Visitor

Sunday, January 5, 2014

untuk apa aku hidup?

Ketika aku menatap langit dengan bulan dan bintang yang menemani malam hari itu, tiba-tiba muncul satu pertanyaan. Kalau saja hari ini adalah hari terakhir aku menikmati dunia, lalu ke manakah aku akan pergi?

Day 1
January 3rd, 2014
Tepat ba'da Maghrib aku meminta izin ibuku untuk menginap di AQL Tebet untuk walimatul ursy Kak Reyhan dan Kak Huda esok harinya. Kebetulan, ibunya Kak Reyhan itu adalah salah satu anggota keluarga besar AQL, jadi, anak-anak q-gen pun diminta untuk membantu melangsungkan acara besok. Aku, Ratih, Mbak Dian, Mbak Eria, Mba Anita dan Mba Mimin diminta untuk menjadi penerima tamu. Cukup excited sebenarnya, kupikir yang menginap malam ini akan ramai, tetapi begitu aku sampai di AQL, aku cuma melihat Ratih saja yang tiba-tiba mendekatiku. Sebenarnya ini adalah perkenalan pertamaku dengan si adik mungil itu. 

Beberapa menit kemudian, Kak Novie datang menghampiri aku dan seolah-olah berkata "Yoroshiku onegaishimasu, Okuta-chan." dan aku mengiyakan. Aku masuk ke dalam Lazis, dan di sana ada Kak Ana dan suaminya. Aku mengeluarkan catatanku untuk ujian Selasa besok. Sepertinya suaminya Kak Ana itu orangnya cukup humoris dan tidak malu-malu. Kami sempat bercakap-cakap sampai akhirnya mereka izin untuk pulang. Tinggallah aku bersama Ratih berdua saja. Awalnya, aku mulai merasa lapar. Tapi kutahan saja. Aku juga sempat berbicara sedikit dengan Ratih. Mungkin karena baru pertama kali kenal, jadi agak malu-malu. Ratih itu sudah kuanggap adikku sendiri, usianya 18 tahun, dan memang gayanya masih seperti remaja kebanyakan, dan satu lagi, memang tidak jauh beda dengan gayaku. Nah, setelah itu, aku dan Ratih memutuskan untuk segera tidur. Tapi, beberapa menit kemudian ada yang mengetuk-ngetuk pintu Lazis, "Tok.. tok.. tok.." dalam hatiku berkata, "Aku baru saja mau istirahat, tapi ada saja yang ganggu. Mana di sini cuma berdua sama Ratih, aku pun tidak terlalu kenal sama dia. Nggak asik banget deh malam ini." gerutuku. Ratih beranjak dari tidurnya dan membukakan pintu. Ternyata datang satu akhwat bernama Mba Eria. Beliau sebenarnya berusia di bawah aku setahun, tapi aku beneran tidak bisa panggil dia dengan namanya, aku merasa dia seperti kakakku, jadi kupanggil saja 'Mba'.

Beneran deh, awalnya aku tidak begitu nyaman dengan suasana di Lazis malam itu. Bayangkan saja, Mba Anita yang tadinya berjanji mau nginep bareng aku di AQL, tiba-tiba saja batal karena beliau baru hari pertama menstruasi. Aku memaklumi. Dan memang, aku tidak begitu kenal dengan orang-orang di AQL ini kecuali q-gen. Sedangkan Ratih, dia kerja di Lazis dan jarang sekali mengobrol denganku. Walaupun mulanya aku menggerutu karena teman dekatku tidak bisa hadir malam itu. Akhirnya aku paham mengapa Allah mengizinkan aku untuk mengenal lebih dekat dengan Ratih, Mba Eria, dan Mas Deny malam itu. Tidak ada hal yang Allah kehendaki jika tidak berhikmah. Aku memetik buah dari kejadian malam itu.

