Visitor

Sunday, November 24, 2013

Tadabbur Al-Qur'an



4 Pertanyaan Sebelum Kematian


23 November 2013

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
(QS. Al-A’raf: 34)


Tadabbur kali ini agak berbeda dengan yang sebelumnya. Mohon maaf jika ada kekurangan dalam penyampaian karena keterbatasan tulisan-tulisan saya yang hanya sempat saya catat di buku. Biasanya saya memakai alat bantu recorder untuk mempermudah meringkas semua hasil tadabbur. Tapi kali ini saya hanya bermodalkan buku tulis dan pensil. Semoga ini menjadi pelajaran berharga kita selanjutnya untuk terus memperjuangkan semangat menjadi pemuda-pemudi yang cinta dakwah. Bismillah.


Semula, jika melihat atau mendengar judul yang kami tulis, rasanya seperti apa?

Takut?

Ingat akan dosa?

Atau?

Jujur, saya pribadi ada segelintir rasa takut menyerang mengingat hal-hal apa yang akan kita lalui setelah masa-masa kita meninggal. Jika dihitung berapa tahun kita sudah lewati masa setelah baliq, apa saja yang bisa kita banggakan ke Allah? Amal apa yang sudah kita kerjakan? Atau justru kita mengerjakan yang dilarang-Nya? Naudzubillah.

Mari kita masuk ke materi.



Hakikat Kematian

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan di dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”
(QS. Ali Imran: 185)

Sungguh, sebenarnya kita sangat dekat dengan kematian. Siapa yang bisa menjamin bahwa besok kita masih hidup? Jangankan besok, satu detik kemudian saja kita tidak bisa mencegah malaikat pencabut nyawa untuk menunda kematian kita.


Zaman Nabi dulu, bumi dikatakan sudah mencapai usia yang tua. Ibaratnya seperti nenek-nenek yang tubuhnya membungkuk—seperti orang rukuk. Nah, itu zaman Nabi. Bagaimana dengan zaman kita sekarang? Janganlah heran jika sudah mulai kelihatan dengan jelas tanda-tanda akhir zaman. Karena memang, bumi kita ini sudah sangat tua. Dan salah satu tanda yang paling kelihatan adalah jumlah perempuan yang lebih banyak daripada laki-laki.


Kematian itu seperti segelas air. Semua orang pasti akan meneguknya.


Dan tahukah kalian bahwa yang dapat memasukkan kita ke surga nanti bukanlah karena amal-amal kita, melainkan rahmat Allah. Tapi lewat amal-amal inilah kita akan mendapatkan rahmat dan ridha-Nya. Maka dari itu, sangat penting untuk kita ingat dan ketahui, bahwa amal apa pun yang kita kerjakan di dunia ini, niatkanlah untuk Allah semata—jangan karena mengharapkan pujian manusia. Mulai dari sekarang, shalatlah dengan niat untuk Allah. Mengaji dan bertadabburlah dengan niat untuk Allah. Bekerja dan belajarlah dengan niat untuk Allah. Insya Allah, rahmat dan hidayah-Nya kan kita raih.


Sukses.

Sebagai manusia, fitrahnya wajar merasa ingin ‘sukses’. Kita semua pasti punya impian, bukan? Dan bagaimana caranya kita mencapai impian tersebut jika tanpa restu dan ridha Allah? Tentu impian tersebut pasti hanya akan menjadi buih-buih saja yang tidak berguna. Sukses di sini bukan hanya sukses sebagai manusia di dunia saja. Tetapi juga di akhirat. Karena dunia hanyalah panggung sandiwara. Terkadang kita menjadi seseorang yang diberikan tepuk tangan riuh dari penonton. Itu pertanda kita pernah meraih ‘sukses’. Tetapi setelah turun, tepuk tangan itu selesai. Dan kita kembali memerankan beberapa tokoh yang berbeda-beda. Dan akan tiba saatnya panggung sandiwara itu akan ditutup. Apa yang kita perankan di panggung tersebut, entah sebagai seseorang yang antagoniskah, atau yang melankoliskah, semua akan terjawab di saat semuanya sudah usai. Yaitu di mana kita akan melihat diri kita sebenarnya di hadapan Allah.

