Visitor

Sunday, November 10, 2013

Tadabbur Al-Qur'an

Materi Tadabbur QS Al-Ahzab ayat 59
dan
An-Nur ayat 31
 
9 November 2013



HIJABMU ADALAH SURGAMU

Perlu kita ketahui, dakwah merupakan bagian dari kewajiban kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW. Adakah yang merasa bahwa saya sebagai muslim akan menjalankan perintah agama tanpa memikirkan muslim yang lainnya karena saya akan fokus beribadah sendiri? Tidak. Seorang muslim pun tidak akan dapat mencium bau surga jika ia tidak mempedulikan saudaranya. Misalnya, ada orang yang shalatnya sangat rajin—sampai sunnahnya pun tak pernah ketinggalan. Tapi ia merasa, setiap apa yang dikerjakannya akan mendapat balasan. Oleh karena itu, ia tingkatkan kualitas ibadahnya. Padahal, di sekitarnya banyak saudara-saudaranya yang meninggalkan shalat. Lantas apa yang akan dilakukan orang ini seharusnya? Tetap mementingkan diri sendirikah? Atau berdakwah? Paling tidak kecil-kecilan. Ajaklah mereka untuk shalat, ingatkan mereka. Jika mereka tetap menolak, doakanlah. Semoga Allah hantarkan pintu hidayah kepada mereka. Seperti itu kita-kira ilustrasinya.


Nah, jika kita membicarakan syari’at agama atau perintah Allah, kita akan sangat tidak asing lagi dengan kata “hijab”. Hijab menjadi salah satu yang paling booming di Indonesia akhir-akhir ini. Bahkan sampai ada yang namanya, “hijab mode”, “hijabi model”, bahkan “hijab tutorial”. Seiring berkembangnya zaman, memang hijab ini semakin berubah hingga kita tak tahu lagi mana yang sebenarnya sesuai dengan syari’at dan mana yang jauh dari syari’at. Sementara itu mari kita bahas dulu tentang perjuangan polwan untuk berhijab.



Nama: disamarkan

Saya seorang polwan yang sudah lama sekali berkeinginan untuk berhijab. Sebenarnya, menjadi polwan itu tidak mudah. Kita harus mengikuti banyak aturan di sini. Terlebih lagi seragamnya. Banyak detail dan tidak bisa sembarang. Ketika ada yang ingin dirubah, kita harus lapor sana-sini demi menanti keputusan dari atasan. Saat itu adalah pertama kalinya saya mengikuti lomba karya tulis. Alhamdulillah, tulisan saya menang. Saya bercerita bahwa saya memiliki keinginan untuk melakukan suatu perubahan bagi para polwan yang ingin berhijab. Banyak yang tertarik pada tulisan saya tapi sayangnya tidak ada yang bergerak sedikit pun. Akhirnya saya berusaha mengerahkan pasukan untuk maju. Saya cari teman yang memiliki aliran sama dengan saya. Dari tahun 2003 saya berusaha keras bersama mereka untuk mengajukan proposal tersebut. Hingga di tahun 2013, akhirnya kami berhasil mencapai persetujuan atasan. Tapi tidak sampai di situ. Sempat kami dijebak oleh komunitas yang mengacu bahwa hijab itu akan menjadi diskriminasi di kawasan POLRI ini. Tapi, hebatnya, teman-teman seperjuangan tidak mempedulikan apa yang akan terjadi terhadap mereka jika mereka tetap berhijab. Walau begitu, ternyata Allah mudahkan kami semua untuk terus memperjuangkan hijab hingga tugas-tugas ini selesai.


Subhanallah.

10 tahun berdakwah, hanya ingin pakai jilbab, tapi dilarang?

Allah sudah tentukan aturan bagi wanita. Tapi apa? Ternyata manusia-manusia ini yang membuat pelanggaran. Lagi dan lagi. Bukan hanya sekali. Dan bukan hanya di kawasan POLRI saja. Dan bukan hanya terjadi di polwannya saja. Mungkin kita tidak tahu seberapa banyak wanita-wanita yang bekerja dan ingin mempertahankan hijabnya tapi terus mendapat tekanan dari pihak pimpinan. Kita tidak tahu, kan?


