Visitor

Sunday, November 3, 2013

Tadabbur Al-Qur'an


Materi Tadabbur QS Al-Imran ayat 33
dan
An-Nahl ayat 120-121


2 November 2013


"Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing),"
(QS. Al-Imran: 33)


Ayat tersebut mengingatkan kita pada momentum ibadah haji dan Qurban yang tidak bisa lepas dari sebuah nama besar yang tertoreh dalam sejarah dan diabadikan dalam kitab-kitab suci.


Mengapa Ibrahim?

Ada beberapa hal yang harus kita ketahui mengapa Allah memilih keluarga Ibrahim sebagai salah satu contoh suri tauladan yang baik.
 

1. Disebutkan di semua agama samawi
2. Menjadi salah satu nama surah di Al-Qur'an (Surah Ibrahim) 
3. Ibrahim memiliki gelar ulul azmi yang artinya "penyabar"
4. Ibrahim juga memiliki gelar uswatun hanasah atau teladan yang paling baik


Gelar ini hanya diberikan kepada dua manusia di muka bumi ini. Yakni, Rasulullah dan Nabi Ibrahim AS.


"Sungguh telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan banyak mengingat Allah,"
(QS. Al-Ahzab: 21)

"Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya, ketika mereka berkata pada kaumnya, 'Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami mengingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu ada permusuhan dan kebencian untuk selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja,' kecuali perkataan Ibrahim kepada ayahnya, 'Sungguh, aku akan memohonkan ampunan bagimu, namun aku sama sekali tidak dapat menolak (siksaan) Allah terhadapmu.' (Ibrahim berkata), 'Ya Tuhan kami, hanya kepada Engkau kami bertawakal dan hanya kepada Engkau kami bertobat dan hanya kepada Engkau-lah kami kembali,'"
(QS. Al-Mumtahanah: 4)

Jika kita perhatikan dengan jeli tatanan bahasanya, kita akan menemukan segelintir perbedaan yang pasti membuat kita bertanya-tanya.
 

Di mana letak perbedaannya?


لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

Di dalam Surah Al-Ahzab ayat 21 kita dapat melihat ayatnya yang berawalan "laqad" dan kata "uswatuh hanasah" diselipkan di belakang ayat setelah kata "Rasulullahi".

 قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ إِلَّا قَوْلَ إِبْرَاهِيمَ لِأَبِيهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ لَكَ وَمَا أَمْلِكُ لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ۖ رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Berbeda dengan Surah Al-Mumtahanah ayat 4 yang menjelaskan ayatnya dengan bermula "qad", kemudian diikuti "kaanat lakum uswatun hanasah" sebelum diselingi kata "fii Ibraahima".

Terkait ayat di atas, jika keterangan didahulukan, ini sudah menunjukkan keistimewaan seperti di Surah Al-Mumtahanah ayat 4. Tetapi bukan berarti Ibrahim memiliki keunggulan yang berbeda jauh dengan Rasulullah. Kedua-duanya memiliki suri tauladan yang baik dan tidak dibeda-bedakan. 

5. Ibrahim mendapatkan gelar yang hanya diberikan kepada satu manusia di muka bumi yaitu khalilullah yang terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 125.

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan, dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-Nya."
(QS. An-Nisa: 125)

6. Ibrahim bukan hanya ada di kitab suci, tetapi namanya dijadikan syari'at Islam yang terdapat di dalam doa tahiyatul akhir.

Mungkin kita tidak menyadari setiap kali shalat kita menyebutkan nama 'Ibrahim' setelah bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Jika dihitung, dalam satu hari kita shalat wajib sebanyak lima kali. Dan itu artinya kita membaca doa tahiyatul akhir yang menyebutkan nama Ibrahim sebanyak 36 kali. Itu belum ditambah shalat sunnah lainnya. Dan inilah bukti cinta Allah kepada Nabi Ibrahim AS dengan meminta kita untuk menjadikan Ibrahim sebagai suri tauladan yang patut untuk ditiru ketaatannya.