“Kematian adalah awal dari satu perjalanan panjang dalam evolusi manusia, di mana selanjutnya ia akan memperoleh kehidupan dengan segala macam kenikmatan atau berbagai macam siksa dan kenistaan.”

Lihatlah, betapa kematian itu sangat dekat dengan manusia. Kita akan merasakannya sesuai dengan takdir Allah. Merasa sakitkah? Atau merasa nikmat ketika dicabut nyawa? Jawabannya hanya kita dan Allah yang tahu.


Jika kita ingin tahu bagaimana masa depan, coba tengok hari ini. Misalnya, sudah shalat berjamaahkah hari ini bagi yang ikhwan?

Sudah bertilawahkah satu juz satu hari?

Dan pertanyaannya adalah, amal ibadah tersebut kita tujukan untuk siapa?

Untuk Allah?

Tidak ada seorang pun dan sesuatu apa pun yang akan membantu kita untuk menghilangkan kepedihan atau rasa sakit ketika kematian itu datang menghampiri. Belum sampai di situ, masih ada yang biasanya kita khawatirkan, yaitu pertanyaan-pertanyaan malaikat yang akan datang ke kita pada saat kita sudah dikubur. Sudah siapkah kita?


Kematian walaupun kelihatannya adalah kepunahan, tetapi pada hakikatnya adalah kelahiran yang kedua.


Dalam sebuah hadist diriwayatkan, barangsiapa yang ingin umurnya panjang, maka bersilaturahimlah kepada keluarga dan saudaramu. Sambunglah tali persaudaraan di antara kalian. Hanya pertanyaannya adalah, jika umur kita sudah ditambah, apakah itu akan menambah pula keimanan kita? Atau malah sebaliknya? Kita tentu berharap usia kita menjadi berkah walaupun hanya lewat 30 tahun. Banyak pejuang-pejuang yang meninggal di medan perang di usia-usia muda.

Subhanallah


Mereka berjihad harta dan nyawanya. Patutlah kita malu jika dalam kehidupan yang begitu cukup, masih memikirkan duniawi dan duniawi lagi. Sedangkan mereka yang memperjuangkan Islam di Palestina, apakah mereka memikirkan bagaimana akan eksis di antara kelompoknya, atau memikirkan akan melanjutkan S2 di negara mana. Tidak. Dan sayangnya, banyak di antara kita yang masih bergelut dengan memikirkan gelar atau jabatan. Menganggap bahwa itu adalah kehormatan yang sempurna. Di mata siapa?

Tentu di mata manusia.

Tapi tidak di mata Allah.

“Kematian manusia dapat diibaratkan seperti dengan menetasnya telur-telur. Anak ayam yang terkurung dalam telur, tidak dapat mencapai kesempurnaan evolusinya kecuali apabila ia menetas.”




Pertanyaan pertama:
Hei manusia, selama hidup di dunia, apa saja yang sudah kau perbuat? Akankah kau menghabiskan usiamu untuk hal-hal yang dicintai Allah? Atau sebaliknya?

Bagaimana orang hedonis menjawab pertanyaan tersebut?


Tentu, seperti yang kita ketahui, orang hedonisme adalah orang-orang yang cinta pada dunia. Mereka beranggapan bahwa tidak ada kehidupan setelah kematian. Jadi, mereka merasa bahwa hidup yang hanya sekali ini harus diisi dengan hal-hal yang membuat mereka senang sebelum maut menghampiri mereka. Naudzubillah. Jangan sampai kita diperdaya oleh harta dan kemewahan yang sifatnya hanya sementara. Semua adalah titipan Allah. Nanti akan kembali kepada-Nya. Justru harusnya harta yang kita miliki mampu menyokong jiwa agar usia kita berkah.


Manusia.

Mereka tidak akan mencapai kesempurnaannya kecuali apabila meninggalkan dunia ini—mati.


Jangan jadikan hedon sebagai gaya hidup kita. Ingatlah, bahwa usia ini adalah anugerah yang telah Allah berikan ke kita. Jagalah, dan perbanyak untuk memperbaiki diri dengan terus belajar sampai kita meninggal nanti. Percayalah, bahwa usia ini dapat membawa kita kepada kebenaran dan menjadikan berkah di dalamnya apabila Allah yang menjadi tujuan utama kita.


