Visitor

Monday, March 31, 2014

Tentang Kemarin

Sabtu, 29 Maret 2014
Seperti biasanya, aku selalu menanti-nantikan setiap weekend bersama teman-teman qgeners. Kami berkumpul bersama di aula AQL untuk bertadabbur. Hari itu kami dibimbing oleh Ustadz Deka Kurniawan. Aku sangat suka dengan pembawaan beliau yang humoris, penuh ekspresi, jiwa mudanya tinggi dan beliau sangat bersemangat. Inginnya punya abi seperti beliau, hehehe. Kebetulan, beberapa hari sebelumnya Pipit, Mba Ega dan Mba Nita mengajak kita semua untuk menginap di rumah Mba Nita hari minggunya. Karena keesokannya kami ingin menghadiri acara Doa Bersama Untuk Pemilu 2014 di Masjid Istiqlal yang dipimpin oleh Ustadz Yusuf Mansur dan Ustadz Bachtiar Nasir.

Setelah tadabbur, kami berempat makan malam di Solaria. Aku makan nasi goreng seafood kesukaanku. Rencananya hari itu kami mau nemenin Mba Ega yang akan ketemu si calon, namanya Mas Reno (aku memanggilnya mas karena doi lebih tua dariku, hehe). Mas Reno membawa ibu dan ayah serta adik perempuannya. Sebelum bertemu dengan mereka, aku menemani Pipit yang lagi lahap sekali makannya. Kami memesan Burger King. Aku makan kentangnya saja. Di sana, aku ketemu Acin-senpai bersama Aya-chan. Kenal sama Aya di twitter, facebook dan beberapa akun lainnya tapi baru pertama kali bertemu langsung dengannya. Aku cerita sedikit tentang kuliahku ke Acin-senpai. Rasanya jadi ingin nostalgia masa-masa awal kuliahku dulu. Riyanti, Fera, Fitri, Aria, Indah, Mega, Andi, Dimas, Ferino, Reza dan beberapa teman lainnya dulu sangat kompak ikut kaiwa kurabu. Kami berlatih percakapan bahasa Jepang sehari-hari dengan tema yang berbeda-beda setiap pertemuannya. Salah satu kakak pembimbing kami Kak Acin. Ada lagi Kak Yogi, Kak Vinnie dan kakak-kakak lainnya. Mereka semua waktu itu kalau tidak salah sudah semester 3 dan 5. Jago-jago banget. Kami yang masih semester 1 jelas kurang pede untuk bercakap-cakap seperti itu. Kak Acin benar-benar kenal kami, angkatan 2010. Doi bilang kalau angkatan kami ini kurang kompak. Ada yang masih ketinggalan, tapi sedikit yang sudah beres masa kuliahnya. Aku mengakui dua temanku itu—Yoru dan Sophie yang sudah lebih dulu lulus di awal Maret ini, memang mereka pintar dan rajin. Aku dan Aria sepertinya akan ketinggalan 1 semester dan kami akan mengambil skripsi. Harusnya kami lulus tahun 2014 dan wisuda di akhir tahun. Tapi melihat kenyataan sekarang, in syaa Allah aku akan mengambil sidang di pertengahan tahun 2015 dan wisuda di akhir tahun.

Aku cerita banyak sama Acin-senpai.

“Iya Kak, dulu waktu masih semester-semester awal aku jarang masuk dan menyepelekan mata kuliah. Apalagi nilai bahasa Jepangku C. Sampai akhirnya aku berusaha untuk bangkit, aku buktikan di nilai bahasa Jepang 5 dan 6 aku bisa dapat A.”

“Tuh kan! Sebenarnya kamu tuh bisa! Apalagi itu bahasa Jepang 5 sama 6 yang tingkat kesulitannya itu tinggi. Tapi kamu bisa kan? Kamu cuma nggak mau berusaha kemarin. Semua kita sama aja. Awalnya nggak paham sama sekali. Tapi karena kemauan yang kuat, akhirnya kita bisa. Memang kamu pikir aku sama Kak Yogi dulu udah pernah belajar bahasa Jepang sebelum masuk kuliah? Engga. Boro-boro belajar, ngerti aja kagak.”

Kak Acin memberiku semangat untuk tetap memperjuangkan semester-semester terakhir. Walaupun terlambat, bukan waktunya aku untuk menangisi nasib. Ini pasti ada hikmahnya. Allah telah mempersiapkan hadiah spesial untukku jika aku berhasil nanti.

Setelah mengakhiri percakapanku dengan Acin-senpai dan Aya-chan, aku pamit. Aku dan Pipit berjalan ke Kopitiam untuk menemui keluarganya Mas Reno, Mba Ega dan Mba Nita. Kami ngobrol cukup lama. Banyak yang kami dapatkan di sini. Dan aku baru engeh, ternyata adiknya Mas Reno itu seumuran sama aku, hihihi. Pantaslah aku benar-benar dianggap adik bungsu oleh ketiga kakakku, Pipit, Mba Ega dan Mba Nita. Tapi sungguh, aku berharap jika mereka semua bisa menemukan pasangan yang beriman yang bisa membimbing mereka semua. Mba Ega yang sudah siap dan matang untuk menikah sepertinya memang cocok bersama Mas Reno. Mba Nita juga. Tapi Om Adhli kok sampai sekarang belum melamar ya? Huehehe.


Ngomongin soal pernikahan, aku setuju kalau mereka (Mba Nita dan Mba Ega) menikah lebih dulu dan mudah-mudahan bisa di tahun ini. Kalau aku sih, jangan dipikirin dulu. Aku masih kuliah dan masih perlu banyak yang kupelajari sebelum benar-benar menikah. Lagian, belum ada cowok yang mau melamarku. Wajar kalau aku santai banget menanggapi ini. Tapi untuk mereka, lulus kuliah sudah, kerja sudah, usia sudah matang, ilmu in syaa Allah juga sudah dipersiapkan, tinggal calonnya aja yang bergerak. Senang banget bisa merasakan keakraban seperti ini. Rasa malu dan nervous pun seolah-olah menghantuiku. Seperti sedang benar-benar bertemu dengan keluarganya calon imamku.


Minggu, 30 Maret 2014
Pagi yang cerah di hari minggu. Sampai di Istiqlal pun kami siap mendengarkan isi ceramah. Tapi ada satu yang lucu di hari itu. Pipit, dia cerita sama kami bahwa ada ikhwan yang terus-terusan nge-chat dia. Dan nggak cuma satu, tapi banyak. Ada yang di Path, Twitter, Facebook, dll. Laku keras doi.

Aku kenal dia udah lama banget. Dan cukup bisa menilai karakternya. Pipit bukan perempuan sembarangan yang bisa menerima cowok-cowok yang menyukainya. Kadang kita jadi tertawa gara-gara kelakuan si cowok yang ngotot bahwa dirinya telah bertemu si pujaan hati—Pipit dengan jilbab hitam, behel dan gamis hijau. Padahal sih, hari itu Pipit pakai jilbab putih dan TIDAK BERBEHEL. Subhanallah. Sebegitu semangatnya doi sampai-sampai salah orang. Tapi, ya. Mencari pasangan yang sesuai dengan kriteria yang kita inginkan memang tidak segampang itu. Ini menikah loh. Bukan untuk main-main. Walaupun banyak yang suka sama perempuan satu itu, ternyata toh buktinya sekarang doi masih santai-santai saja menanggapi pernikahan. Pipit sama kaya aku. Kalau doi fokus sama kerjaan, aku fokus sama kuliah.


Menurutku, kecantikan fisik hanya akan jadi bonus untuk perempuan yang hatinya bersih. Pasti dia akan berjodoh dengan pria yang juga hatinya tertuju pada ma’rifatullah. Boleh saja kita mengidam-idamkan seseorang untuk menjadi pendamping kita asal kita terus tekun berdoa. Dan berharapnya hanya kepada Allah saja. Jangan memohon atau berharap sama manusianya. Itu jelas-jelas musyrik. Allah pasti kabulkan dan Dia Maha Tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya. Kalau kita ingin imam yang hatinya cinta sama Allah dan Rasulullah, serta wajahnya itu bisa menyenangkan hati kita (read: tampan) silakan saja mulai dari sekarang untuk “mempercantik” diri dengan: misalnya, perbanyak ilmu tentang tauhid—agar timbul rasa cinta kepada Allah, perbanyak membaca Al-Qur’an (tahsin, tadabbur, menghafal), perbanyak amalan sunnah, dzikrullah—mengingat Allah, habis itu tawakkal dan serahkan semua keputusan hanya kepada Allah.

