Visitor

Sunday, February 2, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. An-Naas ayat 1-6

1 Februari 2014

Oleh Ustadz Umar Makka
Mu'awwidzatain
An-Naas, Al-Falaq, Al-Ikhlash

Pendahuluan
Suatu saat Rasulullah tengah berada bersama para sahabatnya di kediaman Anshar. Tiba-tiba, terdengar panggilan seseorang dari luar rumah. “Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkan aku.” Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian siapa yang memanggil itu?” kami menjawab, “Allah dan Rasulullah yang lebih tahu.” Rasulullah kemudian berkata, “Itulah iblis, laknat Allah bersamanya.” Umar bin Khattab berkata, “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasulullah.” namun beliau menahannya. “Sabar wahai Umar. Bukankah kau tahu bahwa Allah memberikan kepadanya hingga hari kiamat? Lebih baik bukakan pintu untuknya. Sebab dia telah diperintahkan untuk ini. Pahamilah apa yang hendak ia katakan. Dan dengarkan dengan baik.” ujar Rasulullah. Setelah pintu dibuka, iblis menjelma menjadi seorang kakek yang cacat satu matanya, di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi. Iblis kemudian berkata, “Salam untukmu Muhammad dan salam untukmu para hadirin.” Rasulullah kemudian menjawab, “Salam hanya milik Allah. Sebagai makhluk terlaknat, apa keperluanmu?” iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang ke sini bukan atas kemauanku. Namun karena terpaksa.” Rasulullah membalas, “Siapa yang memaksamu?” iblis berkata, “Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata ‘Allah memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukkan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya demi kebesaran Allah. Andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.’”

Dalam hadist panjang yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal ini, iblis membeberkan semua rahasia dirinya dalam menjerumuskan manusia ke jalan yang sesat. Ada 10 permintaan iblis yang dikabulkan Allah yang saat itu disampaikan kepada Rasulullah. Iblis meminta Allah membiarkannya berbagi harta dan anak dengan manusia seperti firman Allah dalam Surah Al-Isra ayat 64

“…lalu berilah janji, padahal setan itu hanya menjanjikan tipuan belaka kepada mereka.”

Iblis akan ikut makan dari harta yang tidak dizakatkan dari harta yang berbaur dengan riba. Iblis pun akan ikut makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah. Allah membiarkan iblis ikut bersama-sama saat orang berhubungan suami istri tanpa lebih dulu meminta perlindungan Allah. Sehingga anak yang terlahir pun akan lebih patuh terhadap setan. Iblis diberi kemampuan oleh Allah untuk melihat manusia sementara manusia tidak bisa melihatnya. Iblis pun bisa masuk dalam aliran darah manusia untuk lebih mudah menggoda manusia. Namun iblis berkata, “Wahai Muhammad, aku tidak bisa menyesatkan orang sedikit pun. Aku hanya bisa membisikkan dan menggodanya. Sebagaimana engkau tidak bisa memberi hidayah kepada manusia sedikit pun. Engkau hanya rasul yang menyampaikan amanah.” Iblis kemudian berkata lagi, “Pendusta adalah sahabatku. Gosip dan adu domba adalah kesenanganku. Kesaksian palsu adalah kegemaranku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya berada di pinggir dosa walaupun hanya sekali dan walaupun ia benar. Tahukah kau Muhammad? Aku memiliki 70.000 anak dan setiap anak memiliki 70.000 setan. Setan ditugaskan untuk mengencingi telinga manusia sehingga ia tertidur saat shalat berjamaah atau saat mendengar ceramah. Setan juga senang berada di dalam lidah orang yang berbuat kebajikan, lalu senang menceritakan kepada orang lain sehingga pahalanya terhapus. Dan setan pun senang duduk pada pinggul dan paha wanita lalu menghiasinya—hingga setiap orang senang memandanginya.”

Dalam sebuah hadist lain yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, iblis telah bertanya kepada Allah, “Wahai Tuhanku, Engkau telah memberikan anak Adam tempat kediamannya untuk mereka berteduh dan berdzikir kepada-Mu. Oleh karena itu, tunjukkanlah padaku tempat kediaman untukku.” Allah berfirman, “Tempat kediamanmu adalah di toilet.” iblis kemudian bertanya lagi, “Wahai Tuhanku, Engkau telah berikan anak Adam berkumpul di masjid. Di manakah pula tempatku berkumpul?” Allah berfirman, “Tempatmu berkumpul di pasar-pasar, pesta, tempat hiburan, serta majelis-majelis maksiat.”