Rasulullah misalnya. Beliau menghabiskan usianya sepertiga untuk Allah, sepertiga untuk tubuhnya, dan sepertinya lagi untuk umat. Subhanallah. Berlaku adil untuk diri sendiri dan umat adalah kebaikan sendiri yang sangat patut kita contoh dari akhlak Rasulullah.


Bahkan saat tidur pun bisa menjadi ibadah dan terhitung amal.

Bagaimana caranya?


Sebelum tidur, hendaklah kita berwudhu dan membaca ayat-ayat Al-Qur’an sambil memejamkan mata. Berdoalah, mintalah, agar Allah membangunkan kita dalam keadaan yang lebih baik lagi. Jangan menyiksa diri dengan tidak tidur padahal sudah sangat mengantuk. Kita ini lemah, akui saja. Istirahat menjadi salah satu latihan kita untuk mati dan siap menghadapinya. 


Setelah membaca doa, tidurlah dengan miring ke arah kanan sambil memegang pipi kanan. Pejamkan mata perlahan dan jangan pikirkan hal-hal yang rumit. Tenangkan hati dengan ayat kursi. Semoga itu ‘kan mengantarkan kita dengan istirahat yang nyaman.



Latihan Mati Dengan Tidur

Bicara tentang tidur, kita pasti merasa tidak sadar bukan akan apa yang terjadi di sekitar kita?

Kita tidak akan pernah sadar ternyata kita menjatuhkan bantal ke bawah kasur. Atau, tidak sadar suara dengkuran kita membuat teman kita atau ibu kita tidak nyaman.


Sama seperti mati—tidak bernyawa. Kita tidak akan pernah sadar bagaimana yang akan terjadi di sekitar kita yang masih hidup. Kita tidak mendengar suara ibu kita, menangisnya saudara kita, atau tertawanya orang lain. Anggap saja selama kita tidur, kita berlatih mati. 


Penjelasan tentang tidur adalah kematian sementara dapat kita lihat di ayat berikut.

“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Az-Zumar: 42)

Tetapi ada banyak cara yang orang lakukan ketika hendak tidur. Misalnya, menyetel murattal sampai ketiduran. Ini yang kurang benar. Dan ini yang harus diluruskan. Mengapa mendengar murattal dilarang sebagai pengiring tidur kita?

Mari kita simak ayat di bawah ini.

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapatkan rahmat.”
(QS. Al-A’raf: 204)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika kita mendengar bacaan Al-Qur’an, kita harus dengarkan baik-baik dan jangan sampai kita kehilangan kesadaran seperti tidur. Menurut saya, jika kita ingin tidur dan tahu kapan saatnya kita tertidur, sebaiknya jangan putar murattal. Gantilah dengan bacaan dzikir ketika kita ingin tidur dan sampai kita terlelap nanti semoga bacaan dzikir atau ayat kursi mampu mengantarkan kita dengan tidur yang tenang dan keesokannya dapat bangun dengan segar. Tetapi untuk Al-Qur’an, kita harus mendengarkan atau membaca dalam keadaan sadar.


Maka dari itu, sebelum tidur biasakanlah untuk membaca Surah An-Naas, Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan juga ayat kursi. Insya Allah tidurnya pun akan dijaga sampai kita terbangun lagi.



Pertanyaan kedua:
Hei manusia, amal kebaikan apa yang kau bawa selama hidup di dunia? Akankah tersisa untuk bekalmu di hari ini?



Baik Atau Benar?
“Aku berbuat kebaikan di dunia ini dengan berbagi bersama anak yatim dan panti asuhan, tapi mengapa aku tidak masuk surga?”
“Aku tidak pernah mencuri, berdusta, apalagi melanggar hukum, tetapi mengapa aku tidak pernah mencium bau surga?”

Ini yang terkadang menjadi masalah pembicaraan kaum muda yang mulai menyamakan antara persepsi kebaikan dan kebenaran. 


Kebenaran yang hakiki dan patut diimani hanya yang berasal dari Al-Qur’anul kaarim wal hadist. Sedang yang lainnya, jangan yakini.


