Visitor

Thursday, December 4, 2014

Apologize

Assalamu'alaykum!




It's been a while since I updated this blog. 


Has it really been over 1 month since my last post?
Well to be fair, I have been busy with various responsibilities.
I'm really sorry for all my dear friends I already read emails but over all, I thanked to you guys.
I appreciated it.
Btw, please make dua for me -- 3 days before of my jyuuken test.
I hope I can pass it all.


Since been awhile not to talk to everyone in school, even my closest friend, somehow I'll become mukuchi.
Oh, I'm not gonna talk, anymore.


Anyway, I hope you guys stay healthy and keep charm even you had a lot of bad thoughts and please smile for just once. It makes you calm :)


I'm studying N2 and N1 Japanese lesson right now. Hows everyone doing? And yes, I got to move to a new book named Hangeul after this section (its just for relaxing my brain uh-oh). I'm interested with Korean, indeed. But as you know, Japanese and Korean are not really different. So, SEIKOU MADE GANBARIMASHO YO :^D




Gomawo, chingu.

Sunday, October 26, 2014

Q&A Edisi 2



Q: Kak, aku mau tanya dari sudut pemikiran kakak, gimana caranya kita menghadapi keadaan sekitar yang tidak sesuai dengan deen Islam?

A: Yang pertama harus dilakukan adalah banyak belajar, banyak menuntut ilmu, banyak berteman dengan orang shalih. Itu perlu banget. Karena, kalau kita 'kosong', kita bisa akan sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan lain. 

Yang kedua, perbanyaklah mengoreksi diri sendiri. Untuk apa? Kalau kita bisa memperbaiki diri, berarti kita juga menghargai diri kita sendiri, berarti kita juga mempunyai keinginan untuk menjadi manusia yang lebih baik -- manusia yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Banyak-banyaklah menyalahkan diri sendiri, bukan dalam arti, diri kita ini selalu salah -- tetapi fokuskan pandangan untuk tidak merasa diri kita paling benar dan banyak-banyaklah memohon ampun kepada Allah.

Yang ketiga, kalau kita sudah yakin dengan ilmu yang kita miliki, datangilah mereka. Setidaknya, jika mereka itu bagian dari keluarga atau teman terdekat, beritahulah dengan lisan yang baik. Tentunya dengan senyum yang ramah dan bukan perkataan yang menyinggung perasaan. Ingat 'kan bagaimana dakwah Rasulullah  صلى الله عليه وسلم, beliau tidak pernah mengajarkan kepada kita untuk bertindak kasar, bukan? 

Nah, kalau ketiga poin di atas sudah bisa dikerjakan, bi'ithnillah kita sudah berada di jalan yang benar -- jalannya Allah. Dan selalu ingat, bahwa Allah mencintai hamba-Nya dengan banyak memberikan cobaan. Jadi jangan heran kalau begitu dicoba, kok sulit sekali rasanya. Betapa mahalnya surga itu.

Wallahu'alam bisshawab. 

Sunday, October 19, 2014

Keindahan Diksi Al-Qur'an


Ketika mendengarkan seorang qari atau qariah yang melantunkan ayat suci Al-Qur’an, kita akan diam sejenak untuk mendengarkannya. Apa yang dirasakan? Tentu rasa nyaman, tenang, dan sampai-sampai rasanya mungkin ingin memejamkan mata. Tapi pernahkah kita sempat terbesit di kepala, sebenarnya apa saja sih keistimewaan Al-Qur’an itu? Mengapa hanya dengan mendengarkannya saja bisa sampai merasa rileks? Itu baru mendengarkan, apalagi untuk orang yang menghafalkannya, atau ahli dalam Al-Qur’an.

Pada kesempatan kali ini, saya akan berusaha merangkum isi dari kajian dengan judul ‘Keindahan Diksi Al-Qur’an’ yang dilaksanakan di Aula Gedung Pusat Studi Jepang, FIB UI Depok pada 27 September 2014. Alhamdulillah, Allah permudah lagi jalan saya untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Tentunya, kita tidak bisa hanya mengandalkan buku dan internet saja ketika sedang belajar. Kita wajib mencari guru, ulama, ustadz, atau orang-orang yang sudah ahli dalam bidang yang ingin kita pelajari atau perdalam. Misalnya, dalam bidang Al-Qur’an. Berarti, kita harus mencari orang-orang yang jauh lebih paham mengenai apa-apa saja yang ada di dalam Al-Qur’an, keistimewaan apa saja yang ada di dalamnya, seperti itu.  

Dan itu pun terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini. Saya penasaran, entah bagaimana saya menjelaskannya. Tapi bahkan saya sempat kehilangan kata-kata atau kosakata untuk menjabarkannya. Saya hanya merasakan bahwa siapa pun kita, dari mana pun asalnya, bagaimana pun masa lalunya, seburuk apa pun dia, ketika Al-Qur’an benar-benar bisa masuk ke dalam hatinya, hal yang dikhawatirkan serta merta hilang begitu saja.

Kejadian-kejadian yang ada di sekitar saya membuat saya sadar, bahwa keinginan kita untuk bisa benar-benar merasakan kemukjizatan Al-Qur’an membuat jalan demi jalan semakin terbuka. Tentunya ini jalan dari Allah ya. Karena Allah selalu berada di setiap kejadian-kejadian apa pun itu.

Pada saat narasumber membuka kajian ini dengan sedikit cerita mengenai hal-hal yang tersembunyi di dalam Al-Qur’an—misalnya, jumlah ayat yang dapat dikaitkan dengan kehidupan kita, atau makna yang sangat dalam—itu membuat pertanyaan saya di atas mulai sedikit demi sedikit terjawab.

Logikanya, kalau kita ingin merasakan keindahan atau mukjizat dari Al-Qur’an—tentu hal yang harus diupayakan adalah membacanya setiap hari. Tapi lihatlah diri kita, tidak perlu tengok orang lain dulu, coba untuk bercermin: Apakah bacaan kita masih banyak kurangnya? Atau masih minimalis? Musiman? Hanya dibaca di saat tertentu saja? Kalau ingat saja? Dan semacamnya. Sehingga itu yang menjadi sulit untuk kita bisa memahami bagaimana sih indahnya Al-Qur’an itu.

Coba sekarang kita buka Surah Al-Fajr.

