Visitor

Sunday, February 9, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Humazah ayat 1-9

11 Januari 2014

Oleh Ustadz Deka Kurniawan

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. Dan tahukah kamu apakah (neraka) Hutamah itu? (yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang membakar sampai ke hati. Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”
(QS. Al-Humazah: 1-9)

Surah ini menceritakan bagaimana keadaan orang-orang pengumpat, pencela dan orang-orang yang senang pada riba, menumpuk harta mereka dan seputar neraka Hutamah. Allah sudah menyebutkan di awal surah, waillul artinya adalah celaka. Humazatillumazah yaitu orang-orang yang mengumpat dan mencela.

Sebelumnya, mari kita bahas tentang harta riba.


Isu riba merupakan isu yang penting dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang muslim. Ia mungkin sudah dipahami oleh sebagian orang, tapi tidak dihayati untuk meninggalkannya. Riba merupakan suatu larangan yang bersifat mutlak oleh Allah.

Apa itu riba?

Takrifan ringkas riba ialah merupakan barang tambahan di atas hutang akibat penangguhan tempo dan tambahan dalam penukaran barang tertentu.

Sebagai contoh, Mohammad setuju memberikan pinjaman kepada Ahmad sebanyak Rp50.000 dan dikehendaki membayar kembali satu bulan dari sekarang. Tetapi sekiranya Ahmad gagal membayar hutang sebelum atau pada 1 bulan yang telah ditetapkan, maka Ahmad dikehendaki membayar pada Mohammad sebanyak Rp60.000. Lebihan sebanyak Rp10.000 merupakan riba.

Apa ancaman bagi muslimin yang mengamalkan riba?

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.”
(QS. Al-Baqarah: 278)

Ini merupakan ancaman keras dari Allah. Bahkan merupakan ayat teguran dari Allah bagi sesiapa yang ingkar dengan perintah-Nya. Imam Abu Hanifah pernah berkata, “Ini adalah ayat Al-Qur’an yang paling menakutkan.”

Tinggalkanlah riba jika kamu benar-benar mengaku sebagai hamba Allah.


Para Pengumpat Dan Pencela
Humazatillumazah
Apa bedanya pengumpat dan pencela?

Humazah dalam bahasa Arab mengandung arti mengumpat atau mencela melalui perkataan. Misalnya, orang yang membicarakan aib si fulan atau keburukan serta kekurangan si fulan tersebut. Berbeda dengan lumazah, seseorang yang mencontohkan kekurangan si fulan—cacat mental atau fisik dengan gerakan atau perbuatan. Atau ada orang yang pincang, dengan tujuan untuk menghina atau hanya sekadar membuat lelucon, orang itu mencontohkan gaya dan gerakan si fulan.

Celaka! Tidak ada kebahagiaan kepada orang-orang yang suka mengumpat. Suka membicarakan aib orang lain. Senang membicarakan kekurangan orang lain. Mereka akan diberikan azab oleh Allah karena sungguh perbuatannya sangat dibenci oleh Allah. Bayangkan, kita yang melihat seseorang dihina-hina dengan kekurangan yang dimiliki orang itu saja bisa marah dan kesal. Apalagi Allah?

Lalu bagaimana kasusnya jika membicarakan atau menyampaikan kekurangan si fulan dengan tujuan agar si fulan bisa memperbaiki perbuatannya? Ini sama saja dengan humazah. Kita tetap tidak boleh membicarakan apapun kekurangan orang lain baik disengaja maupun tidak disengaja baik untuk tujuan izlah atau tidak. Jika kita ingin memberitahu orang itu agar ia memperbaiki perbuatannya—misalnya si fulan salah dalam mengambil sikap, bicarakanlah baik-baik dengannya. Karena ini untuk menghindari terjadinya ghibah dan tidak menyakiti perasaan orang yang sedang dibicarakan.

“Maka janganlah engkau patuhi orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak (pula). Dan janganlah engkau patuhi setiap orang yang suka bersumpah dan suka menghina, suka mencela, yang kian ke mari menyebarkan fitnah,”
(QS. Al-Qalam: 8-11)

Tidak ada orang yang tidak punya aib. Pasti kita memiliki kekurangan sebanyak atau sedikit apapun kekurangan itu. Mengapa kita masih membicarakan kekurangan orang lain sementara kekurangan diri kita pun belum bisa ditutupi?

Di Surah Al-Qalam ayat 10 dan 11 diterangkan bahwa kita tidak boleh mematuhi orang yang suka menghina, mencela dan menyebarkan fitnah. Mungkin bagi kita ini kekurangan orang itu menjadi sesuatu yang menghinakan, menjijikkan, atau yang lain sebagainya. Tetapi Allah menjadikan itu sebagai kelebihan yang tidak bisa dimiliki oleh orang lain. Dan bisa saja kekurangan si fulan ini menjadi baik baginya.

Ada suatu kisah yang menceritakan seorang anak kecil berumur 3 tahun dan dia ini (maaf) idiot. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Semua aktivitasnya dibantu orangtuanya. Sampai anak ini beranjak 5 tahun, ia diajak oleh orangtuanya ke masjid untuk shalat jumat. Pada saat khatib berdiri di atas mimbar, khatib ini membacakan ayat dan menyebutkan surahnya. Pada saat yang bersamaan, anak ini mengoreksi bacaan surah dan ayat yang disebutkan si khatib tadi. Lalu ia berdiri, “ Salah. Itu bukan Surah Al-Imran tapi Surah An-Nisa.”

