Visitor

Thursday, February 13, 2014

Say No To Valentine Day

Dulu, yang namanya hari kasih sayang alias Valentine itu paling ditunggu-tunggu dan paling bikin deg-deg-an. Bodohnya aku. Tapi beneran, waktu pagi-pagi sampai di kelas, ada aja yang ngasih cokelat di kolong meja. Dalem hati sih seneng, dan bertanya-tanya siapa yang ngasih ya? Tapi ya namanya juga zaman jahiliyyah. Masa-masanya kita nggak tahu syari’at, masa-masanya maksiat dibilang surga dunia, dan masa-masanya agama cuma dijadikan sebagai status atau identitas.

Sedih memang, tapi inilah kenyataannya. Banyak remaja sekarang yang bahkan merayakan hari kasih sayang itu bersama teman atau pacar mereka. Sebenarnya mereka tahu nggak sih sejarah valentine itu kayak gimana? Kalau mereka nggak tahu, buat apa ngerayain? Cuma karena ikut-ikutan, gitu? Mending kalau ikut-ikutannya positif, ikut-ikutan temen ngaji misalnya. Tapi ini? Apa tulisan Islam di KTP hanya akan jadi penghias aja? Nah. Buat teman-teman yang pernah merasa bodoh karena pernah merayakan hari pink itu, kita sama-sama belajar yuk—sebenarnya apa sih pandangan Islam, bisyarah Rasulullah, dan Al-Qur’an mengenai Hari Pink ini. Jangan lupa, dakwahkan pelan-pelan ke keluarga dan teman terdekat ya. Boleh di share kok blog aku, nggak perlu izin.


Sejarah Valentine
Dalam buku ‘Valentine Day, Natal, Happy New Year, April Mop, Halloween: So What?” (Rizki Ridyasmara, Pusaka Alkautsar: 2005), sejarah Valentine Day dikupas secara detil. Inilah salinannya:

Ada banyak versi tentang asal dari perayaan Hari Valentine ini. Yang paling populer memang kisah dari Santo Valentinus yang diyakini hidup pada masa Kaisar Claudius II yang kemudian menemui ajal pada tanggal 14 Februari 269 M. Namun ini pun ada beberapa versi. Yang jelas dan tidak memiliki silang pendapat adalah kalau kita menelisik lebih jauh lagi ke dalam tradisi paganisme (dewa-dewi) Romawi Kuno, sesuatu yang dipenuhi dengan legenda, mitos, dan penyembahan berhala.

Menurut pandangan tradisi Roma Kuno, pertengahan bulan Februari memang sudah dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Dalam tarikh kalender Athena kuno, periode antara pertengahan Januari dengan pertengahan Februari disebut sebagai bulan Gamelion, yang dipersembahkan kepada pernikahan suci Dewa Zeus dan Hera. 

Di Roma Kuno, 15 Februari sebagai hari raya Lupercalia, yang merujuk kepada nama salah satu dewa bernama Lupercus, sang dewa kesuburan. Dewa ini digambarkan sebagai laki-laki yang setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing.


Di zaman Roma Kuno, pada pendeta tiap tanggal 15 Februari akan melakukan ritual penyembahan kepada Dewa Lupercus dengan mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa. Setelah itu mereka minum anggur dan akan lari-lari di jalan-jalan dalam kota Roma sambil membawa potongan-potongan kulit domba dan menyentuh siapa pun yang mereka jumpai. Para perempuan muda akan berebut untuk disentuh kulit kambing itu karena mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan bisa mendatangkan kesuburan bagi mereka. Sesuatu yang sangat dibanggakan di Roma kala itu.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno yang berlangsung antara tanggal 13-18 Februari, di mana tanggal 15 Februari mencapai puncaknya. Dua hari pertama (13-14 Februari), dipersembahkan untuk dewi cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata.

Pada hari ini, para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis di dalam sebuah kotak. Lalu setiap pemuda dipersilahkan mengambil nama secara acak. Gadis yang namanya ke luar harus menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi obyek liburan sang pemuda yang memilihnya.

Keesokan harinya, 15 Februari, mereka ke kuil untuk meminta perlindungan Dewa Lupercalia dari gangguan serigala. Selama upacara ini, para lelaki muda melecut gadis-gadis dengan kulit binatang. Para perempuan itu berebutan untuk bisa mendapatkan lecutan karena menganggap bahwa kian banyak mendapat lecutan maka mereka akan bertambah cantik dan subur.