Setan selalu berada di mana pun untuk mengganggu umat manusia. Bahkan di tempat ibadah sekalipun. Setan selalu mengganggu umat Muhammad untuk mengulur-ulur waktu shalat. Jika ia shalat, setan pun membisikinya untuk menoleh kanan-kiri, dan jika ia shalat berjamaah, lehernya diikat hingga ia mengangkat kepala sebelum imam, atau setan meniup hidungnya hingga menguap. Jika ia shalat sendirian, setan menggodanya agar shalatnya tergesa-gesa seperti ayam mematuk beras. Setan juga selalu mengganggu orang yang shalat dengan rasa was-was atau ragu-ragu dengan bilangan rakaatnya. Karena itulah, sebelum takbiratul ikhram, ada sebagian ulama yang membolehkan membaca doa meminta perlindungan Allah dari godaan setan, seperti membaca Surah An-Naas. Meskipun cara ini dianggap bid'ah oleh sebagian ulama karena tidak pernah dicontohkan oleh Nabi Muhammad. Bisikan setan terus mengintai kita, umat manusia. Sudah seharusnya, kita semakin waspada dan meminta perlindungan Allah agar selamat dari tipu dayanya.


Ciri-Ciri Orang Yang Disukai Setan
Tahukah kalian bahwa setan, jin dan iblis ada yang menyenangi dan membenci manusia?

Umar bin Khattab adalah salah satunya yang dibenci oleh setan. Seandainya beliau berjalan di satu jalan atau lorong, maka setan akan mengambil jalan yang lain agar tidak satu jalan dengan Umar.

Ciri-ciri orang yang disukai oleh jin yaitu adalah lemah fisiknya. Rasulullah pun sudah menyarankan kepada kita untuk memperbanyak olahraga agar kita senantiasa sehat jasmani. Dan jika kita perhatikan bahasa Al-Qur’an laki-laki adalah ar-rijal—dengan pengucapan yang diperkasakan. Tetapi berbeda dengan an-nisa—pengucapannya dilembutkan sebagaimana sifatnya. Jadi, laki-laki sudah pasti lebih kuat dan lebih perkasa dari perempuan. Namun, dalam Islam ada yang namanya bencong, tetapi bukan yang sering muncul di televisi. Jelas yang seperti itu adalah membencongkan diri. Bencong dalam Islam adalah yang lahir dalam 2 kelamin. Tetapi yang membencongkan diri ini sungguh dilaknat oleh Allah dan Rasulullah.

Ciri yang berikutnya adalah orang yang tidak punya semangat hidup tinggi, suka lemas, banyak mengkhayal. Orang yang semangat hidupnya lemah sangat mudah untuk digoda oleh setan. Oleh karena itu, para penghipnotis pun tahu siapa saja yang bisa dihipnotis dan mereka juga tahu orang-orang yang tidak bisa diarahkan pikirannya.

Dan yang terakhir adalah yang jarang berdzikir atau mengingat Allah. Dzikir yang paling dibenci jin dan setan adalah “Hasbunallah wa ni’mal wakil ni’mal maula wa ni’man nasir”. Jika dalam keadaan takut sekalipun, dengan berdzikir maka hati akan tenang. Setan pun tidak berani mengusik orang-orang yang pikiran, hatinya senantiasa merujuk kepada Allah.

Sebagaimana contoh yang diriwayatkan dalam hadist Rasulullah ketika kita sangat sulit bangun dari tidur malam untuk shalat. Ini adalah salah satu bentuk godaan setan dari sekian ribu godaan setan lainnya kepada manusia.


