Visitor

Wednesday, December 4, 2013

Tadabbur Al-Qur'an


Materi Tadabbur QS. Al-Anfal ayat 1-4
Karakter Mukmin Sejati





30 November 2013

Sebelum kita masuk ke pembahasan mengenai karakter mukmin sejati, ada baiknya kita baca dan pahami dulu pengantarnya di awal ayat.

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul (menurut ketentuan Allah dan Rasul-Nya), maka bertakwalah kepada Allah dan perbaiki hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Anfal: 1)


Pada ayat pertama dijelaskan bahwa harta rampasan perang merupakan milik Allah dan Rasul. Kemudian ditekankan, maka bertakwalah kepada Allah


Kita akan mengingat bagaimana keadaan zaman Nabi dulu terhadap harta. Mereka, para sahabat memerangi hawa nafsu mereka dari limpahan harta yang ada saat itu. Mereka tahu bahwa semua yang mereka miliki adalah milik Allah. Maka dari itu, dibagilah harta-harta tersebut menjadi dua: halal dan haram. Yang ditinggalkan adalah yang haram—yang bukan hak mereka. Dan sebaliknya, yang diambil adalah yang halal—yang merupakan bagian dari hak mereka.


Mengapa Allah meminta kita untuk taat dan patuh kepada-Nya?

Karena ini merupakan peringatan untuk para mukmin yang akan dijelaskan di ayat berikutnya.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhan-nya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.”
(QS. Al-Anfal: 2-4)

Karakter Mukmin Sejati
Al-mu’minuuna haqqal imaan.

Poin pertama,
Al-Qur’an

“..dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya..”

Seorang mukmin dapat dikatakan benar-benar beriman jika ia membaca Al-Qur’an, kemudian bertambahlah imannya. Pernahkah kita melihat orang lain yang ketika membaca atau memahami Al-Qur’an, mereka sampai menangis dan membenarkan apa yang disampaikan di Al-Qur’an?

“Dan apabila mereka mendengarkan apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri), seraya berkata, “Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad)”
(QS. Al-Maidah: 83)

Mungkin tidak perlu jauh-jauh, coba tengok diri kita sendiri. Pernahkah satu kali saja dalam hidup kita, membaca Al-Qur’an dan memahami artinya sampai kita benar-benar merasa masuk dalam teduhnya ayat-ayat tersebut? Kebenaran dalam Al-Qur’an membuat kita menyadari akan apa-apa saja yang sudah kita perbuat dulu. Sehingga, mulailah hati kita bergetar untuk merasakan kekuatan Al-Qur’an.


Atau sebaliknya. Ketika membaca Al-Qur’an, kita tidak merasakan ketenangan sama sekali?

Jangan salahkan Al-Qur’an. Ini berarti ada yang salah dalam diri kita.



Ujian

Seorang mukmin tidak akan disebut mukmin sejati jika ia belum pernah melalui yang namanya ujian. Bagaimana ujian tersebut memperkuat iman mereka?


Ujian tersebut justru membuat diri mereka semakin yakin terhadap kebenaran Al-Qur’an. Kembalilah, kembalilah kepada Al-Qur’an. Jika masalah dan problematika di dunia ini terlalu berat untuk kita hadapi, komunikasikanlah bersama Allah. Mungkin ada sebagian dari kita yang ketika ditimpa musibah langsung mencari pertolongan melalui teman atau saudara. Padahal yang lebih diutamakan adalah Allah. Barulah kita berbagi bersama saudara kita. Salah satu cara mukmin sejati untuk mencurahkan isi hati kepada Allah adalah dengan membaca Al-Qur’an.


Lalu bagaimana dengan solusi dari suatu perkara atau permasalahan yang sedang dihadapi?

Al-Qur’an adalah jawabannya. Apa yang ada di muka bumi ini, semua sudah jelas dan tertulis rinci di Al-Qur’an. Masalah apa pun itu, Al-Qur’an yang akan menjadi obat untuk kita semua. Maka, jadikanlah Al-Qur’an sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan yang sungguh sangat singkat.


Sentuhlah, ciumlah dengan penuh takzim. Kita mungkin belum merasakan bagaimana Al-Qur’an menjaga kita nantinya, tetapi ketika hari itu datang, di mana tidak ada seorang pun yang akan selamat dari perbuatan dosanya, hanya Al-Qur’anlah yang dapat menjadi penolong satu-satunya. Al-Qur’an jangan hanya dijadikan sebagai penghias rumah saja. Tidak akan ada manfaatnya jika kita tidak mau memahami.


Beriman Kepada Al-Qur’an
Bacalah dengan penuh rasa cinta, dalami apa yang Al-Qur’an sampaikan. Maka dari itu, kita tidak cukup dengan membaca dan melihat terjemahannya saja. Kita perlu untuk memahami, mentadabburi, kemudian mengamalkannya, dan jadikanlah sebagai obat.