Ketiga agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara paganisme (berhala) ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani. Antara lain mereka mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Di antara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I.

Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine's Day untuk menghormati Santo Valentine yang kebetulan meninggal pada tanggal 14 Februari. 

Tentang siapa sesungguhnya Santo Valentinus sendiri, seperti telah disinggung di muka, para sejarawan masih berbeda pendapat. Saat ini sekurangnya ada tiga nama Valentine yang meninggal pada 14 Februari. Seorang di antaranya dilukiskan sebagai orang yang mati pada masa Romawi. Namun ini pun tidak pernah ada penjelasan yang detil siapa sesungguhnya "St. Valentine" termaksud, juga dengan kisahnya yang tidak pernah diketahui ujung-pangkalnya karena setiap sumber mengisahkan cerita yang berbeda.

Menurut versi pertama, Kaisar Claudius II yang memerintahkan Kerajaan Roma berang dan memerintahkan agar menangkap dan memenjarakan Santo Valentine karena ia dengan berani menyatakan tuhannya adalah Isa Al-Masih, sembari menolak menyembah tuhan-tuhannya orang Romawi. Orang-orang bersimpati pada Santo Valentine lalu menulis surat dan menaruhnya di terali penjaranya.

Versi kedua menceritakan, Kaisar Claudius II menganggap tentara muda bujangan lebih tabah dan kuat di dalam medan peperangan daripada orang yang menikah. Sebab itu kaisar lalu melarang para pemuda yang menjadi tentara untuk menikah. Tindakan kaisar ini diam-diam mendapat tantangan dari Santo Valentine dan ia secara diam-diam menikahkan banyak pemuda hingga ia ketahuan dan ditangkap. Kaisar Cladius memutuskan hukuman gantung bagi Santo Valentine. Eksekusi dilakukan pada 14 Februari 269 M.

Selain itu, tradisi mengirim kartu Valentine itu sendiri tidak ada kaitan langsung dengan Santo Valentine. Pada tahun 1415 M, ketika Duke of Orleans dipenjara di Tower of London, pada perayaan hari gereja mengenang St. Valentine tanggal 14 Februari, ia mengirim puisi kepada isterinya di Perancis.

Oleh Geoffrey Chaucer, penyair Inggris, peristiwa itu dikaitkan dengan musim kawin burung-burung dalam puisinya. 

Lalu bagaimana dengan ucapan "Be My Valentine?" yang sampai sekarang masih saja terdapat di banyak kartu ucapan atau dinyatakan langsung oleh pasangannya masing-masing? Ken Sweiger mengatakan kata "Valentine" berasal dari bahasa Latin yang mempunyai persamaan arti: "Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat, Yang Maha Kuasa". Kata ini sebenarnya pada zaman Romawi Kuno ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi.

Disadari atau tidak, demikian Sweiger, jika seseorang meminta orang lain atau pasangannya dengan menyebutkan, "Be my valentine" maka hal itu sungguh kita telah terang-terangan melakukan perbuatan yang dimurkai oleh Tuhan, kata Sweiger. Karena meminta seseorang menjadi "Sang Maha Kuasa" dan hal itu sama saja dengan upaya menghidupkan kembali budaya pemujaan kepada berhala.


Adapun cupid atau desire, si bayi atau lelaki rupawan setengah telanjang yang bersayap dengan panah adalah putra Nimrod "the hunter" dewa Matahari. Disebut tuhan cinta, karena ia begitu rupawan sehingga diburu banyak perempuan bahkan dikisahkan bahwa ibu kandungnya sendiri pun tertarik sehingga melakukan incest dengan anak kandungnya itu.

Jelas sudah, Hari Valentine sesungguhnya berasal dari legenda zaman Romawi Kuno di mana masih berlaku kepercayaan paganisme (penyembahan berhala). Gereja Katolik sendiri tidak bisa menyepakati siapa sesungguhnya Santo Valentine yang dianggap menjadi martir pada 14 Februari. Walau demikian, perayaan ini pernah diperingati secara resmi oleh Gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia dan dilarang secara resmi pada tahun 1969. Beberapa kelompok gereja ini masih menyelenggarakan peringatan ini tiap tahunnya.