Sunday, March 30, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Furqan ayat 74
 29 Maret 2014

Oleh Ustadz Deka Kurniawan, Lc

Membangun Keluarga Qayyim

“Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.'”
(QS. Al-Furqan: 74)


Pendahuluan
Terkadang, kita mengidam-idamkan memiliki keluarga yang qayyim atau dirahmati oleh Allah seperti bebasnya dari segala kepelikan masalah rumah tangga. Namun jika melihat kenyataannya, sulit sekali untuk mendekati kata qayyim. Apa sebenarnya yang menjadi masalah utama dari persoalan ini? Mengapa begitu mudahnya para istri dan suami memilih untuk bercerai daripada mempertahankan mahligai rumah tangga yang mereka bangun sejak lama? Dan apa yang membuat anak-anak mereka sulit sekali diatur sehingga timbullah masalah-masalah sosial seperti tawuran, pelecehan seksual, pembunuhan dan penculikan?

Allah mendatangkan bencana atau musibah disebabkan atas dua hal, yaitu karena kesalahan diri sendiri atau yang kedua, karena musibah itu adalah cobaan kesabaran untuk menaikkan derajat seorang hamba. Kedua hal ini menjadi penting untuk memposisikan diri kita sebagai hamba Allah.

Sudah sejauh manakah kita berbuat kerusakan sehingga Allah mendatangkan mala petaka itu?

Sudah sejauh manakah kita bersabar?

Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Dan pada materi tadabbur kali ini kita akan membahas tentang bagaimana membangun konsep keluarga qayyim yang menjadi idaman atau cita-cita muslimin ketika akan berkeluarga.


Siapa Hamba Allah Itu?
Konteks besar bagaimana ayat ini diturunkan adalah bahwa Allah menjelaskan tentang ciri-ciri hamba Allah Yang Maha Pengasih:

“Adapun hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan, ‘Salaam’, dan orang-orang yang menghabiskan waktu malam untuk beribadah kepada Tuhan mereka dengan bersujud dan berdiri.”
(QS. Al-Furqan: 63-64)

Wa ibbadurrahman—adalah ungkapan yang spesial dari Allah kepada hamba-Nya. Allah menjelaskan dengan rinci bagaimana ciri-ciri hamba tersebut. Ialah mereka yang ketika disapa oleh orang-orang bodoh dengan ucapan yang menghinakan, ungkapan mereka adalah qaluu salaam—keselamatan. Dan pada saat malam datang, waktu mereka dihabiskan bukan untuk tidur tetapi beribadah kepada Allah dengan bersujud dan berdiri. Dan ciri-ciri berikutnya selain dari pada yang di atas adalah mereka yang berdoa denganRabbana hablanaa min azwaajinaa wa dzurriyaatinaa qurrata a’yuniiw waj’alnaa lil muttaqiina imamaa.

Dalam penjelasan tafsir beberapa ulama, ayat tersebut memiliki pengertian ayat yang menggambarkan obsesi atau harapan seseorang.


Visi Keluarga Muslim


Visi adalah cita-cita atau harapan. Setiap muslim di dunia ini yang beriman kepada Allah tentu mempunyai visi untuk mencapai sesuatu. Salah satunya adalah visi berkeluarga. Akhir-akhir ini, telah banyak diadakannya seminar-seminar pra-menikah dengan tujuan membangun keluarga yang bersahaja dengan modal iman dan taqwa kepada Allah. Jadi sebenarnya bukan harta, warisan, anak atau jabatan yang dapat menyetir kita menjadi keluarga bahagia. Tapi cukup dengan ilmu tauhid dan Al-Qur’an yang disematkan di dalamnya. Ini baru namanya keluarga qayyim. Dan tidak mudah untuk mencapai visi-visi ini jika kita sendiri masih lalai dalam beribadah atau salah satunya yang masih banyak terjadi di kalangan ibu dan bapak muda—masih mempertahankan bad habit yang menyesatkan kita.

Sebenarnya, Allah sendiri sudah menuntun kita dengan memberikan visi berkeluarga. Namun manakah yang akan kita pakai, hukum-hukum yang kita buat sendiri atau hukum Allah?


Visi #1
Qurrata a’yun atau menyejukkan mata.

Tetapi mata di sini bukanlah mata fisik yang dapat dilihat—lebih kepada mata hati. Jika seseorang sejak awal ingin menikah dengan visi qurrata a’yun, maka sebisa mungkin jauhkanlah diri kita dari hal-hal yang negatif. Misalnya, kebiasaan merokok.

Azwaj secara bahasa artinya banyak, sedangkan zauja adalah satu. Tetapi jika kita membaca terjemahan, maka kita akan melihat kata ‘pasangan’. Dan menurut para musafir, kata azwaj ini mengacu pada pasangan. Jika seorang istri berdoa maka itu artinya ia berdoa untuk suaminya. Begitupun juga sebaliknya.

Siapapun yang sudah berumah tangga ikutilah aturan Allah dengan sebenar-benarnya. Karena visi juga merupakan doa. Orang yang tidak punya visi adalah orang yang tersesat. Maka dari itu, penting bagi kita untuk memiliki atau mendambakan pasangan yang qurrata a’yun.


Visi #2


Waj al’naa lil muttaqiina imamaa.

Allah telah membuatkan visi yang besar dan yang jauh ke depan untuk hamba-hamba-Nya, yaitu menjadi pemimpin bagi orang-orang yang beriman.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mengaplikasikannya kepada keluarga kita?

Misalnya, ajaklah anak-anak kita untuk belajar menjadi pemimpin sejak dini. Jangan berikan barang atau sesuatu yang sebenarnya belum diperlukan oleh mereka. Ini berguna agar mereka terbiasa memprioritaskan hal yang lebih penting. Kalau anak-anak kita sudah terbiasa dengan gadget, teknologi yang canggih, dan pergaulan bebas maka cepat atau lambat mereka akan memiliki karakter yang lemah, tidak konsisten, tidak mempunyai prinsip dan ini yang disebut kebalikannya dari keluarga qayyim.

Berilah pengetahuan tentang Al-Qur’an kepada mereka. Karena sungguh, Al-Qur’an mengandung hikmah yang dapat—bukan hanya menyelamatkan, tetapi juga memberikan banyak rahmat bagi siapapun yang mempelajarinya. Mereka, para anak yang jauh dari Al-Qur’an tidak akan bisa merasakan hikmah. Tetapi jika orangtua sadar betapa pentingnya agama dalam pendidikan anak, maka sungguh, anak itu akan tumbuh dan berkembang dengan akhlak Al-Qur’an, in syaa Allah.

Pemimpin di sini adalah pemimpin yang bisa memberikan perubahan, langkah-langkah dan ucapan-ucapannya dituruti. Allah menegaskan kepada kita untuk tidak hanya menjadi orang-orang yang biasa saja. Berilah perubahan yang baik bagi generasi yang selanjutnya. Jadikanlah Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai hukum dasar bagi semua sistem—mulai dari pemerintahan, pendidikan, politik, ekonomi dan keluarga.

Allah menginginkan kita menjadi keluarga yang luar biasa. Qayyimqurrata a’yun dan muttaqiin adalah keluarga yang lulus.

Saat-saat yang paling indah adalah ketika diri kita dan keluarga kita—qayyim bisa dan mampu terbiasa mengenal Allah secara baik dan benar. Dan memahami ayat-ayat Allah hingga mencintainya. Ilmu yang paling mahal, tinggi, dan agung adalah ilmu mengenal Allah atau ma’rifatullah. Tanpa itu, tidak bergunalah kita sebagai hamba-Nya.