Mba Eria mengambil secarik kertas yang ada di hadapannya. Itu kertas latihan ujianku untuk minggu depan. Mba Eria bilang, beliau suka sekali sama bahasa. Dan sekarang beliau sedang kuliah di jurusan PAUD. Pembahasan kami semakin menarik. Aku mulai merasa seru dengan suasana malam itu. Ratih mendengarkan, dan sesekali bertanya padaku tentang bahasa Jepang. Aku mengajarkannya satu frase. "Kaeritai." 

Di selang waktu kami bercakap-cakap seru, perutku kembali berteriak-teriak. Tapi aku mengurungkan niatku untuk mengatakan yang sebenarnya ke Mba Eria dan Ratih. Aku pun tidak tahu apakah mereka lapar atau tidak. Sedangkan di luar sudah sepi, cuma ada kita bertiga. Rasanya tidak mungkin cari makan keluar, kami terlalu malas untuk beranjak dari dalam Lazis. Aku cukup berdoa dalam hati, "Ya Allah, aku lapar. Aku ingin nasi goreng seafood malam ini. Tapi aku yakin, Engkau pasti akan mencukupkan rezekiku." dan merindinglah aku semenit kemudian Mba Eria bertanya kepada kami, "Aku lapar nih. Kalian mau makan juga? Mas Deny soalnya nggak jadi pulang karena keretanya sudah habis. Aku sih mau pesan nasi goreng." seketika itu aku langsung mengacungkan telunjuk ke arahnya, "Mba, aku nasi goreng seafood." disusul oleh Ratih yang ternyata juga kelaparan. Subhanallah, nikmat mana lagi yang mau kau dustakan? Diam-diam aku menitikkan air mata karena Allah menjawab doaku begitu cepat. Aku malu pada diriku sendiri. Allah selalu memberikan apa yang kubutuhkan. Tetapi, apa yang sudah kuperbuat untuk Islam di 21 tahun hidupku ini?

Aku penasaran dengan Mas Deny yang diceritakan Mba Eria. Aku memang tidak begitu banyak kenal orang-orang di sini. Tapi lewat acara malam itu, akhirnya aku diperkenalkan lebih dekat lagi dengan mereka semua. Lagi-lagi, gerutuku malam itu membuat aku malu sendiri. Padahal Allah menitipkan satu hikmah kepadaku di balik gerutuanku itu. Dan padahal itu jauh lebih  baik dari apa yang kuinginkan. Kami berempat berbicara banyak hal seusai makan malam. Dan aku mulai tidak malu-malu lagi menunjukkan diriku sebenarnya. Aku menghabiskan makananku dengan lahap. Mba Eria dan Ratih sudah mulai kebegahan. Aku membantu Mba Eria menghabiskan nasi goreng kambingnya. Padahal aku menyadari, porsi makan malam itu benar-benar ukuran jumbo. Kata Mas Deny, aku ini ketahuan kelaparan. Yowis, itu memang benar sih, Mas.

Tidak disangka-sangka, aku bisa dipertemukan orang-orang hebat macam mereka. Kami berbicara banyak tentang Islam. Aku yang awalnya awam dan baru setahun kurang berhijrah, ternyata ilmuku masih jauh sekali dibandingkan mereka yang kuanggap sebagai kakak-kakakku. Mas Deny menceritakan tentang simbol-simbol yang tidak kita sadari itu adalah simbol dari bangsa Yahudi yang digunakan untuk memuja setan. Aku juga belajar tentang bagaimana sikap dan perilaku umat Muslim di Indonesia dengan keterbatasan ideologi mereka tanpa benar-benar mengetahui apa yang ditulis di Al-Qur'an dan Al-Hadist. Aku terkesima. Percakapan kita berempat malam itu semakin 'panas' dan aku semakin penasaran, mengapa orang-orang seperti mereka tidak mau pulang dari AQL? Apa yang membuat di AQL ini begitu terasa seperti keluarga?

