Visitor

Sunday, January 19, 2014

Tadabbur Al-Qur'an


Materi Tadabbur QS. Luqman ayat 12-19 (Part I)

18 Januari 2014

WASIAT AYAH TERBAIK
Oleh Ustadz Bachtiar Nasir, Lc

Pendidikan Karakter
Metode Luqman

Sebagai generasi muda, sudah sepatutnya kita memikirkan bagaimana caranya agar negeri ini tidak jatuh di tangan orang-orang yang tidak memiliki fondasi ketauhidan. Ini sangat penting sebagai tolak ukur suatu sistem pendidikan yang ada karena akan berpengaruh tidak hanya kepada orangtua tetapi anak-anak dan remaja yang akan atau sedang merasakan dunia sekolah. Berikut ini mari kita bahas tentang kurikulum bagi orang yang mempunyai ilmu hikmah.

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.’”
(QS. Luqman: 12)

Siapakah Luqman sebenarnya?
Mengapa Allah memberikan contoh sosok orangtua dengan standar kurikulum pengajaran Luqman?

Luqman hanyalah orang biasa, bukan seorang nabi yang menyampaikan risalah. Tetapi orang biasa ini sudah disebutkan namanya oleh Allah karena memiliki keutamaan sebagai teladan orangtua di Arab. Dan ini harus menjadi kurikulum orangtua untuk anak-anaknya agar memiliki karakter yang kuat.

“...Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah,”
Apa itu hikmah?
Ada orang berilmu tapi tidak diberi hikmah. Dan orang yang diberi hikmah, sudah pasti berilmu. Dan pada kenyataannya, Indonesia dipimpin oleh partai-partai dan petinggi yang belum memahami apa itu hikmah.
Hikmah artinya orang yang diberikan oleh Allah ilmu, dan ilmunya itu bermanfaat untuk dia dan juga orang sekitarnya. Dan manfaat itu adalah dalam bentuk amal shalih. Ciri-ciri orang yang sudah mendapatkan hikmah adalah banyak bersyukur. Sebagaimana yang ditegaskan dalam ayat ini, ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.’

Bersyukur bisa dalam bentuk evaluasi diri. Misalnya, ketika seseorang menerima berita bahwa dirinya tidak lulus dalam ujian sehingga ia harus mengulang satu tahun lagi. Bersyukur di sini dapat dicerminkan dengan evaluasi diri. Apa yang membuat saya tidak lulus? Mengapa nilai saya tidak mencukupi? Sudah sejauh mana saya berusaha? Sehingga muncullah penyelesaian-penyelesaian dari kebingungan yang biasa dialami remaja. Mulai dari mengurangi waktu untuk bermain, lebih mengisi diri dengan nutrisi ibadah sembari membenahi diri, fokus pada tujuan, tidak menyia-nyiakan waktu senggang yang ada untuk mengulang kembali pelajaran dan berserah diri kepada Allah, percaya bahwa Allah akan mampukan kita untuk melalui ujian ini. Dan yang paling utama di sini adalah berpuasa. Menahan diri dari godaan atau ancaman yang ada supaya dapat memperkuat azzam dan keimanan diri.

Selanjutnya adalah berpikir bahwa ketidaklulusan ini pasti mengandung hikmah. Allah bermaksud untuk memberikan sesuatu yang mungkin kita anggap tidak bermanfaat tetapi dibalik itu tersimpan maksud yang baik untuk kita.

“...Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri,”
Suatu hari Daud bertanya kepada Allah, “Ya Allah, bagaimana caranya bersyukur lagi padahal aku bisa bersyukur karena Engkau yang inspirasikan kepadaku agar aku bisa bersyukur dan bagiku diinspirasikan bisa bersyukur adalah kesyukuran besar buatku.”

