Visitor

Sunday, January 12, 2014

Tabligh Akbar 2014 Q-Gen Bandung



“Be a Qur’anic Generation and Moslempreuner”

Assalamu’alaikum teman-teman. Alhamdulillah, aku masih diberikan kesempatan untuk menulis dan berbagi bersama kalian semua. Memang aku paling tidak bisa sih kalau tidak menulis kemudian mem-publishnya di blog. Rasanya gimana gitu kalau belum nulis. Sejak 2008 aku sudah aktifkan blog ini. Tapi karena berbagai alasan, akhirnya aku menghapus seluruh postingan blog tahun 2008-2010, hehehe. Jangan tanya mengapa ya.

Oke, kalau begitu aku mulai saja ya ceritanya.


January 10th
20:00 PM, AQL Tebet.
Malam itu cukup dingin rupanya. Angin-angin semilir membuatku ingin segera mengambil beberapa baju hangat untuk menjadi pakaian tambahanku. Bagaimana tidak, hujan tidak juga kunjung berhenti sejak sore kemarin. Aku pun meminta izin ibuku untuk bermalam di AQL. Rencananya aku akan menginap di sana untuk pergi bersilaturahim ke Bandung bersama teman-teman qgen Jakarta esok hari.

Begitu sampai di sana, kulihat tidak begitu banyak orang yang berdatangan. Hanya ada beberapa saja dan mungkin beberapanya itu tidak begitu kukenal. Aku mulai sedikit khawatir. Kemudian aku buang rasa itu dengan shalat Isya yang belum sempat kutunaikan. Seusainya, aku kembali berbicara sendiri dalam hati, “Aduh, ini orang pada ke mana ya? Terus gue bakal tidur dimana ini? Mana kagak ada yang gue kenal lagi. Hadeh, pasti kagak asik dah malam ini.” begitu ucapku dengan logat Betawi.

Semenit kemudian aku mulai mengabari Mbak Astri. Karena khawatir tidak ada yang datang ke AQL malam itu, akhirnya tidak hanya dia, tapi aku menanyakan ke semua teman-teman yang (katanya) akan ikut ke Bandung besok. Beberapa dari mereka ada yang mengatakan tidak bisa menginap. Beberapa yang lain mengatakan “Sabar, lagi di jalan.” dan begitu Mbak Astri muncul bersama adiknya, Puteri, kami memutuskan untuk menginap di kost Mbak Astri. Sewaktu kami akan meninggalkan AQL, aku melihat ada beberapa ikhwan yang menginap di sana. Seperti, Adit dan Kak Mega. Kupikir menjadi laki-laki itu tidak begitu sulit untuk urusan istirahat. Cukup mereka tidur di masjid saja sudah jadi. Kalau perempuan, mana baik begitu?

Sesampainya di kost Mbak Astri, kami berencana untuk segera istirahat. Hanya berselang beberapa menit sebelum kami benar-benar terlelap, tiba-tiba Usamah menelefon, “Mbak Astri, saya sama Fatimah udah sampai di AQL.” ujarnya sambil aku diam-diam menguping. “WHATTTTT?” bola mata Mbak Astri yang tadinya terlihat mengecil karena sudah setengah mengantuk akhirnya membelalak besar. Fatimah datang dengan gaya khasnya. Sudah lama tidak bertemu, rasanya rindu juga. Berhubung tempat tidurnya hanya cukup berdua, Mbak Astri akhirnya mengalah dengan tidur di sofa ruang tamu.

 
January 11th
04:45 AM.
Pagi harinya, kami bangun dan menyempatkan untuk shalat Subuh berjamaah. Mbak Astri menjadi imam untuk aku dan Fatimah. Mbak Astri membacakan Surah Al-Kahfi di rakaat pertama dan Surat Al-Baqarah di rakaat kedua. Walaupun akhirnya aku tahu Mbak Astri seumur denganku, rasa-rasanya aku tidak enak kalau memanggilnya dengan sebutan nama saja. Aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri. Begitupun untuk Fatimah, dia sudah seperti adikku.

