Visitor

Monday, December 30, 2013

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS. At-Taubah ayat 111

28 Desember 2013

Tahukah kamu bahwa setiap waktunya kita dikelilingi oleh 70.000 malaikat penjaga? Kita tidak bisa bayangkan betapa Allah sangat menyayangi kita. Dan ketika kita berkumpul di suatu majelis, membaca dan mempelajari Al-Qur'an, maka malaikat-malaikat tersebut memohonkan ampun untuk kita.


Bersyukurlah anak yang membaca dan mengkaji Al-Qur'an karena orangtuanya pun turut serta disebutkan namanya di hadapan Allah. Dan orangtua mana yang tidak bangga pada anak yang penghafal Al-Qur'an?

Siapa Yang Ingin Membeli Surga?

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman akan jiwa mereka dan harta-benda mereka dengan (balasan), bahwa mereka akan memperoleh surga (disebabkan) mereka berjuang di jalan Allah maka (di antara) mereka ada yang membunuh dan terbunuh. Balasan surga yang demikian ialah sebagai janji yang benar yang ditetapkan oleh Allah di dalam (kitab-kitab) Taurat dan Injil, serta Al-Qur'an dan siapakah lagi yang lebih menyempurnakan janjinya daripada Allah? Oleh itu, bergembiralah dengan jualan yang kamu jalankan jual-belinya itu dan (ketahuilah bahwa) jual-beli (yang seperti itu) ialah kemenangan yang besar."
(QS. At-Taubah: 111)

Saudara-saudariku, siapa yang tidak ingin membeli surga?
Siapa yang inginkan surga?
Siapa yang ingin membeli kenikmatan yang tidak bisa dibandingkan dengan hal apa pun di dunia ini?
Tentu sebagai umat muslim, kita pasti mendambakan surga. Dan kita mampu untuk membelinya. Dengan cara apa?

Sungguh, surga itu sangat mahal. Harganya dapat terhitung dengan pengorbanan.
Mari, sebelum itu kita simak kisah seorang pemuda yang mampu membeli surga dengan jiwa dan hartanya.

Mush'ab bin Umair adalah seorang remaja Quraisy terkemuka, tampan, penuh dengan jiwa dan semangat kemudaan. Para ahli sejarah melukiskan semangat kemudaannya dengan kalimat: "Seorang warga kota Makkah yang mempunyai nama paling harum." 

Mush'ab lahir dan dibesarkan dalam kesenangan, dan tumbuh dalam lingkungannya. Dan pada suatu hari, anak muda ini mendengar berita yang telah tersebar luas di kalangan warga Makkah mengenai Muhammad Al-Amin, yang mengatakan dirinya telah diutus Allah sebagai pembawa berita suka maupun duka, sebagai dai yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa. Di antara berita yang didengarnya ialah bahwa Rasulullah bersama pengikutnya biasa mengadakan pertemuan di suatu tempat yang terhindar jauh dari gangguan gerombolan Quraisy dan ancaman-ancamannya, yaitu di bukit Shafa di rumah Arqam bin Abil Arqam. Maka pada suatu senja, didorong oleh kerinduannya, pergilah ia ke rumah Arqam menyertai rombongan itu. Di tempat itu Rasulullah SAW sering berkumpul dengan para sahabatnya, mengajarkan mereka ayat-ayat Al-Qur'an dan mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Akbar. Baru saja Mush'ab mengambil tempat duduknya, ayat-ayat Al-Qur'an mulai mengalir dari kalbu Rasulullah bergema melalui kedua bibirnya dan sampai ke telinga, meresap di hati para pendengar. Di senja itu Mush'ab pun terpesona oleh untaian kalimat Rasulullah yang tepat menemui sasaran di kalbunya.

