syariat Islam. Dan beberapa kali bahkan sering saya mendengar langsung celotehan orang-orang muslim yang berasumsi seperti: Indonesia itu bukan negara Islam, jadi please hargain ras dan agama lain. Kita hidup di dalam perbedaan. Jadi jangan masukin unsur agama di dalam politik. Karena sampai kapan pun itu nggak akan bisa nyatu.

Pemikiran-pemikiran muslim seperti ini yang menyebabkan pemuda-pemudi Islam menjadi semakin luntur akan ilmu agama mereka. Guru sekaligus abi saya, yang saya homati, Ustadz Bachtiar Nasir—mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Wajar saja kalau kita mudah melaksanakan ibadah shalat, puasa, belajar mengaji, menyantren, dll di negara kita ini. Beda ketika kita ke Amerika, Jepang, Cina, Korea, Afrika dan negara lainnya. Penduduk muslim di sana sangat minoritas. Dan jika Indonesia dipimpin oleh orang kafir maka sama saja kita akan menuruti apa kata si kafir itu sebagai pemimpin kita. Maka dari itu, banyak guru besar atau ulama yang ada di Indonesia mengkhawatirkan para calon presiden ini yang akan dipilih oleh masyarakat. Belum lagi kita bisa dengan jelas menilai orang-orang yang hanya sekadar ‘janji’ saja. Atau menggunakan unsur suap agar dipilih.

Berikut adalah jawaban dari Syeikh Abdul Muhsin Al-Ubaikan Hafizhahullah ketika ditanya tentang pemilu.

“Berpartisipasi dalam pemilu adalah suatu hal yang dituntut untuk dilakukan supaya orang yang jahat tidak bisa menjadi anggota dewan untuk menyebarluaskan kejahatan mereka.”

Inilah yang difatwakan oleh Ibnu Baz dan Ibnu Utsaimin.

Dan selanjutnya:

Al-Lajnah Ad-Daimah adalah lembaga fatwa kerajaan Arab Saudi, fatwa ini dikeluarkan ketika masih diketuai oleh Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah. Mereka ditanya tentang hukum ikut pemilu di sebuah negeri yang negaranya tidak memakai hukum Allah ta’ala.

Mereka menjawab,

“Tidak boleh bagi seorang muslim mencalonkan dirinya, dengan itu dia ikut dalam sistem pemerintahan yang tidak menggunakan hukum Allah, dan menjalankan bukan syariat Islam. Maka tidak boileh bagi seorang muslim memilihnya atau selainnya yang bekerja untuk pemerintahan seperti ini. Kecuali, jika orang yang mencalonkan diri itu berasal dari kaum muslimin dan para pemilih mengharapkan masuknya dia ke dalamnya sebagai upaya memperbaiki agar dapat berubah menjadi pemerintah yang berhukum dengan syariat Islam—dan mereka menjadikan hal itu sebagai cara untuk mendominasi sistem pemerintahan tersebut. Hanya saja orang yang mencalonkan diri tersebut, setelah dia terpilih tidaklah menerima jabatan kecuali yang sesuai saja dengan syariat Islam.”

(Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah No. 4029, ditandatangani oleh Syeikh bin Baaz, Syeikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Syeikh Abdullah Ghudyan, Syeikh Abdullah bin Qu’ud)

Tentu keadaan seperti tidaklah mudah bagi umat muslim yang benar-benar ingin menegakkan hukum Islam. Pertanyaannya adalah, apakah ada seorang calon pemimpin yang akan menggerakkan negara ini sesuai dengan hukum Allah?

Maka dari itu, cara terbaik saat ini adalah dengan memperbanyak doa, shalawat, istikharah dan terus berhuznudzan kepada Allah bahwa ini adalah rencana dan ketetapan-Nya. Kita tidak perlu pusing-pusing terpaku dengan golongan yang mewajibkan golput dengan alasan A, atau yang mengharamkan golput dengan alasan B. Semua boleh memiliki pendapat masing-masing asalkan memiliki dalil yang kuat untuk dipertahankan. Tapi kita harus ingat, kita ini hanya manusia yang lemah—tanpa kekuatan dan rahmat Allah kita ini bukan apa-apa. Tetapi inilah yang harus kita hadapi bersama. Memperjuangkan Islam di negara sendiri dan berharap Allah mengabulkan doa kita. Sesungguhnya, saya pun tidak ikhlas jika tanah air tempat kelahiran saya dipimpin oleh seseorang yang kafir—yang mana kita tahu bahwa mereka semua akan menjalankan hukum buatan manusia—bukan berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Besar harapan saya dan tentunya teman-teman sesama muslim untuk mendapatkan pemimpin yang dapat dipercaya, bisa menjalankan syariat Islam dengan baik, dan tidak karena niat untuk kesenangan atau kekayaan.

Sebelum kita benar-benar memastikan memilih atau tidak, ada baiknya perbanyak istikharah dan memohon kepada Allah agar diberikan keputusan yang terbaik. Saya bukan golongan yang mengharamkan golput ataupun mewajibkan golput. Saya menerima banyak masukan dari teman-teman, guru, abi dan umi yang saya hormati, dan tentunya kalian semua yang mau berbagi bersama.

Wallahu’alam bisshawab.





Referensi:

No comments:

Post a Comment