Visitor

Monday, February 10, 2014

Qalam Ilahi

Pernah tidak sekali saja terpikirkan oleh kita untuk tidak hanya ‘mengkhatamkan’ Al-Qur’an—tetapi juga menghafalnya? Jarang sekali aku menemui remaja yang menggebu-gebu dalam menghafalkan Al-Qur’an. Aku hanya ingin berbagi dengan kalian. Karena kebetulan beberapa minggu yang lalu aku sempat berkenalan dengan Adinda, saudariku yang juga anggota grup odoj, dia memintaku untuk menuliskan kiat-kiat menghafal Al-Qur’an. Mungkin ini hanya sekadar sharing ya. Ilmuku masih jauh sekali. In syaa Allah apa yang kutulis di sini akan bermanfaat untuk semua saudara saudariku yang membaca. 


Menghafal Al-Qur’an memang bukan perkara mudah. Melihat ketebalan dan banyaknya juz di dalam Al-Qur’an saja sudah membuat nyali kita menciut. Belum lagi bacaan tajwid dan panjang harakatnya. Bahasa Arab juga bukan bahasa ibu kita. Jadi bagaimana bisa menghafalkan segitu banyaknya ayat dan surah?

Ya, rata-rata komentar orang seperti itu. Kejadiannya persis ketika tetanggaku menanyakan padaku tentang kiat-kiat menghafal Al-Qur’an. Dia hanya menyanggah, “Menghafal Al-Qur’an itu mustahil. Susah banget.”

Yang perlu diluruskan pertama kali di sini adalah mindset. Ubah pola pikir kita untuk menjadikan segala sesuatunya jangan dibuat susah dulu. Kalau belum mencoba sudah bilang nggak bisa, gimana mau maju?

Setelah itu, niat.
Niat itu penting banget loh teman-teman. Kalau kita udah nggak ada niat sepertinya akan sedikit sulit untuk membiasakan new habit ini. Jadi, kalau mau benar-benar menghafal Al-Qur’an, kita rembukkan dulu niatnya, in syaa Allah akan jauuuuuuh lebih mudah untuk dijalani. Nah, niat sudah, terus apalagi? Yang selanjutnya adalah menyusun strategi. Banyak trik yang bisa dilakukan kita bahkan untuk mereka yang sibuk sekali pun. Gimana tuh caranya?

Pertama, bagi yang lebih mudah menghafalkan lewat tulisan latin, sebaiknya buat catatan kecil per hari (1 lembar saja) dengan surah yang ingin dihafalkan. Misalnya, Surah Al-Hasyr. Tulis saja ayat 1-5, lalu lipat, taruh di saku baju atau rok. Selama perjalanan di bus, mobil, motor, angkutan umum, atau sedang menunggu di halte, upayakan untuk membaca lembaran kertas tadi dengan fokus. Baca saja berulang-ulang. 10 kali. Setelah itu tutup lipatan kertasnya dan coba untuk membacanya tanpa melihat. Kalau ada yang salah, jangan takut. Salah itu wajar kok. Namanya juga belajar. Nah, biasanya kalau kita sudah fokus sama hafalan, kita nggak nyadar deh tau-tau busnya sudah datang. Padahal sih, kalau orang lain sudah menggerutu karena sebal busnya lama. Manfaat besar kan untuk yang suka marah-marah? :D

Setelah itu, ulang lagi ketika masuk di bus. Jangan main hp. Kalau berdiri maupun duduk kan tetap bisa sambil membaca lembaran kertas tadi, kan? Taruhlah perjalanan 1 jam ke tempat tujuan—misalnya kantor atau kampus. Begitu sampai di sana, masukkan kertas hafalan tadi ke saku baju dan jangan lupa basmallah untuk memulai aktivitas. In syaa Allah ini akan sangat berpengaruh loh untuk pekerjaan kita. Karena kita mengawalinya dengan Al-Qur’an.

Begitu juga ketika sedang istirahat 10 menit, setengah jam, atau seusai shalat fardhu, pantengin terus tulisannya, lipat lagi, baca lagi, pokoknya begitu terus sampai tiba waktu pulang. Nah, kalau sehari sudah bisa menghafal 5 ayat Surah Al-Hasyr, berarti keesokan harinya 5 ayat lagi tuh. Ini sangat efektif untuk kamu yang masih kuliah atau pun yang sudah kerja. Jangan bilang nggak ada waktu untuk Al-Qur’an ya :-)

Kedua, menggunakan murathal. Kalau tadi, pakai kertas. Sekarang pakai hp atau mp3 player untuk mendengarkan murathal. Download saja suara sheikh kesukaan kita. Setelah itu, di perjalanan kita bisa menikmati suara indah beliau dan jangan lupa untuk diulang-ulang. Misalnya, hari ini menyetel murathal Surah Al-Waqiah, setel itu saja terus seharian penuh. Sampai ayat demi ayat mulai terbayang tanpa harus kita hafalkan. Sama seperti lagu kan? Kita mungkin nggak menghafalkan lagu itu, tapi kalau diputar terus, akan hafal sendiri kan?

Murathal ini sangat bagus untuk hafalan kita. Karena kita mendengarkan suara sheikh yang benar-benar memahami hukum tajwid dalam membaca Al-Qur’an. Dengan begini, kita jadi lebih tahu mana huruf yang harus disamarkan, mana yang harus diwaqafkan, mana yang harus dipanjangkan 6 harakat.

