Visitor

Sunday, December 8, 2013

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. Ali-Imran ayat 190

7 Desember 2013

Pendahuluan
Sebelum kita masuk pada tadabbur, mari simak cerita berikut ini dengan seksama.

Pada suatu hari, sahabat bertanya kepada Aisyah,

“Wahai ummul mu’minin! Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengesankanmu selama kau hidup bersama Rasulullah.”

Tiba-tiba Aisyah menangis. Dia terdiam dan kemudian mengenang kisahnya bersama Rasulullah.

“Sesungguhnya semua yang aku rasakan ketika bersama dengan baginda, semuanya berkesan.” jawab Aisyah sambil tersenyum.

“Coba ceritakan, ceritakanlah yang paling berkesan.” para sahabat terus bertanya.

Aisyah terdiam lagi dan menangis.

“Suatu hari ketika kami sudah tidur, dan kami sudah begitu dekat, tiba tiba di sepertiga malam terakhir beliau terbangun dan meminta izin kepadaku. ‘Izinkan aku meninggalkanmu, aku ingin beribadah kepada Tuhanku.’ Dan kemudian aku menjawab, ‘Sesungguhnya aku senang berada di dekatmu, tetapi aku lebih senang kau beribadah kepada Tuhanmu.’”

Lalu Rasulullah mengambil air wudhu dan melakukan shalat tahajud sebelas rakaat. Di dalam shalatnya, beliau menangis. Aisyah menceritakan betapa shalatnya beliau sangat khusyuk. Ketika beliau berdiri dalam shalatnya, beliau menangis dan ketika rukuk membacakan ayat Al-Qur’an beliau menangis tersedu-sedu sampai basahlah janggut, pipi, dan sajadahnya dengan air mata.  Aisyah sedang tidak shalat. Ia merinding, bergetar melihat kekhusyukkan beliau. Beliau berdoa di sela-sela dua rakaatnya, begitu nikmatnya Rasulullah dalam shalatnya sampai-sampai Bilal mengumandangkan adzan Subuh. Kemudian Bilal menjemput beliau karena sejak adzan tadi beliau belum datang juga. Bilal kaget bukan main menatap Rasulullah yang wajahnya penuh dengan air mata. Bilal pun bertanya, dan Rasulullah menjawab: “Wahai sahabatku, sesungguhnya malam tadi Allah telah menurunkan wahyu, menurunkan ayat Al-Qur’an.”

“Lantas mengapa engkau menangis?” tanya Bilal lagi.

Rasulullah kemudian menjawab, “Celakalah orang yang membaca atau mendengar ayat itu tapi tidak merenungkan isinya, tidak memahami isinya.”


Ini merupakan sebuah ayat; serangkaian ayat yang Allah turunkan namun respon Rasulullah ketika itu sangat luar biasa. Bahkan beliau meminta dibacakan ayat Al-Qur’an oleh sahabatnya. Dan ketika sampai pada ayat itu, beliau menangis dengan tersedu-sedu.

Pertanyaannya adalah:
Ayat berapa dan surat apa yang sampai membuat baginda Rasulullah menangis seperti itu?

Pada materi tadabbur kali ini, kita akan masuk dan melihat momentum di mana orang mengagung-agungkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah diajarkan Rasulullah.

Apa yang membuat beliau menangis?

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,  (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.’”

(QS. Ali-Imran: 190-191)
(Dustur Ilahi)


Rahasia Tangisan Rasulullah SAW.

Karena di dalam ayat ini terdapat peringatan akbar. 
Peringatan yang besar sekali. 
Peringatan apa?


Pesan kiamat.

Pesan kebesaran Allah.

Penciptaan Allah.

Ayat ini diturunkan oleh Allah menjadi sesuatu yang menggedor Rasulullah. Karena ayat ini memiliki kandungan, memiliki rahasia yang tersimpan di dalamnya, yang kandungannya ini harus bisa ditangkap. Nah, apa yang membuat Rasulullah menangis? Adalah karena beliau khawatir, beliau takut umatnya—yaitu kita ini, tidak bisa menangkap  ayat yang berarti tanda. Dibalik terjadinya penciptaan langit dan bumi, dan pergiliran siang dan malam, itu terdapat tanda, ada maksud, ada pesan yang harus kita pahami.