Keteladanan Nabi Ibrahim AS 

1. Sangat taat dan patuh (qanitan)
2. Hidupnya lurus dan berkomitmen terhadap kebenaran (hanif)
3. Tidak syirik (lam yaku minal musyrikin)
4. Bersyukur (syakiran li an'umihi)

Taatnya Nabi Ibrahim AS di sini bukan hanya sekadar taat, tetapi lebih kepada menegakkan tauhid. Kita bisa kembali mengingat bagaimana Nabi Ibrahim AS selamat dari tantangan yang dihadapinya ketika ia dibakar hidup-hidup oleh orang-orang kafir. Ibrahim pasrah dan bertawakal kepada Allah. Ia meyakini bahwa Allah pasti akan menyelamatkannya. Ia tentu tidak takut dengan siksaan yang akan diterimanya ketika ia mencoba untuk mempertahankan agama Allah. Hukuman yang dijatuhkan kepada Ibrahim membuat para warga datang berduyun-duyun untuk menyaksikan peristiwa naas itu. Dan sungguh, telah datang bala bantuan yang menjadikan bukti bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang dirihai Allah.


Kisah Keluarga Nabi Ibrahim

Jika kita tengok bagaimana kisah keluarga Nabi Ibrahim, maka kita akan menemui kerukunan dan kedamaian dalam rumah tangga. Masih ingat dengan doa Nabi Ibrahim?



رَبِّ هَبْ لِي حُكْمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

"Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh."

Allah telah menurunkan ayatnya yang menjelaskan bahwa Ibrahim merupakan pimpinan, bapak dari semua nabi, imam, suri tauladan yang baik yang dapat dijadikan panutan sosok yang berbudi pekerti luhur. Dan ini dijelaskan di dalam Surah An-Nahl ayat 120-121.

"Sungguh, Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik, (yang mempersekutukan Allah), dia mensyukuri nikmat-nikmat-Nya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya jalan yang lurus."
(QS. An-Nahl: 120-121)

Dari segi bahasa, kita dapat memahami bahwa kata "umat" yang berarti sekumpulan atau satu rumpun hanya diberikan untuk Islam. Selain itu, kita dapat menyebutnya "kaum" seperti kata "kaum musyrikin". Dan keluarga Nabi Ibrahim adalah contoh bagi kita yang ingin mengambil pelajaran penting dalam berumah tangga. Kita dapat lihat bagaimana keteguhan iman dan ketaatan mereka dalam menjalani perintah Allah SWT.

TAAT
Bagaimana definisi taat tersebut?

Ciri-ciri orang yang taat adalah tidak mengeluh. Mereka bersyukur akan nikmat yang telah diperolehnya. Senantiasa berserah diri kepada Allah. Dan mereka sabar dalam menghadapi cobaan yang menimpanya.

"Ya Tuhan, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (baitullah) yang dihormati, ya Tuhan (yang demikian itu) agar mereka melaksanakan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."
(QS. Ibrahim: 37)

Ketika Ibrahim ingin meninggalkan istri dan anaknya karena perintah Allah, dalam hati kecilnya pun berkata "tidak sanggup". Menyadari bahwa keadaan pada saat itu sangat tidak memungkinkan untuk bertahan hidup, Ibrahim merasa iba dan ingin kembali lagi ke pelukan mereka. 

Siti Hajar: "Suamiku, apakah kau akan benar-benar meninggalkan kami di sini?"
Ibrahim: "Ya, istriku."
Siti Hajar: "Suamiku, sungguh kau akan meninggalkan kami di sini?"
Ibrahim: "Maafkan aku istriku. Jagalah Ismail, kumohon."
Siti Hajar: "Suamiku, apakah kau meninggalkan kami karena perintah Allah?"
Ibrahim: "Ya, istriku."
Siti Hajar: "Kalau begitu, pergilah. Dan laksanakanlah perintah Allah. Percayalah bahwa kami di sini akan baik-baik saja. Kita bersama Allah, suamiku."

