Visitor

Monday, January 27, 2014

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. An-Naml ayat 1-4

25 Januari 2014

AYAT-AYAT MA’RIFATULLAH
Oleh Ustadz Deka Kurniawan

Mukjizat Kebenaran Nabi Muhammad SAW
Renungan Cinta Rasulullah


Pada tadabbur kali ini, kita akan melihat bagaimana Allah menjadikan Rasulullah sebagai manusia yang terjamin ucapannya.

“Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an) itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
(QS. An-Najm: 1-4)

Ayat ini terlihat sederhana jika kita membacanya secara sekilas. Tapi dibalik itu, sebenarnya tersimpan makna yang dahsyat jika kita mau mentadabburinya. Tadabbur itu bukan hanya dengan teori, tetapi dengan pembuktian dan fakta-fakta yang ada.
Pembuktian seperti apa yang akan kita bahas kali ini?
Kita akan belajar tentang kebenaran firman Allah dari ayat di atas.

Para musafir menjelaskan bahwa ayat ini diturunkan untuk menjadi legitimasi kehadiran Rasulullah yang membuat gejolak di tengah orang-orang kafir dan mengguncang keyakinan orang-orang yang ada di Mekah pada saat itu. Mengapa? Karena perkataan yang keluar dari mulut Rasulullah sangat menyentuh orang banyak. Kaum Quraisy semakin terheran-heran melihat banyak dari kaum mereka yang mulai terpengaruh oleh ucapan Rasulullah. Sehingga muncullah fitnah yang mengatakan bahwa Rasulullah adalah seorang penyihir karena perkataannya yang mampu merubah seseorang. Mampu membuat seorang pemuda meninggalkan kekayaan dan kesenangan duniawi yang dimilikinya seperti Mush’ab bin Umair.

Ada apa sebenarnya dengan Nabi Muhammad?

Maka, turunlah ayat ini untuk menegaskan bahwa ucapan Rasulullah bukanlah seperti yang mereka duga.

“Demi bintang ketika terbenam,”
Allah bersumpah dengan ayat ini dengan menyebutkan kata bintang. Pada zaman itu, kata bintang ini menjadi hal yang sangat vital. Lebih tepatnya seperti sesuatu yang dianggap penting dan jika tidak ada maka kita akan sulit untuk bertahan hidup. Dalam keadaan gelap gulita itu, bintang adalah sesuatu yang sangat vital. Misalnya, dengan adanya bintang kita dapat menentukan arah mata angin, melihat rasi bintang, dan lain sebagainya. Konteks dari ayat ini adalah untuk menunjukkan kepada kaum Quraisy bahwa Rasulullah diibaratkan seperti bintang yang bersinar di tengah malam—yang sangat vital. Dia bukan hanya berfungi memberikan keindahan, tetapi memberikan petunjuk atau penuntun.

“Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an) itu adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”
Pernyataan dari Allah ini menegaskan bahwa Rasulullah bukanlah orang sembarangan. Apa yang diucapkannya adalah sesuatu yang benar. Bukan sesuatu yang sesat.


Pembenaran Hadist Rasulullah
Dan dari sekian banyak tentang ucapan Rasulullah yang menjadi sebuah mukjizat, salah satu yang paling fenomenal di peradaban pada saat itu adalah ketika Rasulullah mengatakan bahwa ada dua kota yang pasti akan ditaklukkan oleh Islam seperti pada penjelasan hadist di bawah ini.

Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baiknya pasukan.”
(HR. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335)

Dari Abu Qubail berkata: “Ketika kita sedang bersama Abdullah bin Amr bin al-Ash, dia ditanya, ‘Kota manakah yang akan dibuka terlebih dahulu; Konstantinopel atau Rumiyah?’ Abdullah meminta kotak dengan lingkaran-lingkaran miliknya. Kemudian dia mengeluarkan kitab. Abdullah berkata: ‘Ketika kita sedang menulis di sekitar Rasulullah beliau ditanya, ‘Dua kota ini manakah yang dibuka lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?’, Rasul menjawab, ‘Kota Konstantinopel dibuka lebih dahulu.’”
(HR. Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah dan al-Hakim)

Membicarakan tentang Konstantinopel, berarti kita akan mengacu pada kerajaan Romawi—bagian kekuasaan wilayah Romawi.

