Visitor

Friday, November 8, 2013

Tiga Ayat Yang Mengubah Pemuda



وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” 
(QS. Al-Muzammil: 10)

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” 
(QS. An-Nahl: 125)

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” 
(QS. Al-Baqarah: 187)


Tiga ayat sakti yang membuat kita bergetar jika mentadabburi-nya. Ya, 3 kata ini yang paling pas untuk menggambarkan kondisi pemuda zaman sekarang. Tepatlah janji Allah yang termaktub dalam kitab-Nya; “Inna ma’al ‘usri yusraa” dengan arti—“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Allah menurunkan lafazh kesusahan dengan isim ma’rifah. Kenapa Allah menurunkan kata kesusahan dengan isim ma’rifah? Tidak lain adalah untuk menunjukkan kepada seluruh umat manusia -terutama kepada pemuda- bahwa kesulitan yang Allah berikan itu diketahui, ma’rifah. Sedangkan kita lihat lafazh kemudahan dalam ayat tersebut, “yusra” dengan tidak menggunakan alif lam atau yang sering disebut isim nakirah. Mengapa Allah menurunkan kalimat yusra yang berarti kemudahan dengan menggunakan isim nakirah? Ya, isim nakirah ini menunjukkan bahwa Allah memberikan kepada makhluk-Nya dengan kemudahan yang tidak diketahui. 

Begitulah, jadi Allah berjanji di mana di sana terdapat suatu kesulitan -yang pastinya diketahui-, maka di sana pula Allah memberikan kemudahan-kemudahan yang banyak diketahui dan tidak diketahui oleh manusia. Begitulah penjelasan dari ayat “Inna ma’al ‘usri yusra” dari segi kebahasaan.


Kembali ke tiga ayat pembahasan kita.

Pertama,

وَاصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا
 "Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik.” 
(QS. Al-Muzammil: 10)
 
Coba kita renungi baik-baik. Ayat di atas jika kita samakan dengan kondisi pemuda zaman sekarang, maka akan bertemu di sebuah titik yang sangat jelas, terang, seterang cahaya matahari di waktu Zuhur. Pemuda? Kata yang memiliki yang makna penting bagi kehidupan masa depan. Sebagai bukti mari kita lihat kembali Ir. Soekarno;

“Berikan aku 1000 orangtua maka akan aku cabut Semeru dari akarnya!”
“Berikan aku 10 pemuda maka akan aku guncangkan dunia!”

Lihat betapa dahsyatnya perkataan presiden Soekarno tentang pemuda. Tetapi, jika kita lihat pemuda zaman sekarang yang mudah terbawa arus, gampang terprovokasi, menyimpang dari jalan kebenaran, maka ayat ini bisa menjadi salah satu solusi, “Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan”. Setelah kita berhasil bersabar dan tetap pada pendirian yang kita pegang maka Allah juga memberikan cara yang terbaik kepada kita, “Jauhilah mereka dengan cara yang baik.”

Kedua,

وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
“…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” 
(QS. An-Nahl: 125)

Kita lihat ayat di atas berbicara tentang tata cara berdebat yang baik. Mengingat ayat ini, maka sepantasnyalah kita juga mengingat perkataan seorang ulama besar yang telah menulis banyak kitab-kitab terkenal di berbagai cabang ilmu pengetahuan seperti: Al-Umm, Ar-Risalah, Fiqh Sunnah. Ya, dialah Al-Imam Asy-Syafi’i Rahimahullahu ‘Alaih.

“Al-khuruj minal ikhtilaaf musatahabbun.”
“Keluar dari perbedaan adalah sunnah.”