Penciptaan tersebut meliputi semua isi kehidupan. Tidak hanya alam semesta, tapi juga kejadian-kejadian yang ada di muka bumi ini. Misalnya, kita gagal pada ujian, usaha tidak maju-maju, atau ingin menikah tapi jodoh tak kunjung datang.

Semua memiliki pesan.


Peringatan Akbar Dibalik Momentum Pergantian Akhir Tahun
Tahun baru merupakan waktu yang dinanti-nantikan oleh banyak orang yang tidak paham mengenai makna bergilirnya siang dan malam yang sesungguhnya. Lihatlah, betapa banyak yang menghabiskan uang mereka hanya untuk menimbulkan suara untuk menyambut kedatangan tahun baru. Bahkan petasan dan terompet dinyalakan di mana-mana. Semuanya hiruk-pikuk. Terjadinya pergantian tahun harusnya direspon dengan banyak bermusahabah diri. Tetapi justru yang terjadi adalah banyak dari kaum muslimin bahkan yang merayakannya dengan cara yang jahiliyah.

Dan apa pesan yang terkandung dalam ayat tersebut?


1. PERINGATAN KITA UNTUK SELALU BERSYUKUR 

Bersyukur artinya memunculkan sesuatu yang tidak kita sadari. Kebalikannya dari rasa syukur adalah kufur. Orang yang kufur tidak melihat kasih sayang Allah, sehingga dia ingkar. Kufur itu tertutup. Ia selalu melihat apa-apanya kurang dan selalu merasa tidak puas. Padahal jika ia menghitung nikmat Allah, maka umur dan usia kehidupan di muka bumi ini tidaklah sampai pada banyaknya nikmat yang Allah berikan kepada kita semua. 

“Dan Dia (pula) yang menjadikan malam dan siang silih berganti bagi orang yang ingi  mengambil pelajaran atau yang ingin bersyukur.”

(QS. Al-Furqan: 62)

Allah menyuruh kita untuk selalu syukuuran setiap saat—begitu juga dalam konteks pergantian siang dan malam.

Sebenarnya, pergantian tahun itu ada atau tidak?

Tidak.

Yang ada hanya siang dan malam.

Apakah kemudian matahari, bulan, bumi itu menyadari dirinya bahwa mereka sudah berada di tahun 2013, misalnya?

Artinya adalah pergantian tahun hanyalah akal pikiran manusia. Sehingga, dengan demikian, jika ada orang yang merayakan tahun baru, mereka sebenarnya tidak mengerti makna bersyukur. Ini yang membuat Rasulullah menangis. Sanggup tidak umatnya untuk merespon momentum terjadinya pergantian tahun?

Dan pergantian siang dan malam itu sudah ditegaskan Allah untuk menjadi patokan-patokan atau manzilah-manzilah untuk mengetahui bilangan-bilangan tahun atau penanggalan. Tapi alam semesta itu sendiri tidak menyadari. 

Bagaimana bisa terjadinya tahun baru?
 
 
Hakikat Yang Terjadi
Hijriyah itu dihitung berdasarkan 12 kali revolusi bulan mengelilingi bumi. Sedangkan masehi dihitung berdasarkan 1 kali revolusi bumi terhadap matahari.
Pertanyaannya adalah:
Apakah alam mengatur dirinya sendiri dengan perhitungan itu? Tidak.
Manusia yang memaknai adanya pergantian tahun.

Dan yang berikutnya adalah:

Hakikat Maknawiyah
Ada tidak mesin raksasa di jagat ini yang dapat mengatur mekanisme gerakan bumi dan benda-benda angkasa lainnya dalam orbitnya?
Tidak ada.
Artinya, di sinilah kita diminta untuk memahami, sungguh-sungguh bersyukur. Dan substansi dari syukur adalah merenung, mengingat, memikirkan penciptaan langit dan bumi.
Jadi kalau saat ini kita melihat banyak kaum muslimin yang merespon pergantian tahun dengan mengistimewakannya berarti sama saja tidak bersyukur. Mereka menganggap momentum itu penting. Sebegitu pentingnya sampai detik-detik kedatangannya begitu dihargai, ditunggu, dihitung dari 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, dan ketika pukul 00:00 apa yang terjadi?
Naudzubillahi min dzalik.