Konstantinopel adalah sebuah kota yang lebih besar daripada yang masyhur dinyatakan. Semoga Allah yang Maha Pengasih dan Maha Dermawan berkenan menjadikannya ibukota negara Islam.
Ali bin  Abu Bakar Al-Harawi, penulis Islam abad ke-12

Begitu banyak sekali yang terjadi pada pertempuran ini sehingga pena tidak dapat menjelaskan semuanya dan lidah tidak dapat merinci semuanya.
Neshri, penulis Islam abad ke-15

Apabila dunia ini adalah sebuah negara maka tempat yang paling layak sebagai ibukotanya adalah Konstantinopel.
Napoleon Bonaparte, Kaisar Prancis


Sekilas Tentang Kota Konstantinopel


Konstantinopel saat ini dikenal dengan nama Istanbul, Turki. Dahulu, kota ini berada di bawah kekuasaan Byzantium yang beragama Kristen Ortodoks. Terletak di posisi yang sangat strategis, terhampar di daratan yang berbentuk segitiga seperti tanduk dan terletak di sebelah barat Selat Bosphorus yang memisahkan antara Benua Eropa dan Asia. Di sebelah utara kota ini terdapat Teluk Tanduk Emas (Golden Horn), sebuah pelabuhan alami yang sempurna. Di seberang Selat Bosphorus terhampar daratan yang kaya dengan hasil bumi, semenanjung Asia kecil atau lebih dikenal dengan nama Anatolia. Dari Selat Hitam (Black Sea) atau ke selatan melewati Selat Dardanesia lalu menuju ke Laut Mediterania. Posisinya di tengah dunia membuat Konstantinopel menjadi kota pelabuhan paling sibuk di dunia pada masanya. Inilah kota yang mendapatkan kesempatan terhormat menjadi bagian terpenting dari 3 peradaban besar manusia. “The Gates of The East and West” adalah salah satu gelar yang disematkan kepadanya.


Pemandangan yang paling menonjol dari kota ini tentu saja sistem pemerintahannya yang merupakan pertahanan terbaik pada masanya. Konstantinopel dilindungi tembok yang mengelilingi kota dengan sempurna, baik wilayah laut maupun daratnya. Apabila kita meluaskan pandangan lebih jauh ke arah barat, kita pasti melihat selintas jalan lurus utama menuju Edirne, ibukota bagian Eropa Utsmani. Di tempat itu, sejumlah besar pasukan sedang berbaris rapi dari Kota Edirne. Pasukan infanteri berbaris dengan tombak-tombak mereka yang menutupi sinar matahari, menjadikan pasukan itu berada di dalam bayangan sepanjang waktu. Di belakangnya derap kaki kuda mengepulkan debu-debu yang menjadi saksi bisu keperkasaan ksatria penunggangnya. Gemerincing pedang, gemerentak gada dan kapak yang beradu, serta ayat-ayat Al-Qur’an yang dilantangkan oleh para ulama di belakang mereka menggambarkan kekuatan tekad dan asal mereka, serta tujuan mereka datang ke Konstantinopel. Di bagian paling belakang, logistik perang berupa makanan dan perlengkapan lain yang menunjang ditarik ratusan kuda dan unta yang dikelilingi oleh para pendukung perang seperti penggali terowongan, ahli mesin, tukang kayu, tukang besi dan para perawat. Tidak terelakkan pula suatu pemandangan mencengangkan, senjata-senjata raksasa yang tak pernah terlihat sebelumnya bergerak pelan ditarik oleh sekelompok kerbau dan manusia. Sebuah ekspedisi benar sedang dikerahkan.

Siapakah sebenarnya pemimpin yang mampu menaklukkan kota tersebut yang diramalkan Rasulullah?
Dan apa saja yang dipersiapkan untuk menerjang perang besar menaklukkan kota tersebut?


Sejarah Penaklukkan Konstantinopel


Kekuasaan Romawi membentang dari Eropa sampai ke Asia dan sebagian dari wilayah Afrika. Ini adalah negara adidaya yang luar biasa besar. Tidak hanya luas geografisnya saja, tetapi pengaruh budaya pada saat itu juga sangat besar. Karena begitu hebatnya Romawi ini, sampai-sampai mempengaruhi perfilman dunia yang mengangkat tema peperangan. Tidak heran mengapa Romawi dijadikan acuan sebagai salah satu kerajaan besar, kuat, dengan benteng-benteng yang tidak terkalahkan.

Kekaisaran Romawi terpecah menjadi dua. Katholik Roma di Vatikan dan Yunani Ortodoks di Byzantium atau Konstantinopel yang kini berubah nama menjadi Istanbul. Perpecahan tersebut sebagai akibat dari konflik gereja yang meskipun begitu dunia masih tetap mengakui keduanya sebagai pusat peradaban. Kota ini sangat strategis yang terletak di perbatasan antara Eropa dan Asia.