Akan tetapi ulama lain juga mengatakan bahwa “Perbedaan adalah Rahmat”. Ya, keduanya benar. Keduanya memiliki hujjah yang kuat. Oleh karenanya di sinilah kita harus mengaplikasikan ayat di atas, “…dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” 

Kita sebagai pemuda tidak bisa asal mendebat orang yang berdalil dengan perkataan Imam Syafi’i, karena mereka berdalil dengan pendapat itu pasti mempunyai hujjah. Kita juga tidak bisa mendebat orang yang berdalil dengan perkataan ulama terakhir, karena mereka berdalil dengan pendapat itu juga pasti mempunyai hujjah. Yang benar, kita harus menyatukan pendapat mereka berdua tanpa ada yang merasa tersakiti atau tersinggung.

Sebagai contoh, pada suatu waktu ada seorang murabbi bertanya pada mutarabbinya, “Mana yang benar, membaca Al-Qur’an wajib dengan wudhu atau tidak dengan wudhu?” Jujur para Mutarabbi ini bingung untuk menjawab pertanyaan beliau. Alhasil Murabbi kami melanjutkan perkataannya kemudian, “Al-khuruj minal ikhtilaaf mustahabun.”, Keluar dari polemik itu lebih dicintai dan mendekati sunnah, jadi jika kita menemukan ada perbedaan dalam hal membaca Al-Qur’an, dan kita juga harus bisa keluar dari perbedaan tersebut dengan bijak. Sederhana saja, jika kita ingin membaca Al-Qur’an kita cukup berwudhu saja, dengan begitu pendapat yang mengatakan ‘wajib dengan wudhu’ tidak akan protes karena pendapatnya telah di indahkan, dan pendapat yang mengatakan ‘tidak wajib dengan wudhu’ juga tidak akan protes. Karena, tidak berwudhu saja boleh apalagi berwudhu.

Jadi, sebagai pemuda kita harus bijak dalam menentukan sikap kita apalagi yang sifatnya ikhtilaf.

Ketiga,

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ
“Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” 
(QS. Al-Baqarah: 187)

Saya sering memikirkan bahwa pemuda zaman sekarang terlalu banyak foya-foya; apalagi dengan wanita. Maka dari itu satu dari sekian banyak ayat yang memotivasi kita untuk menikah saya lampirkan di sini. Pasangan hidup? Ya, itu sebuah solusi yang tepat. Ada yang masih ingat dengan shahabiyat Aisyah (ra)? Beliau dinikahi oleh Rasulullah di umurnya yang terhitung masih sangat belia, 8 tahun. Ada lagi kisah seorang delegasi luar negeri, Mush’ab bin Umair yang menikah terlebih dahulu sebelum melaksanakan tugasnya. Begitu pula dengan Usamah bin Zaid yang juga menikah sebelum diberangkatkan untuk memimpin perang oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dan masih banyak lagi kisah tentang sahabat yang memiliki pendamping untuk kebaikan dirinya.

Begitulah tiga ayat sakti yang sangat ampuh yang saya lampirkan sebagai solusi ke”galau”an generasi muda zaman ini.

“Nas’a fii halli musykilaati nudraani Al-‘Ulama”
Kita berusaha menjadi solusi atas kelangkaan para ulama.


----

 
Subhanallah.
Setelah membaca artikel di atas, aku jadi berpikir tentang bagaimana sikap pemuda zaman sekarang dengan segala kendalanya. Memang benar sih, setiap kali aku sedang berjalan di luar, duduk di bus, aku sering memperhatikan orang lain—bagaimana sikap mereka di tempat umum dan bagaimana cara berbicara mereka dengan teman sebayanya.

Yang aku dapatkan adalah jarang sekali pemuda seperti mereka itu memperhatikan hal kecil atau bahkan kewajibannya. Aku bahkan tidak pernah melihat pemuda atau pemudi yang menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur’an atau buku panduan dzikir pagi dan petang. Jujur saja, kalau aku sedang duduk di bus dan menunggu kemacetan sampai lebih dari 2 jam, aku tidak pernah melihat pemuda yang meluangkan atau menyalurkan rasa bosan mereka dengan Al-Qur’an—paling tidak berdzikir deh. Yang ada hanyalah main hape, main hape, dan main hape.