Tidak berapa lama kemudian, aku menerima pesan dari seorang sahabat yang terus bertanya-tanya, "Taddabur itu apa? Apa yang mengasyikkan dari tadabbur? AQL itu tempat pengajian ya?" dan lain sebagainya. Rupanya, sahabatku ini belum tahu banyak tentang kenikmatan bertadabbur Al-Qur'an. Jujur saja, aku ingin sekali dia datang ke AQL. Paling tidak, dia bisa belajar tadabbur bersamaku di kelas Sabtu siang, supaya dia juga turut merasakan bagaimana rasanya aku tidak mau lepas dari AQL. Tapi, semakin ke sini, pertanyaannya semakin larut. Aku tahu bagaimana sifatnya, bagaimana kritisnya dia, dan aku paham bagaimana caranya berpikir dalam menghadapi sesuatu. Kami sempat bertengkar waktu itu karena kesalahpahaman. Dan berbaikan kembali karena izin Allah. Selepas itu, rasa kekeluargaan kami lebih dekat walau tak sering jumpa dan tak selalu saling mengabari lewat pesan singkat. Biar bagaimanapun, aku ingin membawa dia ke AQL, belajar bersama, dan membuat dia 'kecanduan' pada Al-Qur'an. Itu saja.

Lagi-lagi, aku mulai terbayang-bayang oleh awan yang berkumpul-kumpul di langit biru, kemudian burung yang berkicauan satu sama lain, dan bagaimana indahnya Allah menciptakan pelangi sehabis hujan turun. Hatiku mulai menangis kecil. Apa yang sudah kuperbuat, apa yang sudah kuperjuangkan, apa yang sudah kulakukan untuk agama Allah? Tidak seberapa dengan perjuangan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya untuk berdakwah, untuk memperluas dan membawa Islam sampai ke seluruh penjuru dunia. Sedangkan aku? Baru bisa membaca Al-Qur'an dan mengenal tajwid saja tidak lebih dari setahun belakangan ini. Shalat saja baru kupahami sejak setahun kemarin. Bersedekah? Memang dulu aku pernah memberi apa kepada fakir miskin? Yang ada malah aku takut hartaku akan habis karena sedekah.

Aku malu pada Allah. Aku belum bisa melakukan banyak hal untuk Islam. Nyaliku ciut, ketika beberapa orang temanku selalu menolak ketika kuajak untuk mengaji bersama. Jangankan mengaji, begitu kuajak shalat saja mereka bilang "Malas, capek, nanti saja." bagaimana aku tidak menangis melihat saudara-saudaraku seperti itu? Aku hanya adukan itu kepada Allah. Ya Allah, sungguh, pekerjaan dakwah ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Aku mengajak teman dekatku, sahabatku, bahkan keluargaku sendiri, mereka menolak, mengatakan aku ini berlebihan, aku ini sesat, aku ini fanatik, tapi, tidakkah mereka sadari bahwa semua yang kulakukan ini karena semata-mata aku ingin bekerja untuk Islam. 

Bahkan pernah suatu ketika ada orang yang mulai mengkhawatirkan diriku ini sesat. Katanya aku bergabung dengan komunitas yang selalu membuatku 'kecanduan' untuk datang terus ke sana. Katanya kalau diberi minuman air putih jangan diambil. Lalu aku membalasnya, "Iya, waktu aku mau minum air putih aku ambil di sana." lalu dia berkata lagi, "Jangan! Nanti dijampe-jampe loh. Bisa-bisa kamu jadi sesat!" kemudian aku tertawa sambil memegang tangannya dengan erat. "Dengar ya, aku ini mau minum karena haus dan karena di AQL itu disediakan aqua gelas di meja besar dekat aula. Bagaimana toh caranya aku bisa dijampe-jampe sedangkan minuman itu jelas-jelas baru dibeli dan dikeluarkan dari kardus AQUA yang sudah dilabel. Lagipula ndak ada tuh yang ngasih aku minuman di gelas. Ya toh aku ngambil sendiri. Wong aku punya kaki, punya tangan, moso harus minta diambilin sambil dibacain mantra-mantra, gitu?" dia pun ikut tertawa sambil menahan malunya. Ya, begitulah kira-kira tanggapan orang-orang terdekatku begitu mengetahui aku sering sekali datang ke sana. Ada apa yang sebenarnya? Apa yang membuatku tertarik?