Walaupun hari merah jambu ini masih dihidupkan sampai sekarang, bahkan ada kesan  kian meriah, itu tidak lain dari upaya para pengusaha yang bergerak di bidang percetakan kartu ucapan, pengusaha hotel, pengusaha bunga, pengusaha penyelenggara acara, dan sejumlah pengusaha lain yang telah meraup keuntungan sangat besar dari event itu.

Mereka sengaja, lewat kekuatan promosi dan marketingnya, meniup-niupkan Hari Valentine sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi, agar dagangan mereka laku dan mereka mendapat laba yang amat besar. Inilah apa yang sering disebut oleh para sosiolog sebagai industrialisasi agama, di mana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.



Pesta Kemaksiatan
Sejak tahun 2001, The Greeting Card Association tiap tahun mengeluarkan penghargaan "Esther Howland Award for a Greeting Card Visionary" kepada perusahaan pencetak kartu terbaik.

Sejak Howland memproduksi kartu ucapan Happy Valentine di Amerika, produksi kartu dibuat secara massal di seluruh dunia. The Greeting Card Visionary memperkirakan bahwa di seluruh dunia, sekitar satu milyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini adalah hari raya terbesar kedua setelah Natal dan Tahun Baru, di mana kartu-kartu ucapan dikirimkan. Asosiasi yang sama juga memperkirakan bahwa para perempuanlah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Mulai pada paruh kedua abad ke-20, tradisi bertukaran kartu di Amerika mengalami diversifikasi. Kartu ucapan yang tadinya memegang titik sentral, sekarang hanya sebagai pengiring dari hadiah yang besar. Hal ini sering dilakukan pria kepada perempuan. Hadiah-hadiahnya bisa berupa mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan Hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan perhiasa kepada perempuan pilihan.

Di Amerika Serikat dan beberapa negara Barat, sebuah kencan pada Hari Valentine sering ditafsirkan sebagai permulaan dari suatu hubungan yang serius. Ini membuat perayaan Valentine di sana lebih bersifat dating yang sering diakhiri dengan perzinahan ketimbang pengungkapan perasaan kasih sayang dari anak ke orangtua, guru, dan sebagainya yang tulus dan tidak disertai kontak fisik. Inilah sesungguhnya esensi dari Valentine Day.

Perayaan Valentine Day di negara-negara Barat umumnya dipersepsikan sebagai hari di mana pasangan-pasangan kencan boleh melakukan apa saja yang berakhir di masing-masing kamar yang diisi sepasang manusia berlawanan jenis. Ini yang dianggap wajar, belum lagi pesta-pesta yang lebih bersifat tertutup dan menjijikkan.


Ikut Mengakui Yesus Sebagai Tuhan
Tiap tahun menjelang bulan Februari, banyak remaja Indonesia yang notabene mengaku beragama Islam ikut-ikutan sibuk mempersiapkan perayaan valentine. Walau sudah banyak di antaranya yang mendengar bahwa Valentine Day adalah salah satu hari raya umat Kristiani yang mengandung nilai-nilai Kristen, ternyata hal ini tidak dipusingkan oleh mereka. 

Perayaan Hari Valentine memuat sejumlah pengakuan atas klaim dogma dan ideologi Kristiani seperti mengakui "Yesus sebagai anak tuhan" dan lain sebagainya. Merayakan Valentine Day berarti pula secara langsung atau tidak, ikut mengakui kebenaran atas dogma dan ideologi Kristiani tersebut, apa pun alasannya.

Nah, jika ada seorang muslim yang ikut-ikutan merayakannya, maka diakui atau tidak, ia juga ikut-ikutan menerima pandangan yang mengatakan bahwa "Yesus sebagai anak tuhan" dan sebagainya yang ada di dalam Islam sesungguhnya sudah termasuk perbuatan musyrik, menyekutukan Allah dan merupakan suatu perbuatan yang tidak akan mendapat ampunan dari Allah.

“Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut, ”
(Tirmidzi)

lbnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah juga berkata, "Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada kekafiran, paling tidak itu perbuatan haram. Berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamar dan membunuh. Banyak orang yang kurang mengerti agama terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan tersebut. Ia telah menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah."