Luar biasa. Ini salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an yang cocok dijadikan pengantar karena kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah. Kalau kita hitung jumlah hurufnya di surah ini, ternyata sama dengan jumlah detik dalam 1 tahun. Kemudian, total ayatnya sama dengan jumlah hari dari 1 bulan—30 ayat. Di ayat pertama, Allah bersumpah dengan waktu subuh. Kemudian di ayat berikutnya, Allah bersumpah dengan sepuluh hari. Di dalam Islam, ada 10 hari yang luar biasa. Yaitu 10 hari terakhir bulan Ramadhan, 10 hari terakhir bulan Dzulhijjah, dan yang lainnya. Jadi karena itulah Allah jadikan sumpah.

Surah Al-Fajr itu memiliki 3 terminal. Terminal pertama, terkait 10 hari pertama atau terakhir bulan Ramadhan atau bulan Dzulhijjah. Terminal kedua, tentang nasib umat-umat terdahulu yang disiksa karena ibadahnya musiman. Misalnya, ketika nilainya bagus, baca Al-Qur’annya jadi sering. Tetapi jika sedang menurun nilainya, menurun juga keinginan untuk membaca Al-Qur’an. Sebenarnya, tidak ada seorang pun yang hidupnya dari A sampai Z selalu mulus. Ada saja orang-orang yang awal kehidupannya suram, buruk, gelap gulita, tetapi bisa saja Allah tunjukkan dengan cahaya-Nya yang terang. Dan ini masuk di terminal ketiga—yaitu penutupan dari surah ini.

“Wahai jiwa-jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27-28)

Kata Allah, kalau kita mau pulang, silakan. Allah ridha, kita pun ridha. Karena Allah tidak menilai manusia dari masa lalunya saja. Itu bukan menjadi tolak ukur utama. Maka apakah pantas, manusia yang fitrahnya pasti punya dosa, menilai manusia yang lain hanya dari masa lalu gelapnya saja? Contohnya seperti para pecandu narkoba, awal kehidupannya pahit, penuh duka, tetapi akhirnya Allah berikan kesempatan untuk bertaubat, lalu mereka bertaubat. Setelah itu, apakah mereka akan disebut sebagai pecandu narkoba lagi? Tidak. Jika pertaubatan itu sungguh-sungguh, bisa saja Allah ambil, Allah cabut nyawa mereka dalam keadaan khusnul khatimah, ketika sudah bertaubat dan hilanglah sudah keburukan-keburukan masa lalunya. 

Kalau kita sungguh ingin memperbaiki diri, dengan membenarkan shalatnya, merapikan bacaan Al-Qur’annya, siapa tahu Allah pun menutup akhir hidup kita seperti Allah menutup Surah Al-Fajr.


Membuktikan Keistimewaan Al-Qur’an

Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa ada seorang muslimah yang masih sangat muda tetapi sudah mendapatkan gelar doktor. Dialah Nur Azizah berkewarganegaraan Pakistan. Beliau masih berusia belasan tahun ketika lulus S3. SD cukup 1 tahun, SMP 1 tahun, SMA pun 1 tahun. Kuliah S1 40 hari langsung sidang, S2 40 hari dan S3 pun hanya membutuhkan waktu 40 hari. Beliau ini memiliki kecerdasan yang tidak dimiliki oleh anak-anak lainnya. Bahkan ia mampu menghitung ketinggian gunung tanpa menggunakan alat. Jangan heran, jika semua ini bermula dari Al-Qur’an. Ya, beliau ini adalah seorang penghafal Al-Qur’an di usianya yang masih sangat belia. Ia juga mengaku bahwa ia mendapatkan banyak isyarat ilmiah dari Al-Qur’an—seperti rumus kimia dan fisika.

Nur Azizah menjadikan Surah Al-Insyiqaq sebagai bahan disertasinya.

“..dan apabila bumi diratakan, dan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong.”
(QS. Al-Insyiqaq: 3-4)

Kalau kita kaitkan dengan kejadian nyata, sama seperti keserakahan manusia ketika memegang sebuah kekuasaan. Manusia merasa bumi ini milik bersama. Sehingga dengan bebasnya merauk hasil tambang, emas, batu bara yang terus-menerus dikeluarkan untuk hal-hal yang sifatnya duniawi. Sehingga wajar, suatu waktu bumi itu isi perutnya kosong.

Sungguh, jika boleh dikatakan, usia kita ini tidak cukup untuk meriset seluruh keajaiban dari Al-Qur'an. Karena teksnya tepat tetapi maknanya bergerak terus. Karena itu, tidak ditemukan satu kata pun dalam Al-Qur’an yang tidak mengandung unsur polisemi atau maknanya banyak. Sehingga jika kita membacanya hari ini, kita akan mendapatkan makna untuk hari ini. Demikian juga besok, kita akan menemukan makna yang lain. Al-Qur’an itu akan selalu enak dibaca. Maknanya pun sangat elastis. Dari zaman Nabi dulu sampai zaman kita ini, hingga seterusnya, Al-Qur’an itu ya sama saja. Tidak ada yang berubah. Bacaannya seperti itu. Hukum tajwidnya tetap sama. Begitu dilagukan pun tidak ada yang tidak enak didengar. Hanya mungkin metode belajarnya saja yang berubah. Kalau dulu, di masa Rasulullah tidak ada laptop, ponsel, atau internet, kita sekarang beruntung bisa akses Al-Qur’an bahkan di genggaman kita sendiri.   

Jadi, apa saja sih yang ajaib dan hebat dari Al-Qur’an?

Pertama, disebut mukjizat karena dari bagian bahasanya.
Kedua, beritanya.
Ketiga, sejarahnya.
Keeempat, isyarat ilmiahnya.
Kelima, hukum-hukumnya
Keenam, semuanya.

Seperti yang kita ketahui, bahasa Al-Qur’an itu adalah bahasa Arab. Al-Qur’an itu memiliki mukjizat yang sangat banyak. Mukjizat itu artinya mampu menaklukkan. Ketika Al-Qur’an hadir di antara masyarakat Arab yang sedang tertarik sekali membuat sastra atau puisi, sontak itu membuat semuanya terheran-heran. Pada saat itu, para sastrawan ternama menempelkan karya besar mereka di dinding Ka’bah. Namun, Nabi Muhammad mampu memberikan satu hal yang berbeda dari dunia sastra di Arab jahiliyah dulu. Biasanya, sastra Arab itu panjang-panjang kalimatnya. Keindahan pun dilihat dari diksi yang dipakainya. Tetapi, diksi Al-Qur’an pendek, simpel, namun maknanya panjang atau berpolisemi.

Qaf..”
“Apa ini?”
Yaasiin..”
“Wah, apa lagi ini??!”
Alif, lam, raa..