Setiap orang memang berhak menentukan jalannya masing-masing, tetapi tugas kita sebagai sesama muslim adalah untuk saling tadzkiroh atau mengingatkan. Kita tidak bisa memberikan hidayah kepada mereka yang tidak dikehendaki Allah. Andai saja Rasulullah bisa meng-Islam-kan paman yang sangat dicintainya, mungkin kita juga akan bisa memberikan hidayah kepada saudara kita yang non-muslim. Tapi nyatanya? Hanya Allah yang berhak memutuskan siapa yang akan diberikan rahmat dan siapa yang tidak.


Banyak yang terheran-heran ketika melihat orang berbuat baik tetapi nasibnya buruk atau seperti tidak memetik hasil. Di mana letak kesalahannya? Kita tanya dulu, apakah kebaikan tersebut sesuai dengan apa yang Allah perintahkan? Apakah dengan berbuat kebaikan di dunia saja itu sudah cukup?

Tidak.


Islam tidak melihat kebaikan-kebaikan itu. Tetapi amal yang benar, yang ada di dalam Al-Qur’an jika kita merepresentasikannya dalam kehidupan nyata, maka itulah yang akan berbuah baik dari apa yang benar yang telah kita pelajari. Nilai kebaikan tak jadi apa-apa jika tidak ada iman.

Iman apa?

Iman kepada Allah. Rasa cinta dan rasa rindu kepada Nabi Muhammad SAW. Dan tali persaudaraan yang erat antar saudara muslim di seluruh dunia—merupakan kekuatan Islam yang tidak akan pernah luntur.


Jadi jawabannya sudah terlihat jelas. Bahwa tidak semua kebaikan berbuah manis jika di dalamnya tidak ada Allah. Untuk apa kita bersedekah atau menolong sesama jika kita tidak beriman kepada-Nya? Kita tidak melaksanakan shalat, puasa, bertilawah, dan semua yang Allah perintahkan. 


Ada yang mengatakan, untuk apa kita shalat kalau kita masih berbuat maksiat?

Lebih baik tidak shalat tapi rajin sedekah.

Nah, ini yang keliru.

Bukan lebih baik tidak shalat tapi rajin sedekah TAPI LEBIH BAIK SHALAT DAN RAJIN SEDEKAH. Betul?


Sudah. Jangan mengelak-elak lagi. Karena semua yang ada di dunia ini sudah jelas bagaimana prosedur dan tata caranya dalam Al-Qur’an dan Hadist. Nilai kebaikan akan berbuah pahala jika dibarengi dengan iman dan takwa. Rasa takut kita kepada Allah akan menghantarkan kita untuk tidak berbuat maksiat. Penuhilah setiap janji kita kepada Allah dan kelak akan ada saatnya kita melihat atau memetik hasil dari kebaikan itu sendiri.

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu!’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.”

(QS. Al-Mujadilah: 11)

Berada di antara orang-orang shaleh adalah salah satu cara mencari kebenaran hakiki yang mungkin pernah membuat kita ragu. Kita harus menulis kebenaran Islam dari kacamata sunni. Banyak orang yang hafalan Al-Qur’annya bagus, tetapi ucapan dan perilakunya tidak sesuai. Jangan sampai kita banyak belajar tetapi sedikit diamalkan.



Pertanyaan ketiga:
Hei manusia, sudah berbuat kebaikan apa kepada orang-orang di sekitarmu selama kau hidup di dunia? Akankah kau merasa dirimu paling penting dan paling utama padahal kau hidup bersama manusia lainnya?

Menjadi seorang mukmin, sejatinya adalah tidak lagi memikirkan dirinya sendiri. Melainkan umat. Apa yang bisa ia perbuat jika melihat saudaranya jauh dari syari’at agama? Maksiat sana-sini, berjudi, datang ke tempat-tempat yang penuh fitnah, apalagi? Perasaan apa yang dirasakan seorang mukmin ketika melihat saudaranya jatuh ke jurang yang amat dalam?


Kita tidak bisa terus-terusan menganggap diri ini yang paling pantas untuk berhadapan dengan Allah nantinya. Dengan kata lain, tengoklah kanan dan kiri kita. Jangan biarkan amal ibadah yang sudah kita lakukan selama ini menjadi sia-sia hanya karena satu hal ini, mendakwahkan orang lain yang sedang di medan kekalahan.