Ketiga, muraja’ah dengan mushaf. Biasanya tipe penghafal muraja’ah dengan mushaf ini memang tipe orang yang tidak bisa jauh atau tidak bisa tidak pegang Al-Qur’an hehehe. Aku pernah lihat tipe ini di Pesantren Ar-Rahman. Ini juga nggak jadi masalah. Kalau memang kita bisa menghafalkan dengan cara muraja’ah non stop, akan sangat efektif. Taruhlah 30 menit waktu yang kita luangkan untuk muraja’ah. Ingat, muraja’ah saja loh. Seperti biasa, coba untuk memilih surah mana yang mau dihafalkan. Kemudian baca surah tersebut mulai dari ayat pertama. Ayat pertama dibaca 10 kali melihat mushaf. Kemudian tutup mushafnya, dan baca. Buka lagi, baca lagi 10 kali melihat mushaf, setelah itu baca 10 kali tanpa melihat mushaf. 20 kali membaca melihat mushaf dan 20 kali membaca tanpa mushaf rasa-rasanya sudah hafal ya. Lanjut ke ayat berikutnya, ulangi seperti semula. Namun, jika ada ayat yang kepanjangan, potong ayat di bagian waqaf, nanti bisa disambung lagi hafalannya. Seperti itu.

Keempat, tehnik menghafal Al-Qur’an yang terakhir adalah dengan imajinasi. Sebenarnya aku pernah melakukan tehnik ini dan kurasa hanya aku saja yang mempraktikkannya. Oke, contohnya begini. Misalnya kita mau menghafal Surah Yusuf. Ayat pertama ‘Alif lam raa’ ini sudah pasti hafal ya. Lalu lanjutannya, ‘Til ka ayaatul kitabil mubiin.’ Nah, di sini kita memainkan imajinasi. Kata ‘ayatul kitab’ sudah pasti artinya ‘ayat-ayat kitab’ karena mirip dengan bahasa Indonesia. Jadi, di ayat pertama, bayangkan tentang ‘ayat-ayat kitab’. Ini namanya menghafal dengan menggunakan pola poin. Pokoknya, ayat pertama itu yang ada kata ‘ayaatul kitabil’. Kalau sudah ada clue itu, biasanya kita akan langsung teringat lanjutannya yaitu ‘mubiin’. Ayat berikutnya, ‘Innaa anzalna huu Qur’anan arabbiyal la’alakum ta’qiluun’. Di ayat ini, aku mem-poinkan ‘arabbiyal la’alakum’. Apa sih artinya ‘arab’ ya bahasa Arab. Lengkapnya, Qur’an berbahasa Arab. Pokoknya, poin di ayat kedua adalah ‘arabbiyal la’alakum’. Titik. Aku fokuskan pada itu. Selanjutnya, ayatnya agak panjang, ‘Nahnu naqushu alaika ahsanal qashashi bimaa auhainaa ilaika haazal Qur’an,’ stop di situ. Hafalkan dulu yang bagian ini. Aku mem-poinkannya ‘nahnu naqushu’. Apa artinya? Nahnu itu Kami. Oh jadi ‘Kami menceritakan kepada Muhammad kisah-kisah,’ kira-kira begitu arti banyaknya hehehe. Kemudian lanjut lagi, dari ‘…haazal Qur’an, wa inkunta min qablihi la minal ghafiliin.’ selesai ayat ketiga. Begitu pun di ayat selanjutnya, sampai aku menemukan ‘takwil’ yang artinya ‘mimpi’. Waktu itu ketika aku menghafal Surah Yusuf dan bertemu dengan bacaan ‘takwilil ahaaditsh’ aku menggerakan tangan kananku seolah-olah bergaya seperti orang yang mampu menakwil mimpi (maaf ini memang kayanya aku terlalu berimajinasi) *tring* seperti tanganku mengeluarkan cahaya yang bisa melihat takwilan mimpi *duh apa sih*. Ya pokoknya aku memainkan imajinasi pada saat menghafal. Seperti juga pada ayat ke-6, terdapat kata: ‘wa yutimu ni’matahu alaika wa ala ali Ya’qub’ kata ‘wa ala ali’ aku imajinasikan seperti membaca doa tasyahud akhir, ‘Allahuma shalli allaa sayyidinna Muhammad, wa ala ali sayyidina Muhammad’ dari situ akhirnya aku bisa hafal cepat karena sembari membayangkan hal-hal yang bisa buat kita *tring* (aku nggak bisa menuliskan dengan kata-kata jadi maaf ya kalau nggak jelas) pokoknya begitu deh.

Nah, yang tadi itu salah satu contoh tehnik menghafal yang (mungkin) aneh buat kalian. Tapi jujur ini sangat bermanfaat untukku. Karena di sini aku merasakan nilai plusnya adalah memahami arti atau tafsirnya. Terkadang ada beberapa kata dalam bahasa Arab yang hampir sama dengan bahasa Indonesia—seperti nikah, takwil, apalagi ya? :D

Keempat poin di atas bisa dicontoh kok. Ini baru tehnik menghafal. In syaa Allah pekan berikutnya aku sempatkan untuk menulis tehnik membaca tajwid atau tehnik qari’ah. Dan tentunya aku tidak sembarangan men-share ilmu. Alhamdulillah ini juga kudapatkan dari pengalaman teman-teman majelis dan ustadz pembimbing. Akhir kata, aku ucapkan terima kasih untuk teman-teman yang sudah mampir ke blog pribadiku, dan semoga kita semua dimudahkan untuk membaca, menghafal, memahami, mentadabburi, dan tentunya mengamalkan isi Al-Qur’an pada kehidupan sehari-hari. Aamiin.

No comments:

Post a Comment