Ngomong-ngomong, aku sebenarnya jadi merasa jleb begitu mendengar bacaan Al-Qur'an Mbak Astri. Jujur saja, Al-Baqarah ayat 1 sampai 5 saja aku belum hafal. Malu sekali rasanya. Semenjak itu, aku jadi bersemangat untuk menghafalkan Al-Qur'an. Bagaimanapun, aku ingin menjadi imam untuk teman-teman akhwat dan anak-anak perempuanku nanti, in syaa Allah. Karena selama aku mengimami shalat ibuku, aku hanya berani membaca surat Adh-Dhuha (surat favoritku), Al-Qadr, Surat Yusuf dan Ar-Rahman. Kalau tidak di murajaah dan dilatih sesering mungkin memang sulit untuk menghafal Al-Qur'an.

Kak Novie sudah menelefon berkali-kali. Kami jadi agak terburu-buru untuk jalan ke AQL. Pantas saja Mbak Astri betah berlama-lama di AQL, rumahnya dekat banget. 

Di AQL, kami bertemu Mbak Ega, Mba Anita, Hanifa, Kak Syauqi dan Kak Novie. Cukup terkejut mereka melihat warna jilbabku hari itu: KUNING Q-GEN. Ya, aku memang sempat meminta izin Mbak Astri untuk pinjam jilbab orennya yang syar’i. Jujur, itu pertama kalinya aku pakai hijab syar’i. Ternyata nyaman sekali dipakainya. Kebetulan, Mbak Anita dan Mbak Ega juga pakai nuansa serba oren. Padahal kami tidak janjian. Aku langsung senyum-senyum ke mereka penuh arti.

Karena pagi itu kami belum sempat sarapan, akhirnya aku, Mbak Anita, Mbak Ega, dan Mbak Astri mencari warteg terdekat yang sudah buka. Alhamdulillah, memang perut ini tidak bisa berbohong lagi. Begitu sampai warteg, kami semua merasa bersyukur sekali. Tak sabar untuk menyantap nasi dan lauk pagi itu, hehehe.

Makan pagi kali itu aku ditemani banyak saudari-saudari yang sudah kuanggap benar-benar seperti keluarga sendiri. Padahal mungkin ini hal yang biasa. Tapi buatku sangat berharga. Aku sangat suka kebersamaan seperti ini. Makan bersama sambil cerita-cerita. Ada yang diam-diam habis terus nambah. Ada yang masih malu-malu. Ada yang diam-diam makannya banyak (ini siapa ya? :p). Dan begitulah indahnya kebersamaan. Aku jarang sekali merasakan seperti ini. Biasanya hanya makan bersama ibuku di rumah berdua. Itu pun kalau aku sedang tidak kuliah. Kalau kuliah, pasti ibuku di rumah makan sendiri. Tuh kan jadi curhat.

Selesai sarapan pagi, kami bersiap untuk berangkat ke Bandung. Bismillah, semoga perjalanan kali ini diridhai oleh Allah. Doa kami bersama-sama.


Masjid Pusdai Bandung, 09:30 AM.
Inilah mengapa aku suka sekali dengan Bandung. Suasananya yang dingin dan terkadang hangatnya beda dengan Jakarta. Kami sampai dengan selamat. Teman-teman Q-Gen Bandung menyambut kami dengan sangat hangat. Terasa seperti keluarga yang terpisahkan jauh. Begitulah nikmatnya ukhuwah Islamiyah. Kami pun sangat bangga memiliki saudara-saudara yang sangat bersemangat dalam meneggakkan dakwah Islam. 