Ya, benar sekali. Dakwah itu tidak mudah. Jangankan mengajak teman-teman, untuk diri sendiri saja masih banyak yang belum benar. Belum lagi omongan dan cemooh orang tentang kita. Sungguh, tidak ada umat Nabi Muhammad yang dijamin akan masuk surga tapi semasa hidupnya tidak diberi cobaan. Dan tidak ada satu pun orang beriman yang dicintai Allah dan Rasulullah hidup dalam kesenangan dan kemudahan. Maka dari itu, pantaslah jika dunia ini diibaratkan seperti orang yang berpuasa. Di dalamnya penuh dengan cobaan dan cobaan. Tetapi jika mereka mau bersabar hingga berbuka, maka lihatlah, rasakanlah, betapa ujian Allah adalah suatu kemenangan sendiri bagi kita dan akan melahirkan rasa cinta yang mendalam terhadap Islam. 


Islam. Kita sendiri mengakuinya. Islam itu syahadat, shalat, puasa, zakat dan berhaji jika mampu. Hanya sebatas itukah?


Memprihatikan memang jika kita ‘bermusuhan’ dengan saudara kita sendiri, yaitu umat muslim. Banyak yang menentang bahkan mereka sebenarnya tahu aturan Allah, tetapi apakah mereka menyadari apa yang dilakukannya itu sama sekali tidak menunjukkan bahwa mereka adalah umat Nabi Muhammad? Segelintir orang-orang itu justru menasihati kita yang mau berhijab. Mereka merasa jauh lebih tahu daripada kita. Bahkan tak banyak yang saling zalim.


Dan bahkan sampai ada yang merasa bahwa aturan-aturan Allah itu ribet, menyulitkan, menyusahkan. Sehingga mereka malas dan tidak memikirkan bagaimana caranya untuk menyatukan umat muslim ini yang saling adu domba dan bermusuhan. Ingatlah bahwa menyebar kebaikan untuk sesama akan menjadi income aktif yang akan terus hidup walau kita sudah tak lagi bernyawa. Akankah kita merasa dakwah itu bisa menjadi amalan yang akan diperhitungkan untuk mencari ridha Allah? 


Pertanyaannya adalah, sudah berapa tahun kita berdakwah?

Atau

Sudah berapa tahunkah kita berhijab?



“Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

(QS. Al-Ahzab: 59)



Apa yang dimaksudkan dalam ayat terakhir—ampunan Allah?


Tentu ini adalah syarat mutlak. Datangnya dari Allah langsung. Bukan aturan dari manusia. Tidak boleh ditentang. Karena ini adalah untuk kebaikan manusianya sendiri. Kita jangan sok tahu tentang kebenaran akan aturan-aturan yang dibuat oleh manusia. Karena sesungguhnya, manusia ini tidak tahu-menahu. Hanya Allah yang paling tahu. Dan Allah sudah mengatakan: HIJAB ITU AKAN MENDATANGKAN AMPUNAN ALLAH.


Masya Allah.


Betul sekali. Dalam ketaatan kita, ada yang namanya reward. Kita taat, kita giat, Allah turunkan ampunan. Kita maksiat, kita menggeliat, Allah turunkan siksa. Naudzubillah. Jika kita sudah tahu perintah Allah, jalankan perlahan. Step by step. Dan jika sudah semakin istiqomah, cobalah untuk mengajak teman-teman dan saudara-saudara kita yang jauh dari syari’at. Karena itulah sesungguhnya gambaran umat Rasulullah yang sebenar-benarnya.  


Pertanyaanlah adalah, kalau kita tidak lagi mengacu pada Al-Qur’an yang menjadi pedoman kita, maka kita akan mengacu ke mana?


Setan.


Bisikan setan itu akan menjadi satu-satunya pedoman kita jika kita tak mau lagi mendengarkan dan membaca Al-Qur’an. Innalillah



“Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Qur’an), Kami biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.”

(QS. Az-Zukhruf: 36)



Menjadi teman karib? Ya, jangan heran jangan kaget jangan melotot.


Setelah tahu ayat Al-Qur’an menerangkan bahwa setan akan menjadi sahabat kita, apa yang akan kita rasakan setelah ini? Ngerikah?