Dakwah juga menjadi salah satu cara Rasulullah menyebarkan Islam hingga ke negara kita, Indonesia—dan yang menjadi negara dengan penduduk muslim terbanyak. Dengan kita menengok sejarah, maka kita akan tahu betapa berat dan sulitnya masa-masa dakwah Rasulullah itu. Mengiris-ngiris hati rasanya jika kita yang sudah hidup di zaman yang sudah banyak umat Islamnya, tetapi kita masih enggan untuk berdakwah. Apalagi kita hidup di zaman Nabi Muhammad yang penuh dengan kejahiliyahan. Sanggupkah kita bertahan?

Subhanallah.


Kita tidak akan pernah bisa masuk ke dalam surga seorang diri tanpa saudara-saudara seiman yang juga menjadi tetangga kita. Jika betul kita beriman, tentu apa yang kita kerjakan tidak semata-mata untuk diri sendiri, tetapi juga untuk Allah dan umat.

Islam itu sangat indah. Menyatukan semua manusia yang berasal dari belahan bumi utara hingga selatan tanpa memandang ras dan suku. Mereka tidak hanya bertemu di dunia. Tetapi mereka akan dipertemukan kembali di akhirat atas izin Allah dengan wajah yang amat ceria. Masya Allah. Semoga kelak siapa pun saudara dan sahabat yang kita cintai, mereka pula yang akan menjadi teman kita di surga nanti.  
Aamiin.




Pertanyaan keempat:
Hei manusia, tidakkah kau tahu bahwa yang kau makan itu adalah haram atau adalah halal? Tidakkah kau perhitungkan selama di dunia bahwa segala sesuatu memiliki nilai baik dan buruk?



Memakan Harta Haram

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untukmu. Janganlah kamu memilih yang buruk untuk kamu keluarkan, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata (enggan) terhadapnya. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji.”

(QS. Al-Baqarah: 267)

Apabila seseorang diberikan kekayaan berupa harta maupun kecantikan, tidak ada yang bernilai mulia di mata Allah selain rasa syukur. Kita menyadari bahwa apa-apa yang ada di bumi ini bukanlah milik kita. Seperti hanya singgah sebentar saja lalu pergi lagi. Pertanyaannya adalah, mengapa kita masih saja menganggap bahwa harta yang kita miliki ini merupakan kebanggaan kita dan tetap ditahan supaya orang tidak memilikinya.


Ada sebuah cerita yang sangat menyentuh. Suatu hari, pengurus masjid di sebuah desa sedang membuka kotak amal untuk dikumpulkan. Tetapi pengurus masjid tersebut terheran-heran karena sejak beberapa hari yang lalu, di kotak amal itu selalu terselipkan uang sebesar Rp. 50,000. Siapa yang bersedekah sedemikian banyak? Hal tersebut sangat aneh karena selama bertahun-tahun membuka kotak amal, tidak pernah ada uang sebesar itu. Dan itu terus berlangsung walaupun mereka penasaran dari siapa uang tersebut. Sampai akhirnya, ada seorang haji yang meninggal dunia dan sejak saat itu sedekah Rp. 50,000 sudah tidak pernah ada lagi di kotak amal tersebut.

SUBHANALLAH.


Kita bisa lihat dan belajar dari kisah tersebut bahwa sedekah atau amal ibadah lainnya tidak perlu kita sebarluaskan supaya orang lain mengetahuinya. Cukuplah Allah menjadi saksinya. 


Tetapi yang perlu kita ingat adalah sumber dari segala harta kita harus kita ketahui dari mana asalnya. Ketika ibu atau orangtua kita memberikan uang dan kita tahu uang tersebut adalah hasil penjualan baju, misalnya. Berarti kita tidak memakan rezeki yang haram. Tetapi lain cerita, walaupun dia ibu kita, tetapi kita ragu dan tidak tahu uang tersebut dari mana asalnya, coba tanyakanlah perlahan. Mungkin akan sedikit menyinggung, tetapi ini untuk kebaikan bersama. Karena apa-apa yang diharamkan itu tidak akan membawa berkah. Sama seperti amal tadi. Kita tidak boleh memasukkan uang yang takut-takut dari harta haram ke kotak amal sebagai sedekah kita. 


Sungguh beruntung mereka yang bersih-bersih. Mereka itu yang akan berhadapan dengan Allah.

Karena terhadap harta yang mereka miliki, Allah hanya melihat dua hal.