Jujur saja, lantai di Masjid Pusdai memang sedikit dingin. Atau mungkin karena aku tidak terbiasa di Bandung. Tapi menurutku, berkumpul di masjid mendengarkan materi-materi tausiyah dari Ustadz Bachtiar Nasir tidak akan membuat kita bosan. Cara penyampaiannya sangat menyenangkan. Pagi itu kami sudah diberikan satu ayat.

“Dan sungguh, telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu ‘Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur kepada Allah maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.’”
(QS. Luqman: 12)

Bersyukur. Mungkin kata itu selalu terdengar setiap saat ketika orang lain memberikan nasihat kepada kita, bukan? Sederhana namun dengan bersyukur berarti kita mencukupkan apa yang kita miliki sekarang dan tidak berlebih-lebih.
Bagaimana caranya kita untuk bersyukur?
Salah satunya adalah dengan terus merenungkan ciptaan Allah. Dan mengingat seberapa banyak Allah menitipkan kita rasa kasih dan cinta-Nya seperti diberikannya orangtua, anak, saudara dan teman-teman. Bersyukurlah jika kita dikelilingi oleh keluarga dan teman yang shalih karena kita bisa mengambil pelajaran dari pengetahuan agama mereka. Dan bersyukurlah jika kita dikelilingi oleh keluarga dan teman yang masih jauh dari keimanan, karena kita bisa menjadikan mereka tempat untuk melakukan perubahan—dalam hal dakwah misalnya. Tentu, bersyukur tidak akan rugi. Malah akan terus mengalirkan nikmat yang Allah janjikan.

Pernahkah kita menyadari bahwa orangtua yang saat ini kita miliki juga merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kita? Allah menitipkan kebahagiaan kecil untuk ibu kita ketika beliau pertama kali melihat kita lahir ke dunia. Betapa besar harapan seorang ibu untuk menjadikan anaknya shalih/ah. Tentu ini bukan menjadi perkara yang mudah. Didikan seorang ibu yang beriman akan membuat anaknya pun takut kepada Allah. Maha Besar Allah dengan segala penciptaan-Nya. Diciptakannya manusia dengan berbagai macam karakter dan sifat yang berbeda. Namun tetap memiliki satu hati yang sama. Satu hati yang pada dasarnya percaya akan kebesaran Allah.  

“Dan ingatlah ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan Allah adalah benar-benar kedzaliman yang besar.’”
(QS. Luqman: 13)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(QS. Luqman: 14-15)

Ilmu agama merupakan nomer satu untuk calon-calon penghuni surga yang lahir dari rahim seorang ibu. Maka dari itu, pendidikan sains, pengetahuan umum, kemahiran, kemampuan dalam berbagai bidang menjadi nomer dua yang seharusnya dipentingkan oleh orangtua. Sebenarnya, pendidikan yang paling baik dari yang terbaik adalah agama. Jika fondasi tersebut sudah tertata dengan sentuhan tauhid, maka in syaa Allah, anak-anak kita akan dijauhkan dari perkara sesat. Peranan orangtua di sini sangat penting. Seperti bagaimana cerita dan nasihat Luqman kepada anaknya. Namun permasalahannya sekarang, bagaimana jika orangtua kita pun tidak memiliki pengetahuan agama yang cukup? Bagaimana jika letak kebenarannya ada pada anak, bukan pada orangtua?

Bolehkah aku mengambil pengandaian cerita berikut ini?