Ibrahim pergi meninggalkan anak dan istrinya dengan hati yang begitu teguh bertauhid kepada Allah. Jika kita mengilustrasikan percakapan di atas, adakah suami dan istri yang sanggup mengatakan hal demikian sebagaimana seperti Ibrahim dan Siti Hajar? Apa yang kita ucapkan jika istri atau suami kita meninggalkan kita di tempat yang tandus, tidak ada buah, tidak ada air, gersang, dan mungkin tidak layak untuk dijadikan tempat tinggal. Tegakah kita? Atau kita lebih memilih tunduk dan taat kepada perintah-Nya?

Berbeda dengan Siti Hajar. Ia begitu tabah dan patuh terhadap suaminya. Ia mengetahui betul bahwa perintah berdakwah di jalan Allah harus diutamakan. Ibrahim adalah suami yang amat dicintainya, namun Allah harus tetap menjadi cinta pertamanya. Dan ini adalah bukti kasih sayang Allah kepada keluarga Nabi Ibrahim AS. 

Siti Hajar kebingungan mencari air untuk bayinya, Ismail. Saat itu Ismail terus menangis karena kehausan, sedangkan air susu ibunya sudah kering. Maka berlarilah Siti Hajar ke sana ke mari tanpa arah tujuan. Berkali-kali ia pulang pergi antara bukit Shafa dan Marwah, tetapi tidak didapatnya setetes air pun. Peristiwa ini kita kenal sebagai Sa'i yang menjadi salah satu rukun haji dan umrah. Mengingat bagaimana sulitnya Siti Hajar mencari air untuk diminum Ismail dan dirinya. Namun, Siti Hajar tidak menyerah untuk terus berusaha. 

Dan seketika itu, Siti Hajar mendengar suara yang menunjuk ke suatu tempat hingga memerintahkan agar bayinya diletakkan di sana. Kemudian ia melepaskan gendongan Ismail dan dengan izin Allah, dari kaki bayi Ismail yang merentak-rentak itu tiba-tiba muncul mata air dari dalam pasir dengan derasnya. Mereka meminumnya perlahan dengan rasa haru dan bahagia. Dan air susu pun keluar lagi.

Mata air itu semakin lama semakin melimpah. Dan Jibril berkata kepada air itu, "Zam-zam, berkumpullah!". Maka dengan izin Allah, mata itu itu mengumpul. Sejak saat itu, mata air itu tidak pernah berhenti mengeluarkan air. Dan hingga saat ini, masyarakat datang berbondong-bondong dari segala penjuru untuk meminumnya. Air zam-zam yang dikenal seperti air surga dapat menjadikan salah satu bukti kekuasaan Allah yang patut kita imani.

Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya selama 13 tahun. Dalam kurun waktu itu, Ibrahim tidak lagi mengenal wajah anaknya. Dan ketika mereka kembali bertemu, Ismail sudah menjadi anak laki-laki yang tampan. Namun, Allah kembali memberikan ujian kepada mereka.

Peristiwa inilah yang kembali mengingatkan kita akan makna Idul Adha yang dirayakan dengan penyembelihan hewan qurban, yaitu kambing dan sapi. 

"Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim berkata), 'Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?' dia (Ismail) menjawab, 'Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang yang penyabar. Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim) membaringkan anaknya atas pelipisnya (untuk melaksanakan perintah Allah). Lalu Kami panggil dia, 'Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu.' dan sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
(QS. Ash-Shaffat:102-107)

Ismail berserah diri kepada Allah dengan mengikhlaskan dirinya disembelih sebagai perintah yang datang langsung dari Allah lewat ayahnya. Ia tahu bahwa dengan taat kepada ayahnya, maka ia telah taat kepada Allah. Taat. Kembali kata ini yang menjadi acuan dari setiap ayat yang menjelaskan tentang ketauladanan keluarga Nabi Ibrahim AS sebagai model rumah tangga yang baik.