Rasulullah SAW bersabda: “Setan mengikat tengkuk salah satu di antara kamu pada waktu tidur dengan tiga ikatan. Pada tiap ikatan ia (setan) menepukkan, ‘Malam masih panjang, tidurlah.’ Apabila ia (manusia) bangun dan berdzikir kepada Allah, maka lepaslah satu ikatan. Apabila ia berwudhu, maka lepaslah satu ikatan lagi. Dan apabila ia berdiri shalat, maka lepaslah ikatan yang terakhir. Ia memasuki pagi dengan bersemangat (dalam ibadahnya) dan akan merasa gembira. Dan jika tidak (shalat), maka ia akan merasa lesu dan malas.”
[HR. Muttafaq ‘Alaihi]


Tadabbur Surah An-Naas
An-naas artinya manusia, sama dengan al-insan. An-naas ini adalah bentuk jamak yang tidak mempunyai kata tunggal. Kata tunggalnya adalah kata insan. Seperti pada kata an-nisa adalah bentuk jamak. Kata tunggalnya adalah imroatun. Banyak yang sering kita dengar bahwa manusia itu disebut dengan manusia insan—karena dia sering lupa. Tetapi sebenarnya bukan ini pengertian yang benar.  An-naas itu berasal dari kata al-uns—yang mempunyai arti saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Karena manusia tidak akan pernah bisa hidup sendiri, maka manusia disebut an-naas atau al-insan.

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhannya manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.’”
(QS. An-Naas: 1-6)

Suatu hari, Rasul berkata pada seorang sahabatnya—Uqbah bin Amir. “Wahai Uqbah, tidakkah engkau tahu bahwa tadi malam Allah menurunkan ayat-ayat yang tidak pernah kulihat kedahsyatannya sebelumnya? Tak maukah engkau kuajarkan satu perlindungan terbaik yang dipakai oleh orang-orang yang berlindung?”

Sebelum surah ini diturunkan, Rasulullah selalu berlindung kepada Allah dari banyak godaan, sihir dan bahaya lainnya dengan doa ‘Allahumma inni audzubika min’. Tetapi setelah turunnya dua surah ini, Rasulullah meninggalkan doa-doa yang biasa beliau lakukan dan cukup dengan dua surah ini saja—An-Naas dan Al-Falaq.

Mengapa demikian?
Karena perlindungan di kedua surah ini sudah mencakup semua kejahatan. Baik yang terlihat ataupun yang tidak terlihat; baik kejahatan dunia ataupun akhirat; dan kejahatan eksternal atau internal. Mu'awwidzatain atau dua surah perlindungan ini mengandung permohonan perlindungan kepada Allah yang diawali dengan ‘qul audzhu’.


Keutamaan Dari Surah An-Naas

Diriwayatkan dari Aisyah ra bahwa ketika hendak berbaring di tempat tidur, setiap malam Rasulullah biasanya menangkupkan kedua belah telapak tangannya lalu ditiupkannya setelah membaca surah Al-Naas, Al-Falaq dan Al-Ikhlash. Setelah itu Rasulullah mengusapkan kedua telapak tangannya pada bagian tubuhnya yang dapat terjangkau, dimulai dari kepala, wajah lalu bagian-bagian yang lain. Rasulullah melakukan itu sebanyak tiga kali.
(Bukhari 5017)

Surah An-Naas ini walau dianggap surah pendek yang sudah dihafalkan sejak kecil dan sangat biasa terdengar oleh telinga kita, ternyata tidak sembarang surah. Ada yang membacanya cepat-cepat sehingga kata ‘an-naas’ tidak diucapkan dengan harakat yang benar. Biarpun demikian, surah ini ditambah dengan Al-Falaq dan Al-Ikhlash menjadi pelengkap surah permohonan perlindung dari kejahatan apapun yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Diriwayatkan dalam hadist pun, Rasulullah yang sakit selalu meminta Aisyah untuk membacakan mu'awwidzatain ditambah dengan Al-Ikhlas. Mungkin bagi yang sudah memiliki istri atau suami bisa mencontoh habit Rasulullah ini.


Asbabun Nuzul
Dalam suatu hadist yang diriwayatkan Shahih Bukhori, disebutkan bahwa Rasulullah pernah terkena sihir yang dilakukan oleh seorang Yahudi, sehingga beliau terbayangkan seakan-akan sudah melakukan sesuatu padahal beliau belum pernah melakukannya.

Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Musa telah mengabarkan kepada kami Isa dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah ra berkata,”Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah disihir.” dan berkata Al-Laits, ”Hisyam menulis surat kepadaku bahwa dia mendengarnya, dia anggap dari bapaknya dari Aisyah ra berkata, ’Nabi shallaallahu ‘alaihi wasallam telah disihir hingga terbayang oleh beliau seolah-olah berbuat sesuatu padahal tidak. Hingga pada suatu hari beliau memanggil-manggil kemudian berkata: Apakah kamu menyadari bahwa Allah telah memutuskan tentang kesembuhanku? Telah datang kepadaku dua orang, satu di antaranya duduk dekat kepalaku dan yang satu lagi duduk di dekat kakiku.Yang satu bertanya kepada yang lainnya,”Sakit apa orang ini?”. Yang lain menjawab, ”Kena sihir”. Yang satu bertanya lagi, ”Siapa yang menyihirnya?”. Yang lain menjawab, ”Labid bin Al A’sham.” Yang satu bertanya lagi. ”Dengan cara apa?”. Dijawab, ”Dengan cara melalui sisir, rambut yang rontok saat disisir dan putik kembang kurma jantan”. Yang satu lagi, ”Sekarang sihir itu diletakkan dimana?”. Yang lain menjawab, ”Di sumur Dzarwan”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pergi mendatangi tempat tersebut kemudian kembali dan berkata kepada Aisyah setelah kembali, ”Putik kurmanya bagaikan kepala-kepala setan. ”Aku bertanya, ”Apakah telah baginda keluarkan?”. Beliau berkata: Tidak, karena Allah telah menyembuhkan aku. Namun aku khawatir bekasnya itu dapat mempengaruhi manusia maka sumur itu aku timbun.’
(Shahih Bukhari: 3028)

Hadist Rasulullah terkena sihir ini termasuk dalam catatan hadist shahih yang dirawikan oleh Bukhari dan Muslim, yang berasal dari hadist Aisyah bahwa Rasulullah pernah disihir oleh seorang Yahudi dari Bani Zuraiq, namanya Labid bin Al-A’sham.

Dalam riwayat dari Ibnu Abbas, Rasulullah menyuruh Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin Awwam dan ‘Ammar bin Yasir memeriksa sumur itu dan mencari ramuan tersebut. Lalu ditimba air sumur itu dan diselami ke bawah sampai bertemu bungkusan ramuan tersebut yang dihimpit dengan batu. Yang bertemu di dalam kain kasah bungkusan itu ialah guntingan rambut Rasulullah, patahan sisir beliau dan sebuah potongan kayu yang diikat dengan 11 buah ikatan dan di tiap ikatan itu ditusukkan jarum. Lalu diturunkanlah oleh Allah kedua surah ini, jumlah ayat keduanya, “Al-Falaq dan An-Naas” ialah 11 ayat. Tiap-tiap satu ayat dibaca, dicabut jarum dan dibuka buhulnya, dan tiap satu jarum dicabut dan satu buhul diungkai, terasa satu keringanan oleh Rasulullah, sehingga sampai diuraikan buhul dan dicabut jarum yang 11 itu, dan terasa oleh Rasulullah bahwa beliau benar-benar sudah sembuh. Lalu bertanyalah mereka kepada beliau: “Apakah orang jahat itu tidak patut dibunuh saja? Beliau menjawab, “Allah telah menyembuhkan aku, dan aku tidak suka berbuat jahat kepada orang.”

Dalam riwayat yang dibawakan oleh Al-Qusyairi pun tersebut bahwa seorang pemuda Yahudi bekerja sebagai khadam Rasulullah. Pada suatu hari anak itu dibisiki oleh orang-orang Yahudi supaya mengambil rambut-rambut Rasulullah yang gugur ketika disisir bersama patahan sisir beliau, lalu diserahkannya kepada yang menyuruhnya itu. Maka mereka sihirlah beliau, dan yang mengepalai menyihir itu ialah Labid bin Al-A’sham. Lalu Al-Qusyairi menyalinkan lagi riwayat Ibnu Abbas tadi. Supaya kita semuanya maklum, meskipun beberapa tafsir yang besar dan ternama menyalin berita ini dengan tidak menyatakan pendapat, sebagai Tafsir Al-Qurthubi, Tafsir Al-Khazin bagi Ibrahim Al-Baghdadi—malahan beliau ini mempertahankan kebenaran riwayat itu berdasarkan kepada shahih riwayatnya, Bukhari dan Muslim. Namun ada juga yang membantahnya. Di antaranya Ibnu Katsir.