Di tempat ini, aku menemukan jawaban. Dari sejak aku sering sekali menatap langit dan menangis. Kemudian aku melihat sekelilingku, bagaimana keadaan mereka? Apakah mereka juga pernah merasakan seperti yang kurasakan sekarang? Apa tidak ada perasaan walau secuil, tidakkah kita berguna hidup di dunia ini? Untuk apa? Untuk apa kita di sini? Jawaban itu mulai kupahami setelah aku mengenal orang-orang hebat seperti Ustadz Bachtiar Nasir, Ustadz Umar Makka, Ustadz Ustman Baco (aku memanggilnya ustadz bako), kakak-kakak pengurus seperti Kak Tony, Mba Astri, Kak Novi, Kak Ana, Mba Eria, Mas Deny, Ratih, sahabat-sahabatku seperti Pipit, Mba Fera, Mba Dian, Kak Acho, Rendy, Anita, Mba Ega, Fatimah dan semua yang tidak bisa kusebutkan satu per satu. Mereka yang menemaniku untuk belajar mengubah mindset. Dan itulah mengapa aku ingin sekali mengajak sahabatku yang menanyakan "Sehebat apa AQL itu sehingga membuat kau rajin mengajak aku setiap Sabtu untuk bertadabbur?"

Lalu dia bertanya lagi, "Allah itu di mana?"

Kami berlima membahas semua ini dengan tenang. Bagaimana indahnya Islam membuatku benar-benar tersadarkan bahwa aku harus berbuat sesuatu. Walaupun hanya sebatas memberikan informasi dan mengajak teman-temanku untuk membaca, paling tidak, satu ayat saja. Entah itu Al-Ikhlas, An-Naas, atau Al-Fatihah sekalipun. Aku senang dengan berbagai jawaban mereka. Ada yang mengatakan "Aku tidak bisa mengaji." dalam hati aku ingin menjawab, "Mau mengaji bersamaku? Atau mau kubacakan ayat Al-Qur'an? Kita hafalin bareng-bareng yuk." atau ada juga yang mengatakan, "Beneran deh, aku sibuk banget dan nggak bisa, maaf." lalu aku menjawab, "Tidakkah kau benar-benar ingin meluangkan waktumu walau hanya sebentar saja untuk mempelajari agamamu? Apakah segitu sibuknya kau sampai untuk Allah saja ditunda-tunda?" dia tidak membalas. Tapi aku tahu, aku melakukan ini hanya karena untuk mencari ridha-Nya. Allah melihat, memperhatikan, dan mencatat semua perbuatan kita. Aku  tidak mau membuang-buang waktuku untuk berbicara hal-hal yang ghibah atau tidak bermanfaat. Aku merasakan kasih sayang Allah begitu deras untukku. Sehingga akhirnya dipertemukanlah aku dengan AQL dan bagaimana aku mulai memahami bahwa dakwah itu adalah kewajiban setiap umat Muslim di belahan dunia mana pun.

01:00 AM.
Waktu tidak pernah kembali. Dan begitu pun aku menikmati waktu yang telah Allah berikan kepada kami berlima. Aku, Ratih, Mba Eria, Mas Deny, dan sahabatku itu yang hanya bertukar cerita lewat chat. Kantukku mulai melebam-lebam. Sepertinya aku harus segera tidur. Dan beberapa menit kemudian, Kak Novi datang. Jadi kita bisa istirahat berempat. Alhamdulillah. Semoga pagi nanti aku bisa bangun Subuh dengan tepat waktu dan semoga acara untuk esok dilancarkan oleh Allah. Aamiin.