Orang Arab bingung. Nabi Muhammad hanya berkata dari satu huruf ke huruf yang lainnya. Baginda hanya membacakan sedikit dari apa yang ada di Al-Qur’an. Itulah yang membuat mereka semua kaget karena apa yang dilantunkan beliau sungguh dianggap seperti bukan buatan manusia.

Al-Qur’an itu memang menggunakan bahasa Arab. Tetapi bahasa Arab-nya Al-Qur’an dengan bahasa Arab biasa itu berbeda.

Mengapa kitab suci Al-Qur’an bahasanya memakai bahasa Arab? Sedangkan kitab suci lainnya bahasanya menggunakan bahasa masing-masing di setiap negara tersebut?

Karena Islam itu adalah agama yang rahmatan lil alaamin. Kalau rahmatan lil alaamin, berarti kitab sucinya dengan bahasa yang satu harus ada bahasa yang merekatkan seluruhnya untuk menyatukan identitas setiap penganut kitab suci tersebut. Coba kita bayangkan, betapa indahnya orang-orang Muslim yang melakukan shalat berjamaah di Masjidil Haram. Kalau kita keker memakai alat dari jarak beberapa kilometer, terlihat seperti kerumunan manusia yang sedang bersujud kepada Tuhannya. Keteraturan. Kerapihan. Kesamaan. Dan satu lagi, antara perempuan dan laki-laki tidak bercampur. Artinya, ada aturan yang membuat mereka disiplin. Hal inilah juga yang membuat beberapa peneliti di Amerika maupun Rusia tertarik untuk meneliti tentang Islam.

Nah, karena Islam itu adalah agama yang satu, tidak berpecah. Bukan agama yang ada cabangnya, ada akarnya, atau lain sebagainya. Maka, bahasa dari kitab sucinya pun satu. Yaitu, bahasa Arab. Yang merupakan fitrah. Artinya, siapapun yang ingin belajar, pasti bisa. Anggap saja orangnya sudah tua sekali, atau lidahnya tidak bisa berdengung, berqalqalah, atau bersengau—semua itu bisa dilalui karena Allah sudah janjikan kemudahan. Ngomong-ngomong saya pernah membaca sebuah artikel dan narasumbernya memberikan link mengenai orang Jepang yang mampu melafalkan ayat suci Al-Qur’an dengan sangat baik walaupun kita tahu keterbatasan mereka. Ya, orang Jepang itu tidak bisa fasih mengucapkan beberapa alfabet, seperti R, atau -ng dengan sengau. Indonesia, banyak sekali kosakata bersengaunya. Apalagi yang berakhiran R. Tapi buktinya, dengan ketekunan, keyakinan, kemauan dan niat yang sungguh-sungguh, beliau bisa berhasil. Al-Qur’an itu Allah mudahkan untuknya.

Masih mengenai bahasa yang satu—bahasa Arab, lihat juga bagaimana orang Islam di Amerika membaca Al-Qur’an, lalu bandingkan dengan orang Turki, orang Cina, orang India, orang Belanda membaca Al-Qur’an. Semuanya sama. Dengan bahasa Arab. Bukan terjemahan. Ini yang disebut dengan kesatuan bahasa, kesatuan cara beribadah, dan semua ini dilakukan di belahan dunia mana pun dengan cara yang dari dulu tidak pernah berubah.

Tetapi tahukah teman-teman, Injil yang dibaca oleh orang Indonesia itu ternyata bukan hasil terjemahan dari bahasa aslinya—bahasa Ibrani. Tapi terjemahan dari bahasa Inggris, dan bahasa Inggris ini merupakan terjemahan dari bahasa Greek. Greek tidak menerjemahkan langsung dari bahasa Ibrani. Melainkan dari bahasa mesir kuno. Jadi, banyak sekali transitnya. Seperti yang sudah saya pelajari selama belajar sastra, saya selalu menemukan keseleo-keseleo kecil dalam dunia terjemahan. Dan itu baru dari bahasa Inggris ke bahasa Jepang, misalnya. Apalagi ini yang sampai berkali-kali dilakukan penerjemahan sebrang bahasa.

Perhatikan juga bagaimana Al-Qur’an dan hadist memiliki banyak tafsiran. Ada yang menafsirkan ayat dengan ayat, ada juga yang ayat dengan hadist. Mengapa seperti itu? Tentu ini karena disebabkan oleh unsur polisemi.


Bahasa Al-Qur’an

Tidak ada seorang pun yang bisa menandingi keindahan Al-Qur’an. Ia bisa dipelajari oleh siapapun. Namun yang membedakannya adalah mendapatkan hidayah atau tidak. Narasumber mengatakan bahwa beliau pernah mendengar cerita dari sahabatnya. Saya tidak begitu dengar siapa namanya. Hanya saja, orang ini bukan orang Indonesia. Dan dia mempelajari Islam sudah lama. Ia juga menghafalkan ayat-ayat Al-Qur’an. Namun tahukah teman-teman, orang tersebut bukanlah seorang Muslim. Ya, begitu ditanya mengapa engkau tidak masuk Islam saja? Ia menjawab, “Khatamallahu alaa quluu bihiim wa aala sam ihim. Wa alaa absorihim gisyaawahu.” artinya, Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup.

Khatam dalam bahasa Arab mengandung arti seperti sudah ditutup atau stampel. Allah menggunakan kata khatam dalam ayat di atas karena mengandung makna sudah ditutup. Seperti stempel yang sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Namun berbeda dengan kata khusnul khatimah—yaitu buku atau gerbang yang ditutup tapi bisa dibuka lagi. Mengapa? Karena begitu kita meninggal nanti akan ada saatnya kita dibangkitkan kembali. Tapi kalau khatam sudah tidak ada lagi. Jadi, diksi yang dipakai Allah pada kata khusnul khatimah adalah khatim bukan khatam.

Di dunia ini, manusia bisa saja menutupi kesalahan atau aib dari orang lain. Tapi, belum tentu ketika di akhirat. Bisa saja Allah buka kembali sehingga manusia lainnya bisa mengetahui aib-aib yang sudah ditutup di dunia.

Tahukah teman-teman, bahwa bahasa Arab itu sangat luas loh. Saya yang baru pemula 3 bulan saja sudah merasa berat sekali. Mulai dari verbanya yang terdiri dari 12 juta jenis. Seperti fa ala-yaf ulu-fa’la-fa’lan dan lain sebagainya. Semua jenisnya 12 juta dan itu baru huruf yang sehat yang tidak ada alif, wa dan ya. Bentuk morfologisnya terdiri dari 120 bentuk. Dari fa ala berubah menjadi 1250 bentuk. Sehingga wajar bahasa Arab di Al-Qur’an memiliki polisemi dan kalimat yang sangat anggun.

