Visitor

Wednesday, November 13, 2013

Kamu Pasti Bisa, Nak


Bismillahirahmanirahim.

Tepatnya tanggal 4 Oktober 2010 aku resmi menjadi mahasiswi di LIA Foreign Language Academy jurusan Japanese Literature. Aku memilih kuliah di sini karena selain tempatnya nyaman, tidak begitu banyak mahasiswanya sehingga aku bisa fokus, dan lagi kekeluargaannya menyatu. Aku tidak begitu memikirkan label pada saat itu ketika ingin berkuliah. Bagiku, kuliah di mana saja selama kita nyaman, tidak akan jadi masalah. Ibaratnya seperti orang miskin yang bahagia dengan kesederhanaannya. Tetapi orang kaya yang penuh dengan harta ternyata hatinya tidak bahagia.

Mamaku sejak awal sudah menanyakan aku akan kuliah mengambil jurusan apa. Dan aku mengatakan dengan yakin: Sastra Jepang. 

Hingga saat ini aku sudah menduduki bangku kuliah semester tujuh. Tidak terasa ya. Hampir tiga tahun sudah aku belajar bahasa dan sastra. Dan sebenarnya aku sempat terjatuh juga di semester dua dan tiga. Alasannya klasik, aku malas dan sangat malas belajar. Padahal aku tidak menyadari di situ, resikonya cukup berat. Aku pasti akan menanggungnya di semester akhir. Inilah yang ingin kuceritakan.

Mahasiswa semester akhir biasanya disibukkan oleh tugas akhir seperti skripsi dan sidang. Mata kuliah pun hanya beberapa saja yang diambil. Tapi tidak denganku. Karena IP-ku pernah jatuh, akhirnya aku babat habis-habisan di semester lima dan enam. Aku pernah menyentuh angka ‘1’ dan menurutku itu sangat memalukan. Tetapi aku benar-benar hantam dengan IP 3,8. Alhamdulillah,  akhirnya terwujud. Begitu pun semester tujuh ini, aku punya target untuk menyentuh IP 4. Biidznilah

Awal kebangkitanku adalah di semester lima kemarin. Aku kaget luar biasa karena aku tidak menyangka bahwa dengan kekuatan bismillah akhirnya aku mampu melewati masa-masa sulit itu. Pertama kalinya aku merasakan menjadi anak kuliah sungguhan. Sebelumnya? Aku hanya main-main saja. Kupikir tidak hanya aku saja yang seperti itu. Masih banyak lagi anak-anak kuliahan yang ternyata menghabiskan waktunya untuk senang-senang. Tanpa memikirkan bagaimana orangtua bersusah payah membiayai anaknya kuliah. Begitu pun yang kupikirkan sejak kemarin. Jika aku tidak bisa sidang di tahun 2014, berarti aku harus membayar kuliah di semester sembilan nanti.

Aku punya seorang teman. Bisa dibilang dia adalah chairmate-ku. Kami berkenalan sejak semester satu. Tapi awalnya aku tidak dekat. Sampai masuk semester lima, akhirnya kita jadi teman akrab. Berarti dari awal sampai sekarang aku selalu sekelas sama dia. Namanya Santy. Dia juga yang kasih aku kado ulang tahun lukisan figur yang pernah ku-upload di post sebelumnya. Anyway,  aku sama Santy lagi berusaha keras untuk tidak ada nilai C apalagi D untuk mata kuliah ‘danger’ ini. Apa saja itu? NTDB, Prakom 4, Teori Sosial Budaya dan Kapita Selekta Budaya. Keempat mata kuliah ini sangat utama bagi kami yang mengambil jurusan budaya. Minimal B. Sehingga IP bisa mencukupi untuk mengambil 18 sks di semester depan. Jujur saja, kalau teman yang lain sudah siap dengan skripsi mereka, aku masih menulis tanpa bimbingan. Mereka memang sudah ada yang ikut mata kuliah Metodologi Penelitian. Sehingga mereka dibimbing langsung di kelas tersebut. Aku dan Santy telat mengambil mata kuliah itu. Dan alhasil, kita harus sabar dan tetap berusaha untuk lulus di mata kuliah peminatan ini. 