Day 2
January 4th, 2014
Pagi itu aku dibangunkan dengan colekan Kak Novi, "Dek, dek, bangun udah Subuh." mataku yang hanya lima watt itu mulai disetrumi oleh semangat untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah. Inilah yang membuat aku betah berlama-lama di AQL. Di sini, selain ada aula, masjid pun dijadikan satu sehingga seolah-olah seperti rumah yang ada musholanya. Selain itu, imam yang membacakan ayat Al-Qur'an pun selalu tenang dan khusyuk. Subuh kemarin, kami dibacakan Surat Maryam dan aku pun terlarut mendengarnya. Aku tidak pernah menemukan jamaah yang shalat fardhu di masjid seperti jamaah di AQL. Shafnya sangat rapat, bacaan surat setelah Al-Fatihah tidak selalu Juz 30--bahkan terkadang Al-Baqarah pun dibacakan, dan seusai shalat jamaah selalu dibacakan satu hadist untuk menjadi pengingat kita kembali. Subhanallah, kalau aku shalat di masjid lain, yang ada shafnya berlubang. Beda di AQL, kalau di sana tak jarang aku menginjak kaki saudariku dan aku pun terinjak oleh saudariku yang lainnya. Ini lebih dari rasa bahagia. Bagaimana jika kita nanti diberikan kesempatan oleh Allah untuk shalat di Masjidil Haram? Yang kita tahu bahwa setiap pembacaan suratnya selalu panjang dan hikmat. Dan keadaan yang berdempet-dempetan tanpa perlu memikirkan 'duh sakit, kejepit kakinya'. Lalu, bagaimana dengan Indonesia, terutama di Jakarta? Kita pun sudah bisa menjawabnya. 

Ba'da Subuh aku mandi. Lagi-lagi aku merapatkan kedua telapak tanganku untuk meminta kepada Allah, aku tidak bawa sabun mandi hari ini. Kak Novi, menjawab seketika. "Dek, sabunnya ada di kamar mandi paling ujung ya." Alhamdulillah, mandi juga akhirnya, dalam hati aku bersahut. Seusai mandi, kami siap-siap berangkat ke Kalibata untuk didandani. Di taksi aku tersenyum-senyum. Rupanya, jantungku ikut berdegup kencang karena hari itu aku akan menyaksikan akad nikah anaknya Ummi. Jujur saja, ini adalah kali pertamanya aku melihat proses akad nikah. 

Sesampainya di Kalibata, aku dan Ratih didandani lebih dulu. Orang-orang sekitar kami cukup kaget karena gamisku dan Ratih ternyata sama. Begitu kutanya, Ratih membelinya di Tanabang. Aku juga. Hari itu aku merasa seperti punya kembaran, apalagi Ratih juga berkacamata frame hitam. 

Aku bertemu Ummi lagi. Kalau tidak salah, Ummi pernah datang ke kelas q-gen atau waktu kemarin acara Q-Gen Big Festival. Wajahnya sangat familiar. Ummi belum tahu namaku, aku menjawabnya dengan senyuman. "Aku Lidya...", "Lidya Oktariani, kan?" kagetnya bukan main aku pada saat itu. Ummi kok tahu nama panjang aku? "Jangan heran. Ummi baca blog kamu loh. Tulisan kamu bagus banget. Ummi senang deh bacanya." ucap Ummi sambil duduk menunggu perias mendandaninya. Aku sempat menyengir. Rupanya, bukan hanya Ummi saja yang diam-diam membaca tulisanku. Ada beberapa ibu-ibu di AQL yang pernah berkenalan denganku dan mereka kaget, "Loh ini Lidya Oktariani yang penulis q-gen itu ya? Masya Allah! Tulisanmu nak, tetap berkarya ya." Alhamdulillah, ucapku bersyukur. Bagaimana aku tidak berterima kasih kepada Allah, karena izin-Nyalah, aku dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka. Dan karena izin-Nyalah, aku bisa melewati masa-masa sulit sebelum aku mengenal Islam.