Dan ketika kamu bertaubat atas dosa-dosamu, itu karena Allah sudah ampunkan sebelum kamu bertaubat. Sehingga tergeraklah hatimu untuk bertaubat. Dari mana rasa taubat itu datang? Karena kamu tahu bahwa kamu melakukan kesalahan. Kalau orang tidak tahu dirinya salah maka pasti dia tidak ingin bertaubat, bukan? Jadi dimampukan untuk bisa bertaubat atau dimampukan untuk bisa bersyukur itu karena Allah yang memberikan nikmat.

Kemudian Allah menjawab, “Ya Daud, sekarang kau sudah mengerti apa makna bersyukur itu.”

Jadi hakikat bersyukur itu adalah jika mampu bersyukur setelah diinspirasikan bersyukur.

Berbakti kepada orangtua adalah bentuk rasa syukur kepada Allah. Orangtua adalah tempatnya untuk dihormati. Bukan untuk disembah. Orangtua ditaati selama tidak bertentangan oleh Allah.

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedzaliman yang besar.”
(QS. Luqman: 13)

Di ayat selanjutnya menjelaskan bahwa Luqman menasihati anaknya untuk tidak berbuat musyrik. Karena musyrik merupakan bentuk kedzaliman yang besar. Apa saja contoh-contoh musyrik yang banyak dilakukan oleh remaja masa kini?
1. Mengidolakan artis, pemain bola, grup band, idol dan sebagainya dengan berlebihan yang menjadikannya seperti orang bodoh.
Bagaimana tidak bodoh? Mereka rela membuang-buang waktunya untuk menonton atau menikmati artis idolanya sehingga lupa akan mengingat Allah. Ini yang menjadi bahaya bagi remaja dan orangtua. Semakin jauh dari Allah, artinya orang-orang itu tidak pantas dipuja-puja hanya karena kemahirannya atau bernyanyi sambil menari, misalnya. Padahal jelas-jelas sudah ada suri tauladan yang baik, yang ketika beliau hendak meninggalkan dunia ini, kata-kata terakhir yang diucapkannya adalah nama kita, umatnya. Tetapi apa tidak sedikit saja terlintas di benak untuk bershalawat kepadanya?
2. Lebih mempercayai ramalan bintang atau zodiak daripada Allah.
3. Pacaran yang sudah jelas-jelas positif dosa dan positif zina.
4. Tidak bisa menggunakan manfaat dari gadget atau social media dengan kebutuhannya. Misalnya, ketika seusai shalat yang dicari-cari adalah blackberrynya. Ini menjadi bentuk musyrik yang kadang tersepelekan.
5. Fashion. Misalnya, menjadikan hijab penuh dengan gaya atau fesyen masa kini dan terlihat semakin “riweuh” ini juga merupakan salah satu bentuk musyrik yang sekarang sedang in.
6. Beauty. Mengagung-agungkan kecantikan.
7. Takut pada setan. Padahal jelas-jelas yang harus kita takuti hanyalah Allah. Dan setan seharusnya diwaspadai bukan ditakuti.
8.  Uang.
9. Gangster.
10. Benda-benda koleksi.

Lalu apa bedanya kafir dengan musyrik?
Kafir itu adalah mengingkari Allah dan menyembah yang lain.
Musyrik itu adalah menyembah Allah tapi menyembah juga yang lain selain Allah.
Bentuk-bentuk penyembahan itu bisa dicerminkan dalam rasa cinta, rasa takut, rasa harap dan juga rasa pasrah. Jadi kalau ada manusia yang mencintai manusia lainnya melebihi rasa cintanya kepada Allah, itu sudah bisa dikatakan musyrik. Begitu juga dengan manusia yang takut kepada manusia lainnya melebihi rasa takutnya kepada Allah. Begitu juga dengan manusia yang berharap kepada manusia lainnya melebihi rasa harapnya kepada Allah.