Santy sudah hafal kalau selesai kelas pasti aku akan meluncur ke mushola. Dia duduk manis menemaniku. Temanku yang satu ini non-muslim, jadi dia hanya menunggu saja sampai aku selesai shalat. Seusai itu, kami biasanya kembali mengerjakan tugas dan membicarakan kuliah kami. Aku dan Santy sungguh sangat menikmati masa-masa seperti ini. Walau kita sering sekali jalan berdua, tidak membuatku merasa kurang. Banyak sih teman-teman lain yang ketika mengerjakan tugas atau jalan-jalan mereka satu geng. Tapi buatku, geng itu bukan prioritas dalam memiliki teman di mana pun kita berada. Sering kami saling menasihati, mengingatkan, atau bahkan saling peduli. Bagaimana pun juga, kami memiliki keinginan untuk lulus tepat waktu. Inginnya sih pada 4 Oktober 2014 mendatang. Tapi jika itu bukan yang terbaik, maka mudah-mudahan kami bisa dan sanggup menjalani hari-hari setelah itu.

Dan ketika kami memperhitungkan sisa sks yang harus diambil, sepertinya tidak memungkinkan. Tapi hari ini kakak kelasku yang anak budaya menawariku SP Kajian Sosial Budaya. Seperti sebuah jawaban. Mungkin sebelumnya aku akan diskusi terlebih dahulu dengan Mbak Upi—yang jadi tempat curhat anak-anak ketika sedang galau akademis. Aku akan coba memastikan bahwa separah-parahnya aku telat lulus kuliah, paling tidak aku hanya akan menyentuh semester sembilan, setelah itu sidang dan wisuda. Aku tidak boleh pesimis. Aku harus yakin pada kemampuanku sendiri. Semester ini aku ambil 20 sks. Dan aku merasa tidak berat dengan bobot segitu. Harusnya aku teguh pada pendirian bahwa aku bisa lulus semua mata kuliah. Berusahalah, Allah bersama kita dan selalu memperhatikan kita. Aku sangat yakin itu.

Kalau kemarin aku sudah berhasil menyentuh 3,82—bagaimana dengan semester ini? Mampukah aku mencapai 4,00? Tidak ada yang tidak mungkin. Aku bahkan punya cara belajarku sendiri yang juga kubagi bersama teman-teman. Khusus untuk mata kuliah chokkai (listening) dan kaiwa (speaking) aku akan duduk di bangku paling depan dengan mempersiapkan recorder  diam-diam. Apa yang diterangkan dosen bisa aku putar kembali di rumah. Kalau untuk mata kuliah lainnya, biasanya aku sudah persiapkan kisi-kisi dan catatan penting yang kiranya nanti muncul di ujian. Bismillah. Semua pasti ada jalan.

Kata Mama, aku harus kuat.
Kata Mama, aku pasti bisa.

Walau banyak orang-orang yang pernah menjadi mahasiswa dengan status IPK yang tinggi dan pekerjaan yang hebat, belum tentu mereka memahami apa artinya bersyukur. Belum tentu tujuan mereka untuk ibadah. Siapatau mereka menjalani masa-masa belajar seperti itu hanya untuk meraih nilai tinggi atau kebanggaan tersendiri. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa apa yang kita kerjakan—seperti bekerja, kuliah, istirahat, belajar itu untuk Allah?

Atau hanya untuk menjalani status kehidupan semata?
Bahwa hidup itu ada yang namanya belajar, bekerja, mendapatkan uang, bersenang-senang, menikah, tua, punya cucu, dan meninggal.

Apakah beda hasilnya jika kita menjalani kehidupan untuk ibadah dengan menjalani kehidupan untuk formalitas saja?

Kalian bisa coba buktikan sendiri.
Dasarnya hanya satu, ada di hati kita.
Niat itu dibangun, bukan dicari.

Motivasi terbesar ada di diri sendiri. Walau terlihat sulit, apakah Allah akan biarkan kita kesulitan seperti itu? NAY! Tidak. Allah senang dengan hamba-Nya yang berusaha dengan keras. Bismillah, semoga kita semua diberi kemudahan dalam segala urusan. Aamiin.

:)

No comments:

Post a Comment