Visitor

Sunday, October 13, 2013

Taddabur Al-Qur'an


Materi Taddabur QS Al-A'raf ayat 51

12 Oktober 2013


Sebelum aku dan teman-teman memulai kelas tadabbur, kami disambut oleh tausiyah Ustadz Bachtiar Nasir, Lc—dan aku menangkap satu hal yang paling kuingat, Separuh Kosong Separuh Isi.



Apa maksudnya?


Beliau memberikan contoh sederhana. Ada seorang adik yang meninggalkan minumannya di ruang tamu. Kemudian sang kakak meminumnya karena haus tanpa laporan terlebih dahulu. Begitu sang adik datang, ia marah-marah karena minumannya diteguk setengah kosong. Dari contoh sederhana tersebut, ada tiga pandangan yang ingin kujabarkan:

1. Sudut pandang positif
2. Sudut pandang negatif
3. Sudut pandang optimis

Ketiga sudut pandang ini dapat kita masukkan sebagai sudut pandang pemecahan masalah. Seperti yang sudah kujelaskan, jika sang adik marah-marah karena minumannya telah diteguk oleh kakaknya, berarti dia memiliki sudut pandang negatif. Karena melihat dari sisi yang jeleknya saja. Seandainya sang adik tidak marah dan justru masih bersyukur minumannya masih separuh isi, ini menandakan dia melihatnya dari sudut pandang positif. Begitu juga ketika kita ditimpa masalah atau musibah. Apakah kita langsung menyalahkan Allah?

"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku." Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui." 
(QS. Az-Zumar: 49)

Sungguh, Allah telah mengingatkan kita terhadap ujian dan nikmat yang telah diberikan-Nya. Banyak dari kita yang menganggap Allah berikan nikmat dan nikmat itu justru malah menghancurkan kita. Misalnya, ketika kita diberikan rezeki yang menumpuk, kemudian kita belanjakan dengan berbagai kebutuhan yang kita senangi. Sama halnya seperti makan. Aku paling tidak suka makan kekenyangan. Karena itu sudah menunjukkan ketidaksyukuran kita kepada Allah--segala hal yang berlebihan pun akan berdampak buruk, bukan?
Dan ingatlah bahwa setiap ujian yang kita terima PASTI sudah masuk dalam takaran kemampuan kita. 

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." 
 (QS. Al-Baqarah: 286)

Dari paparan ayat di atas, aku mencoba untuk beroptimis. Benar-benar apa yang kita terima di dunia ini hanyalah sebagai titipan belaka. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Setiap musibah pasti ada kelonggarannya. Setiap rasa gundah dan sedih pasti akan diganti dengan kebahagiaan. Dan karena itulah kita diberikan tiga sudut pandang. Apakah kita akan melihat masalah tersebut sebagai beban? Atau sebagai motivasi? 

Ustadz Bachtiar Nasir, Lc mengatakan, bahwa memiliki sudut pandang positif saja tidak cukup. Kita juga harus punya sudut pandang optimis. Beda loh positif dan optimis. Kalau kita punya keyakinan yang kuat dan usaha yang tak kenal lelah, kita akan melihat hasil terbaik yang akan Allah berikan. Tentu ini dimulai dari rasa optimis. Aku pernah punya cerita. Mungkin ini terdengar agak basi.

Sebenarnya, aku tidak begitu menikmati perkuliahanku sewaktu dipertengahan tahun kemarin. Aku merasa tidak sanggup untuk melanjutkannya. Materi kuliah terlalu membuatku pusing. Aku ingin kabur saja rasanya. Nilaiku amat amburadul. Aku juga mulai malas masuk kuliah. Tetapi, aku hanya akan menjadi orang yang bodoh kalau terus mengikuti hawa nafsuku. Aku mulai membenahi diri. Aku tidak lagi memikirkan bagaimana hasilnya. Yang penting sekarang aku usaha dulu. Mau bagaimana pun hasilnya nanti, biarlah Allah yang menentukan. Toh semuanya sudah diatur sedemikian adil bukan?

Alhasil, aku menerima semua pujian dan tepuk tangan teman-teman. Rasanya aku bisa bernafas lega. IP semesterku naik drastis. Tidak ada nilai dibawah 7. Subhanallah. Aku merasa amat bersyukur. Dan itu terjadi sejak aku membangun rasa optimisme di dalam diriku. Aku tahu kemampuanku. Dan aku tahu Allah pasti akan terus melihat usahaku. Karena itulah, aku berhasil membuktikannya--bahwa apa yang tidak mungkin bagi kita sangatlah mudah bagi Allah. Kita hanya minta saja ke dia. Tahajud. Witir. Dhuha. Semuanya tidak sia-sia loh. Ayo perbanyak amal ibadah sunnah. Jangan sepelekan yang sunnah. Allah pasti perhitungkan amal kita. Dan niatkanlah untuk Dia. Jangan karena ingin dipuji manusia baru kita melaksanakan sunnahnya. Tidak. Tidak begitu. Aku tidak ingin manusia memujiku. Sungguh, aku tidak butuh pujian itu. Aku hanya senang jika aku mengerjakannya dengan baik dan Allah tersenyum melihatku. Tentunya aku merasakan semua itu karena orang-orang sekitarku begitu senang melihatnya. Dan aku yakin, jika mereka senang atas hasilku, Allah jauh lebih senang.