Ternyata, yang mengincar kota ini untuk dikuasai bukan hanya kaum muslimin pada saat itu. Tetapi termasuk juga bangsa Gothik, Avars, Persia, Bulgar, Rusia dan Khazar. Kaum muslimin terdorong ingin menguasai Byzantium tidak hanya karena nilai strategisnya, tetapi juga atas kepercayaan atau ma’rifatullah mereka kepada ucapan Rasulullah yang sudah ada 800 tahun yang lalu. Bayangkan saja, Rasulullah tidak pernah mengetahui bagaimana kota tersebut berdiri, bagaimana keadaan bentengnya, bagaimana keadaan pasukan yang menjaga setiap titik tembok yang menghalangi bangsa lain masuk. Tetapi tentu ucapan Rasulullah bukan ucapan yang sembarangan. Kaum muslimin ingin membuktikan bahwa mereka mampu membenarkan ucapan beliau tersebut.

Tetapi, sayangnya, tidak satu pun dari kaum muslimin atau bangsa lainnya berhasil masuk ke kota tersebut. Kekhalifahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah misalnya. Mereka mencoba untuk menaklukkan kota itu dan gagal.

Konstantinopel memang benar-benar kota yang sangat kuat. Dan hanya sosok yang kuat pula yang mampu menaklukkannya. Sepanjang sejarah, kota itu menjadi kota pusat peradaban barat, di mana Kaisar Heraklius bertahta. Kaisar Heraklius adalah penguasa Romawi yang hidup di zaman Nabi Muhammad. Bahkan kaisar tersebut pernah menerima langsung surat ajakan untuk masuk Islam dari beliau.

Ajakan Nabi Muhammad kepada sang kaisar memang tidak lantas disambut baik. Ia dengan santun menolak ajakan tersebut namun tidak bermusuhan.

Kebanyakan kaum nasionalis fanatik memandang pengepungan dan pembebasan Konstantinopel pada 1453 sebagai permasalahan yang terjadi antara Turki yang diwakili oleh Utsmani dan Byzantium yang diwakili oleh Konstantinopel. Ini adalah reduksionisme salah kaprah. “Turki” sendiri adalah sebuah istilah yang baru dikenal setelah muncul Republik Turki setelah runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah tahun 1924. Sebelum itu kaum Turki tidak pernah menyebut diri mereka dengan Turki. Mereka menyebut diri mereka hanya Muslim. Maka sesungguhnya Utsmani sendiri adalah perwakilan dari kaum muslim dan Byzantium adalah perwakilan dari dunia Kristen.

Rasulullah tidak pernah bercanda dalam urusan janji Allah. Para sahabat pun benar-benar sadar dengan visi yang telah Rasulullah berikan kepada mereka. Tidak kurang dari 27 kali Rasulullah berperang dalam jangka waktu 10 tahun, dalam rangka membentuk mental para sahabat dan jiwa ksatria kaum muslim. Di antara janji Rasulullah tentang penguasaan dunia, penitikberatan janji oleh Rasulullah terpusat pada dua peradaban adidaya dunia pada masa itu, yakni Persia dan Romawi. Bagi sahabat Rasulullah, visi beliau adalah satu-satunya visi mereka. Tujuan mereka untuk menaklukkan Persia dan Romawi bukan tujuan yang arogan dan tanpa perhitungan, melainkan sebuah tujuan yang bervisi akhirat. Pasca perang Mu’tah dan perang Tabuk, konflik intens antara Romawi dan Islam terjadi pada masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Perluasan wilayah Islam yang sangat masif akhirnya membuat Romawi terdesak. Dari tahun 634-661, wilayah Islam bertambah lebih dari 15 kali lipat dan tentu wilayah Romawi juga banyak yang menjadi wilayah Islam. Satu demi satu kota-kota penting Romawi jatuh ke tangan kaum muslimin. Busra, Damaskus, Antioch, Alexandria, Yerusalem dan Homs dibebaskan kaum muslimin. Tentu saja, tujuan kaum muslimin bukan kota-kota itu, melainkan itu semua hanya anak tangga menuju hadiah utama—Konstantinopel.