Musyrik adalah bentuk kedzaliman yang besar karena meletakkan sesuatu yang bukan pada tempat yang sepatutnya.
Bentuk-bentuk musyrik:
ü  Meminta kepada yang tidak memiliki
ü  Mencintai yang tidak dapat memberikan kebaikan kecuali atas kehendak Allah
ü  Takut kepada yang tak dapat mendatangkan marabahaya
ü  Berharap kepada yang tidak dapat memenuhi harapan
ü  Bersandar kepada yang tidak punya kekuatan dan pasti bakal hilang dan mati

Musyrik Haram Masuk Surga
“Sesungguhnya, barangsiapa mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya adalah di neraka.”
(QS. Al-Maidah: 72)

Hewan saja tidak musyrik. Hewan yang tidak diberikan akal oleh Allah memiliki dua sifat. Dua sifat yang menjadi fitrahnya sebagai mahkluk Allah.
Apa itu?
Pertama, setiap hewan mengetahui rezekinya dan bagaimana cara mendapatkannya. Semut tidak berakal tetapi mereka tahu di mana tempat rezekinya dan dia tahu bagaimana cara membawa gula dan sisa-sisa makanan.
Itu hewan. Kenapa manusia jadi sering kehilangan akal kemudian menuangkan benda, menghalalkan yang haram.
Kedua, setiap hewan itu dapat mengetahui Tuhannya. Sehingga, jika seekor binatang dipukuli, maka ia akan menadahkan kepalanya ke atas langit. Seakan-akan ia memohon pertolongan Allah, seakan-akan ia mengadu kepada Allah.

Untuk itu, kita harus punya daya rasa yang bernama khasyyah. Yaitu daya rasa takut yang disertai pengangungan dan rasa cinta kepada Allah.

LEMBAGA KOMUNIKASI KELUARGA
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.”
(QS. Luqman: 14)

Nasihat selanjutnya adalah berbakti kepada kedua orangtua. Mengapa harus berbakti? Karena tanpa rahim ibu, kita tidak mungkin ada di sini hingga sampai saat ini. Karena tanpa ayah, kita pun tidak akan jadi seperti ini. Atas dasar itu semua, sebetulnya berbakti kepada orangtua adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah. Dan lewat orangtualah Allah memberikan dan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada kita.

Perbedaan anak mandiri dan yang sok mandiri adalah terletak pada ketika ia akan mengambil keputusan. Apakah ia betul-betul menerapkan sunnah atau tidak, seperti istikharah. Kemudian bermusyawarah bersama orangtua. Misalnya dalam memilih teman, sekolah, jurusan. Itulah mengapa bahwa penting bagi anak untuk menjalin komunikasi yang baik bersama orangtua. Orang sukses tidak lepas dari kedekatannya pada orangtua terutama ibu. Coba bedakan anak yang jarang bicara dengan orangtuanya dan anak yang komunikasi dengan orangtuanya baik. Ketika diminta memutuskan sesuatu, anak itu hanya akan mengandalkan keputusannya sendiri atau ikut-ikutan orang lain. Dan begitu tercemplung masalah yang awalnya adalah pilihan dia, orangtuanyalah yang diminta untuk menyelesaikan. Ini namanya anak yang sok mandiri. Anak seperti ini akan memiliki pribadi yang lama dalam memutuskan sesuatu dan suka curhat karena tidak terbiasa berkomunikasi atau bermusyawarah dengan orangtuanya. Bayangkan jika ada petinggi negara yang kerjanya curhat colongan dengan teman se-rekannya atau bahkan kepada rakyat.

Tetapi, bagaimana keadaannya jika orangtua mengajak kepada kebatilan?

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergauilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Luqman: 15)

Orangtua ditaati selama tidak bertentangan dengan Allah. Karena jika mereka tidak beriman, kita mempunyai hak untuk tidak mengikutinya.

“...dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,”
Allah menegaskan kepada kita untuk mencari guru, pembimbing, mentor agar dapat mengarahkan kita kembali kepada Allah.