Jika mereka kaya, Allah ingin melihat rasa syukur mereka dan membagikan sebagian rezekinya kepada saudaranya.

Jika mereka miskin, Allah ingin melihat rasa sabar mereka dan tetap berusaha untuk mencari rezeki yang halal.



Saksi Di Hadapan Allah

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

(QS. Fushshilat: 20)


“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”

(QS. Yasin: 65)

Ketika tubuh ini sudah Allah cabut ruhnya, maka apa yang dapat kita lakukan lagi? Tidak ada. Hanya tertinggal jasad kita yang nantinya akan menjadi saksi di hadapan-Nya. Itulah yang menjadi empat pertanyaan yang akan kita hadapi nanti ketika sudah menjadi almarhum. Mulut yang biasanya selalu berbuat dusta, tidak lagi dapat berkata yang sama. Mulut ini akan dikunci serapat-rapatnya. Tersisa anggota tubuh lainnya yang akan memberikan kesaksian akan apa-apa saja yang sudah kita perbuat selama di dunia ini.


Tangan. Apakah kita sering berbagi kepada sesama?

Atau malah senang memukul orang lain yang berbuat salah?

Telinga. Apakah kita sering mendengarkan bacaan Al-Qur’an?

Atau malah senang mendengarkan musik keras-keras yang liriknya pun tidak beradab.

Mata. Apakah kita sering menundukkan kepala ketika sedang berpas-pasan dengan lawan jenis kita?

Atau malah kita senang memperhatikan lawan jenis dengan tatapan penuh imajinasi khalwat?

Kaki. Apakah kita sering berjalan menuju majelis untuk mencari ilmu bersama sahabat-sahabat lainnya?

Atau malah kita senang pergi ke tempat-tempat yang Allah haramkan untuk kita datang ke sana.


Semuanya tidak lagi dapat berdusta. Jika kita menghitung sejak usia kita baliq hingga sekarang, sudah berapa tahun kita jauh dari Allah? Dan apakah hijrah kita dari masa jahiliyah sudah memiliki progress yang baik? Atau masih belum istiqomahkah?


Kita tidak perlu khawatir akan kehabisan waktu untuk memperbaiki diri. Mulai dari sekarang, detik ini, bertekadlah untuk mengubur semua masa lalu yang kurang baik. Jangan lagi diingat-ingat. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain yang memiliki masa lalu seperti itu. Allah saja memaafkan dosa orang yang pembunuh, pemerkosa, atau bahkan psikopat dulunya. Apakah pantas kita sebagai manusia yang juga tempatnya melakukan maksiat melihat manusia lainnya yang penuh dosa merasa lebih suci dan lebih benar? Oleh karena itu, biarlah masa lalu yang buruk menjadi pacuan kita untuk belajar lebih baik lagi. Jikalau kita tidak pernah mengalami masa jahiliyah, jangan sombong. Karena tidak ada seorang manusia pun yang akan dinilai dari masa lalu yang baik atau masa lalu yang buruk. Allah senantiasa akan melihat usaha kita. Seburuk apa pun, percayalah, jika kita mau berusaha untuk memperbaikinya, tidak mengulangi, Allah akan siapkan seseorang yang shalih atau shalihah untuk menemani kita hingga akhir hayat. Karena Allah tahu, bagaimana usaha kita, sejauh mana kita memperbaiki diri, dan karena itu Allah titipkan seseorang yang baik menurut-Nya untuk kita jaga cintanya.

Subhanallah.



Usia, amal kebaikan, dakwah dan harta halal akan dipertanyakan kepada kita nantinya. Mulai detik ini, mari kita belajar untuk mempersiapkan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Jangan habiskan usia kita untuk hal-hal yang tidak berguna yang tidak mendatangkan rahmat Allah. Peliharalah juga amal-amal kebaikan kita dengan iman. Dan janganlah merasa akan seorang diri saja dalam beribadah, patutlah kita untuk mengajak mereka. Terakhir, perhatikanlah dari mana kita mendapatkan rezeki—halalkah atau haramkah?







Sebagai penutup, saya ingin mengajak teman-teman untuk sama-sama menghafalkan doa Nabi Yusuf AS.
Bagaimana, mau?