Kenapa dianggap tidak bersyukur?

Karena yang dipikirkan oleh mereka adalah keistimewaan untuk menyambut tahun yang baru. Cara kita bersyukur kepada Allah bukan dengan menghambur-hamburkan uang atau berpesta. Coba bayangkan, jika seandainya di detik kelima pergantian tahun itu tiba-tiba bumi berhenti berputar. Apa yang terjadi?
Kiamat.
Jadi semua bentuk perayaan atau peringatan adalah bentuk kejahiliyahan. Jadi kalau ada dari di antara kita merayakan tahun baru, maka itu sama saja artinya dengan membuat Rasulullah menangis.
Lantas bagaimana cara kita menyikapinya?
Alihkan acara perayaan itu dengan banyak berzikir kepada Allah dan mengoreksi diri lebih banyak lagi. Walaupun ada beberapa pendapat menerangkan bahwa ini tidak diajarkan oleh Rasulullah (bid’ah). Namun, dengan berdzikir justru ini menjadi alternatif terbaik daripada kita tidak melakukan apa-apa sedangkan di luar sana banyak yang berpesta ria. Setidaknya, ingatkanlah teman-teman, keluarga, saudara kita untuk tidak merayakan pergantian waktu ini. 

Malam tahun baru itu bukan diramaikan dengan klakson, tapi yang digaungkan adalah istighfar. Bersyukur kepada Allah, itu adalah yang paling utama.

Allah yang membuat pergantian waktu tersebut, tetapi manusia malah merayakan pergantian waktunya. Bukan mengistimewakan yang mengganti waktu itu. Harusnya Allah yang direnungkan.


Penciptaan Langit dan Bumi


Bumi, sebagaimana benda-benda angkasa lainnya, juga membutuhkan keteraturan dan keseimbangan. Tanpa itu, jangan bayangkan akan ada kehidupan di bumi ini. Dan adakah mesin di jagat ini yang sanggup mengatur keseimbangan bumi?


Keingkaran manusia terjadi di antaranya adalah dengan melakukan perayaan-perayaan ini yang harus kita renungkan.
Dan kalau kita mengingat nikmat Allah, bukan hanya tentang buminya saja, tapi melainkan pribadi kita sendiri. Sudah berapa banyak nikmat yang kita terima sejak kita lahir di muka bumi itu? Coba itu yang dipikirkan dulu.

Bersyukur = menggali

Menggali apa?
Misalnya, ketika kita memikirkan apa yang akan terjadi jika di bumi ini tidak ada listrik?
Dan apakah kalian tahu apa yang membuat listrik itu ada?
Jawabannya adalah gravitasi.
Karena salah satu sumber pembangkit listrik kita adalah dari air. Air dikumpulkan ke bendungan, kemudian dijatuhkan, dan kemudian menghantam turbin dan turbin itu berputar, barulah menghasilkan daya-daya listrik. Bisa kita simpulkan, gaya gravitasi itu adalah nikmat. Betul?

Coba renungkan kasih sayang Allah yang begitu besar kepada kita. Bayangkan apa akibatnya jika tidak ada gravitasi bumi?
Mau minum susah, airnya melayang-layang. Ketika flu dan mengeluarkan cairan hidung, (baca: ingus) maka kita harus menahan malu. Apalagi?
Masih banyak lagi yang bisa dicontohkan.
Sungguh, tidak ada yang istimewa dari merayakan apa yang sebenarnya tidak ada. Uang dihabiskan untuk kembang api, petasan, mercon, semua itu mubazir. Dan itu sama saja kita membuang waktu, membuang uang, melakukan pembodohan, dan tentunya akan berakibat dosa. Dengan begitu, kita sama saja mendustakan nikmat Allah. Dan jangan sampai kita termasuk orang-orang yang dimurkai-Nya hanya karena tidak bersyukur.

