Visitor

Sunday, February 9, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Al-Falaq ayat 1-5

8 Februari 2014

Oleh Ustadz Rusdy

Pendahuluan
Minggu yang lalu, kita sudah mentadabburi Surah An-Naas yang merupakan mu’awwidzatain yang dilengkapi dengan Surah Al-Falaq dan Surah Al-Ikhlash. Kali ini, kita akan membahas surah ke-113 yang sangat erat kaitannya dengan surah sebelumnya. Ketiga surah ini mencakup semua doa permohonan kita untuk diberi perlindungan kepada Allah. Tetapi sayangnya, terkadang kita justru menyepelekan ketiga surah ini. Dianggap tak penting karena surahnya pendek. Belum lagi, setiap shalat fardhu yang dibaca hanya ketiga surah ini saja. Sedangkan kita tahu, tidak ada satu pun surah di Al-Qur’an yang tidak bermakna sama sekali. Begitupun juga dengan surah-surah pendek ini.

Al-Falaq. Artinya tidak hanya subuh—tetapi juga makhluk Allah yang lainnya.

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’”
(QS. An-Naas: 1-6)

Perbedaan Surah An-Naas dan Al-Falaq terletak di bentuk kejahatannya. Perhatikanlah, jika di Surah An-Naas, Allah meminta kita untuk berlindung dari 1 kejahatan yaitu kejahatan setan yang tersembunyi sebanyak 3 kali.
Aku berlindung kepada Tuhannya manusia.
Raja manusia.
Sesembahan manusia.

Tetapi dalam Surah Al-Falaq, cukup sekali saja kita memohon ucapan perlindungan.
Qul audhubirabbil falaq.
Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh.

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.’”
(QS. Al-Falaq: 1-5)

Ayat pertama, “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh.’”
Ada apa dengan subuh?
Subuh adalah pergantian antara malam dan siang. Di waktu subuh terjadi pelaporan catatan amal kebaikan. Karena subuh adalah titik poin permulaan manusia melakukan aktivitas.

Kenapa Allah meminta kita berlindung dari kejahatan makhluk, kejahatan malam, wanita tukang sihir dan kejahatan dengki?
Surah Al-Falaq sendiri merupakan surah perlindungan dari kejahatan eksternal. Sedangkan Surah An-Naas adalah surah perlindungan dari kejahatan internal.

4 kejahatan yang disebutkan di surah ini berkaitan dengan aktivitas manusia di malam hari. Karena seperti yang kita ketahui, di malam hari biasanya kejahatan akan lebih banyak mengancam kita. Contohnya adalah perampok dan pemerkosa. Perempuan yang berjalan sendirian di tengah malam biasanya akan lebih cenderung disenangi oleh pria-pria tidak punya pekerjaan yang suka menggoda wanita. Maka dari itu, surah ini sangat penting untuk kita amalkan.

Di waktu malam pula, setan lebih mudah bekerja untuk mengangkat shahwat kaum Adam dengan perzinahan dan lain-lain. Wujud riilnya, banyak praktik-praktik perzinahan, maksiat yang terjadi di malam hari. Sihir yang keluar di malam pun lebih ampuh dan kuat. Sehingga banyak kasus penculikan, pencurian, penipuan, dan mempersiapkan penyihiran agar tidak terlihat orang lain.


Kegiatan Manusia Di Malam Hari
Banyak dari yang mungkin mempunyai teman atau bahkan saudara yang suka sekali pergi malam. Pernahkah kita bertanya untuk apa mereka pergi dan apa tujuannya? Ada yang menjawab, “Mau pesta.”, ada pula yang menjawab, “Kangen minum-minum.”

Mereka melakukannya di malam hari. Langit yang gelap gulita itu menjadi saksi perbuatan maksiat mereka. Berombongan datang untuk menikmati keindahan malam yang membuat mereka lupa kepada Allah. Mereka bahkan berpesta, minum-minum, mendengarkan dentuman musik yang keras, bernyanyi-ria, menari erotis, juga berzina hingga pagi. Dan sesungguhnya, setan benar-benar bersama mereka. Berfoto, bersenang-senang, saling merangkul satu sama lain, mabuk-mabukan, dan bahkan wanitanya membuka aurat mereka hingga para pria mendatanginya dan menjadikan santapan malam. Naudzubillahimindzalik.



Jika kita berada di tempat seperti itu, apa yang hendak kita ucapkan?
Tidakkah kita takut kepada azab Allah yang pasti akan datang?

Jika kita tidak segera meminta perlindungan kepada Allah, maka kelak kita akan dikuasai oleh setan seperti penghuni-penghuni rumah maksiat. Setan akan senang dan bangga karena berhasil mengelabui manusia. Seperti misalnya, dugem atau dunia gelap yang sangat ramai di kota-kota besar. Mereka menganggap keren jika masuk dalam komunitas seperti itu. Padahal kita tahu bahwa Allah akan sangat membenci orang-orang yang berbuat maksiat hingga tak diberikan petunjuk barang sekali pun. Itulah tipu daya setan. Itulah mengapa Allah meminta kita berlindung kepada-Nya agar kita tidak termasuk pada orang-orang yang dilaknat karena perbuatan bodoh kita sendiri.