Namun, sesulit apa pun dan seberat apa pun cobaannya, bagi dia yang ingin bersungguh-sungguh untuk mempelajari Al-Qur’an atau bahasa Arab, Allah pasti akan mudahkan. Kalau Allah mudahkan, berarti logikanya, sebenarnya sulit. Tapi, Allah mudahkan. Nah, kalau sudah dimudahkan, berarti ada keterlibatan Allah di sini.

Sedikit cerita dari narasumber. Suatu saat Ibnu Mas’ud pernah didatangi oleh kawannya. Ia mengaku sedang galau dan ada masalah. Dan pada saat itu Ibnu Mas’ud hanya memberikan saran dengan 3 langkah. Pertama, bacalah Al-Qur’an. Jika belum selesai masalahnya, langkahkan kaki ke majelis Al-Qur’an—pelajari dan kajilah Al-Qur’an. Tapi, kalau belum selesai juga masalahnya, datangi Allah, cari waktu untuk berdua dengan Allah di saat semua orang sedang tertidur. Dan, kalau belum selesai juga masalahnya, mohonkan kepada Allah untuk meminta digantikan dengan hati yang baru. Karena hati yang seperti itu sudah tidak bisa lagi digunakan dan harus segera diganti.


Penjagaan Al-Qur’an

Al-Qur’an sudah Allah jamin penjagaannya. Jadi, kalau untuk ditanyakan kemukjizatannya, jangan sebut hanya untuk obat kesurupan atau ketika sakit bisa diruqyah. Karena itu adalah bagian terkecil dari apa yang bisa dilakukan oleh Al-Qur’an. Intinya, mukjizat Al-Qur’an itu terbagi dari bahasanya, bagaimana ragamnya, kosakatanya. Kemudian juga dari isyarat ilmiah. Al-Qur’an itu bukan ilmu pengetahuan, tetapi yang ada di dalamnya terdapat isyarat-isyarat ilmiah yang bisa diteliti. Contohnya di Surah Ar-Rahman mengenai 2 lautan yang tidak bercampur, yang satu asin, yang satunya lagi tawar. Dan yang terakhir adalah berita-berita ghaib yang sudah terbuktikan. Yaitu adanya cerita di dalam Al-Qur’an tentang raja besar Fir’aun, kaum Tsamud, dan juga kerajaan Saba. Dari sekian banyak atas apa yang disampaikan oleh Al-Qur’an, kebenaran sudah teruji 80% dan sisanya masih menunggu karena ilmu kita mungkin belum sampai. Apakah dengan pembuktian seperti itu pun masih membuat raga dan jiwa kita ragu untuk meyakininya?

Sebagai penutup, saya meminta teman-teman semua untuk membuka Al-Qur’annya Surah Al-Qamar ayat 17, 22, 32 dan 40.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?”

Ayat ini diulang sebanyak 4 kali oleh Allah sebagai penekanan. Sama. Ayatnya sama. Hanya diulang saja. Seperti yang sudah pernah saya sampaikan di materi sebelumnya, dalam bahasa Arab itu, ketika kita mengulang lalu mengulang lagi berarti artinya adalah penekanan. Allah menekankan ke kita semua, tidak adakah yang ingin mengambil pelajaran dari Al-Qur’an? Berapa banyak orang yang meninggalkan atau menyepelekannya sehingga Tuhan mereka berganti menjadi harta, jabatan, uang, bahkan wanita?


Sumber:
Dr. Abdul Muta’ali, M.A., M.I.P.

Ust. Muh. Barqun, S.Q., M.A.

Wednesday, October 8, 2014

Q&A Edisi 1

Dear sahabat kesayangan, saya lagi buka forum Q&A secara private di e-mail nih. Mungkin kalian yang punya pertanyaan seputar Islam, saya akan coba jawab di sini dan saya akan coba jelaskan secara rinci. Ini ada satu pertanyaan yang masuk dan maaf saya tidak sebutkan namanya. Oke, untuk teman-teman yang ingin pertanyaannya masuk di blog saya, boleh langsung e-mail ke: 

lydiaoktariani@gmail.com 


Ditunggu. Kirim yang banyak ya :D



Q: Kenapa sih, Islam itu aturannya banyak dan ketat? Kenapa juga Islam membolehkan penganutnya makan daging kurban (sapi dan kambing), tapi babi tidak boleh?

A: Oke saya akan coba jelaskan menurut yang saya tahu ya. 

Pertama, daging babi itu menampung beberapa jenis cacing dan bakteri penyakit. Ada cacing pita, cacing spiral, cacing tambang, bakteri TBC, virus kudis, bakteri kolera, parasit protozoa balantidium coli dan masih banyak yang lainnya.

Kedua, daging babi itu terlalu empuk. Jadi daging babi mengandung banyak lemak yang mengakibatkan sulit dicerna. Akibatnya, zat gizi tidak dapat dimanfaatkan tubuh. Selain itu daging babi juga banyak mengandung kolesterol yang nantinya bisa menyebabkan penyakit stroke dan jantung.

Ketiga, menurut Prof. A. V. Nalbandov (penulis buku Adaptif Physiology on Mammals and Birds) mengatakan bahwa kantung urine babi sering bocor. Sehingga bisa merembes ke dalam daginya. Akibatnya, daging babi tercemar kotorannya sendiri yang seharusnya dibuang bersama urine.

Keempat, babi merupakan pembawa penyakit flu burung dan flu babi.

Kelima, di dalam tubuh babi, virus H1N1 dan H2N1 yang semula tidak ganas dapat bermutasi menjadi H1N1/H5N1. Virus ini sangat berbahaya dan dapat mematikan di tubuh manusia. 

Keenam, research ilmiah di Cina dan Swedia menyimpulkan bahwa daging babi merupakan penyebab utama kanker anus dan usus besar. Selain itu, memakan daging babi juga bisa menularkan cacing pita yang dapat berpindah ke manusia. Ini dapat mengakibatkan pengerasan urat nadi, naiknya tekanan darah dan nyeri dada yang mencekam.

Ketujuh, fakta tentang hewan babi salah satunya adalah babi memakan semua apa yang dilihatnya di depan mata, kemudian jika sudah kenyang dimuntahkan, lalu dimakan lagi. Bahkan babi juga memakan kotorannya sendiri. 