BUKTI BAHWA KITA TIDAK BERSYUKUR
Tidak merasakan nilai kenikmatan
Tidak menyadari sumber kenikmatan—yaitu Allah subhanawata’ala
Tidak mengembalikan seksistensi kenikmatan itu kepada Pemberinya
Tidak menggunakan kenikmatan itu sesuai keinginan Pemberinya
Tidak memiliki ikatan taat yang makin kokoh dengan Pemberinya

Kita bisa ambil contoh sederhana seperti berikut ini:
Pohon apa yang bisa membawa kita melakukan mobilitas ke mana-mana?
Jawabannya adalah pohon karet.
Mengapa begitu?
Karena jika tidak ada karet, maka tidak ada ban. Semua mesin penggerak menggunakan karet karena mengandung bahan yang elastis.

Tidakkah kita berpikir sampai seperti itu?

Bagaimana dengan besi?
Jika diteliti bahwa ternyata besi itu bukan berasal dari bumi. Besi adalah unsur yang diciptakan dari luar bumi. Sebelum bumi ini layak ditempati dengan atmosfir yang cukup, bumi kita ini dihantam oleh berbagai batu dari luar angkasa berjuta-juta tahun yang lalu.

"...dan Kami turunkan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia..." 
(QS. Al-Hadid: 25)

Kata anzalnaa yang berarti Kami turunkan khusus digunakan untuk besi dalam ayat ini, dapat diartikan secara kiasan untuk menjelaskan bahwa besi diciptakan untuk memberi manfaat bagi manusia. Penemuan astronomi modern mengatakan bahwa logam besi yang ditemukan di bumi kita ini berasal dari bintang-bintang raksasa di angkasa luar. Logam berat di alam semesta dibuat dan dihasilkan dalam inti bintang-bintang raksasa. Akan tetapi sistem tata surya kita memiliki struktur yang cocok untuk menghasilkan besi secara mandiri. Besi hanya dapat dibuat dan dihasilkan dalam bintang-bintang yang jauh lebih besar dari matahari, yang suhunya mencapai beberapa ratus derajat. Ketika jumlah besi telah melampaui batas tertentu dalam sebuah bintang, bintang tersebut tidak mampu lagi menanggungnya, dan akhirnya meledak melalui peristiwa yang disebut "supernova". Akibat dari ledakan ini, meteor-meteor yang mengandung besi bertaburan di seluruh penjuru alam semesta dan mereka bergerak melalui ruang hampa hingga mengalami tarikan oleh gaya gravitasi benda angkasa.

Semua ini menunjukkan bahwa logam besi tidak terbentuk di bumi melainkan kiriman dari bintang-bintang yang meledak di ruang angkasa melalui meteor-meteor dan "diturunkan ke bumi", persis seperti dinyatakan dalam ayat tersebut. Sejak saat itu, banyak para ilmuwan yang meyakini Islam karena mereka baru mengetahui keajaiban ini. Subhanallah

(Source: www. keajaibanalquran.com)

Orang yang bersyukur, mungkin tidak mereka merokok?
Karena orang yang merokok tidak ada yang mengucapkan bismillah, bukan?
Jadi merokok itu perbuatan taat atau maksiat?
Maksiat.

Jika kita benar-benar bersyukur, kita tidak mungkin mengkhianati kasih sayang Allah; mengkhianati nikmat Allah. Sungguh tega orang yang merokok karena mereka sama saja merusak paru-paru yang sudah Allah berikan dalam keadaan sehat dan utuh. Diberi uang, malah dibakar. 

Fakta menyebutkan bahwa rokok yang dihabiskan selama setahun di Indonesia ini pada tahun 2008 mencapai 240 milyar batang dalam setahun. Dan uang yang dihabiskan sekitar 120 triliyun 450 milyar. Jadi, uang yang dibakar dalam sehari bisa sampai 33 milyar oleh para perokok. Ini adalah salah satu tindakan yang tidak bersyukur. Karena jika dia bersyukur, dia akan senantiasa mengingat Allah, dia memikirkan ciptaan Allah.


2. PERINGATAN UNTUK SELALU SADAR KEMATIAN DAN ALAM AKHIRAT

“Anas ra. pernah berkata, maukah kalian aku beritahu tentang dua hari dan dua malam yang belum pernah diketahui dan didengar oleh manusia (yang masih hidup), dua malam adalah malam pertama kali di dalam kubur dan malam kedua di mana pagi harinya dilenyapkan tatkala terjadinya Hari Kiamat.”