Jujur harus kukatakan, dulu aku seperti itu. Tapi, banyak yang menasihatiku bahwa mendengarkan musik atau fokus pada smartphone juga tidak bagus. Kita tidak akan mendapatkan manfaat. Semenit yang lalu buka Whatsapp, dua menit yang lalu Twitter, atau Line, apalagi? Sedangkan Al-Qur’an sudah tidak pernah disentuh sama sekali.

Tapi benar sekali, aku membuktikannya. Dengan berprinsip - membaca Qur’an di mana pun- dapat mengubah hidup dan pola perilakuku yang awalnya tidak memiliki aturan. Rasanya hidup teratur dan terarah. Mempunyai tujuan yang jelas, seperti itu rasanya. Aku masih penasaran, apakah musik dan social media benar-benar mampu menjauhkan para pemuda kita dari Al-Qur’an? Bahkan ketika terdengar suara adzan mereka sama sekali tidak berkutip. Tidak ada yang terlihat peduli akan panggilan tersebut. Mereka sibuk ketawa-ketiwi melihat ponsel masing-masing—entah apa yang dilihatnya. Sungguh, sekali lagi, aku hanya berusaha menjelaskan apa yang kuperhatikan selama ini. Hampir setiap hari aku naik TransJakarta pulang-pergi. Dan tentu, hampir setiap hari pula kami mengalami yang namanya macet. Dan itu sudah biasa.

Bertemu berbagai orang dengan karakter yang berbeda-beda memang menyenangkan. Kita jadi belajar banyak hal dari perbedaan itu. Tapi terkadang aku miris melihat mereka. Ada yang senang memperhatikan, (maaf) paha perempuan. Ada juga yang membuka web-web porno di hape mereka sambil menutup-nutupi dari orang yang duduk di sebelahnya. Ada pula yang sengaja memamerkan aurat mereka dengan membuka kancing baju sampai dua kancing ke bawah. Laa haulaa wa laa quwwata illa billah. Semoga kita semua diberikan ampunan-Nya.

Bukan hanya aku saja yang pernah mengalami masa-masa jahiliyah. Tapi ternyata banyak pemuda yang mengalami masa-masa suram tersebut terlebih dahulu baru setelah itu berhijrah. Dan indahnya petunjuk Allah dengan segala kemudahan ketika muncul azzam untuk mencari ilmu. Aku yang paling menyadari hal ini dari diriku. Aku jadi ingat pertama kali aku mencari-cari akun Islam yang ternyata mulai tersebar di social media. Kemudian aku beranikan diri untuk gabung bersama mereka. Dalam artian, aku mengikuti kajian di majelis tersebut. Belajar lagi tentang keutamaan shalat, dzikir, berpuasa, dll. ALLAH PERMUDAH JALANKU MENCARI ILMU. Sungguh, aku tidak berbohong. Setelah itu aku bertemu dengan teman-teman yang ternyata memiliki visi dan misi yang sama. Ada yang mengajakku ikut kelas tadabbur Al-Qur’an setiap Sabtu. Ahad esoknya aku bisa mem-post materi kemarin ke blogku. Subhanallah, banyak yang berkomentar. Bahkan berterimakasih dan mengatakan bahwa ilmu yang kusampaikan bermanfaat. Sekali lagi, sebagai pemuda-pemudi yang telah diberikan amanah untuk menyampaikan kebenaran, pastilah kita malu jika kita tahu HAL YANG BENAR tetapi tidak memberitahunya. Ini dapat terlihat sekali di lingkungan remaja yang di mana ketika ada satu remaja ia tahu bahwa sudah adzan dan harus disegerakan untuk shalat, namun ia juga melihat teman-teman sekelompoknya sibuk dengan urusan duniawi. Apa yang harusnya dikatakan si pemuda? Ajaklah mereka. Bujuk dengan perlahan. Kita tahu mengajak pada kebaikan itu berpahala. Dan kebalikannya, jika hanya kita sendiri saja yang beribadah, maka kita bukanlah lagi seperti umat Rasulullah.

Wallahu’alam bis shawab.

No comments:

Post a Comment