Aturan Allah itu tidak main-main. Bukan untuk bahan lelucon, bercandaan, atau lawakan. Setan akan benar-benar menguasai diri kita jika kita tak lagi mengisi kekosongan hati dengan membaca Al-Qur’an. Cobalah rasakan, jika rasa galau dan gundah sudah tak tertahankan lagi, adakah yang memicu kita untuk berbuat yang aneh-aneh? ADA! Tentu ada. Perhatikanlah bagaimana anak muda yang stres akibat ditinggalkan pacar atau diselingkuhi. Mereka sampai rela menyilet-nyilet tangan mereka dengan nama pacar yang meninggalkannya dan di bawahnya tertulis “jahat”. Bodoh. Sungguh itu sikap yang sangat bodoh. Untuk apa kita menyakiti diri kita dengan menyilet tangan padahal Allah sudah buat tubuh kita sesempurna mungkin? Allah titipkan kita wajah, tangan, kaki, dan seluruh tubuh ini dengan keadaan yang baik. Mengapa tak kita rawat? Mengapa kita membiarkan tangan kita berdarah dan merasakan perih hanya untuk manusia yang akalnya sudah tidak bisa ditolong?


Itu namanya arahan dari setan.


Setan yang mengajak kita jauh dari agama Allah. Agar kita tidak shalat, agar kita merasa gundah, agar kita merasa tidak tenang, dan agar kita menjadi orang yang tidak beriman. Padahal, jika dibalik, kita gunakan waktu yang sedikit ini untuk mengingat Allah, shalat, berpuasa, dzikir, atau mengaji ketika cobaan dan masalah itu datang, maka saat itu juga pertolongan Allah mendekat. Laa haulaa wa laa quwwata illaa billah. Allah pasti bantu. Allah pasti tolong. Allah pasti dengar rintihan kita. Allah pasti dengar doa kita. 



“Dan sungguh, Al-Qur’an itu benar-benar suatu peringatan bagimu dan bagi kaummu, dan kelak kamu akan diminta pertanggungjawaban.”

(QS. Az-Zukhruf: 44)



Al-Qur’an itu tidak hanya untuk dibaca, dibaca, dibaca saja. Bukan itu. Tetapi setelah kita membaca, ketahuilah artinya, pahamilah artinya, dan cobalah untuk mengamalkannya. Ini yang dinamakan super.

Super cinta sama Al-Qur’an.


Karena semua urusan dunia dan akhirat, Al-Qur’an sudah jelaskan. Dunia itu luas. Penuh macam-macam. Ada hukum riba, hukum warisan, berbicara kepada orangtua, wanita, apalagi? Dunia ini penuh dengan keberagaman. Dan Allah sudah mengaturnya dengan sedemikian rupa. Tentang hukum riba kita bisa baca di Surah Al-Baqarah: 275. Tentang hukum warisan kita bisa baca di Surah An-Nisa: 7-12. Tentang berbicara kepada orangtua kita bisa baca di Surah Al-Isra: 23. Tentang wanita kita bisa baca di Surah Al-Ahzab: 59 dan Surah An-Nur:31


Al-Qur’an akan bertanya ke kita.


Semasa hidup yang singkat ini, apakah aku menjadi pedomanmu?

Apakah aku hanya jadi pajangan di buffet rumahmu?

Atau hanya disimpan di lemari yang penuh debu bersama dengan mukena dan sajadahnya?

Ataukah kau mengamalkannya?


Al-Qur’an itu akan memberi syafaat kepada kita. Dan tentunya, pertanggungjawaban.

Pertanggungjawaban apa yang sudah kita persiapkan?

Setidaknya, minimal kita ajak teman-teman kita untuk datang ke kajian walau sekali dua kali. Setidaknya, mereka tahu bahwa mengkaji Al-Qur’an itu banyak memberikan manfaat. Selain untuk meningkatkan ketidaktahuan kita pada Islam, mungkin ada dari akhwat atau ikhwan yang sedang mencari jodoh, lalu Allah pertemukan di kajian itu. Kita tidak tahu, kan?


Lagu cinta seperti:

‘Jodohku maunya ku dirimu hingga mati kuingin bersamamu, saling mencinta.’

Sebenarnya tidak lain dan tidak bukan adalah lagu yang mengiming-imingi cinta dengan penuh harap kepada seseorang yang belum tentu Allah jodohkan untuk kita. Bagaimana dengan lagu berikut:

‘Kupinang kau dengan bismillah.’


Nah, ini jauh lebih baik. Ada kata ‘Allah’-nya. Dan itu indah. 