Anggap saja, ada seorang anak dan ibunya yang sedang asyik bercerita di teras rumah mereka. Kemudian si anak menceritakan bagaimana gurunya mengajar di kelas. Dan si ibu ternyata cukup kaget dengan pelajaran-pelajaran yang diterima oleh si anak. Namun sayangnya, karena pengetahuan si ibu tidak begitu menguasai, akhirnya si ibu berkata, “Kamu tuh nak! Dari kecil dirawat baik-baik, dikasih makan, dikasih tempat tidur, semuanya serba lengkap, sekarang begitu sudah besar langsung nasihatin orangtua?! Kau pikir kau ini siapa??! Sudah merasa hebat?” ujarnya ketika amarah mulai memasuki diri si ibu. Lalu si anak menjawab, “Ibundaku tersayang, bukannya aku ingin menasihati dan merasa diri ini sudah pintar. Tetapi aku hanya ingin kita bersama-sama tidak hanya di dunia. Tetapi juga kekal di Jannah. Aku tidak ingin menjadi anak yang dimurkai Allah karena aku mengetahui apa yang benar tetapi aku tidak menyampaikannya. Aku hanya takut itu, Ibundaku.” si anak dengan jujurnya mengatakan hal itu. Betapa tidak mengiris hati kecilku ketika itu pula yang terjadi padaku. Sungguh, kita memang tidak boleh berkata kasar terhadap orangtua. Tetapi kita BOLEH untuk memberitahukan kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Hanya itu saja yang hakiki. Walau kepada orang yang lebih tua dari kita, kita SANGAT WAJIB mengingatkannya. Bahkan ada kata-kata seperti di bawah ini:

“Berbakti kepada orangtua bukan berarti selalu menuruti semua perintah mereka.”

Terkadang, orangtua kita lupa bahwa apa yang dikerjakannya masih atas dasar untuk duniawi saja. Pernah mengalami seperti ini? Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan? Menurutinyakah? Atau memberitahukan yang benar?

Sama seperti kasus di atas yang dalam hal itu sang ibu belum mengetahui mana yang baik dan mana yang belum baik. Si anak berhak memberitahukan yang benar. Kita tidak akan mungkin terus merasa bahwa orangtua kita itu selalu benar. Namanya manusia, tempatnya melakukan kesalahan. Dan doakanlah mereka. Sungguh, karena berdoa untuk orangtua adalah kewajiban bagi setiap anak. Doa orangtua kali itu pun menjadi penutup materi pada siang itu bersama Ustadz Bachtiar Nasir.

Ya Allah, angkatlah derajat orangtuaku, maafkanlah kesalahan mereka, ampunilah mereka, jauhkanlah mereka dari api neraka. Dan jika aku menjadi orangtua nanti, jadikanlah anak-anakku adalah anak-anak yang berbakti dan shalih/ah.
Allahumma aamiin.


Cerita Bakso, Cilok, dan Seblak
Terkadang, dengan sepiring bakso dan aqua botol saja sudah cukup menjadi bukti kebersamaan di antara sesama saudara kita. Awalnya memang aku sudah menanti-nanti si bakso ini. Beruntungnya, Mbak Ega, Mbak Anita, Kak Novie, Hanifa, Fatimah, Puteri dan Kak Syauqi juga sudah tidak sabar ingin mencicipi jajanan Bandung yang ada di sekitar Masjid Pusdai. Rintik-rintik gerimis hujan mengantarkan kami kepada ketenangan dan rasa syukur yang tiada tara bisa diberikan kesempatan untuk makan bersama lagi. Kuharap, kebersamaan dan kekompakkan seperti ini tidak pernah luntur. Melihat Mbak Anita yang baru saja bergabung dengan grup ODOJ (One Day One Juz), lalu ditambah lagi Mbak Syauqi yang diam-diam mengeluarkan Al-Qur’an mininya untuk setoran, Mbak Ega yang masih asik melahap makanan demi makanan, Kak Novie yang begitu bangun dari tempat duduknya melihat belakang bajunya bernoda kena cipratan air, Fatimah yang dari ujung sana sudah memperhatikan seblak yang sempat dibeli Kak Novie, Puteri yang sangat jarang mengobrol dan sekalinya bicara hanya berkata “Syukran” dan Hanifa yang pindah-pindah tempat untuk mencicipi baso dan makanan lainnya yang ada di dua meja.