Ada beberapa kasus keluarga yang mulai mengkhawatirkan anak-anak yang tidak bisa menguasai ilmu duniawi. Sebut saja ilmu hitung-menghitung—Matematika. Biasanya, anak-anak itu akan disibukkan hari-harinya dengan les, les, dan les. Hingga ia lupa kepada Tuhannya. Rasa takut atau cemas lebih mudah muncul jika dinilai oleh orang lain. Tetapi jika Allah yang menilainya, maka mereka justru biasa-biasa saja. Ini bahaya. Para orangtua lebih bangga jika anak-anak mereka berprestasi di bidang akademik dibanding memperoleh penghargaan dari kemampuan membaca Al-Qur’an, misalnya. Bahkan beberapa ucapan anak-anak sekolah dasar mengaku: mata pelajaran yang paling membosankan adalah pelajaran agama.

Mengapa?

Karena ketika guru mereka memberikan tugas, ternyata tugas tersebut tidak dinilai. Prihatin. Padahal ilmu agama adalah ilmu yang paling utama atau vital dibandingkan ilmu-ilmu lainnya. Anak-anak ini jujur mengatakan bahwa mereka menyepelekan pelajaran tersebut. Bagaimana mungkin anak bangsa dapat memajukan negeri ini jika tidak ada nilai-nilai Al-Qur’an di dalamnya? Mau dengan dasar apa mereka memimpin?

Konsep liberalismekah?

Atau dengan mengembangkan ideologi kapitalisme?

Tidak ada satu pun ayat yang disebutkan dari ucapan mereka. Sungguh miris.

Sebenarnya boleh saja para orangtua memberikan kursus kepada anak-anak mereka seperti kursus menari, bahasa, matematika, menggambar atau ilmu-ilmu lainnya. Saya pun sejujurnya termasuk tipikal orang yang suka belajar, termasuk ilmu bahasa. Ketika diizinkan menikah dan mempunyai anak nanti, saya pun tidak akan segan-segan untuk mengajari mereka berbahasa yang baik dan benar. Bahasa lain yang bermanfaat jika dipelajari, seperti bahasa Arab, Inggris, dan Jepang. Tidak masalah untuk memberikan mereka pengetahuan baru selain agama. Tetapi bukan itu tujuan utamanya. Anak-anak harus dicelupkan oleh ilmu tauhid sejak dini. Karena mereka akan sangat mudah menyerap perkataan, gerak-gerik, tingkah laku dan perbuatan orangtuanya. Maka berikanlah lingkungan terbaik untuk anak-anak kita agar kelak kita mampu menjadi keluarga qayyim.

Qurrata a’yun adalah ketika diri kita bukan hanya bisa tetapi terbiasa menyembah Allah secara baik dan benar—taat dan khusyuk. Artinya bisa menikmati, mendalami, merasakan kehadiran Allah di setiap ibadah, banyak menemukan inspirasi dari ibadahnya, esensinya dipahami dan istiqomah. Anak-anak yang tidak masuk dalam keluarga qayyim selalu memberikan komentar yang sama ketika dinasihati yaitu overdosis advance. Mereka menganggap bahwa apa yang dikatakan orangtua adalah sesuatu yang membosankan. Terlalu banyak aturan yang membuat mereka tidak bisa bebas. Sedangkan anak muda biasanya senang mencari jati diri sendiri dengan mengikuti tren, gaya, fashion, pergaulan, makanan, dan teman-teman yang bisa membawanya hidup senang. Apakah anak-anak seperti ini lahir dari pola asuh yang salah? Tentunya ini yang menjadi masalah dan beban para orangtua yang dulunya tidak memahami betul ilmu tentang mengenal Allah—ma’rifatullah, sehingga ketika diberikan amanah, mereka lupa mengenalkan Allah kepada anak-anak mereka.


Visi #3
Mampu dan terbiasa hidup dengan akhlak yang mulia.

Menjadikan ibadah sebagai habit merupakan salah satu kunci membangun akhlak yang mulia. Termasuk juga ibadah-ibadah sunnah lainnya. Tutur kata, cara berpakaian dan sikap akan sangat menunjukkan siapa kita sebenarnya, dan bagaimana akhlak kita. Salah satu elemen penting dalam membangun visi berumah tangga yang qayyim adalah dengan mempertahankan keromantisan.

Keluarga islami yang benar-benar qurrata a’yun bukan berarti mereka yang melakukan ibadah secara terus-menerus, membaca Al-Qur’an tak mengenal waktu, bersedekah hingga uang saku habis. Bukan seperti itu. Tetapi keluarga qurrata a’yun adalah mereka yang menjalankan ibadah, syariat dengan sungguh-sungguh serta merasakan kehadiran Allah di sisi mereka. Jika saja mereka terbesit untuk melakukan perbuatan maksiat, maka buru-buru mereka bertaubat karena takut kepada Allah. Amal ibadah yang sempurna tidak dilihat dari sebanyak apa orang itu beribadah siang-malam, tetapi bagaimana mereka bisa mengaplikasikan ibadah seperti shalat itu menjadi suatu hal yang akan berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.

Ternyata, banyak survei yang mengatakan bahwa pasangan yang menikah melalui jalur pacaran hanya akan terlihat manis-manisnya saja di awal. Mereka biasanya lebih suka mengumbar kelebihan, kebaikan dan menyembunyikan kekurangan kepada pacar mereka. Setelah menikah, ada yang menyesal karena suami atau istrinya hobi sekali selingkuh. Padahal waktu pacaran tidak seperti itu. Ada juga yang suka sekali menggombali pacarnya tetapi setelah menikah malah bosan.

Namun ini tidak terjadi di dalam rumah tangga pasangan yang menikah karena Allah. Mereka takut berbuat maksiat dan sungguh ingin ibadahnya diterima. Pasangan-pasangan tersebut adalah mereka yang senantiasa berdoa, mengharapkan kekasih, keluarga, anak dan cucu-cucu yang qurrata a’yun. Kebosanan sebenarnya bisa diatasi dengan komunikasi yang baik antara anak dan orangtua. Sekalipun si bapak terkesan jayus, janganlah khawatir anak-anak akan lari ke kamar mereka masing-masing. Justru yang banyak saya temui adalah teman-teman yang mampu menghibur dengan ketidaklucuan mereka. Kehadiran orang-orang semacam ini akan membuat suasana lebih seru dan bermakna. Oleh karena itu, dekatilah keluarga kita, ajak bicara, ngobrol sambil minum teh, atau bahkan jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Bangun kebiasaan komunikasi antar kakak dan adik atau orangtua dan anak. Karena tanpa komunikasi, mereka akan menjadikan diri mereka seperti pada fenomena social-disconnected.


Visi #4
Bermimpi menjadikan dakwah sebagai cita-cita besar.

Siapa yang tidak tahu perjuangan Rasulullah dan para sahabat demi memperjuangkan Islam untuk umat? Kalau tidak ada mereka, jangan harap kita ada di sini. Dakwah sangat penting bagi setiap muslim—bahkan menjadi kewajiban. Bermimpilah menjadikan keluarga kita sebagai keluarga dakwah.

Walaupun dinamika di dalam rumah tangga itu pasti ada, percayalah bahwa hikmah dan berkah di balik itu semua juga datang menghampiri kita. Hendaklah kita mengajak keluarga, teman-teman, saudara dan kerabat untuk menjadi penolong agama Allah. Ada yang mengatakan, dakwah di keluarga itu sulit. Apalagi melihat bagaimana ideologi mereka terbangun. Ada yang menganut sistem jangan fanatik sama agama. Ini yang harus diluruskan. Ketika seseorang pergi berhijrah dari masa-masa jahiliyahnya demi mendapatkan penerangan cahaya Allah, dan kemudian kembali ke keluarganya, justru yang miris adalah ia diusir oleh keluarganya. Hanya karena satu alasan, kamu terlalu fanatik. Padahal yang diberitahukan olehnya bukanlah sesuatu yang negatif, tetapi melainkan syariat. Keluarga yang sudah terbiasa mengemban pendidikan dan sistem liberalisme, serta mengikuti agama budaya, mereka akan sangat sulit untuk berlepas diri dan turut pada syariat Islam sebenarnya. Ini yang menjadi peer bagi kita semua, orang-orang yang berhijrah dan sedang mendakwahkan agama Allah di lingkungan keluarga kita. 

