Visitor

Wednesday, January 15, 2014

Qur'an Story


Qur'an Story of the Day: Al-Qur’an Answered My Questions




Assalamualaikum

Masya Allah! Ini sudah hari ke-berapa ya? Pertama kali aku ikut ODOJ itu pokoknya tanggal 30 Desember 2013, di Juz 17. Dan Alhamdulillah sekarang sudah masuk Juz 4. Sebenarnya aku ingin sekali mengajak sahabat terdekat, saudara dan keluarga untuk membiasakan ber-ODOJ ria ini. Subhanallah, ini benar-benar menjadikan habit yang luar biasa indah. Jikalau saja sejak kecil sudah dibiasakan seperti ini, apa tidak berpengaruh ketika ia dewasa?

“Nak, sudah masuk juz berapakah hari ini?”
“Aku sudah masuk Juz 21, ummi.”
Subhanallah nak. Kalau begitu, ummi besok mau ajak abi sekeluarga untuk tadabbur Surat di Juz 21 ya, nak.”

Anak jangan hanya dibiarkan membaca saja. Justru disinilah letak peranan ummi dan abi untuk mengajak anak berdiskusi, belajar bersama, bertadabbur, dan memperdalam ilmu tentang Al-Qur’an.

Aku paling prihatin sebenarnya waktu melihat ada orangtua yang membiarkan anaknya bermain-main dan berlama-lama di mal, diberikan gadget mahal, diajak ke resto sana-sini, dibebaskan untuk menonton televisi di saat orangtua tidak mengawasinya. Apa itu tidak menjadi bahan pertimbangan orangtua saat ini?

Nah, membicarakan tentang Al-Qur’an, aku ingin bercerita sedikit alasan kenapa sih aku mau bergabung di grup ODOJ, dan apa ODOJ itu?

Jadi, ODOJ itu adalah kepanjangan dari one day one juz—atau bahasa Indonesianya satu hari satu juz. Terdiri dari 30 orang yang masuk dalam list dari juz 1 hingga juz 30. Setiap hari akan di-update siapa yang membaca juz 1 sampai juz 30. Hari berikutnya berlanjut seperti itu. Dan kemungkinan untuk khatam setiap hari itu ada, tergantung dari bagaimana antusiasnya anggota ODOJ dalam mengkhatamkan juz miliknya.

Awalnya aku juga mengira untuk mengkhatamkan 30 juz terasa sulit. Bahkan 1 bulan rasanya tidak cukup. Tapi lewat ODOJ ini, kita merasa seperti keluarga yang saling menyemangati, menasihati, mengingatkan, dan tentunya membagi kebaikan dunia dan akhirat.

Pernah suatu ketika aku bertanya, ya, bertanya sangat dalam kepada Al-Qur’an. Suatu masalah duniawi yang mungkin hampir semua orang mengalaminya. Di surat yang kutemukan di Al-Qur’an menjawab perlahan pertanyaanku, tapi dadaku malah jadi sesak. Seolah-olah aku tak percaya akan sesakit ini rasanya. Tetapi aku yakin, dibalik semua itu Allah pasti menitipkan satu pesan indah. Kemudian kutanya lagi, dan mulailah kutemukan jawaban demi jawaban. Akhirnya aku menemukan suatu ayat yang sangat indah.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kemenangan.”

Aku yakin semua teman-teman sudah sangat hafal dengan Surah Al-Baqarah ayat 186 ini. Ya, ini adalah janji-Nya. Dan janji-Nya adalah benar. Sungguh, ketika aku benar-benar berada di titik terlemahku, kutanamkan dalam hati, kukokohkan azam, kukuatkan keyakinan, bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-hamba-Nya. Dia tidak membiarkan kita terlarut dalam kesedihan. Bagaimana bisa Allah membiarkan orang-orang yang pagi dan malamnya menyebut nama-Nya melainkan Dia bantu terlepas dari masalah dan duka yang mereka hadapi.

Sejak saat itu, azamku untuk bersama-sama membangun cita-cita berjumpa di Jannah bersama saudara-saudaraku kembali kokoh. Al-Qur’an. Dia Al-Qur’an, bawalah dia hingga mati. Jangan tinggalkan dia. Karena Allah akan mencatat, siapa saja yang membawa Al-Qur’an sampai liang kuburnya, dan siapa saja yang meninggalkan Al-Qur’an sampai ia menghebuskan nafas terakhir.



Wassalamu’alaikum

No comments:

Post a Comment