Dan kalian tahu? Cacing-cacing bahkan telurnya yang ada di dalam daging babi ini tidak akan mati meski daging dimasak dalam suhu 100 derajat celcius. Terdapat juga parasit yang terbentuk seperti butiran-butiran telur dalam usus babi. Parasit fascioleplis buski hidup di usus halus babi dalam waktu yang lama. Ketika terjadi percampuran antara usus dan tinja, parasit ini akan berada dalam waktu tertentu yang bersifat cair yang bisa memindahkan penyakit pada manusia.

Nah, untuk membuktikannya bahwa di dalam daging babi itu banyak mengandung cacing/parasit yang berbahaya, boleh di cek di link berikut ini:


Dan sadarkah kita bahwa hewan babi itu tidak mempunyai leher? Ya, saya sendiri juga baru menyadarinya. Jadi, bagaimana bisa disembelih jika tidak ada leher? Dan dari semua penelitian-penelitian mengenai fakta hewan babi yang dilakukan di beberapa negara besar, seperti: Amerika, Cina, Prancis -- mengatakan bahwa daging babi adalah daging yang sangat tidak baik jika dikonsumsi oleh manusia. 99% mengatakan hal yang sama. Para dokter, ahli medis, peneliti pun setuju dengan kebenaran Al-Qur'an yang sudah ada dari berabad-abad yang lalu.

Allah sudah menjelaskan tentang haramnya daging babi jauh sebelum penelitian-penelitian modern itu ada. Dan apa pun yang Allah minta kita untuk menjauhinya, pasti akan berdampak baik untuk kita. Begitu pun sebaliknya jika Allah meminta kita untuk melakukan ini, melakukan itu, adalah atas dasar ilmu-Nya yang tidak bisa disamakan oleh kemampuan berpikir dan nalar kita. Allah mengharamkan daging babi karena Allah tahu itu akan sangat berbahaya bagi kita ketika mengkonsumsinya. Juga, Allah pun tahu daging sapi dan daging kambing baik untuk kita makan oleh sebab itu Allah tidak mengharamkannya. 

"Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur'an? Kalau kiranya Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya."
(QS. An-Nisa: 82)

Sungguh, Allah itu sayang sama kita. Makanya, kita nurut saja sama aturannya Allah. Segala apa pun yang Dia perintahkan, pasti mengandung hikmah. Tapi kalau kita masih mau melanggar apa yang dilarang-Nya, tunggu saja sampai kita benar-benar menerima akibat buruknya. Seperti pada contoh yang tadi, memakan daging babi misalnya.

Jadi, walaupun kelihatannya Islam itu banyak aturan, banyak mengekang, sebenarnya itu adalah cara Allah menjaga kita. 

Sama seperti orangtua dan anak. 

Misalnya, orangtua membebaskan anaknya main ke mana saja, pulang jam berapa saja, berteman dengan siapa saja. Nah, si anak ini kesenengan. Akhirnya dia pulang tengah malam, habis dari diskotik, minum alkohol sama teman-temannya dan mabuk bersama. Orangtuanya santai saja. 'Kan sudah dibebaskan. Beberapa bulan kemudian, si anak sakit parah. Karena apa? Ya, karena tidak punya aturan itu. Akibat dari minum alkohol, berteman dengan orang-orang yang suka main ke diskotik, pulang tengah malam jadi sering masuk angin, bajunya pendek-pendek digodain laki-laki. 

APA ITU YANG DINAMAKAN KASIH SAYANG?

Beda sama Allah. Allah minta kita untuk memakai hijab bagi perempuan yang sudah baliq. Kalau Allah tidak sayang, Allah tidak akan minta kita untuk berhijab dan membiarkan kita memakai baju sesukanya (mau pendek, sempit, ketat) dan mungkin juga akan membiarkan kita untuk menonjolkan diri ke publik (konsumsi laki-laki) misalnya dalam ajang kecantikan. TAPI APA? ALLAH TIDAK SEPERTI ITU. Allah minta kita berhijab yang menutupi seluruh tubuh kecuali bagian wajah dan telapak tangan. Allah juga minta kita untuk tidak menonjolkan diri di hadapan publik. Untuk apa kita berada di atas catwalk? Mau pamer kecantikan? Mau jadi konsumsi masyarakat? Saya toh justru ngelihatnya jadi agak menyayat hati. Soalnya, disitu wanita terlihat seperti permen lolipop yang dikerubungi lalat. 

Dan begitulah cara Allah menjaga kita dari hal yang buruk.



Wallahu'alam bisshawab. 

Fenomena Indigo

"Saya mulai merasa banyak yang berdatangan di sini. Sepertinya, mereka mulai memasuki ruangan kita."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?"

"Banyak cara, mulai dari berdoa, menahan energi dari dalam, dan masih banyak lagi."

"Sebenarnya, dengan sixsense itu kita bisa mendapatkan jodoh dan rezeki. Jadi, kita bisa manfaatkan kemampuan sixsense itu untuk karir kita. Memang banyak sih orang-orang yang punya sixsense mau berhenti kayak gitu. Tapi, ada efek sampingnya. Ya itu tadi, jauh dari jodoh."



Assalamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Sahabatku semua, izinkan aku hari ini untuk menulis sebuah artikel yang berhubungan dengan indigo. Kebetulan, memang aku sedang iseng ganti-ganti channel di TV. Nah, habis itu aku lihat deh tayangan-tayangan yang seperti 'itu'. Bukan karena apa yang mereka katakan saya 'iya'-kan. Tapi, justru saya ingin mengulas dan kembali me-refresh materi yang Abi Bachtiar pernah sampaikan ke kami. Tema kali ini sangat menarik. Dan aku mendapatkan ide untuk menulis artikel ini setelah menonton tayangan itu. Semoga saja Allah berikan banyak kemudahan untuk kita bisa menerima ilmu yang bermanfaat ini. Aamiin.

Prolog di atas merupakan perkataan yang kira-kira banyak diucapkan oleh para si 'peramal'. Waktu itu kami (aku dan sahabat-sahabatku) pernah dijelaskan oleh beberapa guru kami di AQL tentang penghafal hadist palsu. Ya, justru beliau itu mendalami hadist-hadist dhoif. Cara ini efektif sekali untuk kita bisa membedakan mana yang dhoif dan mana yang shahih. Begitu pun juga dengan 'aksi'-ku, hehehe. Aku memang iseng nonton tayangan ini karena aku ingin tahu apa saja sih yang mereka lakukan. Dari ucapannya, dari perilakunya, dari sikap yang ditunjukkan, semua itu membuat aku ingin lebih mengetahui dalam-dalam apa sebenarnya indigo itu.