Maka dari itu, wajib bagi kita kaum muslimin untuk mencari pasangan yang memiliki background aktivitas dakwah. Tidak harus yang ahli di mimbar, atau orasi, tapi dia benar-benar ingin memperjuangkan sesuatu. Ada yang ingin diwujudkan untuk umat ini.

Saya ingin bercerita sedikit tentang kisah memilukan yang mungkin terjadi juga di lingkungan kita. Ada seorang adik membuat kakaknya benar-benar bisa mengenal Allah. Jangankan untuk mau membaca Al-Qur’an, untuk shalat saja ternyata selalu menghindar. Ketika si kakak dan keluarganya berkunjung ke rumah si adik, ternyata ia hanya mengirimkan beberapa makanan sebagai persediaan si adik saja. Begitu adzan Ashar berkumandang, si kakak dan keluarganya buru-buru pamit dan pulang. Tahu mengapa? Si kakak rupanya takut disuruh shalat oleh adiknya sendiri. Pada saat ingin pulang, salam pun tak dijawab. Mirisnya. Seseorang yang diingatkan oleh keluarganya untuk mengingat Allah seharusnya perlu berbangga hati. Tetapi ini? Kejadiannya terbalik. Justru ingin segera pulang supaya tak disuruh-suruh beribadah. Betapa hidayah itu benar-benar datang atas kehendak Allah saja. Kita tidak bisa memaksakan. Tugas kita hanya mendakwahkan, memberitahu, menyampaikan walau hanya satu ayat tetapi ayat yang benar. Dan itulah cobaan bagi orang-orang yang berdakwah.


Visi #5
Mengakhiri hidup dengan khusnul khatimah.


Muslim mana yang tidak ingin mendapatkan balasan surga dari Allah? Muslim mana yang tidak ingin meninggal dalam keadaan khusnul khatimah?

Semua itu adalah impian atau cita-cita orang-orang mukmin ketika akan menghadap Tuhannya. Maka dari itu, cara terbaik untuk merasakan khusnul khatimah adalah dengan menjauhkan dari perbuatan maksiat. Semaksimal mungkin jangan sampai satu detik pun kita melakukan maksiat.


Visi #6
Mendapatkan kedamaian di alam barzah.

Orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan siksa yang luar biasa seperti salah satunya membusuk berabad-abad lamanya.

Bagaimana caranya agar kita selamat dari azab Allah?

Dan berapa lamakah mereka yang tersiksa di alam barzah?

“Allah bertanya: ‘Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?’ Mereka menjawab: ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’ Allah berfirman: ‘Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui’”
(QS. Al-Mu’minuun: 112-114)

Laa. Tidaklah seorang muslim pun yang takut kepada Allah, meyakini adanya hari akhir, dan sungguh-sungguh beriman akan mendapatkan musibah melainkan Allah cabut semua rasa sakit yang pernah ia rasakan, Allah berikan kelapangan dalam dadanya, Allah gugurkan semua dosa-dosanya sebagai bentuk rasa kasih sayang dan cinta Allah kepada orang-orang mukmin tersebut.


Visi #7
Kenikmatan yang luar biasa yaitu surga.

“Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.”
(QS. Al-Imran: 185)


Visi #8
Bagaimana kita bisa melihat wajah Allah.

Apa yang membuat kasus-kasus anak sekolah melakukan seks bebas, membuat video porno, pesta miras, tawuran dan pembunuhan itu terjadi? Jika saja anak-anak itu telah dibiasakan untuk membangun visi di dalam keluarga, maka semua itu tidak akan terjadi. Inilah yang harus menjadi cita-cita kita dalam berumah tangga. Percayalah, sesulit apa pun masalah yang akan dihadapi, jika kita memohon pertolongan kepada Allah, maka cepat atau lambat Allah akan mendatangkan 1000 bala bantuan kepada kita dan mencabut kesulitan tersebut. Hanya saja, sayangnya, mereka yang mengaku muslim namun tidak benar-benar beriman malah lari dari masalah dan memilih untuk bersenang-senang. Ini bukan penyelesaian tetapi justru akan menambah masalah baru.

Dan setelah kita melihat, menelaah, membaca ketujuh visi yang sudah saya paparkan di atas, in syaa Allah, misi kita selanjutnya adalah merasakan kenikmatan yang paling tinggi—yaitu melihat wajah Allah. Pernah mendengar atau membaca ayat yang berkenaan tentang Nabi Musa ingin melihat Allah ketika beliau sedang berada di Gunung Sinai? Kemudian Allah berfirman:

“Engkau sekali-kali tidak akan mampu untuk melihat-Ku, akan tetapi arahkanlah pandangan (engkau) ke gunung itu, maka jika ia tetap pada tempatnya niscaya engkau dapat melihat-Ku!” Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman.’”
(QS. Al-A’raf: 143)

Maka jadikanlah salah satu visi kita untuk melihat wajah Allah sebagai motivasi yang besar ketika kita mampu beribadah secara total di dunia ini. Jadikanlah dunia ini sebagai tempat untuk mengumpulkan dan mendapatkan rahmat Allah sebanyak-banyaknya. Janganlah menjadi orang yang menyerah karena mereka sesungguhnya adalah teman-teman orang kafir. Dan orang-orang yang merugi adalah orang-orang yang gagal dalam membina keluarganya menjadi keluarga qayyim. Dengan begitu, mereka tidak bisa menjadikan keluarga mereka sendiri sebagai investasi di akhirat kelak.


Keadaan Bangsa Yang Memprihatinkan
Ketika membicarakan keluarga, sebenarnya bukan semata-mata keluarga itu saja. Tapi kita membicarakan bangsa. Karena pilar bangsa ini adalah keluarga-keluarga. Orang itu lahir dari keluarga yang bermacam-macam. Kalau mereka memiliki visi yang benar, maka bangsa ini juga akan berubah menjadi lebih baik. Kita begitu khawatir, di zaman modern ini, teknologi dan informasi semakin menggoda. Dan itu bisa merambat kepada siapa saja. Anak-anak yang baik pun bisa terpengaruh.

Kita harus memiliki komitmen yang sangat kuat sebagai visi keluarga mukmin. Ini berguna supaya kita tidak mudah terpengaruh dari orang-orang yang membenci agama—mereka yang menjauhkan umat muslim itu sendiri dari Al-Qur’an.

Misalnya, grup band.


Anak muda mana yang sekarang tidak suka dengan musik? Hampir seluruhnya mereka mendengarkan musik atau bahkan mengagung-agungkan  musik. They said they can’t live without music. Padahal musik tidak membawa pahala atau amal shaleh ketika dikerjakan. Justru kebalikannya. Tetapi banyak yang belum menyadari akan hal ini. Saya menyebutnya sebagai suntikan. Pelan-pelan para grup musik dan penyanyi-penyanyi tersebut membius kaum muda untuk larut dalam lagu-lagu yang mereka bawakan. Belum lagi lirik yang terkesan tidak mendidik, konsep video clip yang syur, alat musik yang mampu membuat tubuh berlenggak-lenggok, dan pesona penyanyi itu sendiri yang menjadikan mereka tuhan atau idola.


Kondisi zaman sekarang begitu bobrok. Pendidikan juga belum berorientasi kepada fitrah dan syariah. Tetapi lebih berbondong-bondong kepada prestasi duniawi. Padahal prestasi yang paling baik adalah aqidah dan akhlak.

Kuliah, sekolah, kursus atau apa pun itu sebenarnya sah-sah dan dibolehkan saja asal kita tidak keluar jalur syariah. Tapi pemikiran bangsa ini adalah pertanyaan para orangtua yang anaknya baru lulus kuliah dan akan kerja apa? Takut kalau anaknya tidak bisa bekerja padahal sudah keluar uang ratusan juta untuk kuliah. Bukan itu yang menjadi poin penting dari kuliah itu sendiri.