Lahirnya Sultan Muhammad Al-Fatih


Mehmed II atau Sultan Muhammad adalah sultan yang memerintah di Dinasti Turki Utsmani. Ia dijuluki “Al-Fatih” karena telah berhasil menaklukkan Konstantinopel dan berkuasa sampai tahun 1481. Beliau lahir di Edirne pada 30 Maret 1423—yang mana pada waktu itu Edirne adalah pusat kota pemerintahan Dinasti Turki Utsmani. Beliau adalah putra dari Sultan Murad II. Sejak kecil, beliau telah mencermati usaha ayahnya untuk menaklukkan Konstantinopel. Bahkan beliau telah mengkaji usaha yang pernah dibuat sepanjang sejarah Islam untuk menaklukkan kota istimewa itu sehingga menimbulkan keinginan yang kuat baginya untuk meneruskan cita-cita umat Islam. Karena keinginan yang kuat itu, beliau dididik secara intensif oleh para ulama terkemuka di zamannya. Muhammad kecil sudah pandai menguasai ilmu tentang fiqh, hadist, dan sudah menjadi penghafal Al-Qur’an di usia 8 tahun. Setiap harinya beliau mendengarkan cerita-cerita heroik sahabat Rasulullah. Sejak saat itulah beliau sangat terpicu semangatnya untuk membuktikan bisyarah Rasulullah. Beliau juga menguasai ilmu lainnya seperti matematika, kimia, fisika, sejarah dan ilmu peperangan. Yang lebih mengagumkannya lagi, beliau mampu berbicara dalam 6 bahasa.


Usaha Sultan dalam Menaklukkan Konstantinopel
Sultan mulai mengumpulkan bala tentara yang beliau pilih dengan sangat hati-hati. Tidak sembarang orang bisa menjadi bagian dari tentara penakluk Konstantinopel ini. Beliau mencari pemuda-pemuda tangguh yang selalu meluangkan waktu tidur malamnya untuk shalat tahajjud, berpuasa, dan tidak pernah absen bertilawah Al-Qur’an. Dan beliau akhirnya berhasil menghimpun sebanyak 20.000 tentara muslim. Peperangan ini memakan waktu selama 54 hari. Sultan melancarkan serangan besar-besaran ke benteng Byzantium yang konon terkenal dengan kekokohannya. Meriam besar seberat 19 ton yang dibuat oleh Orban melakukan tugasnya dengan sangat baik. Tembakan demi tembakan sebanyak 100-150 kali dibombardir siang maupun malam. Langkah balasan pun diberikan, namun pasukan muslim tetap tangguh dan kembali ditembakkan. Bombardir terus dilakukan 7 hari berturut-turut. Takbir selalu diperdengarkan dan terus membahana di angkasa Konstantinopel seakan-akan memecahkan langit kota itu. Sultan dan pasukan siap syahidnya memaksimalkan shalat, doa dan dzikir. Para muhajidin diperintahkan supaya meninggikan suara takbir kalimat tauhid sambil terus menyerang kota.


Pada 29 Mei 1453 menjadi hari di mana terjadinya klimaks antara Utsmani dan Byzantium. Serangan ini membuat hati para petangguh muslim bergetar. Satu per satu gerbang dibuka dari dalam dan satu per satu menara ditancapkan bendera Utsmani yang berkibar di atasnya, berwarna merah dan hijau dengan bulan sabit berwarna emas. Panik yang melanda kota, semua penduduk sipil menyelamatkan dirinya masuk ke dalam perlindungan mereka masing-masing. Dengung bel gereja berselaras dengan tangisan dan teriakan histeris. Pasukan bertahan dikepung dan dipaksa menyerah tanpa syarat sementara yang lain lebih memilih mati di pedang atau tombak kaum muslim. Selapis demi selapis garis pertahanan Konstantinopel lumpuh.

Tahun 1453 bukan hanya akhir bagi Byzantium yang mewakili abad pertengahan, namun sekaligus awal baru bagi Islam, awal baru bagi Eropa dan awal baru bagi pencerahan modern di seluruh dunia barat.

Usia sultan saat itu baru beranjak 21 tahun lewat 2 bulan. Namun bisyarah Rasulullah keluar dari lisannya yang mulia berhasil direalisasikan. Setelah mengucapkan selamat kepada pasukannya, sekali lagi sultan mengingatkan larangan untuk membunuh penduduk sipil dan seruan untuk berlaku lembut dan berbuat baik kepada penduduk kota. Kemudian beliau kembali berkuda menuju Gereja Hagia Sophia dan bertemu dengan beberapa pendeta di sana. Beliau meminta kepada mereka untuk menenangkan penduduk agar kembali ke rumahnya masing-masing. Melihat sikap lemah lembut sultan, para pendeta itu secara terang-terangan menyatakan ingin menjadi muslim setelah menyaksikan toleransi Islam kepada penduduk kota yang telah ditaklukkannya.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu ke jalan yang lurus.”
(QS. Al-Fath: 1-2)

Kesungguhan dan semangat juang yang tinggi di kalangan tentara Al-Fath berjaya mengantarkan cita-cita mereka. Sungguh, apa yang diusahakan mereka tidaklah sia-sia. Semua terbayar dengan sangat sempurna.