Khunas binti Malik yakni ibunda Mush'ab, adalah seorang yang berkepribadian kuat dan pendiriannya tak dapat ditawar atau diganggu gugat. Ia wanita yang disegani bahkan ditakuti. Ketika Mush'ab memeluk Islam, tiada satu kekuatan pun yang ditakuti dan dikhawatirkannya selain ibunya sendiri. Dan sejak saat itu, ia memutuskan untuk diam-diam masuk Islam. Pada suatu hari ia tampil di hadapan beberapa orang muslimin yang sedang duduk sekeliling Rasulullah SAW. Demi memandang Mush'ab, mereka menundukkan kepala dan memejamkan mata, sementara beberapa orang matanya basah karena duka. Mereka melihat Mush'ab memakai jubah usang yang bertambal-tambal, padahal belum lagi hilang dari ingatan mereka—pakaiannya sebelum masuk Islam—tak ubahnya bagaikan kembang di taman, berwarna-warni dan menghamburkan bau yang wangi. Adapun Rasulullah, menatapnya dengan pandangan penuh arti, disertai cinta kasih dan syukur dalam hati. Pada kedua bibirnya tersungging senyuman mulia, seraya berkata, "Dahulu aku lihat Mush'ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya."

Dalam Perang Uhud, Mush'ab bin Umair adalah salah seorang pahlawan dan pembawa bendera perang. Ketika situasi mulai gawat karena kaum Muslimin melupakan perintah Nabi, maka ia mengacungkan bendera setinggi-tingginya dan bertakbir sekeras-kerasnya, lalu maju menyerang musuh. Targetnya, untuk menarik perhatian musuh kepadanya dan melupakan Rasulullah SAW. Dengan demikian ia membentuk barisan tentara dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba datang musuh bernama Ibnu Qumaiah dengan menunggang kuda, lalu menebas tangan Mush'ab hingga putus, sementara Mush'ab meneriakkan, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul." Maka Mush'ab memegang bendera dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuh pun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula. Mush'ab membungkuk ke arah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan meraihnya ke dada sambil berucap, "Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul." Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itu pun patah. Mush'ab pun gugur, dan bendera jatuh. Ia gugur sebagai bintang dan mahkota para syuhada. Rasulullah bersama para sahabat datang meninjau medan pertempuran untuk menyampaikan perpisahan kepada para syuhada. Ketika sampai di tempat terbaringnya jasad Mush'ab, bercucuranlah dengan deras air matanya. Tak sehelai pun kain untuk menutupi jasadnya selain sehelai burdah. Andai ditaruh di atas kepalanya, terbukalah kedua belah kakinya. Sebaliknya bila ditutupkan di kakinya, terbukalah kepalanya. Maka Rasulullah SAW bersabda, "Tutupkanlah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutuplah dengan rumput idzkhir!" Kemudian sambil memandangi burdah yang digunakan untuk kain penutup itu, Rasulullah berkata, "Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah." Setelah melayangkan pandang, ke arah medan laga serta para syuhada, kawan-kawan Mush'ab yang tergeletak di atasnya, Rasulullah berseru, "Sungguh, Rasulullah akan menjadi saksi nanti di hari kiamat, bahwa kalian semua adalah syuhada di sisi Allah!" Kemudian sambil berpaling ke arah sahabat yang masih hidup, Rasulullah bersabda, "Hai manusia, berziarahlah dan berkunjunglah kepada mereka, serta ucapkanlah salam! Demi Allah yang menguasai nyawaku, tak seorang Muslim pun sampai hari kiamat yang memberi salam kepada mereka, pasti mereka akan membalasnya."



Sumber: http://republika.co.id



Subhanallah. Merindingkah kita mendengar cerita sahabat Nabi seperti Mush'ab itu? Menangiskah kita jika diberi kesempatan untuk melihat peristiwa pilu itu? Mush'ab mengorbankan jiwa dan hartanya untuk Islam, untuk membeli surga. Dan ia meninggal di usia yang masih muda. Bahkan, mungkin sama dengan usia-usia remaja yang saat ini lebih menyukai dunia hedonisme dan bersenang-senang daripada memikirkan bagaimana kita membeli surganya Allah. 

"Sungguh, ia telah membeli surga Allah dengan jiwa dan hartanya ketika Perang Uhud."