Suasana seperti itu akan selalu kurindukan. Terlebih lagi, rintik-rintik hujan yang sedari tadi menemani kita membuat suasana berubah menjadi semakin ingin merenung. Betapa Allah ciptakan air hujan dengan kegunaannya untuk menyuburkan tanaman. Bayangkan jika tidak ada air hujan, kering kerontang sudah bumi ini. Dan memikirkan hal-hal seperti itu membuatku semakin tersadarkan, bahwa Allah menciptakan bumi dan seisinya beserta langit tidak dengan tanpa tujuan. Semakin kita mentadabburi setiap ayat-ayat Al-Qur'an, semakin kita tahu betapa lemahnya manusia, semakin kita tahu betapa Allah amat menyayangi kita, semakin kita tahu betapa tidak berartinya hidup kita jika tidak diniatkan untuk Allah.

Membicarakan tentang hujan, secara psikologi, memang hujan yang turun dengan deras maupun rintik-rintik membuat suasana hati menjadi teduh. Mbak Ega sempat bercanda dan mengisyaratkan, "Mungkin di antara kita yang sudah menikah hanya Kak Novie saja. Mumpung hujan, mari berdoa sebanyak-banyaknya." 
Kemudian Mbak Ega menengadahkan tangan, "Ya Allah, mudahkanlah jodoh dan rezeki kami. Izinkanlah kami, untuk bertemu dengan jodoh kami dan menikah di tahun ini...,” lalu Mbak Ega melanjutkan doanya yang detail. 
Hanifa menyelak, “Kak. Doanya nggak boleh terlalu spesifik.”
“Oh iya ya dek? Pokoknya yang penting pengen nikah tahun ini deh.” ujar Mba Ega polos.
Aku hanya senyum-senyum saja sedari tadi. Aku tahu betul mbak-mbakku itu sudah menyerahkan semua keputusan ke Allah. Benar, hanya Allah saja. Karena manusia hanya dapat merencanakan, selanjutnya adalah keputusan Allah. Begitu pula dengan aku yang diam-diam memikirkan “itu” dengan serius. Aku tahu sepertinya umur se-aku ini mungkin belum terlalu siap untuk menghadapi suasana rumah tangga. Tapi terkadang, godaan setan itu sering datang tiba-tiba. Melihat teman-teman yang sudah memiliki calon pasangan, mereka menceritakan bagaimana awal mulanya bertemu dengan si calon jodoh. Lalu mendengar rencana pernikahan mereka yang membuatku berangan-angan, “Terus aku sama siapa?”. Padahal aku tahu jelas itu bukan berdasarkan dari hati kecilku. Tergesa-gesa dalam mengambil keputusan juga tidak baik. Aku hanya berusaha menyerahkan semua itu ke Allah, seperti cara Mbak Ega berikhtiar. Entah kapan aku dan dia akan dipertemukan, entah di mana, entah pada siapa hati ini akan berlabuh, tapi aku yakin dan sangat yakin, ALLAH KNOW BESTS. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Sekalipun aku berkata, “Aku yakin bukan dia orangnya karena dia tidak menyukaiku.” lalu Allah berkata, “Kuun fa yakun!” maka tidak ada yang mustahil—semua pasti bisa terjadi. Lagi-lagi, semua itu tergantung niat, kita, lilaahi ta’ala. 

Percakapan menyeret tentang jodoh dan pernikahan itu segera diakhiri dengan datangnya si cilok. Ya, terlihatlah bagaimana sukanya kami dengan berbagai makanan. Aku jadi ingat waktu sarapan pagi tadi. Nasi dan lauk kuhabiskan dengan lahap di dalam waktu yang singkat. Sontak itu membuat Hanifa dan Kak Syauqi sedikit kaget. Hanifa bahkan meminta bantuanku untuk menghabiskan makanannya... dan HABIS. Alhamdulillah, jangan sisakan makanan ya teman-teman. Nanti mubazir. Kalau ada yang sudah tak cukup perutnya, in syaa Allah aku siap menampung :’D