“(Luqman berkata), ‘Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat atom, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus, Maha Teliti.”
(QS. Luqman: 16)

Innallaha latiifun khabir. Halus di sini bukan mengarah pada hati yang lembus atau halus. Tetapi lebih mengacu pada ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, bahkan yang sangat kecil dan tidak terlihat sekalipun. Artinya, jika ingin berbuat jahat, bermaksiat, berdusta, berzina, janganlah lakukan itu di tempat yang Allah tidak bisa lihat. Carilah tempat terbaik agar kau aman. Dan maka kau sama saja seperti gajah yang mencoba masuk ke lubang jarum. Tidak mungkin ada tempat di mana Allah tidak bisa melihat atau mendeteksi kita. Di bumi tempat kita berpijak, tempat kita hidup adalah milik Allah. Di langit yang luas yang daya grativasinya berbeda dengan di bumi juga milik Allah. Mampukah kita untuk lari dari-Nya? Tidak akan pernah bisa. Oleh karena itu, sekecil apapun dosa yang kita perbuat akan menjadi pertanggungjawaban kita nanti kepada Allah jika sampai saat ini saja kita tidak mau bertaubat. Dan kita tidak akan pernah lepas dari pandangan Allah. Dalam ayat di sini, Allah meminta kita untuk memiliki mentalitas muroqabah, yaitu perasaan diawasi secara melekat oleh Allah.

“Wahai anakku! Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.”
(QS. Luqman: 17)

Tiga pesan hikmah yang ada dalam ayat ini adalah mendirikan shalat, mengerjakan hal amal makruf dan mencegah nahi mungkar kemudian bersabarlah.

“Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”
(QS. Luqman: 18)

Dua pesan hikmah selanjutnya adalah jangan sombong dan jangan berjalan di bumi dengan angkuh.

“Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruknya suara adalah suara keledai.”
(QS. Luqman: 19)

Dari ayat-ayat di atas, kita dapat menyimpulkan dua kategori besar yaitu software dan hardware yang berisi nilai-nilai yang ditanamkan Luqman kepada anaknya, yaitu:
ü  Jangan syirik atau mempersekutukan kepada Allah (software)
ü  Berbakti kepada orangtua (hardware)
ü  Memiliki mentalitas muroqabah (software)
ü  Mendirikan shalat (hardware)
ü  Berjiwa amar ma’ruf nahi mungkar (software)
ü  Berkepribadian penyabar (software)
ü  Berakhlak mulia dan jangan bertindak bodoh dengan kesombongan (hardware), seperti:
·         Tidak memalingkan wajah (akhlak berekspresi lewat mimik wajah)
·         Tidak angkuh dan bersikap sederhana saat berjalan (akhlak gestur tubuh)
·         Akhlak berpola komunikasi yang cerdas


Cerita Tunanetra Penghafal Al-Qur’an
Syaikh Fahd Al Kanderi mewawancarai anak istimewa ini yang bernama Muadz. Seorang anak laki-laki tunanetra penghafal Al-Qur’an dari Mesir yang berusia 11 tahun. Dalam wawancara itu beliau menanyakannya perihal bagaimana ia belajar Al-Qur’an dan kebutaannya.


Semangatnya untuk menghafal ayat-ayat Allah yang mulia membuat langkah kakinya ringan untuk pergi ke tempat gurunya.
“Saya yang datang ke tempat syaikh,” katanya.
“Berapa kali dalam sepekan?” tanya beliau.
“Tiga hari dalam sepekan.” jawabnya.
“Pada awalnya hanya satu hari dalam sepekan. Lalu saya mendesak beliau dengan sangat agar ditambah harinya, sehingga menjadi dua hari dalam sepekan. Syaikh saya sangat ketat dalam mengajar. Beliau hanya mengajarkan satu ayat saja setiap hari,” ujarnya.


Dalam tiga hari itu ia khususkan untuk belajar ayat-ayat suci Al-Qur’an, hingga ia tidak bermain dengan kawan-kawan sebayanya.

Yang lebih mengagumkan adalah pernyataan tentang kebutaannya. Ia tidak berdoa kepada Allah untuk mengembalikan penglihatannya, namun rahmat Allahlah yang ia ia harapkan.