Kini, orang sudah ramai menjadikan hawa nafsu dan materi sebagai tuhan. Seolah-olah, jika tidak kerja di kantoran akan mati—tidak punya penghasilan. Lagi-lagi, semua dikaitkan kepada uang, materi, dan benda-benda mahal. Kalau mereka ingat dan tahu kapan mereka mati, mungkin mereka tidak akan lagi mempedulikan harta benda yang ada di dunia. Takut. Rasa takut untuk masuk ke liang kubur itu pasti ada. Orang meninggal mana yang ketika akan dikuburkan mereka masih mampu membawa perhiasan, baju mahal, tas bermerk dan materi lainnya yang dapat dinikmati ketika tidur beralaskan tanah, ditemani oleh cacing-cacing, dan semut yang akan menggerogoti habis tubuh mereka? Pikirkanlah, renungkanlah. Harta tak akan dibawa sampai mati.

Sebenarnya, orientasi pendidikan dalam Islam adalah bagaimana pendidikan itu bisa membuat orang takut kepada Allah. Karena orang-orang yang berilmu itu ciri-cirinya adalah takut kepada Allah. Kurikulumnya mampu mengantarkan kita untuk takut hanya kepada Allah, bukan manusia. Banyak dari sekian sekolah, perguruan tinggi, tempat kursus, dan perkantoran yang manusianya mulai berani meninggalkan shalat, berbuat maksiat, melanggar perintah Allah, dan melakukan kenakalan-kenakalan yang kecil tetapi berdampak besar.

Kalau kita tidak mulai dari sekarang, itu akan sungguh membahayakan bagi keluarga kita kelak.


Ciptakan Keluarga Qur’ani
Ternyata, keluarga yang bertolak belakang dengan keluarga qayyim adalah keluarga yang tidak bisa menjadi tempat yang kondusif bagi tumbuhnya fitrah anak dan generasi muda. Mengapa? Karena keluarga sekarang mendominasikan dengan menghasilkan generasi yang tertutup, gelap, atau generasi yang sengsara. Di rumah mereka tidak lagi merasakan kedamaian dan mulailah bosan.

Tidak ada komunikasi yang rutin dengan orangtua maupun saudara menjadi salah satu penunjang kegagalan dalam keluarga itu sendiri. Jika anak bosan, anak akan berupaya mencari jalan terbaik untuk mengatasi kebosanannya. Sayangnya, 7 dari 10 anak yang bosan melampiaskannya dengan mencari ‘permainan’ baru. Tidak heran jika kita melihat banyak anak-anak sekolah yang melakukan seks bebas dengan teman mereka sendiri karena berawal dari orangtua yang lalai.

Lalu bagaimana caranya membuat anak agar tidak bosan?

Jadilah orangtua yang menyenangkan. Atau kalau perlu, cabutlah televisi yang kalian miliki saat ini. Biasakan mereka untuk berkomunikasi dengan Al-Qur’an. Sehingga unsur-unsur pornografi dan kekerasan tidak terjadi pada anak-anak yang masih belum memiliki tanggung jawab penuh pada dirinya sendiri.

Jika seorang ibu sedang sibuk-sibuknya bekerja hingga lupa pada anaknya saya bisa katakan itu adalah kesalahan fatal. Bekerja dan memiliki uang yang banyak tidak akan dapat menggantikan harta yang paling berharga—anak. Dari sikap orangtua yang demikian sebenarnya sangat bisa berpengaruh pada psikis anak yang butuh perhatian. Sehingga mereka cenderung untuk berbuat sesuka hati tanpa meragukan ini boleh atau tidak boleh. Orangtua yang mendidik anak dengan cara seperti ini bukanlah orangtua yang mengajarkan pendidikan Al-Qur’an pada anaknya.

Ketakutan anak-anak remaja bukan lagi kepada Tuhannya, melainkan takut karena belum punya pacar sedangkan teman-temannya sudah. Keadaan miris seperti ini seringkali membuat hati saya menjerit karena tidak tega. Setiap anak yang dilahirkan pasti dalam keadaan suci. Namun, apakah mereka akan berkembang menjadi manusia yang takut kepada Rabb-nya atau justru takut pada sesama manusia?


Keluarga Qayyim, Mulai Dari Mana?
Manusia dikendalikan oleh pikiran. Yang menjadi pengendali terbesar adalah alam bawah sadar kita. Ini yang menjadi pendorong perilaku dan hasrat.

Pikiran itu dikendalikan dari input. Ketika input masuk,  maka dia akan mentransfer pikiran alam bawah sadar yang akan menjadi program. Ketika mendapatkan informasi mulai dari tontonan, bacaan dan makanan, mereka akan dengan mudahnya merekam semua itu dan menjadikannya suatu pola agar terbiasa oleh hal tersebut. Tetapi berbeda jika kita mampu mengendalikan semua itu dengan bimbingan ilmu. Tentu, jika kita atau anak-anak kita jauh dari rasa ma’rifatullah, akan sangat mudah menyuntik hal-hal negatif yang akan membawa mereka tersesat.

Allah sebenarnya telah memberikan tuntunan kepada kita bagaimana memulai keluarga qayyim.

Ternyata kata kuncinya adalah shibgah.

Apa itu shibgah?

Shibgah adalah apa yang mempengaruhi pikiran, mewarnai pikiran, bagaimana tindakan kita ini akan dipengaruhi oleh pikiran kita. Shibgah itu semacam celupan. Dalam konteks pembahasan kita, pikiran kita ini dicelupkan ke mana?

Ke musik?

Film?

Atau ke Al-Qur’an?

Apa yang masuk dalam pikiran kita dan apa yang menjadi nilai diri seseorang itu shibgah.

Kasus-kasus kenakalan remaja yang sudah dijelaskan di atas merupakan shibgah jahiliyah. Dari apa yang dilihat, dibicarakan, ditonton dan didengarkan, mereka berusaha agar ikut serta menjadi salah satu contoh dari yang mereka lihat atau mereka bicarakan.


Ingat tentang kisah Nabi Adam digoda oleh setan? Apa yang membuat Nabi Adam tergoda?

Jawabannya adalah karena setan mampu bersabar dan giat untuk terus membisiki beliau sehingga diturunkanlah Nabi Adam dari surga ke bumi. Kalau setan saja giat menggoda, tidakkah kita ingin untuk lebih menguatkan diri agar tidak tergoda?

Inginkah kita giatkan diri untuk beribadah kepada Allah semata?





Wallahu’alam bisshawab.

Friday, March 28, 2014

Proyek Menulis, "Letters of Happiness"

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali and get discovered! 

               
Lukisan Terakhir Peri Pasir

ditulis oleh Lidya Oktariani

Namaku Juna. Lengkapnya I Ketut Hafidzhul Rifajunnaid. Usiaku kini sudah genap 30 tahun. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dan almarhumah istriku tercinta yang ke-8. Istriku adalah seorang pelukis pasir yang terkenal di seantero Bali. Kami menikah di usia 22 tahun dan saat itu istriku baru saja lulus kuliah S1 di Institut Seni Indonesia, Denpasar, jurusan DKV. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku telah diizinkan oleh Sang Maha Cinta untuk menikahi wanita itu. Dialah Ni Made Humaira Az-Zahra—aku memanggilnya “Peri” karena bola matanya begitu cantik bak permaisuri.

Kami berkenalan pertama kali di SD 5 Benoa, di kelas 3B. Peri selalu tersenyum kepadaku dan selalu bersemangat ketika kami diberikan tugas kesenian. Kemahirannya dalam melukis sudah kelihatan sejak dulu. Tetapi hanya satu yang membuatku terkadang sedih ketika bersamanya. Peri sering tidak masuk sekolah karena sakit—mulai dari batuk, sinus, muntah-muntah hingga demam tinggi. Karena kekuatan tubuhnya yang tidak seperti anak biasanya, aku berniat ingin menjadi dokter ketika dewasa nanti.
              