Tausiyah Ustadz Bachtiar Nasir, Lc benar-benar membuatku tercengang dan merinding. Memang benar apa yang disampaikannya. Bahkan aku sudah membuktikannya sendiri. SUBHANALLAH.

Di akhir pembicaraannya, untuk menyemangati peserta kelas tadabbur, beliau berkata: 


"Air mata bukan alasan untuk berhenti."


Ayo, yang masih ragu-ragu dalam sesuatu, niatkanlah hal tersebut untuk Allah. Tentu, anggaplah kita ingin mencapai ridho-Nya. Beristiqomahlah. Jangan menyerah. Allah sedang benar-benar mengamati gerak-gerik kita. Sepersekian detik pun Allah tahu. Allah ingin melihat hamba-Nya yang tidak putus asa. Tidak menyerah dalam mendapatkan rahmat-Nya. 

Nah, setelah mendapatkan tausiyah tersebut, kami akhirnya memulai kelas dengan bacaan doa dari pembimbing. Bismillahhirahmannirahhim.

Al-A'raf, yang berada di urutan ke-7, memiliki 206 ayat dan turun di Makkiyah.
Di dalam surah ini, Allah banyak menyinggung penduduk neraka dan penduduk surga. Seperti apa mereka? Mari kita coba baca ayat ke-50 di bawah ini.

"Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga: 'Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.' Mereka (penghuni surga) menjawab: 'Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir,"

Ayat tersebut menggambarkan bagaimana penghuni neraka meminta tolong kepada penghuni surga untuk diberikan keringanan dalam siksanya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Bulu kudukku merinding. Penduduk neraka berada di titik kehausan dan kelaparan yang tidak dapat dibendung lagi--ini disebut al-muffarid. Saking mereka tidak tahan, maka mereka menjerit. Sungguh nelangsanya kehidupan di neraka itu. Tidak dapat kita bayangkan dengan imajinasi kita. Allah sudah berikan kesempatan kita hidup di dunia untuk mencari kebenaran dan kerahmatan. Tetapi ternyata banyak sekali yang ingkar. Dan hanya sedikit yang masih mempertahankan keimanannya di tengah kehidupan yang serba modern ini.

Aku terperanjat ketika melanjutkan ayat di surah ini.

"(yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka'. Maka pada hari (kiamat) ini, Kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami."

Di sini aku ingin menjelaskan tentang kata "main-main" dan "senda gurau". Kata bermain-main dan senda gurau sebenarnya sangat sering kita lewati. Kita menganggap remeh perintah Allah, kita tinggalkan shalat, kita main dengan hal lainnya yang lebih asyik, kita tidak jalankan perintah Allah seperti yang ada di Al-Qur'an, dan kita menganggap bahwa dunia ini hanya mencari kesenangan saja. Toh, kita hidup hanya sekali, apa salahnya kita senang-senang di dunia? Kalau sudah mati kan tidak bisa berbuat apa-apa. Nah, ini adalah prinsip yang sangat bodoh menurutku. Bodoh sekali. Dan ternyata aku pernah menjadi orang bodoh tersebut. Ya, betul sekali. Aku pernah beranggapan bahwa kehidupan itu hanya untuk dinikmati saja--tidak untuk dibawa serius. DAN ALHAMDULILLAH-nya, Allah menyadarkanku. Tepat di saat titik terlemahku, Allah mengingatkan, "Hei Lidya Oktariani, kau adalah manusia yang sangat jauh dari-Ku. Hendaklah kau dekati Aku agar kau berada di jalan yang lurus."

Subhanallah. Maha Suci Allah. 

Jangan. Jangan sampai kita kembali ke masa-masa itu. Jangan sampai menyesal nantinya. Sungguh, aku tidak mau kita semua dalam penyesalan yang mendalam. Mengisi masa muda dengan have fun, tanpa memiliki akhlak dan akidah yang terjaga. Justru sebagai kawula muda, kita diberikan kelebihan dari orangtua. Apa itu? Pikiran yang sehat, jiwa yang kuat, dan raga yang masih segar. Seandainya sudah tua nanti, apakah kita tidak menyesal belum melakukan hal-hal seperti yang Rasulullah tunjukkan kepada umatnya? Apakah kita akan menyesal menghabiskan masa muda dengan "senang-senang"? Tentu. Kita sendiri yang akan memahaminya. Kita sendiri yang akan menjalaninya. Sungguh, aku tidak mau ada penyesalan di kemudian hari.