Kembali lagi, kita bisa mengaitkan dari Al-Qur’an ke pengetahuan kita, ke rezeki kita, bahkan ke jodoh kita. Jangan sepelekan itu. Jika kita membaca buku ilmiah atau karya lainnya, memang kita akan mendapat manfaat dari bacaan tersebut. Tapi berbeda dengan Al-Qur’an. Ia tidak akan pernah sama dengan buku lainnya. Tidak akan. Karenanya, cintailah Al-Qur’an sebagaimana kau ingin tenggelam bersamanya hingga ajal menjemputmu dan dia yang akan menerangi cahaya di alam kubur kelak.



“Sesungguhnya orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al-Qur’an), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan mereka akan mendapat azab yang pedih.”

(An-Nahl: 104)





Mari Sempurnakan Hijab Kita

Bismillahhirahmanirahim.


“Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama muslim) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki tua yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur: 31)



Dan kita sudah mengetahui bahwa jilbab bukanlah budaya Arab—atau tradisi. Ini adalah pakaian untuk wanita. Yang mana kita tahu wanita itu adalah perhiasan dunia. Jangan biarkan kecantikan kita ini terobral hanya untuk mengejar duniawi. Tidak akan memberikan syafaat untuk di akhirat kelak.


Seperti inilah akibatnya jika wanita tetap membiarkan tubuh mereka terbuka. Coba bayangkan, jika kalian keluar di tengah malam mengenakan baju tipis dan pendek, kemudian berdandan, kemudian memakai sepatu tinggi, kemudian diamlah saja di situ. Di antara beberapa pria yang datang silih berganti, apakah tidak ada keinginan mereka untuk mendatangi si wanita ini? Atau paling tidak sekadar bertanya, “Ngapain neng malem-malem sendirian berdiri di sini?”



Dari satu menjadi seribu. Dari yang awalnya hanya bertanya satu pertanyaan modus, akhirnya akan menjadi malapetaka untuk si wanita. Apakah tidak kasihan?


Begitulah gambaran wanita yang tidak ingin menutupi auratnya sebagaimana yang Al-Qur’an telah jelaskan. 


Tetapi jika kita lihat pada kenyataannya, mereka justru senang dengan pakaian seperti itu. Mereka merasa bangga dengan kecantikan atau kemolekan tubuh mereka yang dilihat oleh laki-laki. Mereka bahagia jika banyak yang menyukainya. Dicintai banyak manusia atau dicintai Allah yang satu. Mana yang kalian pilih?


--


A: Neng, bajunya tipis amat dah.

B: Suka-suka gue lah! Baju-baju gue! Urusannya sama lo apa?!

A: Duh, galak amat. Ya urusan sama gue mah banyak. Elo kan sodara gue neng. Ya udah sepatutnya gue ngasitau nyang bener.

B: Dih, ngaku-ngaku. Bokap bukan, nyokap bukan, udah ngatur-ngatur gue aja lu!

A: Situ kan muslim neng. Orang muslim itu satu. Saling ngingetin untuk kebaikan.

B: Duh, jangan bawa-bawa agama deh.


Keesokan harinya..


A: Neng, bajunya sama aje kaya nyang kemaren. Malah sekarang belakangnya bolong lagi.

B: Lo komentar aja deh!

A: Kenapa nggak sekalian aja ntuh keteknya dibolongin? Kan cakep nanti ada akar-akar belukar.

B: Dih, kurang ajar ya lo! Mulutnya kagak disekolahin ya?

A: Enggak, bukannya gitu. Mau nanya aja nih. Entar jadi kan?

B: Jadi apaan???!

A: Itu loh. Jam 7 nanti malem gue tunggu ya di hotel.

B: HEH??! LO KIRA GUE APA???! JANGAN ASAL NGOMONG YA LO! KEMAREN LO NASEHATIN GUE, SEKARANG?! GILA LU YA.

A: Duh, marah si eneng. Baru gitu aje udah ngamuk-ngamuk. Kan udeh dikasitau dari maren-maren, bajunya ketipisan. Terus hari ini bolong lagi kek kuntilanak. Gimana nggak laki demen ngeliat yang kebuka-buka.