Ibunda Peri selalu mengizinkan aku untuk berkunjung ke rumahnya. Katanya, kalau aku main bersama Peri, dia selalu bisa tersenyum dan menghentikan tangisannya. Setelah lulus dari SMA, aku pun mengambil kuliah jurusan Kedokteran di Universitas Udayana dan Peri lulus terlebih dahulu karena kepintarannya.
                
Di usianya yang ke-10 tahun, ia sudah berhasil melahap puluhan piala penghargaan atas karya lukisan pasirnya. Bahkan, kalau kita sempatkan untuk jalan-jalan ke beberapa restoran dan tempat wisata di Nusa Dua—kota kelahiran kami, lukisan pasir Peri dipajang di mana-mana. Namun, Peri sempat mengalami berbagai masalah psikis dan penurunan fungsi metabolisme tubuh yang membuatnya tidak bisa berjalan seperti remaja biasanya. Aku tidak tahu penyakit apa yang sedang diderita Peri sampai membuatnya lemah seperti itu.
                
Di hari ulang tahun Peri yang ke-14, aku menghadiahinya mahkota dari pasir yang dikeraskan. Peri mengambil beberapa daun yang berjatuhan di dekat pohon untuk ditempelkan di mahkota tersebut, lalu memakainya. Cantik sekali, ucapku dalam hati. Peri lalu berkata,
               
“Juna, aku harus ke rumah sakit sekarang. Kakiku lemas sekali.”  
“Kalau begitu, aku akan menemanimu ke sana ya.”
                
Peri rajin sekali ke rumah sakit untuk check up kesehatannya. Tapi entah mengapa, aku melihatnya seperti tidak sakit. Ia tidak pernah menunjukkan bahwa dirinya sedang mengidap suatu penyakit apapun. Keterbatasannya membuat ia jarang sekali bermain dan berkumpul bersama teman-teman sekolahnya. Namun aku selalu berusaha menemaninya belajar dan juga menghabiskan waktu untuk pergi ke pantai bersama agar ia tidak bosan. Peri tidak bisa berlari karena otot kakinya yang suka nyeri. Karena tubuhku jauh lebih besar darinya, biasanya aku meminta Peri untuk naik ke atas punggungku dan aku membawanya berlari mengelilingi pantai. Kemudian setelah lelah, kami beristirahat sejenak dan Peri membuatkanku lukisan pasir yang diberi lem perekat bergambarkan dua sejoli muda yang saling menggenggam tangan sebagai ucapan terima kasih.
                
Di usia yang  ke-17, Peri divonis oleh dokter hanya akan bertahan beberapa tahun saja karena penyakitnya yang tidak bisa disembuhkan. Namun ia tidak mempedulikan. Peri terus menjalani kehidupannya seperti biasa dengan semangat yang tinggi. Aku benar-benar ingin cepat lulus sekolah dan kuliah supaya aku bisa mengetahui penyakit apa sebenarnya yang sedang diderita Peri.
                
Beberapa tahun setelahnya, aku sering melihat Peri jatuh di tangga sekolah dan tidak ada yang menolongnya. Wajahnya pucat pasi dan bibirnya kering. Aku menggenggam tangannya dengan erat serta membawanya ke Ruang UKS. Seperti biasa, Peri selalu menitikkan air mata ketika aku membawakannya obat yang biasa ia minum sehari sekali. Sebentar lagi kami akan lulus SMA. Dan rasa-rasanya waktu berlalu begitu cepat sehingga kami seperti mengalami 3 hari saja di sini.
                
Sehari sebelum ujian masuk universitas dilaksanakan, aku menemani Peri di rumah sakit. Dokter Alvonso memberitahuku untuk terus mendampinginya. Ibunda Peri juga tidak bisa setiap hari memperhatikan kondisi kesehatan Peri karena sibuk mengurusi baju-baju buatannya yang dijual di pasar. Kalau ibunda Peri tidak bisa memperoleh penghasilan dari hasil dagangannya, mungkin Peri tidak akan sanggup keluar-masuk rumah sakit karena tidak bisa membayar administrasi. Ayahanda Peri sudah meninggal ketika usianya beranjak 1 tahun. Dan wajarlah, aku merasa sangat iba pada keadaan ekonomi keluarga Peri. Belum lagi adik-adiknya yang masih sekolah dan harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak untuk kebutuhan sehari-hari.
                
Walaupun sakit, Peri selalu berusaha memberikan yang terbaik. Begitu juga yang terlihat ketika Peri akhirnya lulus menjadi mahasiswi jurusan DKV selama 3 tahun 6 bulan. Peri bukan wanita biasa. Dia memiliki kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh wanita manapun. Kecerdasannya membawanya sukses untuk meraih banyak penghargaan. Meskipun begitu masuk semester 3, Peri tidak bisa lagi berjalan dengan kedua kakinya. Peri harus dibantu dengan kursi roda agar bisa tetap beraktivitas seperti biasa.
                
Biasanya, Peri suka sekali memintaku untuk membacakan ayat suci ketika ingin beristirahat malam. Aku membantunya membaringkan tubuhnya di ranjang rumah sakit. Aku memulainya dengan ta’awudz kemudian basmallah. Peri selalu tersenyum ketika melihatku sudah rapi dengan pakaian koko, peci, dan Al-Qur’an di meja kecil yang ada di hadapannya. Keindahan langit di Bali hari itu benar-benar tidak dapat kami lupakan. Betapa banyak yang Dia berikan kepada kami atas nikmat dan karunia ini. Aku menangis kecil melihat Peri sudah tertidur lelap. Aku hanya takut tak bisa melihatnya bangun esok hari. Aku menyadari, apa yang dikatakan Dokter Alvonso adalah benar. Peri memang tidak bisa bertahan lama. Penyakit itu sudah menjangkit di tubuh Peri sejak usianya 14 tahun. Dan kini ia sudah berhasil berjuang melawan rasa sakitnya selama 8 tahun.
                
Sore itu aku mendatangi seorang dokter spesialis penyakit saraf di perpustakaan. Aku pun berkonsultasi dengannya. Beliau memberikanku buku tentang Spinocerebellar Ataxia. Di sana tertulis bahwa SCA tidak dapat disembuhkan. Namun hal terbaik yang dapat dilakukan keluarga dan kerabat penderita adalah dengan terus memberinya semangat untuk hidup. Dengan begitu, ia akan tersugesti secara tidak langsung untuk tidak begitu merasakan sakit. Sejak saat itu, aku fokus mendalami ilmu spesialis saraf otak dan otot manusia. Biarpun dokter senior mengatakan tidak ada obat untuk penyakit tersebut, setidaknya aku bisa mencari tahu lebih luas apa yang menjadi penyebabnya dan bagaimana cara mencegahnya. Aku ingin Peri sembuh. Agar aku bisa benar-benar menikahinya dan hidup bersamanya.
               
“Kau tetap bisa menikahiku, Juna.” ujar Peri tiba-tiba mengagetkan. Peri datang menemuiku dengan kursi rodanya.
Bli, apa kau malu mempunyai istri yang cacat?”
Aku tersenyum mendekatinya.
“Apa kau bersedia menerimaku?” balasku cepat.

Kami menikah di hari Jum’at sesaat setelah aku melaksanakan shalat Jum’at bersama di Masjid Agung Ibnu Batutah. Keluarga Peri dan keluargaku berkumpul bersama di rumah sakit. Aku tidak masalah jika harus melakukan ijab kabul di ruangan sederhana itu. Kami pun tidak menggelar pesta yang megah atau mengundang banyak tamu. Setelah menikah, aku mengajak Peri untuk membacakan Surah Al-Kahf sebagai bentuk rasa syukur kami yang tiada tara kepada Dia. Istriku sangat cantik dengan balutan kebaya Bali yang dimodifikasikan menjadi pakaian muslimah syar’i dan jilbab yang panjang. Sejak kecil, Peri tidak pernah membuka kerudungnya. Barulah malam itu ia membukanya untukku. Inilah yang membuatnya begitu istimewa di mataku. Peri adalah seorang gadis muslimah yang begitu menjaga dirinya. Jika melihat ibunda Peri, Ibu Mahfudzah—seperti melihat Peri dewasa. Selama tinggal di Bali, belum pernah sekali pun aku bertemu dengan keluarga muslim yang benar-benar menjaga syari’at. Ketiga adik perempuannya pun ikut menyalamiku sambil mengenakan busana berwarna putih yang cantik dengan jilbabnya. Nuranisa, adik kedua Peri, mendekatiku dan berkata, “Tolong jaga mbok Ira, ya, bli.