Bacalah surah perlindungan ini atau mu’awwidzatain di mana pun kita merasa takut. Dan perlu diketahui, mu’awwidzatain tidak hanya dibaca ketika kita merasa terancam, takut, atau merasa ada setan dan jin yang mulai menggoda saja. Surah ini juga tidak hanya untuk mengusir setan. Tapi juga dari makhluk lainnya misalnya binatang buas. Setelah kita berdoa dan yakin, maka Allah akan mengusir serta melindungi kita dari bahaya tersebut.


Bolehkah Percaya Pada Ramalan?

“…dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul.”

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, percaya pada ramalan dan percaya pada sihir-sihir merupakan perbuatan musyrik.

Wa min sharr-in-naffathati fil ‘uqad. Kata naffathati ini tidak hanya berarti penyihir wanita—tetapi juga penyihir pria. Misalnya, beberapa kasus yang pernah terjadi ketika seorang pria ditolak oleh wanita kemudian ia dendam dengan si wanita tersebut. Pria ini melakukan guna-guna, pelet, santet dan sihir untuk mencelakai si wanita. Jadi kita perlu mewaspadai bahwa sihir ini benar-benar nyata dan ada. Para penyihir yang bisa melakukan hal-hal abnormal memang banyak membuat kita berdecak kagum. Sehingga bertanya-tanyalah kita mengapa orang tersebut bisa melakukan hal itu? Tentu ini merupakan hal di luar batas kemampuan manusia. Misalnya ketika melihat mentalist yang melakukan aksi-aksi luar biasa seperti memotong tubuhnya sendiri atau menantang dirinya untuk tetap bernafas di dalam kolam selama berjam-jam. Ternyata, orang-orang seperti itu meminta bantuan setan atau jin yang lebih mampu melakukan hal-hal ghaib.

Meramal, percaya pada peramal atau memprediksikan sesuatu yang belum terjadi termasuk dalam perbuatan musyrik—yaitu percaya kepada Allah tetapi juga percaya kepada yang lain. Remaja masa kini lebih senang membaca apa kata zodiak mereka minggu ini dan bahkan mereka menanti-nantikannya. Membacanya saja sudah berdosa, apalagi mempercayainya.


Iri Yang Positif
Iri atau dengki biasanya dikaitkan erat dengan perbuatan minus. Tetapi ada satu kasus iri yang menjadikannya baik. Misalnya, ketika kita melihat ada seorang anak kecil penghafal Al-Qur’an lalu kita iri karena kita belum mampu menghafal Al-Qur’an di usia 25 tahun. Sehingga ini membuat kita semangat dan terpacu untuk menghafal Al-Qur’an. Iri ini dibolehkan. Karena dengan begitu, kita justru akan berbuat kebaikan, bukannya malah berbuat sebaliknya. Iri atau dengki yang dimaksudkan di Surah Al-Falaq pada ayat terakhir adalah iri atau dengki kepada orang lain karena kemampuan orang tersebut yang lebih unggul dari dirinya.

Seorang penyihir atau penyantet memulai penyihirannya kepada orang yang dituju dikarenakan iri atau dengki. Tidak mungkin seseorang melakukan tindakan santet tersebut jika tidak ada maksud di dalamnya. Sihir tersebut bisa ditolak dengan satu, yaitu Al-Qur’an. Kita lupa akan Rabb kita yang mampu menolak bala bahaya apapun kepada kita. Kita lupa akan Rabb kita yang Maha Kaya. Terlalu banyak yang kita kerjakan, terlalu banyak yang kita pikirkan, dan itu tidak lain adalah masalah duniawi saja. Padahal, Allah telah meminta kita untuk berlindung, memohon pertolongan, berserah diri, mengadu hanya kepada-Nya. Dengan membaca Al-Qur’an sama saja kita berkomunikasi dengan Allah. Berbeda dengan membaca buku, ada buku yang membawa manfaat dengan ilmu yang didapatkan, tetapi ada juga buku yang memberikan kita ilmu yang salah. Tetapi Al-Qur’an tidaklah seperti itu. Jika membaca buku kita merasa membaca sendiri saja, membaca Al-Qur’an adalah cara kita untuk berkomunikasi dengan Allah.

Rasulullah bersabda, “Sungguh hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat jika terkena air. Beningkan ia dengan membaca Al-Qur’an, mengingat kematian dan datang ke majelis ilmu.”
(HR. Syihab dan Baihaqi)

Hati itu berkarat. Jika si pemilik hati melakukan apa yang diajarkan Rasulullah, maka ia akan bening kembali. Jika tidak, hati akan menghitam. Ia menghitam karena jauh dari cahaya, pekat karena kecintaannya yang berlebih kepada dunia tanpa warak (taat kepada Allah). Karena jika hati seseorang didominasi oleh cinta dunia, waraknya akan hilang. Ia himpun harta dunia, baik yang halal maupun yang haram. Tak ada lagi upaya memilah-milah antara yang halal dan yang haram dalam mengumpulkan kekayaan. Rasa malunya kepada Allah pun pudar. Ia lupa bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Maka dari itu, upayakanlah untuk selalu memohon perlindungan kepada Allah.


 حسبن الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير

Cukuplah Allah menjadi penolong bagi kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung.

No comments:

Post a Comment