Aku dan Ratih tidak perlu lama-lama terheran-heran melihat hasil make-up kami hari ini. Kalau kata Mba Astri, "Ngelihat kalian pangling. Pada cantik-cantik semua. Tapi, mukanya kok sama, ya?"

Walau ini merupakan pertama kalinya kami berdandan, kami berusaha untuk tetap bersyukur. Semua itu pasti ada hikmahnya.

08:00 AM.
Akad nikah akan berlangsung sebentar lagi. Aku tidak sabar jadinya. Padahal bukan aku pengantinnya. Tapi aku penasaran dengan prosesnya. Sewaktu kakakku menikah, aku tidak hadir di situ. Entah mengapa, aku tidak mau melihat kakakku menikah. Karena setelah menikah, mereka pasti akan meninggalkanku, Mama dan Papa bertiga di rumah. Itu yang membuatku benci dengan pernikahan. Mereka pergi dengan keluarga barunya. Sampai-sampai aku tidak mau datang di acara akad nikah kedua kakakku. Aku main saja di luar. Bodohnya aku ini.

Detik-detik menjelang akad berlangsung, aku mulai menitikkan air mata. Dua tetes terjatuh. Aku pun berdoa dalam hati, "Hanya kepada Allah aku berharap, hanya kepada Allah aku meminta, aku memohon untuk diberikan kelapangan, kesabaran, ketabahan, kepadaku, saudara-saudaraku yang ingin menyempurnakan agama mereka di tahun ini, 2014, berikan kemudahan kepada mereka semua dan berkahilah niat baik mereka untuk menikah. Allahumma aamiin." hingga tetesan demi tetesan mulai terjatuh kembali. Aku larut dalam haru. Benarkah aku akan menerima tiga undangan di tahun ini? Hanya Allah yang tahu. Aku bahagia jika saudara-saudaraku pun bahagia. Aku pun turut mendoakan yang terbaik untuk mereka. 

Dan tak terasa waktu untuk melaksanakan Dzuhur pun tiba. Subuh tadi aku berjamaah di AQL. Dan Dzuhur kali ini, Ratih menawarkan untuk berjamaah denganku. Aku mengiyakan. Seusainya, kami pulang menggunakan taksi kembali ke AQL. Aku ngebet untuk mengejar kelas tadabbur. Aku takut ketinggalan materi. Karena aku juga bertanggung jawab di bagian jurnalis. Begitu sampai di AQL, wajah kami yang masih sedikit terpoles make-up, buru-buru ke kamar mandi untuk membersihkannya. Sewaktu di Kalibata, kami tidak sempat merapikan karena waktunya sudah mepet untuk shalat dan pulang ke AQL. Jujur sekali, aku senang bisa bersama dengan mereka. Mereka sangat paham kelemahanku. Sebelum kami sampai di AQL, selama perjalanan di taksi aku mulai menguap berkali-kali. Aku hanya tidur dua jam. Dan tubuhku langsung maju-mundur karena taksi yang sesekali mengerem. Saat itu keadaanku sudah tertidur pulas. Dan mungkin kepalaku sudah goyang-goyang entah ke mana. Dan mungkin, semua yang ada di dalam taksi sudah merasa terbiasa dengan habit-ku itu. Dan sadar-sadarnya, aku dibangunkan oleh Mba Dian yang ternyata terjepit oleh tubuhku membelok ke sebelah kanan. Aku tidur ternyata merepotkan orang. Semua beranjak dari dalam taksi keluar dan kami siap untuk mengikuti kelas tadabbur. Alhamdulillah, aku dan semua teman-teman kembali diberikan kesempatan untuk berjamaah di shalat Ashar.