Ibnu Katsir setelah menyalinkan riwayat ini seluruhnya, membuat penutup demikian yang bunyinya: “Demikianlah mereka meriwayatkan dengan tidak lengkap sanadnya, dan di dalamnya ada kata-kata yang gharib, dan pada setengahnya lagi ada kata-kata yang mengandung nakarah syadidah (sangat payah untuk diterima). Tetapi bagi setengahnya ada juga syawahid (kesaksian-kesaksian) dari segala yang telah tersebut itu.”

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hadist ini adalah jiwa mana pun bisa berpengaruh dengan jalan membawa mudharrat, dan jiwa mana pun bisa berpengaruh membawa yang baik. Maka si Labid bin Al-A’sham orang Yahudi itu telah menyihir Rasulullah dan membekaskan mudharrat. Namun dengan memohon perlindungan diri kepada Allah dengan kedua surah tadi—Al-Falaq dan An-Naas, mudharrat itu hilang dan beliau pun sembuh. Dan tentunya ini menjadi hikmah bagi kita semua untuk mengingatkan kembali bahwa Rasulullah saja bisa terkena sihir, bagaimana dengan kita? Maka dari itu, jangan sampai kita ujub pada amal ibadah kita sendiri.


Apa Hukumnya Mendatangi Atau Percaya Pada Paranormal?
Seperti yang sudah dijelaskan pada paparan sebelumnya, Rasulullah yang terkena sihir dapat disembuhkan dengan mu'awwidzatain atau dua surah perlindungan.

Diriwayatkan dari sebagian istri Rasulullah (disebutkan dalam riwayat lain dari sahabat Ibnu Mas’ud bahwa beliau adalah Hafshah) bahwa Rasulullah bersabda, “Barang siapa yang mendatangi Al-Arraf, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu, lalu kemudian dia membenarkannya, maka tidak akan diterima shalat orang tersebut selama 40 hari.”
(HR. Muslim)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa Al-A’rraf adalah seseorang yang melakukan sesuatu pendahuluan-pendahuluan (yang biasanya dilakukan untuk meramal atau suatu tanda yang dijadikan tanda dengan melihat telapak tangan, dll) untuk mengetahui tentang sesuatu yang hilang. Sebagian ulama yang lain menjelaskan bahwa makna Al-A’rraf lebih umum, mencakup orang yang meramal sesuatu yang akan terjadi di masa datang, dll. Imam Al-Qurthubi mengatakan, bahwa wajib atas setiap orang yang memiliki kemampuan yang mengharapkan keridhaan Allah untuk:
1. Mengingkari siapa saja yang melakukan hal tersebut (praktik dukun) baik di pasar atau selainnya dengan pengingkaran yang keras
2. Mengingkari orang-orang yang mendatangi dukun
3. Jangan tertipu kalau kadang mereka benar
4. Jangan tertipu dengan banyaknya orang yang datang kepada mereka
5. Jangan tertipu dengan gelar ustadz, kyai, ataupun ulama (gelar yang palsu)

Makna tidak diterima shalat selama 40 hari adalah orang yang mendatangi tukang ramal kemudian bertanya dan membenarkan maka dia tidak mendapatkan pahal atas shalat yang dia kerjakan selama 40 hari.

Simpulannya adalah kita tidak boleh mempercayai atau bertanya atau meminta perlindungan kepada yang selain Allah. Memunculkan keyakinan atas yang selain Allah sama saja memunculkan sikap kaum musyrikin yang merupakan dosa besar. Jadi patut kita sebagai umat muslim untuk tidak percaya pada ramalan—termasuk zodiak. Ini adalah bentuk kemusyrikan yang banyak terjadi di kalangan remaja masa kini. Mereka sepenuhnya mempercayai tulisan atau ucapan yang sebenarnya hanya buatan manusia. Berlindunglah kepada Allah, karena sesungguhnya kita tidak pernah tahu bagaimana cara setan untuk mengajak kita kepada kemunkaran.