Peri tersenyum melihat kedekatanku dengan ketiga adiknya itu. Fathirah, Nuranisa dan Arafah yang sangat lincah dan periang. Fathirah berusia 17 tahun, Nuranisa 13 tahun dan Arafah yang masih sangat kecil, 8 tahun. Mereka semua adalah calon bidadari-bidadari surga. Aku tidak pernah merasa sebahagia hari itu ketika Sang Maha Cinta telah mengizinkanku untuk menyatukan hati yang saling mencintai. Sungguh, Dia telah titipkan muslimah yang sangat terjaga, Humaira. Dan keempat wanita yang juga amat kucintai. Ibunda Humaira dan ketiga adik kecil istriku.

2 tahun usia pernikahan kami, Peri mengejutkanku dengan tidak bisanya ia bangkit dari tempat tidur sesaat sebelum kami ingin melaksanakan shalat Subuh bersama. Aku berusaha mendengarkan suara Peri yang saat itu memintaku untuk membantunya duduk. Baru kali ini aku melihat wajah Peri takut sekali dan tidak biasanya ia merenung sambil menangis. Peri yang tadinya tidak pernah takut pada penyakitnya kini menjadi sangat berbeda. Sebenarnya ia sangat ingin menjadi seorang ibu, tapi aku tidak mengizinkannya. Dalam keadaan seperti itu, mana mungkin ada seorang suami yang sanggup melihat istrinya hamil dan melahirkan bayi dengan penyakit SCA yang mulai menggerogoti tubuhnya. Peri menjadi sangat cengeng dan semakin manja setelah 2 tahun aku menolaknya untuk memberikan nafkah batin. Aku tahu betul bahwa ini akan sangat membahayakan dirinya dan juga calon bayi kami.

“Ju..na...” rintih Peri.
“Ada apa sayang? Mana yang sakit?” jawabku ketakutan.

Peri menangis dipelukanku. Ia menggenggam erat tanganku dan tidak dilepaskan sedikit pun. Bajuku basah oleh air matanya. Aku juga ikut menangis dan membasahi rambutnya yang panjang dan hitam. Belum pernah aku melihatnya begitu takut seperti ini. Ada rasa perih seperti ditusuk duri yang panjangnya melebihi 30 tusuk gigi. Aku turut merasakan apa yang istriku rasakan.
                
Peri menyeka air matanya perlahan. Lalu ia mencoba berbicara dengan fasih, tapi tidak bisa. Sejak sebulan yang lalu, Peri sudah jarang berbicara. Aku pun tahu persis perkembangan kesehatan istriku itu yang semakin lama akan semakin memprihatinkan. Pada awalnya, Peri tidak bisa berjalan seperti layaknya orang biasa. Ia sering sekali mengeluh otot kakinya melemas dan kadang merasa seperti tidak punya kaki. Namun ia masih mampu untuk berbicara, teriak, tertawa dan menangis. Setelah memasuki usia ke-24 tahun, barulah Peri mulai menunjukkan rasa sakitnya lewat tangisannya yang tidak lagi bersuara. Kalau dipaksakan untuk berbicara, Peri suka memegang tenggorokannya yang perih. Telapak tangan Peri sering sekali kaku. Oleh karena itu, setiap hari aku selalu berusaha menyempatkan waktu untuk membantunya melemaskan otot-otot tangan dan kaki. Ini berguna untuk tetap bisa menggerakkan anggota tubuh walaupun tidak sebaik dulu.
                
Aku menempatkan istriku di rumah sakit tempatku bekerja. Peri tidak perlu lagi memikirkan biaya rumah sakit yang mahal. Aku yang menanggungnya. Di tahun berikutnya, ketika usia Peri sudah menginjak 25 tahun, kondisinya semakin kritis. Ibunda Peri juga sempat membuatkan papan alfabet dari A sampai Z sebagai media komunikasi kami. Meskipun sudah tidak bisa mendengarnya bicara, aku tetap ingin membacakannya ayat suci agar sampai ke dalam hatinya. Aku tahu Peri mendengarkannya dengan baik.
                
Hari itu, sudah saatnya makan siang. Aku menyuapi istriku perlahan. Ia tersenyum. Lalu ia menunjuk ke arah papan alfabet. Ia menunjuk ke kotak A, K, U, I, N, G, I, N, M, A, T, I. Aku tak kuasa melihat wajah istriku yang sangat pucat dan lemas tak berdaya. Kupeluk tubuhnya yang mengurus sambil terus menciumi kepalanya.
                
“Jangan menyerah. Aku berusaha untuk tidak meninggalkanmu. Oke, mulai besok, aku tidak periksa pasien lagi ya. Aku mau menghabiskan 24 jam bersamamu di sini, oke?” jawabku sambil mengelus-elus rambutnya.
Peri menunjuk lagi, I, Y, A.
“Ohya, sayang, aku ada hadiah untukmu.”
               
Aku mengeluarkan mahkota pasir kecil milik Peri yang pernah menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke-14. Aku memakaikannya dan Peri menangis terisak sampai agak tersedak.
                
“Kamu tidak boleh menangisi penyakit yang Allah berikan kepadamu. Ingat, bahwa tidak ada cobaan yang melebihi batas kemampuan seorang hamba. Allah memberikanmu penyakit ini karena kau mampu bersabar dan melaluinya. Bersyukurlah karena Dia telah memberikanmu kehidupan yang luar biasa dan mempertemukannya denganku.”
                
Aku menggenggam tangan Peri erat sekali sambil terus menatap bola matanya yang cantik. Ia mendengarkan ucapanku barusan. Peri hanya tersenyum sambil terus melihatku. Air mataku jatuh di telapak tangannya. Kami saling menatap sangat dalam. Aku pun turut merasakan kepedihan yang begitu mencekam. Aku tahu, Peri sudah sangat menderita dengan penyakitnya. Setiap hari, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur dan tidak bisa melakukan aktivitas apapun kecuali tidur. Mandi pun harus dimandikan. Ketika ingin pipis atau buang air kecil, aku yang membantunya. Usianya masih muda. Tetapi karena penyakitnya itu membuat ia terlihat tua, kurus, dan tidak bersemangat. Ketika ingin berkomunikasi dengan papan alfabet pun, tangan Peri sudah tidak selentur dulu. Kini ia semakin lamban dan kaku. Saraf dan otot-otot tubuhnya semakin membuatnya tidak bisa bergerak. Bahkan Peri sudah tidak mau menerima makanan jika suapanku sudah lebih dari 10 sendok. Ia selalu menggelengkan kepalanya pertanda kenyang.
                
2 bulan terakhir ini, aku sudah tidak menerima pasien lagi. Izin pun sudah kudapatkan dari pihak rumah sakit. Aku fokus untuk menjaga istriku. 2 kali seminggu, ibunda Peri datang menjenguk bersama ketiga adiknya. Fathirah yang sudah berusia 20 tahun itu bercerita kepada kakaknya bahwa ia baru saja mendapatkan penghargaan sebagai penulis muda terbaik dan bekerja menjadi jurnalis di stasiun TV. Nuranisa yang sudah beranjak remaja berhasil menghafalkan 30 juz dan akan melanjutkan sekolah di Al-Azhar, Kairo. Arafah yang sedang fokus belajar di sekolah akhirnya bercerita kalau ia ingin sekali menjadi dokter seperti aku agar bisa menyembuhkan banyak orang. Peri mendengarkan semua cerita adik-adiknya itu satu per satu. Wajahnya kini berseri-seri dan tersenyum lebar. Arafah memakai jas putih milikku supaya seolah-olah sudah siap menjadi dokter. Aku tersenyum sesaat melihat kebahagiaan kecil ini. Hidupku benar-benar bermakna dan aku tidak pernah sekalipun merasa kurang. Ibu mertuaku duduk di sampingku sambil memegang pundakku dan berkata,
                
“Tidak pernah Ibu merasa sebahagia ini melihat mereka dan juga kamu dalam keadaan seperti ini, menantuku. Kau tahu, gus? Walaupun Ibu sakit melihat kenyataan yang diberikan keluarga kita, tapi Ibu selalu berusaha bersyukur sebagaimana kau mengajarkan itu kepada anakku...”
                
