Visitor

Tuesday, January 7, 2014

Aku dan Al-Qur'an

Diriku ini lemah, suka sekali menangis dalam kesendirian. Tiba-tiba teringat sosok ayah, lalu menangis. Dan aku memang begini. Tapi ada hal yang sangat kusuka ketika aku mengenal Al-Qur'an pertama kali. Rasa-rasanya obat segala gundah dan gulana ada di Al-Qur'an. Awalnya aku meragu. Kukira ini hanya 'permainan' belaka. Sungguh, adakah suatu buku yang mampu menghilangkan rasa dukaku? Kurasa tidak ada. Namun, seiring berjalannya waktu, Allah tegur aku perlahan. Aku tahu aku memilikinya. Ya, tetapi entah di mana kusimpan. Bahkan aku sudah lupa. Kutanya pada ibuku yang sedang menjahit baju yang robek. Kemudian, beliau berkata, "Di belakang. Ada yang di gudang, ada yang di lemari."

"Apa??? Gudang? Lemari?"
Hatiku seolah-olah menjerit ketika mengingat kembali ucapan ibuku setahun yang lalu. Aku menyembunyikan ini dari semua orang, kecuali Allah saja yang tahu. Tepat hari inilah aku ingin berbagi dengan kalian.

Ya, dia ada di gudang. Kami punya lebih dari satu. Entah kapan dan dari siapa kami dapat dia. Aku bahkan tidak pernah menyentuhnya. 

Kemudian aku berlari kecil ke gudang belakang yang gelap dan agak bau. Dan aku benar-benar menemukan dia di sana. Kuusap perlahan. Ternyata, penuh dengan debu. Sudah berapa lama kau mengendap di sini, kekasih? Tapi anehnya, aku suka dengan bau ini. Bukan bau debu. Entah namanya apa. Tapi bau ini benar-benar bau yang khas.

Kupegang dia perlahan dan kucoba untuk membersihkannya. Lalu kubuka pelan-pelan. Indah sekali bukan, lihatlah, tengoklah, dia tidak pernah membuatmu kecewa. Tetapi mengapa kau selalu mengabaikannya?

Dia, dia menemaniku malam itu. Meski aku tak tahu bagaimana membacanya, mengejanya, dan apa artinya. Di hari itu, beberapa bulan yang lalu, aku membacanya bersama seseorang yang bersedia mengajariku. Bukan mengajari sebenarnya, kami belajar bersama. Hanya beberapa bulan saja perkenalanku dengan dia. Tetapi sejak pertama kali bertemu aku sudah jatuh cinta. Air mataku berjatuhan perlahan, tetes demi tetes membasahi mukena putih ini. Dan rupanya, aku benar-benar kecanduan dibuatnya.

Sejak itu, aku mulai mencari tahu, apa arti semua ini? Aku tidak mengerti. Dan tibalah ketika aku membacanya bersama artinya. Sungguh, tidak dapat dielakkan lagi aku menangis sangat kencang. Pipiku basah oleh air mata. Aku memiliki dia sejak aku kecil, tetapi aku bahkan tidak pernah mau menyentuhnya. Tidakkah seorang pun di rumah ini perhatian padanya? Aku semakin menangis deras. Rupanya aku tidak kuat menahan rasa haru bercampur bahagia telah dipertemukan olehnya. Aku mengadu kepada Allah. Sungguh, aku berterimakasih karena-Nya kami dipersatukan.

Dua bulan berlalu, aku mulai menyentuhnya sesekali. Ketika aku butuh sesuatu, sedih, merasa sakit dan lain sebagainya, aku adukan itu pada yang lain. Hubunganku dengannya tidak begitu seakrab ketika pertama kali mengenalnya. Dan empat bulan berlalu setelah aku mengalami shock berat, aku mulai mencari-cari lagi dia. Ke mana dia? Ya, dia tidak ke mana-mana. Dia sungguh bersamaku. 

Kemudian kubasuh kembali wajahku yang mulai mengering. Kusentuh dia. Lalu aku bertaawudz. Dan tiba-tiba hujan turun rintik-rintik. Tetesan demi tetesan dari awan yang gelap itu membuat jantungku merasa seperti tertusuk-tusuk. Bukan karena sakit. Tetapi karena aku tidak bisa lagi mengungkapkan bagaimana bahagianya aku saat itu. Aku membacanya. Kucoba untuk pahami artinya. Lalu aku bertemu dengan Surat Al-Mu'minun. Aku membacakan artinya seolah-olah ada seseorang yang memperhatikanku.

"Sungguh beruntung orang-orang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barangsiapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang yang mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. Dan sungguh, Kami telah menciptakan air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang lekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian setelah itu, kamu pasti mati. Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat. Dan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami). Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti kami berkuasa melenyapkannya."
(QS. Al-Mu'minun: 1-18) 

Suaraku tiba-tiba habis. Aku tetap melanjutkannya, tetapi dalam hati. Mataku sudah basah akan air mata. Hidungku kembang-kempis. Mungkin pipiku saat itu memerah karena sesekali aku menghapus air mata yang turun ke pipi. Begitu pula ketika aku membiarkan air mata ini jatuh ke bibirku dan tertelan. Aku berusaha mengatur nafasku yang sedikit terpenggal-penggal.

Lalu aku melirih,

Ya Allah, betapa saat itu aku tidak mengenal-Mu.
Betapa saat itu aku tidak membaca Kitab-Mu.
Betapa saat itu aku tidak melaksanakan perintah shalat.
Betapa saat itu aku tidak melaksanakan perintah zakat.
Betapa saat itu aku tidak memelihara auratku.
Membiarkannya terlihat, terbiasa, dan seperti tak punya malu.
Ya Allah, betapa dekatnya aku saat itu dari perbuatan fitnah.
Betapa dekatnya aku saat itu dari perbuatan maksiat.
Betapa dekatnya aku saat itu dari setan-setan yang membisiki telingaku.
Ya Allah, betapa jauhnya aku saat itu dari Diri-MU.
Betapa jauhnya aku saat itu dari Kitab-Mu.
Betapa jauhnya aku saat itu dari perintah-Mu.

Dan ketika aku tidak mengerti gerakan apa ini, apa yang harus kubaca, mengapa aku tidak merasakan ketenangan, sesungguhnya, saat itu Engkau sedang mendekatkan Diri-Mu padaku. Hingga ketika aku menyadari bahwa inilah saatnya aku untuk bertauhid.

'Asyhadu anlaa illaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah.'

Kemudian aku memejamkan mataku. 
Angin semilir masuk menusuk tulangku. 
Suara itu sungguh syahdu. 
Iramanya membuatku ingin segera mengambil air wudhu. 
Kemudian, isak tangisku merebak di sujud yang panjang dan khusyuk.


Ini adalah ceritaku bersama Al-Qur'an. Perkenalan pertama yang membuatku candu. Aku mulai tak tenang jika belum membacanya. Aku menemukan hikmah dan keteduhan ketika aku sedang dilanda api amarah. Semua bisa teratasi. Urusan duniawi semua ada di sana. Apa lagi yang kau ingin cari?

No comments:

Post a Comment