Ayat demi ayat semakin membuat hatiku bergemuruh. Rupanya banyak yang tersindir. Bukan banyak lagi. Tapi memang benar, semakin kita memperdalam pemahaman kita terhadap Al-Qur'an, kita akan semakin menyadari bahwa banyak sekali hal-hal melenceng yang pernah kita jalani. Naudzubillah. Allah menegur kita dengan cara-cara yang begitu beragam. Jangan berpaling dari teguran itu. Bahkan, orang-orang kafir itu bukan hanya yang non-Islam saja, tetapi kita--yang Islam tapi tidak menjalani perintah Allah. Begitu diberikan ayat-ayat Al-Qur'an, malah diperolok-olok. Innalillah.

Aku pun menerima pesan dari Ustadz yang membimbing kelas tadabbur kemarin. Jangan sekali-kali kita mencoba untuk mencintai dunia secara berlebih. Anggapannya seperti kita mencintai nenek-nenek peyot yang tua. Seperti itulah dunia sesungguhnya. Pada saatnya nanti, dunia akan hancur. Kita tidak bisa lagi melihat dunia yang indah. Kita akan kembali pada-Nya. Tidak satu pun ada yang hidup nanti, begitupun malaikat. Hanya Allah-lah yang hidup. Dunia hanya tempat kita mencari rezeki, keberkahan hidup, dan tentunya ridha Allah. Allah memang menyediakan dunia sebagai tempat kita hidup. Sungguh, orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah hanya akan menjadi penghuni neraka selama-lamanya. Dan ini dijelaskan pula pada ayat berikutnya:

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur’an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."

Al-Qur'an. Ini adalah sebuah petunjuk nyata dari Tuhan. Tuhan kita satu. Agama kita Islam. Dan Islam tidak mengajarkan pada keburukan. Islam memberikan nasihat-nasihat baik bagi kita yang beriman kepada Allah, Rasulullah, dan hari akhir. Al-Qur'an ini bukan hanya sebatas buku bacaan. Lebih dari itu. Ketika kita suntuk, bacalah Al-Qur'an. Ketika kita sakit, paksakan membaca Al-Qur'an--atau paling tidak dengarkan saja murattalnya. Ketika kita sedang rindu pada seseorang, baca saja Al-Qur'an, ceritakan dan adukan ke Allah bahwa kita merindukannya. Semoga apa-apa saja yang kita cintai di dunia menjadi ridha Allah. Jangan sampai Allah murka terhadap apa yang kita cintai. Dan cintailah sesuatu sesuai dengan takarannya, tidak berlebihan.

Banyak sekali manfaat yang didapatkan dari kuliah tadabbur ini. Semoga kita 'kan selalu dalam perlindungan-Nya. Dan semoga ceritaku ini mampu membangkitkan semangat kalian--para pejuang Islam yang ingin menegakkan agama kita. Ingatlah, aku bukanlah manusia yang sempurna, aku sama seperti kalian, aku pernah khilaf. Tapi, sekali lagi, Allah memintaku untuk mengikuti ajaran-ajaran yang ada dalam Al-Qur'an. Allah-lah yang membukakan pintu hatiku untuk memeluk agama ini. Allah-lah yang menjadikan hatiku damai ketika pertama kali aku membaca Al-Qur'an. Allah-lah yang menurunkan hidayah-Nya kepadaku untuk menjadikan diri ini sepenuhnya dalam balutan agama yang satu, yaitu Islam. Allah juga yang memperkenalkan kalian kepadaku. Kalian-kalian yang memiliki tujuan yang sama, yaitu membela agama Allah, mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk kembali pada kebenaran, mengajak mereka yang jarang shalat atau mengaji untuk lebih meningkatkan ibadahnya. Aku, hanya manusia biasa yang memiliki rasa ingin tahu tinggi kepada Islam. Maka dari itu, aku memperjuangkannya untuk mencari ilmu. Aku ingin buktikan ke Allah, aku bukanlah manusia yang bodoh dengan pemikiran-pemikiran primitifnya. Aku mampu membuat perubahan. Perubahan kecil dari dalam diriku sendiri. Kemudian aku mengajak yang lainnya untuk bersatu. Semoga Allah 'kan terus merekatkan ukhuwah kita, ya ukthi ya akhi. Insya Allah.

No comments:

Post a Comment