Pertama, kita harus ingat bahwa yang dapat atau mampu melihat sesuatu yang ghaib adalah orang yang memang dipilih Allah untuk bisa melihat itu. Salah satunya adalah Rasulullah shalallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bisa melihat malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu Allah. Dengan demikian, orang-orang yang bisa melihat sesuatu yang ghaib (indigo) adalah mereka yang diberikan kemampuan untuk melihat jin.

Kedua, jin yang mereka lihat itu bisa berubah bentuk. Bisa menjadi manusia, atau makhluk lainnya. Tetapi pada dasarnya, jin itu tidak bisa dilihat oleh kasat mata kita. Sebaliknya, mereka bisa melihat aktivitas manusia. Sebagaimana firman Allah:

"Sesungguhnya dia (iblis) dan kabilahnya (semua jin) bisa melihat kalian (manusia) dari suatu tempat yang kalian (manusia) tidak bisa melihat mereka (jin)."
(QS. Al-A'raf: 27)

Namun, kita harus ingat, bahwa jika ada orang yang mengaku bisa melihat jin, membaca pikiran, apalagi memprediksi masa depan, janganlah kita takut atau merasa was-was dengan kemampuannya. Justru, sebagai sesama saudara muslim kita harus mengingatkan bahwa indigo bukan hal yang membanggakan. Sebaliknya, memprihatinkan. Harus ada yang dilakukan untuk bisa memberhentikan kemampuan itu. Karena jika dibiarkan terus-menerus, jin yang dekat dengannya akan semakin senang dan tidak mau berpisah dengan orang indigo ini.

Ketiga, banyak cara yang bisa dilakukan agar kita tidak masuk dalam perangkap indigo. Beberapa saudara muslim justru malah ingin bisa melihat setan atau jin. Tapi mereka tidak sadar bahwa apa yang mereka inginkan itu justru bisa menyesatkan jiwanya. Tugas kita adalah terus mencari ilmunya dan beritahu mereka pelan-pelan.  

"Suatu ketika Ubay pernah menangkap jin yang mencuri makanannya. Ubay bin Ka'ab berkata kepada jin: 'Apa yang bisa menyelamatkan kami (manusia) dari gangguan kalian?' si jin menjawab: 'Ayat kursi. Barangsiapa yang membacanya di waktu sore, maka ia akan dijaga dari gangguan kami hingga pagi. Dan barangsiapa yang membacanya di waktu pagi, maka ia akan dijaga dari gangguan kami hingga sore.' lalu paginya Ubay menemui Rasulullah shallahu 'alaihi wa sallam untuk menuturkan hal itu. Dan beliau menjawab: 'Si buruk itu berkata benar.'" 
(HR. Hakim, Ibnu Hibban, Thabarani dan lainnya, Albani mengatakan: Sanadnya Thabarani Jayyid)


Bagaimana Indigo Terjadi?

Sebagian ahli medis menyebutkan bahwa anak indigo mengidap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), semacam gangguan perkembangan dan keseimbangan aktivitas motorik seseorang sehingga menyebabkan aktivitasnya tidak lazim dan cenderung berlebihan. Jadi, orang indigo itu, siapapun dia, tetaplah manusia. Dia tidak akan melampaui batas kemampuannya sebagai manusia. Karena manusia itu lemah dan butuh Allah, jangan sampai manusia merasa sudah hebat dengan kemampuan dirinya sehingga melupakan Allah yang menciptakan dirinya.

Jadi intinya, orang indigo itu bukan melihat jin. Tetapi jin-lah yang menampakkan dirinya. Sehingga ia bisa melihat wujud yang ditunjukkan jin tersebut. 

Catatan tambahan yang penting disebutkan. Kejadian orang indigo itu sejatinya adalah kondisi yang tidak normal. Baik karena sebab ADHD atau pun melihat jin. Karena normalnya manusia, dia hanya bisa berinteraksi dengan sesuatu yang bisa memberikan respon kepadanya. Oleh karena itu, sebaiknya datangi perukyah-rukyah syar'i untuk bisa menyembuhkan penyakit indigo tersebut.

Nah, teman-teman, mungkin hanya itu sedikit ulasan yang bisa aku simpulkan mengenai indigo ini. Jika masih banyak kekurangan, mohon dimaafkan ya. Karena ini juga menulisnya sudah tengah malam. Untuk saran saja, sebaiknya kita memulai aktivitas apa pun itu dengan perbanyak bismillah dan dzikrullah. Bisa ayatul kursi, membaca 3 surah terakhir, tersenyum dan biarkan semuanya mengalir mengikuti skenario indah Allah. 

Salaam. 

Tuesday, October 7, 2014

:)

Salaam everyone :D

I'm really sorry for the lately post hehe. Rencananya sih saya ingin nulis sesuatu di blog beberapa hari yang lalu, tapi rupanya belum sempat. 

Tepat di hari ulang tahun saya yang ke-22, 2 Oktober 2014.
Saya dikasih kejutan nih sama si Adik Indah. Saya juga tadinya nggak begitu sadar kalau saya lagi ulang tahun hehe. Rupanya dia benar-benar perhatian sama saya. Indah main ke rumah saya dari Depok naik kereta turun di Cawang dan lanjut lagi naik Transjakarta ke Grogol 2. Jauh ya? Ya, begitulah.

Tapi, biarpun jauh, rasanya akan sangat lega dan puas ketika kami sudah saling bertemu. Tidak seberapa jauhnya itu, melihat niat baiknya, saya pun terharu. Dia juga begitu menyayangi kucing-kucing saya: Dona, Shushu dan Sacha. Kehadiran anak-anak Dona di tengah kami membuat semuanya menjadi lebih seru. 




23 September 2014

Pertama kali Indah bertemu Dona, ngga bisa lepas Donanya dipegangin terus. Seneng deh melihatnya. Ini, saya juga sempet fotoin mereka. 




Selain bermain bersama kucing-kucing, kami juga banyak bercerita mengenai kehidupan masing-masing. Memberikan masukan, berbagi pengalaman, dan masih banyak lagi. 

Disimpan dulu ya cerita yang berikutnya. Sampai ketemu lagi.

Sunday, September 14, 2014

Mari ‘Bercanda’ Dengan Allah



Pernah tidak teman-teman merasa seperti ini.

Ketika ingin sesuatu, teman-teman berdoa dan melakukan banyak ibadah untuk menunjang doa teman-teman agar dijabah. Setiap kali berdoa, selalu serius dan lama. Tapi, kenapa ya kayaknya Allah belum juga menjawab doa yang satu ini?

Pertanyaan mulai muncul satu per satu.