Suatu ketika saya pernah mengalami suatu situasi yang membuat saya bimbang dalam dua hal. Pertama, saya putus asa terhadap solusi dari permasalahan saya dan mencoba ‘kabur’ untuk menghilangkan rasa ‘sakit’ itu dari diri saya. Kedua, saya hadapi dengan ikhlas dan memohon kepada Allah untuk diberi kekuatan lewat Al-Qur’an. Saya lakukan poin pertama. Pada saat itu, saya tahu betul bahwa sebenarnya solusi tersebut ada dalam Al-Qur’an. Tetapi bisikan setan yang kuat membuat saya lupa diri dan meninggalkan kebenaran. Sehingga datanglah pertolongan Allah yang mengingatkan saya untuk kembali kepada-Nya. Subhanallah. Jika bukan karena atas izin-Nya, mungkin saya tidak akan pernah kembali. Dan kita juga mengetahui bahwa yang dapat memberikan hidayah hanyalah Allah semata—bukan manusia.

Rasa takut akan azab Allah juga semakin kuat apabila kita masuk di dalam pemahaman terhadap Al-Qur’an.
Seperti pada suatu ayat,

“Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh suatu perbuatan yang keji.”

Jika kita benar-benar beriman kepada Al-Qur’an, maka rasa takut itu akan sendirinya muncul. Rasa takut kepada Allah yang membuat hati kita mengatakan untuk menjauh dari perbuatan-perbuatan keji. Melihat kejadian yang ada, justru kini malah semakin banyak manusia yang takut pada manusia lainnya. Misalnya, seorang karyawan yang lebih takut untuk datang pagi ke kantor agar tidak terlambat dan dimarahi bos. Ia berangkat pukul empat pagi karena rumahnya yang jauh. Tetapi ia tidak takut kepada Allah telah meninggalkan shalat Subuh hanya karena ia ingin datang lebih awal ke kantornya.

“Sesungguhnya hati itu berkarat seperti besi yang terkena air. Obatnya adalah tilawatil Qur’an wal dzikrul mauut.”

Jika shalat atau ibadah kita yang lainnya tidak menghadirkan rasa takut pada azab dan kematian berarti kita tidak benar-benar khusyuk. Anggap shalat kita itu adalah shalat terakhir kita. Sehingga kita mampu memberikan yang terbaik untuk Allah. Pertanyaannya adalah, apakah dalam sehari kita pernah merasakan benar-benar shalat dengan khusyuk? Atau kita mengerjakan shalat hanya karena ingin menjalankan perintah saja?

Mukmin sejati tidak menjadikan shalat dan ibadah lainnya sebagai suatu hal yang wajar dijalani umat muslim. Tetapi mereka menjadikan ibadah sebagai kebutuhan. Lebih dari sekadar perintah. Dengan beribadah, kita tidak hanya akan menjalankan kewajiban, tetapi sebagai bentuk cinta, kasih sayang, dan kedekatan kita kepada-Nya.   


Shalat itu adalah tiang untuk mengokohkan iman. Jika tiang kita sudah rapuh, apa kabar dengan iman kita?

Mereka yang diingatkan akan dosa-dosa, lalu tidak beristighfar, maka dikhawatirkan iman mereka sudah semakin menipis. Banyak juga kejadian seperti orang yang lebih takut terhadap petinggi besar daripada Allah. Contohnya adalah ketika seorang pejabat atau presiden masuk di suatu ruangan, mereka yang ada di dalamnya serentak diam dan mendengarkan. Namun berbeda dengan respon mereka ketika dibacakan Al-Qur’an atau mendengarkan panggilan shalat. Mereka tetap meneruskan aktivitas mereka dan seolah-olah tidak mendengar apa pun. Apalagi jika ada orang yang tilawatil Qur’an dari masjid, tidak ada satu pun yang ikut larut dalam keindahan ayat-ayat suci—yang dilakukan justru terus berbicara kepada teman atau bahkan sesekali tertawa dengan kerasnya. 