Mereka Yang Masih Belum Benar Dalam Berhijab






“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat kepada mereka agar mereka menampakkan aurat mereka (yang selama ini) tertutup dan setan berkata: ‘Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga).’”
(QS. Al-A’raf: 20)

Qull a'udhu birabbinnas
Malikinnas
Ilahinnas

Tiga kali Allah meminta kita untuk memohon perlindungan. Setan memiliki banyak cara untuk membuat kita terbuai dan termakan oleh rayuan dustanya. Jangankan yang tidak berhijab atau tidak menjalankan shalat, yang berhijab dan shalat saja setan sangat suka menggodanya. Dengan demikian, salah satu cara terbaik untuk membentengi diri agar terlindungi dari bisikan setan adalah dengan banyak-banyak berdzikir kepada Allah. Bisikan setan yang halus itu tidak mudah untuk dideteksi oleh kita. Karena ada bisikan setan yang tidak melalui telinga, tetapi hati. Seperti pada ayat ke-4 di Surah An-Naas:

“…dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi,

Jika hati kita sudah dijebol oleh setan, maka rusaklah semuanya. Tidak ada yang dapat menangkal kejahatan mereka selain pada dzikrullah—obat yang paling ampuh untuk membuat mereka sulit menggoda kita.


Anak Indigo Tidak Perlu Berbangga Hati


Akhir-akhir ini, kita sering sekali mendengar kata “anak indigo” yang konon katanya mereka mampu melihat sesuatu yang orang kebanyakan tidak bisa melihat. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan anak yang diyakini kemampuan atau sifat yang spesial, tidak biasa, dan bahkan supranatural. Meskipun tidak ada satu bukti penelitian pun yang membuktikan keberadaan anak indigo atau sifat mereka, fenomena ini menarik perhatian orangtua yang anaknya didiagnosis mengalami kesulitan belajar atau yang ingin anaknya special. Kaum skeptik memandangnya sebagai cara orangtua menghindari penanganan pediatric atau diagnosis psikiatrik yang tepat. Daftar sifat yang dimiliki anak indigo juga dikritik karena terlalu umum sehingga dapat diterapkan untuk hampir semua orang. Fenomena indigo dituduh pula sebagai alat untuk menambang uang dari orangtua yang mudah ditipu.

Ternyata, di dalam Al-Qur’an pun sudah disebutkan bahwa semua jin bisa melihat manusia tetapi MANUSIA TIDAK BISA MELIHAT JIN.

“Sesungguhnya dia (iblis) dan kabilahnya (semua jin) bisa melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.”
(QS. Al-A’raf: 27)

Maka janganlah berbangga hati jika kita termasuk orang-orang yang dimaksudkan di atas. Mereka yang memiliki indera keenam atau six sense adalah mereka yang kemasukan setan atau jin. Dan cara menghilangkannya dengan ruqyah. Namun banyak sekali dari umat kita yang malah senang jika diberi ‘musibah’ seperti itu. Inilah sifat asli jin. Dia tidak bisa dilihat oleh manusia. Akan tetapi jin bisa menjelma menjadi makhluk yang lain, sehingga bisa terindera oleh manusia. Baik dengan dilihat, didengar atau diraba. Sebagaimana kisah Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu pada hadist berikut: 

Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay bin Ka’ab berkata kepada Jin: “Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari (gangguan) kalian?” kemudian jin menjawab: “Ayat kursi. Barangsiapa membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga pagi, dan barangsiapa membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari (gangguan) kami hingga sore.” lalu paginya Ubay menemui Rasulullah untuk menuturkan hal itu, dan beliau menjawab: “Si buruk itu berkata benar.”
(HR. Hakim, Ibnu Hibban, Thabaran)


Jadi, intinya dari setiap kejahatan itu pasti berasal dari sebangsa jin atau iblis. Jangan mengira kita tidak pernah dibisiki atau dikeliling atau bahkan diikuti oleh jin. Makhluk seperti itu tidak akan memandang manusia mana yang akan mereka goda. Tetapi ada beberapa tipe yang memang mudah sekali untuk digoda—yang mana orang-orang tersebut sangat jarang atau bahkan tidak pernah mengingat Allah. Maka dari itu, penting bagi kita umat muslim untuk mengamalkan apa yang telah kita tadabburi bersama sehingga itu menjadi syafaat bukan kemudharatan.

Wallahu’alam bisshawab. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan semoga Allah selalu melindungi kita dengan perlindungan-Nya yang luas. Insya Allah.


Referensi:
Khazanah Trans7

1 comment:

  1. Anonymous10:21 AM

    Subhanallah bgt ya lia sekarang :D lufthy

    ReplyDelete