Apa mungkin ada yang salah dalam diri saya?
Ataukah saya masih ada hutang dosa yang belum dibayar?
Atau memang Allah belum mengizinkan?
Ah, bingung...

Nah, pada kesempatan kali ini, saya ingin sedikit memberikan satu gambaran tentang bagaimana cara Allah mengabulkan doa kita. Dengan cara-Nya, yang tidak diduga-duga. Mudah-mudahan dari cerita ini bisa menjadi inspirasi teman-teman semua untuk lebih yakin dengan ‘cara’-Nya.

Begini. Jujur saja, beberapa dari teman saya sering sekali cerita tentang pengalaman mereka selama mengenal Allah. Sudah sejauh mana mereka mengenal Allah? Dan apakah mereka benar-benar sudah merasa dekat dengan Allah?

Di saat dekat dengan seseorang, pasti kita akan merasa nyaman dan tidak mau jauh-jauh dari dia. Sedih maupun senang, berbagi cerita. Tentu seperti itu yang akan terjadi, yang akan terbangun ketika kita sedang bersama sahabat. Begitu juga dengan Allah. Kalau kita ingin dekat sama Allah, kita harus sering ngobrol dan curhat apa pun masalah kita ke Dia. Bukankah kita ini membutuhkan Allah? Kita bukan apa-apa loh tanpa-Nya. Dan hebatnya, Allah itu tidak pilih-pilih. Dia membantu siapa pun yang meminta kepada-Nya—tanpa pandang bulu. Mau hamba-Nya itu datang hanya setahun sekali, atau hanya datang pada hari Jum’at saja, Allah tetap bantu.

Masih tidak percaya?

Coba perhatikan cerita berikut ini ya.


---

Salam. Nama saya, sebut saja Bunga. Saya kuliah di Universitas A. Dan saat ini saya sedang menulis skripsi sebagai prasyarat sidang. Beberapa tahun yang lalu, saya pernah berkenalan dengan seorang pria bernama, sebut saja Daun. Dia baik sekali dan banyak menginspirasi saya. Diam-diam saya menyukainya. Tapi, namanya juga manusia, pasti pernah khilaf. Ya, saya pernah melupakan Allah untuk urusan cowok ini. Gegara saya suka sama dia, saya jadi jarang sekali curhat ke Allah. Curhatnya ke dia melulu. Mungkin Allah marah, atau Allah sedang rindu curhatan saya.

Nah, karena semakin akrab, saya dan dia memutuskan untuk menikah. Di saat semua persiapan sudah disiapkan, tiba-tiba orangtuanya tidak setuju karena beberapa alasan. Saya shock bukan main. Allah benar-benar ‘marah’, pikir saya begitu.

Karena stres dan frustasi, akhirnya saya memutuskan untuk menyendiri beberapa waktu. Saya tidak mau diganggu. Sekalipun itu dia yang menghubungi.

Tidak berapa lama setelah kejadian itu, tiba-tiba hujan deras. Hanya selisih beberapa jam setelah hujan, saya melihat sesuatu yang indah di tepi jalan. Ya, itu pelangi! Pertama kalinya saya melihat pelangi seindah itu. Indah sekali. Saya tersenyum melihatnya. Dan kembali teringat oleh sosok yang pernah menginspirasi saya sejauh ini. Jujur saja, saya tiba-tiba kangen. Kangen akut pokoknya. Bukan kepada dia yang kini sudah pergi. Tapi, saya rindu ‘bercanda’ dengan Allah.

Berbulan-bulan berlalu. Dan akhirnya...

Siang itu saya memutuskan untuk membeli sesuatu yang bisa diberikan dan berguna untuk orang lain. Siapa lagi kalau bukan si Daun. Ya, saya datang ke kampusnya diam-diam. Sepanjang perjalanan, saya cuma ngobrol sama Allah. Habisnya saya sudah rindu banget sama Dia. Sudah berapa lama saya tinggalkan Dia?

“Ya Allah...
Kayaknya saya sudah lama banget nggak seperti ini. Saya rindu. Sungguh deh.
Tapi ya Allah...
Engkau kan tahu, hari ini saya bawa Al-Qur’an untuk saya kasihkan ke si Daun. Bantu saya ya Allah. Saya mohon sekali. Saya kepengen banget nih ngasih Qur’an ini ke dia. Siapatahu ini bisa mempermudahnya menghafalkan Al-Qur’an.”

Saya ngomong dalam hati. Cukup Allah dan saya saja yang tahu. Dan itu sangat menyenangkan. Main rahasia-rahasia-an sama Allah itu seru, beneran loh. Nah, terus akhirnya saya pergi ke suatu tempat yang paling bisa buat saya tenang. Ya, apalagi kalau bukan mushola. Saya shalat dulu deh di sana. Tenang banget. Agak sepi sih jamaahnya.

Selesai shalat, saya ngobrol lagi. Akrab banget.

“Ya Allah, dulu, saya songong banget ya dan merasa yakin kalau si Daun itu jodoh saya. Padahal saya belum minta restu-Mu. Bagaimana bisa terjadi pernikahan kalau tanpa restu-Mu?

Hari ini...
Ya...
Hari ini saya datang lagi kepada-Mu. Saya tahu kemarin-kemarin itu salahnya saya. Dan saya baru sadar sekarang.  

Ya Allah, boleh tidak saya minta sesuatu? Gampang kok. Begini, pertemukan saya dengan si Daun ya, ya Allah. Di manapun lokasinya, yang penting di kampus ini deh. Saya cuma pengen ngasih Qur’an ini doang kok. Habis itu saya pulang deh. Gimana, ya Allah? Boleh nggak? Boleh, ya? Hehe.”

15 menit berlalu. Saya jalan ke dekat perpustakaan tanpa berpikir apa-apa. Di ujung jalan sana, tiba-tiba kaki saya lemas bukan main. Bagaimana tidak, baru beberapa menit yang lalu setelah saya ‘bercanda’ sama Allah, eh, tahu-tahunya mata saya melihat ke sudut ruangan yang di sana berdiri seorang pria memakai jaket hitam. Dia itu si Daun!!!! Iya, beneran. Allah yang gerakkan kaki saya ini ke dekat perpustakaan dan akhirnya berhenti di beberapa langkah setelah melihat si Daun. Karena saya masih kaget, akhirnya saya kembali berjalan menjauhinya. Lagi-lagi, saya ‘bercanda’ sama Allah.

“Yang tadi itu... beneran ya Allah?”

Saya jalan lagi menelusuri anak tangga. Tanpa pikir panjang, saya menyebrang ke dekat masjid. Loh. Loh. Kok saya malah ke masjid? Bukannya saya tadi sudah shalat? Saya juga bingung nih, kenapa saya ke masjid ya? Padahal tadi tidak mikir mau lewat sini.