Dengan wajah meyakinkan, anak itu memaparkan alasannya. Bukan karena ia tak yakin kepada Allah, tetapi ia menginginkan yang lebih indah dari penglihatan.
“Semoga kebutaanku ini menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan nanti. Sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Allah akan menanyakan nikmat penglihatan. Apa yang engkau telah lakukan dengan penglihatanmu? Aku tidak malu dengan cacat yang kualami. Aku hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untukku pada hari kiamat kelak.” paparnya dengan tegas.





Mendengar kalimat mulia anak ini, syaikh nampak berkaca-kaca dan airmatanya menetes. Lalu beliau berkata, “Pada saat ini, saya teringat betapa banyak kaum muslimin yang mampu melihat dengan matanya tetapi bermalas-malasan untuk mempelajari kitab Allah, menghafal kitab Allah, Al-Qur’an. Ya Allah, bagaimana alasan mereka besok ketika hari perhitungan itu tiba kepada-Mu?”.


Muadz juga mengatakan bahwa ia terinspirasi dari kaidah Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah, “Allah tidak menutup atas hamba-Nya satu pintu dengan hikmah, kecuali Allah akan membukakan baginya dua pintu dengan rahmat-Nya.” katanya. Kehilangan penglihatan sejak kecil tidak membuat ia mengeluh kepada Sang Pencipta. Ia tidak iri kepada orang lain apalagi kufur nikmat. Justru ia tetap bersyukur dan ikhlas menerima takdir-Nya.

Matanya yang buta tak membuat hatinya buta dalam mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Subhanallah.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah bersabda:
Allah berfirman, “Jika Aku menguji hamba-Ku dengan menghilangkan penglihatan kedua matanya lalu ia bersabar, niscaya Aku akan menggantikan penglihatan kedua matanya dengan surga.” (HR. Bukhari No. 5653, Tirmidzi No. 2932, Ahmad No. 7597, Ad-Darimi No. 2795 dan Ibnu Hibban No. 2932)


HIKMAH DARI NASIHAT LUQMAN
Bersyukurlah Atas Karunia Allah Dan Hormatilah Kedua Orangtuamu, Terutama Ibumu

Ketika masih kecil, kita takut akan kehilangan kasih sayang Ibu. Waktu itu kita pernah memecahkan vas bunga kesayangan Ibu, kemudian takut dan menangis. Kita lari ke Ibu dan memeluk Ibu. Mengapa seperti itu? Karena pada saat kita kecil, kita tidak mau kehilangan kasih sayang Ibu. Tetapi ketika sudah dewasa kita sudah berubah menjadi orang yang bodoh.
Berapa di antara kita yang menuduh Ibu kita jahat?
Berapa di antara kita yang menuduh Ibu kita sentimen?
Berapa di antara kita yang mengatakan Ibu kita jahat gara-gara tidak dikasih uang jajan?
Berapa di antara kita yang menghina Ibu kita?
Padahal benar adanya, ketika kita kecil dulu kalau Ibu marah, kita peluk dia. Tapi setelah kita masuk di sekolah, kita malah menjadi melihat Ibu seperti binatang, melihat Ibu seperti setan. Ini sungguh kekeliruan besar.
Takutnya kita kepada Ibu pada saat itu bukan karena takut dimarahi, tetapi takut kehilangan kasih sayang Ibu.

Kedua orangtua kita adalah perantara dari Allah untuk kita ada di dunia ini.
Kedua orangtua kita adalah perantara yang paling jelas sebagai bentuk rasa kasih sayang Allah kepada kita.
Kedua orangtua itu mewakili kebaikan-kebaikan Allah dengan semua sifat-Nya.
Orangtua kita rela melakukan apa saja demi anaknya.
Jadi kalau melihat orangtua, sebenarnya kita sedang melihat keagungan Allah.

“...Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu,”
  
Bersyukurlah kepada Allah dengan beribadah dan tidak musyrik. Dan bersyukurlah kepada orangtuamu dengan cara hormat, berbakti dan tidak menyakiti.

No comments:

Post a Comment