--


Nasihat dianggap penghinaan? Itu sudah biasa. Tapi benar, jangan hanya menyalahkan pihak laki-laki saja jika terjadi perkosaan pada wanita. Tidak akan sampai terjadi hal-hal senonoh seperti itu jika wanita mampu menjaga perhiasannya. Oleh sebab itu, benarlah orang yang ikut dengan Al-Qur’an, mereka tidak akan menggunakan alasan apa pun. Tetapi sebaliknya, jika mereka jauh dari Al-Qur’an, datanglah beribu alasan untuk menolak syari’at tersebut.




Wanita itu adalah aurat, apabila ia keluar akan dibuat indah oleh setan.

(HR. Tirmidzhi)




Perintah berhijab itu sudah mutlak. Dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kalau setan yang membisikkan ke telinga mereka, ia akan berkata:

“Sudah, jangan berjilbab. Kan gerah nantinya. Belum lagi kalau rambutmu jadi lepek karena ditutupin melulu. Ikuti saja mode baru-baru ini. Keren loh. Apalagi yang modelnya memperlihatkan sedikit dadamu. Pasti kau nanti akan dibilang wanita seksi. Nanti banyak laki-laki yang suka padamu. Mau kan punya banyak fans?”

Lalu setan yang lainnya berkata:

“Tuh, bener tuh, pake jilbab itu gerah, nggak bebas. Aturannya juga ribet. Nggak boleh gaul sama laki-laki. Terus kalo ngerokok dibilang cewek nggak bener. Terus nggak bisa punya banyak fans. Nggak bisa nge-upload foto-foto gaul ke social media. Nanti dikiranya kerudung dusta lagi.”


Naudzubillah min dzalik.


Dan inilah jawaban mereka yang ketika dinasihati menolak:


“Bukannya apa ya. Tapi gue belum siap berhijab. Lagian, yang lebih penting kan hatinya. Jadi orang bener dulu deh. Jilbabin dulu hatinya, masalah berjilbab beneran nanti ajalah, gampang itu. Gue tuh nggak mau kalau berjilbab tapi masih buka-tutup, shalatnya masih bolong-bolong.”


Ini adalah alasan.

Hati kok dijilbabin?

Seseorang yang taat itu pembuktiannya adalah dengan nurut sama perintah Allah. Bukan menunda-nunda dengan alasan yang tidak masuk diakal. Sekali lagi, setan memang hebat. Mereka punya ribuan cara untuk membisiki manusia agar berada di jalan yang sesat.


“Lebih baik mana yang berjilbab tapi hatinya bejat dan nggak shalat daripada yang nggak berjilbab tapi baik dan shalat?”


Lebih baik berhijab dan rajin shalatnya. 




“Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

(QS. Al-A’raf: 16-17)




Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka.




"Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita yang sholehah."

(HR. Muslim)




“Jilbabkan hatimu dulu, barulah jilbabkan kepalamu.”

“Tidak akan bersih hatimu karena kamu tidak taat kepada Allah!”

“Belum siap, kelakuan saya masih jelek.”

“Tidak akan ada kata siap jika terus menunda. Taatlah kepada Allah, maka kau akan selamat.”


"Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, 'Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka.'" (HR. Ahmad 1: 191 dan Ibnu Hibban 9: 471)


Allah mencintaimu, dengan begitu Dia menginginkan kebaikan pada kita.

Janganlah berjubah ketat. Jangan seperti lontong.

Al-Qur’an tidak seperti selera kita. Kita suka pedas, atau kita suka manis kita bisa memilih. Tetapi Al-Qur’an tidak.

Karena iman mencakup amalan hati, perbuatan, perkataan lisan.

Iman butuh realisasi.

Jadi yang tidak berjilbab ya namanya tidak taat kepada Allah.

Mau kapan berjilbab? Ketika nanti menikah? Ketika nanti sudah tua? Ketika nanti sudah keriput? Atau ketika sudah menjadi mayat?

Kita tidak tahu besok kita masih ada di dunia ini atau sudah ada di alam kubur.

Sesungguhnya kita tidak akan mampu menebak kapan ajal kita akan dijemput.

Kita mati dalam keadaan menutup aurat atau membukanya?

Jika masih ada teman-teman di sekitar kita belum berhijab, beritahulah dengan perlahan. Semoga Allah mudahkan dakwah kita dan mengizinkan kita beristirahat di surga. Allahumma aamiin.





Wallahu’alam bis shawab.

No comments:

Post a Comment