Al-Qur’an, sekali lagi, bukanlah sebuah dongeng zaman dulu yang cerita di dalamnya tidak memiliki makna. Tetapi, Al-Qur’anul kaarim adalah kitab yang tidak akan pernah habis masanya. Tidak akan ada kadaluarsa, tertinggal atau bahkan jadul. Jika dibandingkan dengan buku-buku yang manusia buat, maka Al-Qur’an tidak akan pernah habis pada satu zaman. Mungkin dalam catatan sejarah ada yang namanya penulis sepanjang masa—yang karyanya terus dikenang. Buku-buku yang ditulis dijadikan film kemudian banyak orang yang berdatangan untuk menontonnya. Tetapi apakah sama dengan Al-Qur’an? Tidak. Tidak akan pernah sama. Maka dari itu, banyak ilmuwan yang mulai menganalisa dan menyadari kebenaran Al-Qur’an. Kitab ini benar-benar wahyu dari Tuhan. Tidak dibuat dari akal manusia. Aturan-aturan bisa saja berubah jika manusia yang membuatnya. Tapi tidak dengan Al-Qur’an. Dari sejak diturunkannya, hingga kiamat pun, Al-Qur’an tidak akan berubah satu ayat pun.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur’an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa dibiarkan sesat oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat memberi petunjuk.”
(QS. Az-Zumar: 23)

Kaum Dzalim

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang dzalim, hanya akan menambah kerugian.”
(Al-Isra: 82)

Mungkin kita melihat dan mengetahui bahwa orang dzalim itu adalah mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah. Mereka tidak beriman. Bahkan untuk mendengar bacaan Al-Qur’an saja mereka tidak mau. Tetapi bukan hanya orang-orang seperti itu yang dikatakan dzalim. Kita, juga bisa dikatakan sebagai seorang yang dzalim, apabila kita sudah diingatkan, sudah mengetahui tentang ayat-ayat Al-Qur’an tapi kemudian berpaling. Allah yang akan mengunci hati kita dan tidak akan diberi ruang untuk masuknya kebenaran. Naudzubillah min dzaliik. 

Rabbana aamana faktubnaa ma’syabiriin.

Mari kita ajak saudara-saudari kita, teman-teman terdekat, ibu dan bapak kita untuk menjaga keimanan kita kepada Al-Qur’an. Bagi teman-teman yang ingin belajar bersama kami di kuliah tadabbur, bisa datang ke:
Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQLIC)
Jl. Tebet Utara 1/40, Jakarta Selatan.
@AQLIslamiCenter
@qgeners (Qur’an Generation)
Insya Allah kami akan mengadakan kuliah tadabbur setiap Sabtu, pukul 13:30-15:30 WIB yang akan diselingi dengan shalat Ashar berjamaah. Sebelumnya akan diawali oleh kuliah bahasa Arab bersama Ustadz Utsman Baco.
Semoga Allah memudahkan langkah kita menuju majelis ilmu-Nya.

Poin kedua,
Tawakkal

“..dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakkal..”

Apa itu tawakkal?
Secara bahasa, tawakkal artinya bersandar kepada seseorang.
Tawakkal kepada Allah artinya menyerahkan semua urusan kita setelah adanya berusaha, kerja keras, dan biarlah Allah yang menentukan hasil akhirnya. Ada kalanya suatu keputusan itu tidak kita senangi, tetapi sebenarnya baik bagi kita. Bagaimana dengan contoh seorang yang beriman tetapi mendapatkan pasangan yang tidak seperti dirinya?
Bukankah Allah telah janjikan wanita baik untuk lelaki baik dan wanita keji untuk lelaki keji?


Tawakkal dan bersabarlah. Allah mencurahkan kasih sayangnya kepada kita dengan menghadirkan pasangan yang tidak beriman. Mungkin saja itu sudah menjadi takdir yang tertulis. Dan pada tahun kesekian, atas izin Allah, pasangan yang tidak beriman itu akan mendapatkan hidayah melalui pasangannya yang beriman. Tidak ada yang tidak adil. Allah telah memperhitungkan setiap rezeki, nikmat, dan jodoh yang akan diperoleh hamba-hamba-Nya. Cara Allah menyatukan dua insan yang sudah tertulis namanya di Lauh Mahfudz sangat beragam. Ada yang dipertemukan karena sama-sama senang. Ada juga yang awalnya merasa terpaksa, namun pada akhirnya cinta dan kasih sayang Allah mampu meluluhkan hati mereka. Kita tidak akan pernah bisa mendapatkan semua keinginan kita. Karena naluri manusia pasti memiliki shahwat. Oleh karena itu, fokuskan yang terbaik hanya pilihan dari Allah saja.

Uang Dari Mana?
Ada kisah menarik yang kita dapat petik hikmahnya. Ini mengenai ideologi seseorang ketika ingin menikah. 

Bagaimana bisa menikah jika belum mempunyai pekerjaan? Bagaimana bisa menikah jika belum punya rumah, mobil, perabotan rumah tangga, belum lagi biaya pernikahan itu mahal.

 
Pemikiran seperti ini tentu akan menjadi hambatan seseorang yang sebenarnya sudah mantap menikah untuk menyempurnakan ibadahnya tetapi tertunda karena masalah materi. Mungkin sudah banyak yang terjadi, bahwa pernikahan dijadikan suatu acara yang wajibnya adalah mengundang ratusan bahkan ribuan tamu untuk memeriahkannya. Dan walimah yang berlebihan ini sebenarnya tidak pernah ada dalam hadist Rasulullah. 

