Visitor

Friday, February 7, 2014

ayah of the day

Jujur, saya miris banget ketika melihat ada saudara saya (Muslim) yang murtad hanya karena hal-hal sepele. Misalnya, percintaan. La hawlaa wa laa quwwata illa billah. Hati saya teriris-iris begitu melihat sendiri bagaimana saudara saya itu mengakui dengan bangganya agama baru yang ia imani. Tepat petang ini, kebetulan saya kebagian Juz 6 dan saya ingin lanjut tilawah ke Juz 7. Saya membaca satu ayat yang membuat saya teringat dia. Ayat ini benar-benar menggambarkan kekeliruan orang-orang itu yang menganggap bahwa Nabi Isa (As) adalah Tuhan. Sejak pertama kali Al-Qur'an diturunkan, tidak ada satu pun ayat yang berubah sebagaimana kitab suci mereka. Kebenaran pada suatu kitab suci terlihat dari wahyu-wahyu yang tidak berubah hingga saat ini. Dan bagaimana jika suatu kitab suci mengalami banyak perubahan bahkan tambahan? Jelas itu bukan wahyu Tuhan, bro. Itu cuma buatan manusia. Dan memang paling nyesekin banget kalau kita tahu kebenaran dan kita sampaikan kebenaran itu tapi mereka hanya menganggap kita sok agamis. Itulah dakwah. Bayangkan, Rasulullah (Saw) dan para sahabatnya saja berkali-kali dicaci maki, dihina, dikerjain, bahkan lebih parah dari itu DEMI MENYAMPAIKAN KEBENARAN. Ya termasuk ayat-ayat suci ini. Mereka hanya akan terus berselisih dan berdusta. Allah telah melaknat orang-orang musyrik yang tidak mau menerima petunjuk itu. Sebagaimana saya pernah mengalaminya. Dulu, saya tidak mengimani Al-Qur'an. Saya hanya percaya bahwa Allah memang benar-benar Tuhan, tetapi saya tidak memiliki pengetahuan banyak tentang Islam. Tetapi Allah Maha Adil. Dan Dia tunjukkan petunjuk untuk saya hingga saya benar-benar ingin larut di dalamnya (Al-Qur'an). Islam itu agama yang indah, bro. Islam itu bukan teroris. Kalau mau ngecap Islam suka perang dan lain-lain, cari dulu ilmunya baru berkoar. Karena sesungguhnya, perang dalam Islam (jihad) bukanlah semata-mata perang permusuhan. Bukan karena Islam mengajarkan ayo kita perang kita habisin orang-orang itu. Gak gitu kali. Al-Qur'an menjelaskan dengan indahnya. Mencakup semua urusan duniawi maupun akhirat. Termasuk ayat yang ingin saya tunjukkan kepada mereka yang (maaf) murtad.



Pandangan Al-Qur'an Mengenai Isa Almasih


يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

"Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya, Al-Masih, Isa putera Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: 'Tuhan itu tiga.' berhentilah (dari ucapan) itu. Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara."
(QS. An-Nisa: 171)

لَنْ يَسْتَنْكِفَ الْمَسِيحُ أَنْ يَكُونَ عَبْدًا لِلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَنْ يَسْتَنْكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا

"Al-Masih sekali-kali tidak enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak pula enggan malaikat-malaikat yang terdekat (kepada Allah). Barangsiapa yang enggan dari menyembah-Nya, dan menyombongkan diri, nanti Allah akan mengumpulkan mereka semua kepada-Nya."
(QS. An-Nisa: 172)

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدُهُمْ مِنْ فَضْلِهِ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ اسْتَنْكَفُوا وَاسْتَكْبَرُوا فَيُعَذِّبُهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا وَلَا يَجِدُونَ لَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا

"Adapun orang-orang yang beriman dan berbuat amal saleh, maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya. Adapun orang-orang yang enggan dan menyombongkan diri, maka Allah akan menyiksa mereka dengan siksaan yang pedih, dan mereka tidak akan memperoleh bagi diri mereka pelindung dan penolong selain daripada Allah."
(QS. An-Nisa: 173)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا

"Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al-Qur'an)."
(QS. An-Nisa: 174)

فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا

"Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya."
(QS. An-Nisa: 175)


Allah akan menghendaki siapa saja yang akan masuk dalam agama-Nya yang lurus dan siapa saja yang akan sesat. Tugas kita sebagai muslimin, harusnya menyadari bahwa dakwah itu adalah kewajiban. Kita hanya menyampaikan yang haqq (benar) dan meluruskan yang batil. Kita nggak mau kan ngeliat saudara kita terombang-ambing dalam kesesatan? Walaupun tugas kita hanya menyampaikan, tapi setidaknya kita sudah berniat baik (untuk mengajaknya) kembali pada Islam. Dan siapa pun kita, tidak bisa memaksakan kehendak orang lain. Itu biar menjadi urusan Allah saja. Segala apapun yang akan terjadi pada mereka, selalu selipkan doa di sepertiga malam kita. Biidznillah. Allah mendengar segala doa kita. Dan hanya kepada-Nya-lah kita memohon pertolongan.

Pesan saya, jangan malu untuk ajak teman-teman atau saudaranya datang ke majelis ilmu seperti kelas tadabbur, seminar tentang syi'ah, halaqah, liqo dan lain sebagainya. Kalau kita nggak mulai dari sekarang, kalo kita nggak mulai dari diri sendiri, lalu mau kapan lagi? Mau nunggu ajal datang dulu baru tobat? Kita nggak akan pernah tahu umur kita ini sampai kapan. Jangan risaukan omongan orang tentang kita yang dianggap sok sucilah, sok agamislah, sok diri merasa paling benarlah, jangan. Itu hanya kerikil kecil seperti yang juga dialami oleh Rasulullah (Saw). Percaya deh, belajar dari hal ini kita bisa jadi lebih kuat dan membuat pribadi kita juga jadi berkarakter. Nggak yang ngambang sana-sini. Ikut temen nge-drugs ikut aja. Ikut temen main kartu (judi) ikut aja. Itu namanya nggak punya prinsip, bro. 

Ittaqillah haytsu ma kunta, wattabi'i saiatil hasanata tamhuha wa khaaliqinnasa bi khuluqin hasanin.
Salam.


No comments:

Post a Comment