“Allahumma anta waliyyi fiddunya wal akhirati tawaffanii muslimaw wa al hiqnii bis shaalihin.”


“Ya Allah, Engkaulah pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang shaleh.”

(QS. Yusuf: 101)

Wednesday, November 13, 2013

Kamu Pasti Bisa, Nak


Bismillahirahmanirahim.

Tepatnya tanggal 4 Oktober 2010 aku resmi menjadi mahasiswi di LIA Foreign Language Academy jurusan Japanese Literature. Aku memilih kuliah di sini karena selain tempatnya nyaman, tidak begitu banyak mahasiswanya sehingga aku bisa fokus, dan lagi kekeluargaannya menyatu. Aku tidak begitu memikirkan label pada saat itu ketika ingin berkuliah. Bagiku, kuliah di mana saja selama kita nyaman, tidak akan jadi masalah. Ibaratnya seperti orang miskin yang bahagia dengan kesederhanaannya. Tetapi orang kaya yang penuh dengan harta ternyata hatinya tidak bahagia.

Mamaku sejak awal sudah menanyakan aku akan kuliah mengambil jurusan apa. Dan aku mengatakan dengan yakin: Sastra Jepang. 

Hingga saat ini aku sudah menduduki bangku kuliah semester tujuh. Tidak terasa ya. Hampir tiga tahun sudah aku belajar bahasa dan sastra. Dan sebenarnya aku sempat terjatuh juga di semester dua dan tiga. Alasannya klasik, aku malas dan sangat malas belajar. Padahal aku tidak menyadari di situ, resikonya cukup berat. Aku pasti akan menanggungnya di semester akhir. Inilah yang ingin kuceritakan.

Mahasiswa semester akhir biasanya disibukkan oleh tugas akhir seperti skripsi dan sidang. Mata kuliah pun hanya beberapa saja yang diambil. Tapi tidak denganku. Karena IP-ku pernah jatuh, akhirnya aku babat habis-habisan di semester lima dan enam. Aku pernah menyentuh angka ‘1’ dan menurutku itu sangat memalukan. Tetapi aku benar-benar hantam dengan IP 3,8. Alhamdulillah,  akhirnya terwujud. Begitu pun semester tujuh ini, aku punya target untuk menyentuh IP 4. Biidznilah

Awal kebangkitanku adalah di semester lima kemarin. Aku kaget luar biasa karena aku tidak menyangka bahwa dengan kekuatan bismillah akhirnya aku mampu melewati masa-masa sulit itu. Pertama kalinya aku merasakan menjadi anak kuliah sungguhan. Sebelumnya? Aku hanya main-main saja. Kupikir tidak hanya aku saja yang seperti itu. Masih banyak lagi anak-anak kuliahan yang ternyata menghabiskan waktunya untuk senang-senang. Tanpa memikirkan bagaimana orangtua bersusah payah membiayai anaknya kuliah. Begitu pun yang kupikirkan sejak kemarin. Jika aku tidak bisa sidang di tahun 2014, berarti aku harus membayar kuliah di semester sembilan nanti.

Aku punya seorang teman. Bisa dibilang dia adalah chairmate-ku. Kami berkenalan sejak semester satu. Tapi awalnya aku tidak dekat. Sampai masuk semester lima, akhirnya kita jadi teman akrab. Berarti dari awal sampai sekarang aku selalu sekelas sama dia. Namanya Santy. Dia juga yang kasih aku kado ulang tahun lukisan figur yang pernah ku-upload di post sebelumnya. Anyway,  aku sama Santy lagi berusaha keras untuk tidak ada nilai C apalagi D untuk mata kuliah ‘danger’ ini. Apa saja itu? NTDB, Prakom 4, Teori Sosial Budaya dan Kapita Selekta Budaya. Keempat mata kuliah ini sangat utama bagi kami yang mengambil jurusan budaya. Minimal B. Sehingga IP bisa mencukupi untuk mengambil 18 sks di semester depan. Jujur saja, kalau teman yang lain sudah siap dengan skripsi mereka, aku masih menulis tanpa bimbingan. Mereka memang sudah ada yang ikut mata kuliah Metodologi Penelitian. Sehingga mereka dibimbing langsung di kelas tersebut. Aku dan Santy telat mengambil mata kuliah itu. Dan alhasil, kita harus sabar dan tetap berusaha untuk lulus di mata kuliah peminatan ini. 