Aku diam mendengarkan dan Ibu melanjutkan.
                
“Humaira adalah anak yang periang. Dia tidak pernah menyerah pada keadaan yang pelik sekali pun. Dan pertemuanmu dengannya mengubah cara pandangnya. Ibu sering sekali melihatnya tertawa dan... Ibu sungguh bahagia, gus.”
                
Air mata Ibu Mahfudzah mengalir deras dan aku tak sanggup melihatnya. Ibu mengakui bahwa ia tidak sedang bersedih meratapi nasib. Tetapi rasa syukurlah yang beliau rasakan, sangat dalam.
                
Aku mendekati istriku yang saat itu sedang asyik mendengarkan cerita adik-adiknya. Mereka memberikan cerita jenaka agar kakaknya tersenyum. Arafah yang suka bernyanyi pun menyumbangkan suara emasnya untuk kakak tercinta.
                
Tersenyumlah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang Kuasa. Cinta kita di dunia... Oh...
“Bukan tersenyumlah, luh. Tapi... menarilah dan terus tertawa, walau dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang Kuasa. Cinta kita di dunia... dan di akhirat.” balas Fathirah, cepat.
“Wah! Itu baru keren mbok lirik lagu yang terakhirnya, hehehe.” adik kedua Peri tidak mau kalah—Nuranisa, ia ikut berkomentar.
“Iya dong, luh! Soalnya kita kan bisa ketemu di akhirat juga tidak hanya di dunia. Makanya, berdoalah ke Allah supaya kita termasuk dari orang-orang yang beriman.”
                
Peri mendengarkan sambil terus tersenyum. Angin semilir mulai memasuki rongga-rongga hidungku dan kurasakan getaran cinta Sang Khalik kepada kami. Aku menciumi kening istriku yang masih terbaring lemas di ranjangnya. Adik-adiknya pun ikut menciumi pipi dan tangan kakaknya. Ibu masih terus memandang kami dengan tatapan hangatnya. Kebahagiaan seperti ini takkan pernah tergantikan.
                
Malam itu hujan turun sangat deras. Petir juga terus menyambar hingga kaca-kaca di rumah sakit seperti akan retak karena sambaran kilat tersebut. Aku mulai merasakan bahwa rumah sakit ini sudah menjadi rumah utama kami. Pemandangan langit malam pun ditemani oleh guntur dan angin yang berhembus dingin memasuki lorong-lorong. Kakiku tiba-tiba gemetar. Aku baru saja menyelesaikan Surah Al-Mu’minun, surah ke-23. Seperti biasa, aku membacakannya di samping istriku yang sedang tertidur lelap. Suara napasnya terdengar jelas seperti orang yang sedang mengigau.
                
Aku kembali mengenang masa-masa ketika istriku masih bisa berjalan, memakai seragam sekolah, belajar melukis bersamanya, dan memakaikannya mahkota pasir buatanku. Kehidupan remaja istriku itu benar-benar berbeda dari gadis seusianya. Peri tidak suka jalan-jalan ke mal, menghabiskan waktu bercanda dengan teman, menonton bioskop, apalagi membeli kue pelangi atau makan di restoran mahal. Peri lebih suka main di pantai, melukis, belajar di perpustakaan dan memasak di rumah. Ngomong-ngomong, Peri sering sekali bilang kepadaku bahwa dia tidak ingin pindah dari Nusa Dua, ia sangat suka pantainya dan bersyukur ditempatkan di kota yang begitu banyak membuatnya terinspirasi.
                
Aku melihat wajah istriku yang terlihat sangat kelelahan. Tak pernah kusangka bahwa aku pernah diberikan kesempatan untuk merawat, menyayangi, mencintai seseorang yang telah membawa diriku untuk lebih mengenal siapa Rabb-ku. Ya, Humaira adalah satu-satunya gadis yang paling menyita perhatianku ketika pertama kali bertemu dan mengenalnya. Bagaimana tidak, Humaira kecil selalu mengenakan kerudung putihnya dan balutan kemeja panjang sementara teman-teman sekelasnya tidak. Kupikir akan sulit sekali menemukan teman sesama muslim di Bali. Tetapi hanya dengan melihatnya saja, membuatku bersemangat.
                
Aku adalah pria yang amat beruntung bisa merasakan kehangatan kasih sayang Humaira, yang banyak disukai orang-orang. Humaira yang mengajarkanku untuk bersabar dalam menghadapi kegusaran hati. Ia yang memintaku untuk kembali melukis di kertas kosong agar aku bisa mendapatkan  nilai yang baik di pelajaran Kesenian—walaupun aku tak bisa melukis. Dia juga yang selalu mengatakan bahwa Allah suka kalau kita tersenyum. Maka, aku tersenyum untuknya sampai di detik-detik terakhir hidupnya. Humaira akan selalu menjadi wanita pujaanku, yang kucintai atas cintanya kepada Rabb-nya, dan yang sungguh mampu meyakinkanku bahwa aku bisa menjadi seorang dokter.
                
Melihatnya tergeletak tak berdaya seperti itu seakan seperti mengiris-iris kalbuku dan menyobekkannya hingga ke tulang sum-sum. Aku tahu istriku sudah tak kuat lagi. Seluruh tubuhnya sudah semakin sulit digerakkan. Kursi rodanya sudah tak lagi dipakai. Papan alfabetnya pun sudah tak pernah disentuh. Aku mendekatinya dan merasakan feromonnya yang begitu khas.
                
“Istriku sayang... apakah kau mendengarkanku?” lirihku kecil.

Humaira tidak bergerak. Wajahnya yang putih menjadi semakin pucat karena terlalu banyak mengkonsumsi obat penetral rasa nyeri. Aku membacakan Surah Al-Kahf seperti ketika kami menikah dulu. Sudut bibirku bergetar lembut merasakan detak jantungnya yang semakin melemah. Sebaris garis panjang muncul di monitor EKG penunjuk detak jantung Humaira seiring dengan lantunan ayat suci yang kubacakan untuknya. Ia nampak begitu tenang meninggalkan dunia ini. Tangisan air mataku pun pecah ketika melihatnya meneteskan air mata untuk terakhir kalinya. Dan aku masih ingat betul lukisan terakhir yang ia berikan kepadaku.
                
“Juna, terima kasih atas semua kebaikan dan perhatianmu kepadaku. Aku tidak tahu sampai kapan aku akan hidup. Aku hanya takut, kaki dan tanganku tak kuat lagi untuk melukis. Maka dari itu, aku membuatkan lukisan ini untukmu. Ini sudah kurekatkan dengan lem supaya pasirnya tidak jatuh ke mana-mana. Semoga kau suka, ya, Juna.”                

Tulisan tangan Humaira yang hampir sulit dibaca itu membuatku menundukkan kepala dan kembali menangis. Istriku tidak pernah pergi jauh dariku. Dia kekal di dalam hati seseorang yang amat mencintainya. Angin sepoi-sepoi di pantai Kuta menyadarkanku bahwa hari sudah petang. Aku masih menyisakan senyumanku untuk Peri Cintaku, Humaira.

Istriku terkasih, kau tahu apa kebahagiaan terbesar dalam hidupku?
Aku bahagia karena Rabb-ku telah mengizinkan kita untuk bersama di dunia dan menggenggam erat tanganmu seperti lukisan yang kau buatkan untukku.  
Sayang, selamat hari pernikahan ke-8 kita. Aku tidak akan lupa untuk mendoakanmu. Tersenyumlah sayang. Sang Maha Cinta tidak pernah meninggalkan kita.