Ternyata, saya baru sadar, inilah cara Allah. Benar-benar murni bukan karena kesoktahuan saya. Ini yang gerakkan Allah. Begitu saya jalan mendekati lobi masjid, saya tiba-tiba terhentak dan mata saya tertuju pada satu titik.

Titik itu adalah titik di mana saya bisa merasakan kedamaian seperti ketika saya mengenal si Daun. Bukan karena saya telah jatuh cinta, tapi karena saya kagum sama kuasanya Allah. Bagaimana tidak, Allah nitipin si Daun sama saya beberapa tahun. Setelah itu, saya jauh lebih mengenal Allah dan lebih dekat lagi. Karena ‘titipan’ itu, saya bisa menjadi seperti yang sekarang.

Kaki saya 100x lebih lemas daripada yang tadi. Yang pada saat saya ketemu si Daun di dekat perpustakaan. Bedanya, waktu itu dia tidak lihat saya. Tapi, kali ini, di dekat masjid, kami saling bertatap-tatapan.

Masih dalam suasana tidak percaya, saya menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang ia lontarkan. Sudah berapa lama kami tidak saling menyapa, apalagi bertemu. Tapi, tahukah kalian siapa yang menggerakkan kaki saya dan kakinya si Daun?

Allah...

Jujur saya, setelah bertemu dengannya di dekat perpustakaan dan dia tidak melihat saya, sebenarnya saya berjalan menuju stasiun kereta untuk pulang. Kenapa? Toh saya sudah bingung bukan main gimana caranya bisa bicara sama si Daun. Saya pasrah. Benar-benar saya serahkan ke Allah. Terserah deh maunya Allah kayak gimana. Yang penting, saya bahagia bisa dekat seperti ini lagi sama Allah.

Dan benar, saya pasrahkan apapun hasilnya. Al-Qur’an masih saya pegang. Harapan juga masih tersimpan. Tapi, saya tetap yakin bahwa Allah tahu yang terbaik. Dan lihatlah bagaimana cara Allah mempertemukan saya dengan dia.

Kaki ini...

Kaki ini sebenarnya melangkah beberapa meter ke tujuan yang ada di pikiran saya: stasiun kereta. Saya mau pulang. Saya mau pulang.

Bukan karena menyerah dan tidak mau usaha. Tapi karena saya sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Biarlah Allah yang bantu. Dengan cara-Nya, sesuka-Nya.

Dan benar. Yang terjadi adalah pertemuan singkat yang tidak diduga. Awalnya begini, saya mau lewat di jalan yang dilewati oleh motor dan mobil. Tapi pada saat itu, Allah kasih penghalang. Akhirnya saya cari jalan lain untuk bisa sampai di stasiun. Lewatlah dan melangkahlah kaki ini menelusuri jalan-jalan kecil dekat dengan masjid. Kebetulan, saya sempat memasuki kawasan ikhwan yang saat itu sedang sepi. Muncullah si Daun dengan tiba-tiba di hadapan saya. Ia baru saja selesai shalat. Dan saya berhasil memberikan Al-Qur’an itu kepadanya.

---

Kisah di atas adalah kisah nyata yang saya tidak bisa sebutkan nama asli dari si pelaku. Di sini saya mengambil pelajaran. Bahwa sekeras apa pun keinginan dan obsesi kita, jangan pernah yakin kalau kita bisa mengerjakan itu semua tanpa-Nya. Libatkan Allah. Jangan duakan Dia dengan sesuatu apa pun. Yakinlah bahwa Allah sudah mengatur semuanya dengan sangat indah. Walaupun terkadang kita melihatnya dari sisi yang tidak mengenakkan, namun itulah cara-Nya.

Allah itu senang ‘bercanda’ dengan kita. Di saat kita serius, Allah malah bercanda. Tapi di saat kita sedang bercanda, Allah serius, Allah kabulkan. Allah juga senang melihat kita deg-deg-an, panik dulu. Habis itu ada saja yang bikin bersyukur banget. Itu yang terjadi pada kisah di atas. Wanita yang saya ceritakan mengaku memang merasa bercanda dengan Allah. Bahkan ia mengatakannya sambil tersenyam-senyum kecil. Seperti bercanda dengan orangtua. Bahasa yang digunakan saat ngobrol dengan Allah pun, tidak begitu baku, tapi tetap sopan. Jadi layaknya seperti merasa teman, sudah dekat, sudah akrab. Ia hanya meminta untuk dipertemukan lagi dengan laki-laki yang pernah disukainya dulu. Hanya itu kok. Hanya ingin memberikan hadiah kecil.

Tapi secara logika, sungguh mungkin banyak yang mengira ini cuma rekayasa atau ngarang-ngarang. Karena apa? Kampusnya besar. Mampu menampung puluhan ribu manusia. Orang-orangnya beragam. Bunga bahkan tidak punya nomer telepon si Daun. Tidak tahu Daun ini ada di mana. Pikirnya, ya hanya Allah sajalah yang tahu. Ia hanya bermodal itu. Dan satu lagi, jarak dari tempat ia shalat dengan fakultas si Daun lumayan menguras energi alias jauh. Orang awam bilang, kemungkinannya kecil bisa ketemu si dia kalau kita benar-benar sudah tidak kontakan lagi. Tapi apa yang terjadi? Cukup 15 menit saja berselang bercandaan sama Allah, eh orangnya muncul depan mata.

Namun, ini bukan berarti menjadi patokan utama kalau kita harus ‘bercanda’ terus sama Allah. Tetap harus ingat, bahwa kita ini hamba. Dan hamba tugasnya adalah menghamba hanya kepada Allah, taat, dan jangan menyosor duluan semaunya. Mintalah kepada-Nya. Sungguh, Allah itu mendengar. Sangat mendengarkan. Dan jangan anggap masalah sebagai masalah. Musibah sebagai musibah. Allah berikan masalah dan musibah untuk mengetes hamba-Nya. Bukan karena tidak peduli, justru sangat peduli. Kado dari Allah atas kelulusan kita itu bisa jauh melebihi apa yang pernah bayangkan sebelumnya.



Bagaimana teman-teman?

Semoga kisah ini bisa membuat kita semua sadar bahwa kita ini sangat kecil dan sangat membutuhkan Allah. Mohon maaf jika ada kata yang salah, selebihnya saya ingin mengucapkan terimakasih untuk teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya membaca tulisan saya. Tunggu kisah berikutnya, ya.