Ketaatan itu substansinya adalah hati.
Jika kita benar-benar taat kepada Allah indikatornya adalah shalatnya khusyuk. Jadikanlah shalat sebagai comfort zone kita.
Ketika shalat, janganlah berpikir ingin cepat-cepat salam.
Ketika shalat, janganlah berpikir apakah imamnya akan membacakan surah pendek atau tidak.
Ketika shalat, janganlah berpikir bahwa Allah tidak memperhatikan kita.
Dan perlu diingat, amal ibadah yang kita kerjakan tidak menjamin kita akan masuk surga.
Tetapi atas rahmat-Nya kita bisa mencapai surga.
Berarti ini termasuk dalam keseharian kita untuk menjalani perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Seperti ghibah, zina, makanan dan minuman haram, judi, dan hal lainnya yang harus benar-benar dihindari. 
Jika Allah sudah memberikan rahmat, maka di situlah kita akan memaknai bagaimana kita mampu menjadikan diri ini pantas mendapatkan surga. 
Beristiqomah dalam beribadah.
Taat. Jangan mengeluh.
Ketika ujian itu datang, cobalah untuk menjadikan sebagai peringatan kita untuk terus bersyukur kepada Allah.
Ketika kita bersedih, ingatlah bahwa kesedihan kita itu dapat menjadi peleburan atas dosa-dosa yang pernah kita perbuat.


Menikah Muda? 
Banyak dari para pemudi atau pemuda yang ingin segera menikah tanpa memikirkan bagaimana ia membangun fondasi yang baik untuk rumah tangga mereka nantinya. Apakah ini berkaitan dengan kesiapan? Tentu menikah bukan perkara asal-asalan yang ketika sudah ada calon, dana, dan orangtua yang menyetujui, lalu dengan cepat mereka menyegerakan pernikahan tersebut TANPA betul-betul memahami poin-poin penting dalam menjaga keutuhan rumah tangga itu sendiri. Tetapi bagaimana jika keadaannya dibalik? Jodoh tak kunjung datang, usia semakin menua, orangtua sudah sakit-sakitan, kesiapan sudah matang, apakah kita akan menjadi resah karenanya?

Tingkatkanlah terus kualitas diri kita. Jangan pernah merasa cukup. Dan jangan pernah merasa bahwa diri kita sudah jauh lebih baik. Masih banyak yang bisa diperbaiki. Dan pasrah terhadap takdir Allah merupakan ketaatan yang wajib kita jalani. Orang beriman yakin bahwa jodohnya sudah dipersiapkan oleh Allah. Tidak usah risau dengan teman-teman yang menyindir atau mengolok-olok kita yang keukeuh untuk tidak pacaran. Sebagian dari mereka mungkin memiliki perspektif bahwa menjajaki dunia pacaran adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal calon jodoh kita. Padahal jelas-jelas di Islam dilarang. Pacaran itu mendekati zina. Dengan berpacaran, kita mengikat diri tanpa adanya status pernikahan. Kita bertatap-tatapan, berpegangan tangan, berkhalwat, berbicara banyak dengan lawan jenis, melakukan interaksi lebih, berpandangan, berdua-duaan, berbicara layaknya suami istri penuh dengan 'cinta', dan itu sama saja MENDEKATI ZINA. Lebih dari itu, terkadang mereka dilibatkan oleh orang ketiga, yaitu syaiton. Ketika sedang berdua, maka datanglah bisikan setan untuk melampiaskan nafsu manusia. Dan apakah hal tersebut dapat menjadikan kita patokan untuk mengenal si calon jodoh? Atau hanya untuk 'mengetahui' luar dalam si calon jodoh itu? Dengan begitu, dapat dikatakan bahwa pacaran dapat menjerumuskan kita kepada hal-hal yang sangat dilarang agama. Tentu kita tahu yang sangat disayangkan adalah kaum perempuan. Mereka selalu saja menjadi pihak yang dirugikan. Tubuh mereka diraba-raba, dinikmati keindahannya, dan mengaku 'cinta' tanpa dinikahi secara sah. Apakah itu masih bisa dimaafkan? 


Karena pernikahan itu bukan hanya di dunia. Tapi juga di akhirat. Karena di akhirat nanti tidak ada yang tua dan jelek. Pilihlah yang dapat membawamu ke surga. Jangan jadikan ketampanan atau kecantikan sebagai modal utama. Kita semua akan keriput dan mati. Tetapi keimanan kita kepada Allah tidak akan menjauhi kita dari surga. Insya Allah.

 




Wallahu ’alam bissawab.

No comments:

Post a Comment