Menikah berarti menyatukan dua insan yang berbeda antara lelaki dan wanita. Sudah sewajarnya mereka saling melengkapi. Tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi manusia selalu menginginkan kesempurnaan dalam hidup. Apalah arti menikah jika awalnya saja sudah diiringi hawa nafsu? 

Suatu ketika, ada seorang suami yang menikahi istrinya dengan tidak bermodalkan apa-apa. Uang tidak ada, mobil dan rumah apalagi, tetapi ia tetap teguh pada pendiriannya dan terus memohon rezeki kepada Allah. Atas izin-Nya, menikahlah ia. Dengan gaji kurang dari Rp, 500.000, ia dapat mememuhi kebutuhan hidup bersama istri dan anak-anaknya. Ia bertawakkal dari setiap apa yang didapatkannya. Usaha dan kerja kerasnya dikerahkan sedemikian kuat demi mencari ridha Allah. Tentu ini menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah benar dengan uang seminim itu mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari?

Sedangkan jika kita lihat sekelompok manusia yang memiliki jabatan tinggi di bidangnya, mereka selalu saja mempertanyakan, mau dihabiskan untuk apa lagi uang-uang ini?

Begitulah Allah membedakan orang-orang yang kufur akan nikmat-Nya dan orang-orang yang bersyukur. Tidak ada yang akan terjadi pada mereka yang tetap berbahagia dengan rezeki Allah yang biar sedikit tapi disyukuri kecuali nikmat yang ditambah. 

Lalu pertanyaannya adalah, sudahkah kita bersyukur akan nikmat hari ini?
Seberapa besar masalah yang sedang kita hadapi dibandingkan nikmat yang Allah berikan?

Poin ketiga,
Shalat

“..(yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat..”

Siapa sajakah mereka yang benar-benar mendirikan shalatnya?
Bagaimana cara mereka menjaga shalat?
Mukmin sejati menjaga shalat mereka dengan tidak mengulur-ulur waktu. Jika tiba saatnya shalat, mereka menyegerakan. Bahkan sudah siap dengan sarung dan peci mereka. Mereka berdiri di barisan shaf paling depan dan menunggu seusai adzan lalu melaksanakan shalat sunnah rawatib. Seusainya, mereka tidak terburu-buru dalam berdoa bahkan menyempatkan untuk bertilawah. 

Wanita mana yang tidak senang dengan pria yang selalu menyempatkan diri shalat berjamaah di masjid? Memakai pakaian yang rapi, bersih, dan selalu dalam keadaan berwudhu. Maka mereka itulah yang nantinya akan bertemu dengan wanita yang sama dengannya. Wanita yang senantiasa menjaga shalat, wudhu dan ibadah lainnya dari berbagai macam godaan. Wanita yang senantiasa menjaga pandangan mereka sehingga Allah menyayanginya dan menghadirkan pasangan yang juga indah dipandang mata. 




Tidak ada doa yang lebih indah dari mendoakan sesama muslim tanpa diketahui keduanya hingga pada hari yang telah ditentukan mereka bertemu untuk cinta mereka kepada Allah.

Poin keempat,
Infaq

“..dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka..”

Belajar ikhlas salah satunya adalah dengan berinfaq atau bersedekah. Ini juga yang menjadi karakter mukmin sejati. Ketika azzam sudah kuat, perbanyaklah doa dan berusahalah untuk mengerjakannya jika Allah siapkan kesempatan itu. Sedekah tidak akan membuat kantong miris. Allah telah siapkan balasan dari satu benih kebaikan yang kita tanam.

Ini juga yang membuat Zakariya terheran-heran ketika memasuki mihrab Maryam. Ia selalu bertanya, dari mana asalnya makanan-makanan itu? Maryam berkata, “Ini adalah rezeki dari Allah.”

Maryam tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Ia selalu berusaha bertawakkal dan menerima takdirnya. Ujian yang diberikan kepadanya adalah kehamilan tanpa seorang suami. Sehingga ketika lahirnya Nabi Isa kecil, Allah mengizinkannya untuk dapat berbicara seperti orang dewasa. Sejak itulah, banyak yang berselisih paham mengenai kejadian aneh tersebut. Hanya kepada Allah kita beriman dan hanya kepada Allah kita berserah diri. Tidak ada yang mustahil bagi-Nya. Dan amat sangat mudah bagi Allah untuk mengabulkan doa-doa kita selama kita menjaga keempat poin ini, yakni iman kepada Al-Qur’an, bertawakkal dalam keadaan apa pun, menjaga dan mendirikan shalat, dan berinfaq di jalan Allah.

No comments:

Post a Comment