Karena adzan sudah memanggil-manggil, akhirnya kami ber-delapan kembali ke masjid dengan ojek payung. Ini romantis sekali loh. Rasa-rasanya... ah sudah. Sebaiknya jangan terlalu berandai-andai, lebih baik disegerakan shalatnya, setelah itu kita pulang. Kuharap sih begitu awalnya, hehehe. Walau sebenarnya kata Kak Novie, setelah acara usai, kita akan berkumpul bersama panitia Q-Gen Bandung. Tapi jujur aku sangat senang bisa berkenalan dengan mereka semua. Walaupun sekali lagi, aku tahu, pasti perjalanan dari Bandung ke Jakarta akan memakan waktu yang cukup lama. Dan sepertinya aku tidak mungkin pulang semalam itu. 


AQL Jakarta, 21:00 PM.
Alhamdulillah, kami sampai di Jakarta dengan selamat atas izin Allah. Selama di perjalanan pulang, aku hanya berusaha menahan sesuatu yang sebenarnya sulit. Ya, aku ingin ke kamar mandi, ingin pipis. Udaranya dingin, ditambah lagi aku banyak minum air putih. Aku tidak bisa tidur sepulas Fatimah. Aku juga tidak bisa tidur senyaman Dik Hanifa dan Kak Syauqi yang saling berpelukan. Duh, adik dan kakak yang satu ini selalu berhasil membuatku iri, hehehe. Aku tidak bicara sama sekali. Aku menanti-nanti Jakarta sambil deg-deg-an. Entah kenapa, rasanya aku benar-benar merindukan Jakarta. Sungguh, aku berharap aku bisa bertahan beberapa menit lagi, karena akhirnya aku melihat tulisan “CAWANG”. Wah berarti ini sudah dekat. Dan tibalah kita di Jakarta lalu disusul aku yang langsung mengambil tas dan pakaian untuk kutenteng dan kubawa ke dalam AQL. 

Aku melihat Pipit, rinduuuuuuuuu sekali. Dia sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan baru. Dan di sebelah Pipit ada Kak Acho. Tidak, tidak, yang satu ini aku tidak rindu kok, hehehe. Aku berharap aku bertemu dengan Mbak Dian, Mbak Ratna, atau mbak-mbak yang lainnya. Tapi sepertinya aku hanya melihat mereka berdua saja. Mungkin yang lain sudah pulang. Dan sekali lagi, aku senang bisa berkumpul lengkap bersama mereka. Begitu di Jakarta, rasa rinduku meluak. Kuciumi pipi kiri dan kanan sahabatku itu. Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul lewat dari 21:00. Mataku juga seperti sudah tidak kuat lagi. Aku, Astri, Fatimah dan Puteri akhirnya pulang ke kostan dan kami beristirahat bersama.

Kami akan merindukan bagaimana ukhuwah itu terjalin.
Kami akan merindukan saat-saat kebersamaan dalam kesederhanaan.
Kami akan menangis dan tertawa bersama untuk mengingat itu semua dan menceritakannya kepada cucu atau bahkan cicit kita nanti.
Sungguh, pekerjaan dakwah ini tidaklah mudah.
Aku hanya berharap, kita dapat kembali berjumpa walau tak seberapa lama.
Aku hanya berharap, bahwa setiap perjumpaan-perjumpaan kita ini menyisakan kenangan manis yang tidak terlupakan.
Dan tentunya, semoga Allah senantiasa meridhai perjalanan kita, selalu. Aamiin.

Semangat untuk sahabat-sahabatku di Q-Gen Jakarta, Q-Gen Bandung, Q-Gen Bali, maupun Q-Gen-Q-Gen lainnya di nusantara. Tetaplah beristiqomah bersama. Dan luruskan niat hanya untuk lillahi ta’ala.


ARE YOU Q-GENERS????
YES WE ARE!
ARE YOU THE NEXT LEADER???
YES WE ARE!
ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR! ALLAHU AKBAR!

No comments:

Post a Comment