Bukankah setiap detik yang berlalu, setiap menit yang berlalu sesungguhnya adalah sesuatu yang semakin mendekatkan kita kepada kematian. Jadi aneh jika ada orang yang semakin dekat dengan kematiannya, justru berjingkrak-jingkrak, joget-joget, dan berpesta pora. Seharusnya semakin dibuat takut.  “Ini semakin dekat dengan ajal saya.”

Bagaimana dengan malam pertama di alam kubur yang sudah pasti akan kita alami? Pernahkan kita memikirkan sampai seperti itu? Justru yang kita pikirkan adalah keindahan malam pertama bersama istri atau suami kita kelak. Padahal itu belum tentu terjadi jika Allah tidak berkehendak. Tapi kematian itu pasti namun kita tidak tahu waktunya.

Sudah siapkah kita dengan malam pertama di alam kubur nanti?

Jadi, apa yang membuat kita harus memikirkan kematian?

Yang pertama
KARENA SETIAP YANG BERNYAWA PASTI AKAN MERASAKAN MATI

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali-Imran: 185)

Kita sudah banyak melihat bukti, misalnya saudara kita, tetangga atau bahkan keluarga kita sendiri, mereka meninggal di usia muda. Tidak menutup kemungkinan bahwa kita-kita ini yang masih muda juga mungkin saja akan menemui ajalnya di usia seperti sekarang. Itulah mengapa kita harus mengingat kematian. Cara orang meninggal bisa bermacam-macam. Pernahkah melihat kecelakaan motor atau mobil yang menewaskan orang di dalamnya yang sampai-sampai isi dalam perutnya pun keluar? Darah mengalir deras dan isi otak hancur berpencar-pencar. Kita setiap hari naik kendaraan, mobil, motor, angkutan umum, pesawat atau kapal laut, kita tidak menyadari bahwa ada Allah yang menjaga dan menyayangi kita setiap saat. Dengan mengingat kematian, kita akan membangun kesadaran dalam diri kita bahwa semua keindahan kita, kekayaan, jabatan, keluarga, semua akan musnah atau hilang ketika malaikat pencabut nyawa sudah datang memanggil. Yang dapat menerangi alam kubur kita nanti hanyalah cahaya Al-Qur'an. Pernahkah kita sadari sudah berapa banyak kita menghabiskan uang, tenaga dan pikiran untuk hal-hal duniawi? Atau sudahkah kita meluangkan waktu untuk membaca, menghafal, dan mentadabburi Al-Qur'an? 

Yang kedua
KEMATIAN TIDAK DIKETAHUI DATANGNYA

“Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari kiamat; dan Dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana ia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.”
(QS. Luqman: 34)
Yang ketiga
KEMATIAN SELALU MENGIKUTI DAN TAK BISA DIHINDARI

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu lari dari padanya, ia pasti menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.’”
(QS. Al-Jumuah: 8)
Yang keempat
KEMATIAN TIDAK BISA DITUNDA

“Dan Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktu kematiannya telah datang. Dan Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Munafiqun: 11)

Yang kelima
KEMATIAN ADALAH AWAL KESENGSARAAN ATAU KEBAHAGIAAN YANG PANJANG

Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang.
(HR. Tirmidzi)

Kematian seorang yang mukmin diberikan cahaya-cahaya di dalam kuburnya dan tidak merasakan gelap atau takut sekali pun. Jiwa yang diisi dengan rasa cinta kepada Allah, maka Allah pun akan mencintainya. Semoga kita bisa menjadikan diri ini tidak menerima kesempatan untuk berlaku maksiat. Karena sungguh, 'keindahan dalam maksiat' sebenarnya tidak pernah ada. Mereka bilang ini indah. Mereka bilang itu nikmat. Bukan seperti itu kita memandang suatu keindahan atau kenikmatan. Mereka hanya merasakan kesenangan sesaat yang dapat menyeretkan mereka masuk ke pintu neraka. 

Rasulullah bersabda, "Seseorang yang cerdas adalah seseorang yang mampu mengaitkan apa pun dengan kematian."

Dan karena kematian kita tidak dapat ditebak-tebak kapan datangnya, di mana tempatnya, sedang bersama siapa nanti kita, dan bagaimana rasanya dicabut ruh kita ini dari jasad. Apakah sakit? Atau justru tidak terasa apa-apa? 

No comments:

Post a Comment