Kita, remaja muslim.
Kita, remaja muslimah.
Namun apa yang sudah kita kerjakan selama ini?
Apakah itu sungguh untuk Islam?
Atau hanya untuk bersenang-senang di dunia?
Kita, remaja muslim.
Kita, remaja muslimah.
Harusnya malu ketika mendengar cerita dan kisah Nabi seperti pemuda Mush'ab.
Kita merelakan uang kita habis untuk hal-hal yang sifatnya sementara dan fana.
Tetapi kita tidak mau sedikit pun mengeluarkan uang kita yang di dalamnya terhadap hak fakir miskin untuk disedekahkan.
Kita takut kehilangan harta.
Kita takut akan kematian.
Lalu apa lagi yang akan kita kejar di dunia ini, wahai pemuda-pemudi?
Tidakkah kita ini pantas disebut sebagai umat Rasulullah SAW?

Lalu, bagaimana cara orang beriman untuk membeli surga?

Sepotong kurma
Belaian kasih sayang kita kepada anak yatim
Senyuman ikhlas untuk saudara

Ketiga cara di atas mungkin tidak begitu berat untuk dijalani. Tetapi, di dalam Surah At-Taubah ayat 111, Allah menekankan:

"...jiwa mereka dan harta-benda mereka."

Mengapa jiwa didahulukan?
Karena tidak semua orang mampu membeli surga dengan harta mereka. Mungkin kita pun bisa melihat, bagaimana perjuangan orang-orang yang tidak memiliki harta namun mereka sangat ingin berjihad di jalan Allah. Salah satunya dengan jiwa.

Maka dari itu, mati yang paling baik adalah mati syahid.
Mati karena membela agama Allah. Sebagaimana yang sudah diceritakan tentang pemuda Mush'ab yang mati syahid di Perang Uhud.

Pertanyaannya, apakah niat untuk mati syahid itu diperbolehkan?
Untuk menjawabnya, simak penggalan cerita di bawah ini.

Siapa yang tidak kenal khalifah Umar bin Khattab? Salah satu sahabat Nabi ini meninggal karena terbunuh oleh seorang yang bernama Abu Lu'lu'ah Al-Mahjussy. Beliau pernah berdoa kepada Allah untuk meminta dimatikan secara syahid. Dan Allah mengabulkannya. 

Ketika Umar selesai melaksanakan ibadah haji pada tahun 23 H, beliau sempat berdoa kepada Allah di Abthah, mengadu kepada Allah tentang usianya yang telah senja, kekuatannya telah melemah, sementara rakyatnya tersebar luas dan ia takut tidak dapat menjalankan tugas dengan sempurna. Ia berdoa kepada Allah agar Allah mewafatkannya dan berdoa agar Allah memberikan syahadah (mati syahid) serta dimakamkan di negeri hijrah yaitu Madinah. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim bahwa Umar pernah berkata, “Ya Allah, aku bermohon kepadamu mendapatkan syahadah (mati syahid) di atas jalanMu dan wafat di tanah NabiMu.”

Maka Allah mengabulkan doanya ini dan memberikan kedua permohonannya tersebut, yaitu mati syahid di Madinah. Ini adalah perkara yang sulit namun Allah Maha lembut kepada hambaNya. Akhirnya beliau ditikam oleh Abu Lu’lu’ah Fairuz yaitu seorang yang aslinya beragama Majusi dan tinggal di Romawi ketika Umar shalat di mihrab pada waktu Subuh tanggal 25 Dzulhijjah tahun 23 H dengan belati yang memiliki dua mata. Abu Lu’lu’ah menikamnya tiga tikaman, salah satunya di bawah pusarnya hingga terputus urat-urat dalam perut beliau. Akhirnya Umar jatuh tersungkur dan menyuruh Abdurrahman bin Auf agar menggantikannya menjadi imam shalat. Kemudian Abu Lu’lu’ah berlari ke belakang, sambil menikam seluruh orang yang dilaluinya. Dalam peristiwa itu sebanyak 13 orang terluka dan 6 orang dari mereka tewas.

Niat mati syahid itu dibolehkan bagi kita semua dan merupakan hal yang sangat mulia. Allah pasti mengganti tangis, sakit, duka dan sedih kita di dunia dengan surga. Tentu ini sudah menjadi janji-Nya. Kita tidak perlu meragukannya lagi. Tetapi, tidaklah mudah untuk membeli surga. Dan Allah sudah mengingatkan bagaimana cara kita membeli surga di ayat tadi.


Bagaimana?
Siapkah teman-teman untuk membeli surga?

No comments:

Post a Comment