Dialah Muhammad Al-Fatih yang tidak pernah meninggalkan shalat sunnah tahajjud maupun sunnah lainnya sejak baliq.
Dan dialah yang berdiri tegak penuh dengan keberanian, ketangguhan, semangat juang yang satu, demi menegakkan Islam di tanah yang telah Rasulullah sabdakan bersama para mujahid yang darahnya mengalir deras membuktikan cinta kasih Allah menghantarkan mereka menjadi syahid.
Rahasia kemenangan Sultan Muhammad Al-Fatih adalah pada bagaimana keyakinan itu diturunkan dari sejak zaman Rasulullah pada 800 tahun yang lalu. Keyakinan para sahabat pada saat itu sangat kuat. 
Dan begitu pula dengan syair pemuda Al-Fatih yang ketika itu masih berusia belasan tahun.


Niatku, taat kepada perintah Allah
Semangatku, berupaya dalam kesungguhan dalam melayani agamaku, agama Allah
Tekadku, aku akan tekuk lututkan orang-orang kafir dengan tentaraku, tentara Allah
Pikiranku, terpusat pada pembebasan, atas kemenangan dan kejayaan, dengan kelembutan Allah
Jihadku, dengan jiwa dan harta dan apa yang tersisa di dunia setelah ketaatan pada perintah Allah
Kerinduanku, perang dan perang, ratusan ribu kali untuk mendapatkan ridha Allah
Harapanku, pertolongan dan kemenangan dari Allah, dan ketinggian negara ini atas musuh-musuh Allah


Mendalami sejarah Islam yang luar biasa ini tentu membuat hati kaum muslimin yang beriman bergidik takut. Bukan karena takut pada peperangan hebat yang dapat meluluhlantahkan tubuh mereka. Tetapi semakin takut kepada Allah. Perintah berjihad sudah jelas nyata. Berperang tidak sembarang berperang. Ini adalah perang untuk menaklukkan agama Allah di kota yang sudah ditetapkan. Dan ini menjadi intropeksi diri kita sebagai umat Rasulullah. Melihat hasrat dari pemuda tangguh seperti Muhammad Al-Fatih yang menghabiskan masa mudanya untuk melayani agama Allah, apakah yang menjadi landasan utama beliau? Tentu saja ini dikarenakan keimanan dan ketakwaan beliau terhadap Allah azza wa Jalla. Pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi obsesi remaja masa kini terhadap status mereka yang menyatakan dirinya adalah muslim?

Ma’rifatullah. Adalah keyakinan sungguh-sungguh kepada Allah, dan yakin dengan ucapan Rasulullah bahwa apa yang dikatakannya adalah benar dan terbukti. Keyakinan kita pasti akan membawa kebaikan. Begitu pula dengan mereka yang mengingkarinya. Sesungguhnya mereka hanya akan menyia-nyiakan waktu di dunia. Dan kita sebagai pemuda-pemudi muslim, seharusnya malu jika terus hidup dalam buaian orang-orang kafir. Lebih banyak bermain dan bersenda gurau dengan teman sekelompok, bermaksiat, melepaskan stres dengan meminum minuman haram, mengambil harta yang bukan miliknya, mengagung-agungkan musik dan tarian-tarian erotis, lebih menyukai menangis tersedu-sedu menonton drama daripada menonton kisah-kisah sahabat Nabi Muhammad, menghamburkan uang, lebih sering menyentuh gadget daripada Al-Qur'an, mengumpulkan teman sebanyak-banyaknya untuk berpesta ria, dan masih banyak lagi aktivitas remaja masa kini yang sudah terkontaminasi oleh budaya Barat yang tidak lagi mengenal aqidah. Kemusliman mereka hanya ditandai oleh tulisan di kartu tanda penduduk mereka. Tetapi apa yang dikerjakannya, sama sekali tidak memperlihatkan sikap pemuda-pemudi Islami.

Sudahkah kita memikirkan apa saja yang pernah kita lakukan untuk Islam?
Siapkah kita mengucurkan darah untuk menyatukan umat Islam dan membela agama Allah?
Atau kita lebih siap mati dalam keadaan berzina?
Atau kita lebih menyukai hedonisme hingga sang malaikat pencabut nyawa datang menghampiri kita?



Referensi:
Muhammad Al-Fatih by Felix Y. Siauw, 2013 – AlFatih Press

No comments:

Post a Comment