Sahabatku, Pipit, datang menghampiriku tiba-tiba. Sebenarnya ada yang ingin kubahas dengannya. Alhasil, akhirnya aku dan Pipit berbincang-bincang panjang lebar di Maida Resto, depan AQL. Tak terasa, setelah itu rasanya kami ingin masuk ke dalam untuk bersilaturahim lagi dengan sahabat fillah lainnya. Di dalam kami bertemu Mba Dian (yang make-up-nya tidak hilang-hilang), Kak Acho (yang bicaranya suka ngaco, becanda Kak :D), dan Mba Astri (yang selalu bilang ke aku, "Okta, kamu tuh lulus sekolah dulu, baru boleh nikah. Ayo kita lulus bareng!"). Kami berempat membicarakan tentang rencana walimahan anak q-gen di AQL. Sebenarnya aku dan Pipit ingin izin pulang karena takut kemalaman, tapi ada daya, magnet di AQL ini sangat kuat. Sehingga menarik kami kembali untuk berlama-lama di sini. Aku dan Pipit sudah cium pipi ke Mba Mimin, Mba Aini, dan Mba Ratna untuk izin pulang. Begitu mereka lewat, mereka mengerutkan kening, "Loh kalian ngga jadi pulang?", aku menjawab, "Kaya biasa, ditahan Mba, nggak boleh pulang." kami semua tersenyum lebar. Sampai tiba waktunya Maghrib. Dan lagi-lagi, kami berjamaah. Tidak perlu meminta maaf kalau aku atau ada orang lain yang tidak sengaja kakinya terjepit pada saat duduk tahiyatul akhir. Seharusnya kita bersyukur, melihat banyak jamaah yang datang untuk shalat fardhu. Aku pun sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Aku senang sekali berlama-lama di tempat yang begitu membuatku tersadarkan bahwa indahnya dunia itu hanya fana. Keindahan dan kenikmatan yang dapat kita rasakan sekarang justru ada pada kebersamaan dalam Islam. Contohnya sederhana, ya shalat berjamaah itu tadi. 

7:00 PM.
Seusai Maghrib, aku dan Pipit pulang. Dan ya, "AKHIRNYA KITA PULANG, TA." setelah tadi, Mba Astri narik-narik tanganku untuk makan di Maida, lalu kujawab, "Kalau makannya dibayarin aku mau." dan Mba Fera menyengir, "Nih, gue suka sama ini anak. Nggak jaim. Waktu makan sama kita aja dia mau bantu ngabisin." aku jadi malu dibilang seperti itu. 

"Sampai ketemu minggu depan di AQL, sahabatku. Rindunya tidak akan pernah bisa berkurang ya walaupun sudah berjumpa. Rasanya, sungguh indah berada dalam kebersamaan ukhuwah Islamiyah." ujarku dalam hati.

Aku pulang diantar Pipit sampai depan Halte Transjakarta Pancoran Tugu. Bismillah, Allah menjaga aku. Aku mau shalat Isya berjamaah sama ibuku di rumah. Dan setelah sampai di Halte Transjakarta Grogol 2, ibuku sudah menunggu dengan membawa nasi goreng spesial kesukaanku yang beliau beli di tempat langganan. Inilah rezeki kami. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya yang terus menyebut-nyebut nama-Nya larut dalam kesedihan, sebagaimana aku dulu. Allah pun selalu memberikan nikmat dan rezeki kepada orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman. Tetapi bedanya, Allah memberikan rahmat hanya kepada orang yang beriman. Sungguh, apalagi yang ingin kita elakkan dari nikmat Allah yang tidak pernah terhitung? Seusai shalat Isya berjamaah, kami makan malam ditemani si kucing abu-abu, Dona, sambil ia mendengkur, lalu kami tertawa kecil mendengar dengkurannya yang lucu.




Allah benar-benar mengetukkan pintu hati manusia kepada siapa yang Ia kehendaki. Dan tidak ada nikmat seindah ketika hidayah menghampiri dan membuatmu kembali menemukan pintu-pintu yang sudah Ia sediakan untuk orang-orang beriman.

- Lidya Oktariani

PS: 
Tahu apa yang membuatku bahagia sekali hari ini? Bisa kusimpulkan, hari ini adalah pertama kalinya aku shalat fardhu berjamaah dari Subuh hingga Isya. Bagaimana dengan kalian? 

No comments:

Post a Comment