Semua orang membelalak kaget tak percaya. Penampilan anak kecil ini terlihat tidak mungkin mengerti dan paham Al-Qur’an. Orangtuanya sendiri juga hampir tak percaya karena mereka tahu betul anaknya itu tidak bisa membaca Al-Qur’an. Lalu bagaimana bisa dia tahu surah yang dibacakan khatib tadi salah dan ia membenarkannya?

Setelah khatib menyelesaikan khutbahnya, ia mendatangi anak ini. Ditanyalah ia. Kemudian ia menjawab, “Saya hafidz.” jawabnya pelan. Tidak ada seorang pun yang mempercayai ucapannya. Bagaimana mungkin seorang anak idiot bisa menghafal Al-Qur’an? Setelah ditelusuri, orangtua dari si anak ini memang memberikan banyak buku-buku cerita tetapi ia menolak. Walau tak ada ustadz yang menemaninya, setiap hari ia membuka Al-Qur’an dengan membolak-balikkan halaman mushaf dan terus seperti itu sejak usia 3 tahun hingga 5 tahun. Dan sekarang ia sudah berumur 20 tahun. Setiap ditanya tentang surah, ayat, asbabun nuzul, hingga tafsir ia mampu menjawabnya. Walau mungkin orang-orang disekitarnya dulu selalu mengejek, menghina atau bahkan tidak suka karena kekurangannya. Tetapi kekurangannya itu menjadikannya sebuah kelebihan yang hampir tidak dimiliki oleh orang kebanyakan. Sedangkan kita, diberi kemampuan oleh Allah untuk membaca Al-Qur’an, masih saja bermalas-malasan. Apakah ini membuat kita malu pada Allah? Barangsiapa yang Allah kehendaki akan diberikan rahmat maka sesungguhnya dia akan sangat beruntung. Semoga saja cerita singkat ini menjadi muhasabah untuk diri kita agar lebih menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain yang memiliki kekurangan.  


Asbabun Nuzul
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan tentang seseorang yang bernama Al-Akhnas bin Syariq karena banyak melakukan kesalahan kepada sesamanya dengan kebiasaan mencela dan menghina mereka di hadapan langsung atau di belakang mereka. Hukum Allah ini berlaku secara umum karena pelajaran dari ayat ini berdasarkan keumuman lafadznya bukan berdasarkan kekhususan sebab turunnya. Adapun orang yang mengumpulkan dan menghitung-hitung hartanya, ia merasa takut akan hartanya habis atau dicuri. Al-Qurtubi menjelaskan, “Ia enggan menginfakkan hartanya di jalan Allah bahkan ia tidak mengeluarkan kewajibannya berzakat. Namun ia asyik menyimpannya dan menghitung-hitungnya agar bisa dipastikan jumlahnya bertambah.” ujarnya. Sikap ini termasuk jaahil, sikap orang yang bodoh karena sampai muncul di hatinya bahwa hartanya tidak akan meninggalkannya atau bahkan bisa mengekalkan hidupnya, membuat umurnya bertambah terus sampai ia tidak akan mati.

“Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. Dan tahukan kamu apakah (neraka) Hutamah itu?”

Keyakinan dan sikap yang jaahil ini pasti akan membuatnya diseret dan terlempar ke dalam neraka yang melumat dan menghancurkan apa saja yang dilemparkan ke dalamnya. Tulang-tulangnya dihancurkan dan daging pada semua bagian tubuhnya habis terbakar tak tersisa. Sampai hati yang paling dalam dilahap api. Dan Allah menjelaskannya di ayat berikutnya:

“(yaitu) api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati.”

Api ini menyala karena perintah Allah. Nyala api ini tidak ada yang menandinginya sebab ia tidak pernah padam untuk selama-lamanya. Rasulullah menjelaskan, “Neraka ini telah dinyalakan selama 1000 tahun sampai merah warnanya kemudian dinyalakan lagi selama 1000 tahun sehingga putih warnanya kemudian dinyalakan lagi selama 1000 tahun sehingga hitam warnanya dan kehitamannya sangat pekat.”

Al-Qurtubi berkata, “Penyebutan sampai ke hati karena jika rasa sakit itu sampai ke hati pasti orangnya mati. Sesungguhnya dia telah mati tetapi dia tidak mati-mati sebagaimana firman Allah, “Dia tidak mati dan tidak (pula) hidup.” Surah Al-A’la ayat 13.

“Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.”

Ayat ini menjelaskan bahwa neraka itu ditutup rapat-rapat sehingga angin sekecil apapun tidak bisa masuk. Tangan dan kaki diikat dengan rantai. Meskipun neraka terkadang dibuka pintunya, namun penghuninya yang sedang kesakitan dalam keadaan putus asa karena mereka ingin sekali keluar tetapi tidak berdaya.


Simpulan
Pertama, menzalimi orang lain hakikatnya menzalimi diri sendiri dan rasanya jauh lebih sakit karena siksaannya di neraka yang sangat pedih.
Kedua, harta itu bisa menjadi sebab kesengsaraan, kehinaan dan kebinasaan bila tidak dijadikan sarana untuk memenuhi kewajiban kepada Sang Pemberinya.
Ketiga, bila ingin menjadi orang kaya harus diimbangi dengan penguatan pemahaman tentang hakikat harta dan keimanan pada akhirat. Kalau  tidak, bisa sangat membahayakannya.
Keempat, jangan hanya sibuk dengan urusan dunia tetapi harus diimbangi dengan tadabbur dan renungan tentang siksa neraka agar tidak bersikap melampaui batas dalam urusan-urusan dunia.
Kelima, keserakahan dan kesombongan ketika memiliki harta bisa diatasi dan dicegah dengan keimanan yang kuat kepada adanya ancaman siksaan Allah di neraka.


Referensi:

No comments:

Post a Comment