Santy sudah hafal kalau selesai kelas pasti aku akan meluncur ke mushola. Dia duduk manis menemaniku. Temanku yang satu ini non-muslim, jadi dia hanya menunggu saja sampai aku selesai shalat. Seusai itu, kami biasanya kembali mengerjakan tugas dan membicarakan kuliah kami. Aku dan Santy sungguh sangat menikmati masa-masa seperti ini. Walau kita sering sekali jalan berdua, tidak membuatku merasa kurang. Banyak sih teman-teman lain yang ketika mengerjakan tugas atau jalan-jalan mereka satu geng. Tapi buatku, geng itu bukan prioritas dalam memiliki teman di mana pun kita berada. Sering kami saling menasihati, mengingatkan, atau bahkan saling peduli. Bagaimana pun juga, kami memiliki keinginan untuk lulus tepat waktu. Inginnya sih pada 4 Oktober 2014 mendatang. Tapi jika itu bukan yang terbaik, maka mudah-mudahan kami bisa dan sanggup menjalani hari-hari setelah itu.

Dan ketika kami memperhitungkan sisa sks yang harus diambil, sepertinya tidak memungkinkan. Tapi hari ini kakak kelasku yang anak budaya menawariku SP Kajian Sosial Budaya. Seperti sebuah jawaban. Mungkin sebelumnya aku akan diskusi terlebih dahulu dengan Mbak Upi—yang jadi tempat curhat anak-anak ketika sedang galau akademis. Aku akan coba memastikan bahwa separah-parahnya aku telat lulus kuliah, paling tidak aku hanya akan menyentuh semester sembilan, setelah itu sidang dan wisuda. Aku tidak boleh pesimis. Aku harus yakin pada kemampuanku sendiri. Semester ini aku ambil 20 sks. Dan aku merasa tidak berat dengan bobot segitu. Harusnya aku teguh pada pendirian bahwa aku bisa lulus semua mata kuliah. Berusahalah, Allah bersama kita dan selalu memperhatikan kita. Aku sangat yakin itu.

Kalau kemarin aku sudah berhasil menyentuh 3,82—bagaimana dengan semester ini? Mampukah aku mencapai 4,00? Tidak ada yang tidak mungkin. Aku bahkan punya cara belajarku sendiri yang juga kubagi bersama teman-teman. Khusus untuk mata kuliah chokkai (listening) dan kaiwa (speaking) aku akan duduk di bangku paling depan dengan mempersiapkan recorder  diam-diam. Apa yang diterangkan dosen bisa aku putar kembali di rumah. Kalau untuk mata kuliah lainnya, biasanya aku sudah persiapkan kisi-kisi dan catatan penting yang kiranya nanti muncul di ujian. Bismillah. Semua pasti ada jalan.

Kata Mama, aku harus kuat.
Kata Mama, aku pasti bisa.

Walau banyak orang-orang yang pernah menjadi mahasiswa dengan status IPK yang tinggi dan pekerjaan yang hebat, belum tentu mereka memahami apa artinya bersyukur. Belum tentu tujuan mereka untuk ibadah. Siapatau mereka menjalani masa-masa belajar seperti itu hanya untuk meraih nilai tinggi atau kebanggaan tersendiri. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa apa yang kita kerjakan—seperti bekerja, kuliah, istirahat, belajar itu untuk Allah?

Atau hanya untuk menjalani status kehidupan semata?
Bahwa hidup itu ada yang namanya belajar, bekerja, mendapatkan uang, bersenang-senang, menikah, tua, punya cucu, dan meninggal.

Apakah beda hasilnya jika kita menjalani kehidupan untuk ibadah dengan menjalani kehidupan untuk formalitas saja?

Kalian bisa coba buktikan sendiri.
Dasarnya hanya satu, ada di hati kita.
Niat itu dibangun, bukan dicari.

Motivasi terbesar ada di diri sendiri. Walau terlihat sulit, apakah Allah akan biarkan kita kesulitan seperti itu? NAY! Tidak. Allah senang dengan hamba-Nya yang berusaha dengan keras. Bismillah, semoga kita semua diberi kemudahan dalam segala urusan. Aamiin.

:)