Allah sendiri di dalam Al-Qur'an Surah Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." 


Virus Valentine Day Mewabah
Remaja adalah para anak yang baru saja mengalami banyak perubahan dari diri mereka. Mulai dari pertumbuhan fisik, pola pikir, nafsu, dan rasa ingin tahu yang tinggi. Makanya, mereka sangat tidak ingin menyia-nyiakan masa remaja mereka dengan hanya menonton televisi di rumah, baca buku, bantu ibu bapak, atau belajar siang-malam demi nilai ujian yang bagus. Kebanyakan dari mereka tidak betah dengan siklus kehidupan yang menurut mereka membosankan. Mereka butuh yang namanya refreshing, mencari sesuatu yang baru, dan mencari jati diri mereka. Kalau anak-anak remaja ini sedikit saja salah pergaulan, sedikit saja disuntik sama energi negatif yang membuat mereka penasaran dengan yang namanya maksiat, maka akan sangat bahaya untuk masa-masa setelah remaja. Demam cinta monyet, pacaran, nongkrong sama temen-temen gaul, main geng, merayakan hari jadi atau merayakan perayaan yang sebenarnya tidak pernah diajarkan Rasulullah.

Padahal mereka tetap mengakui bahwa diri mereka adalah muslim. Tapi apakah sesuai dengan perilaku yang ditunjukkan? Di sinilah tugas kita, sebagai remaja atau mungkin yang sudah hampir meninggalkan masa remaja untuk berdakwah. Tugas ini adalah tugas yang wajib diemban oleh seluruh umat Islam. Dan jangan takut jika mereka tidak suka dengan kita, menganggap kita sok pintar, sok menasihati, sok suci, padahal diri sendiri belum benar (ini pengalamanku), dan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan kebencian mereka terhadap dakwah kita. Tapi coba tengoklah kisah bagaimana Rasulullah dan para sahabatnya menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia dengan perjuangan yang begitu keras. Kita ini belum ada apa-apanya. Apa yang bisa kita lakukan hari ini untuk berdakwah, untuk agama Allah, tentu itu akan diperhitungkan di Hari Akhir nanti. Semua yang kita kerjakan bernilai pahala di mata Allah jika memang kita mampu lilaahi ta'ala.


Cinta Tidak Perlu Diungkapkan Dengan Cokelat Dan Mawar Merah
Siapa sangka? Para remaja muslim justru sedang asyik-asyiknya mendewakan yang namanya "cinta". Saking katanya jatuh cinta, mereka rela menyiapkan kejutan spesial Hari Valentine, hari yang dianggap sebagai hari penuh dengan kasih sayang itu ternyata hanya omong kosong. Dibelikanlah pacarnya boneka teddy bear yang besar, cokelat, dan satu lagi yang gawat: kissing or more than just kissing. Mereka menganggap itu adalah kebahagiaan tersendiri mempunyai kekasih. Padahal jika mereka menyadari yang sesungguhnya adalah bencana, malapetaka, musibah untuk wanita maupun pria yang mengeluarkan hasratnya hanya demi sebuah kata bernama "cinta".

Padahal cinta itu hanya akan terjaga kesuciannya jika dua insan manusia mampu membentengi diri untuk tidak berkhalwat sampai tiba saatnya ketika mereka berdua diizinkan oleh Allah untuk bersatu. Tidak ada yang lebih indah dari cinta ketika seorang suami pertama kali mencium kening sang istri sebagai tanda kasih sayangnya selama ini yang ia pendam. Ia senantiasa hanya mencurahkan isi hatinya kepada Sang Maha Cinta, Allah. Cinta itu suci, bersih dan tidak ternodai. Apabila sang istri mencium tangan sang suami, terhitung ibadah. Ketika sang suami minta untuk dipeluk, terhitung ibadah. Dan pada saat suami dan istri menyatukan diri mereka, meleburkan segala hasrat bahkan itu bernilah ibadah yang besar di mata-Nya. 


Beberapa link ini semoga bisa bermanfaat untuk kita dalam menambah pengetahuan tentang Hari Valentine dan beberapa perayaannya di luar Indonesia.




Wallahu’alam bisshawab.


Referensi:

No comments:

Post a Comment