Visitor

Sunday, October 27, 2013

Tadabbur Al-Qur'an



Materi Tadabbur QS At-Taubah ayat 24

26 Oktober 2013

"Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.' dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik."
(QS. At-Taubah: 24)

Jika kita fokus pada ayat sebelumnya, maka kita akan menemukan kata hijrah

Dari apa kita hijrah?
Apa itu hijrah dan bagaimana?
Sudahkah kita berhijrah?

Hijrah dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Hijrah Makani 
Berpindahnya dari tempat satu ke tempat yang lain
Ini sama seperti Rasulullah yang berhijrah dari kota Mekah ke Madinah.
Tetapi, pada zaman sekarang ini hijrah makani sudah tidak berlaku lagi karena tidak ada hijrah ketika kota Mekah sudah ditaklukan.

2. Hijrah Manawi 
Yaitu meninggalkan hal-hal yang dilarang Allah.


Setelah melihat gambar di atas, aku jadi seperti bercermin. Dulu, sebelum aku berhijab, aku masih masuk dalam gambar di nomor 1 memakai celana pendek, kemudian aku berhijrah ke nomor 2 dengan memakai celana jeans, lanjut lagi di nomor 3 memakai rok panjang, kemudian yang terakhir dan seperti sekarang di nomor 4 memakai rok panjang dan kaus kaki.

Dalam tadabburnya, ustadz memberikan pertanyaan kepada kita.

Siapakah muslim itu?


Muslim adalah di mana orang muslim lainnya selamat dari bahaya mulut dan tangannya.
Pertanyaannya adalah, apakah di tengah masyarakat ini kita masih menjadi bahaya atau manfaat untuk yang lainnya?

Kita pun sudah tahu sebenarnya bahwa lisan itu sangat berbahaya. Allah menciptakan mulut satu dan telinga dua. Apa artinya? Kita diminta untuk menjaga lisan dan lebih banyak mendengar. Tapi itu juga menjaga dari hal-hal yang tidak baik yang kita dengar. Dan itulah yang perlu dikuatkan. Mengapa seorang muslim harus menjaga lisannya agar tidak berbahaya bagi dirinya, orang lain, dan masyarakat luas. Apakah ada hubungannya dengan hijrah? Tentu ada. Muslim yang baik pasti akan merasakan hijrah mereka. Kita tidak perlu men-judge orang karena sikap mereka atau perilaku mereka yang kurang baik. Mungkin mereka belum berhijrah. Kalau bisa kita fokuskan diri saja dulu untuk memperbaiki diri sembari kita ajak orang-orang untuk berhijrah. Kita jaga tangan kita, kekuasaan kita, jangan sewenang-wenang. Jangan merasa sombong jika kita mendapatkan kekuasaan misalnya menjadi ketua di suatu organisasi. Justru sebagai pemimpin, kita harusnya membimbing teman-teman kita yang lain bukan menghakimi mereka atau merasa paling benar.

Lalu, apa itu hijrah total?
Orang yang telah berhijrah total adalah meninggalkan apa-apa yang Allah larang. Misalnya:
Tidak mengkonsumsi makanan haram. Atau harta. Cara mendapatkan harta dengan cara haram hasilnya akan tetap haram. Harta haram harus bebas dari kezaliman; baik dari diri sendiri, kelompok, maupun manusia banyak. Dua hal yang dapat dikatakan harta haram yaitu dinilai dari:
1. Penipuan
2. Riba
Mengambil harta haram tersebut, tentunya tidak akan mendapatkan ridha Allah. Selain itu, dapat juga menghambat terkabulnya doa. Jadi, sebesar apa pun kita beramal jika niatnya bukan karena Allah, maka sia-sia saja amalan kita itu. Sebaliknya, jika kita memiliki sebuah niat untuk beramal namun belum dilaksanakan, tapi kita sudah menanamkan satu buah kebaikan. Maka dari itu, ada orang yang ingin bersedekah tetapi belum dikerjakan. Bahkan itu saja sudah mendapatkan keridhaan Allah.
Subhanallah.
Allah adil dengan segala perhitungan-Nya.

Pertanyaan selanjutnya: 
Bagaimana kita berhijrah?

Ini ada dalam kandungan Surah Al-Ashr.

"Demi masa. Sesungguhnya, manusia berada dalam kerugian. Kecuali, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(Al-Ashr: 1-3)

Allah bersumpah dengan waktu. Yaitu wal ashr (saat ini). Bukan wal ashrin atau sebuah waktu. Jadi, Allah menegaskan bahwa janganlah kita sia-siakan waktu yang ada. Karena bisa saja masa muda kita hilang akibat kelalaian kita sendiri. Banyak dari pemuda-pemudi kita yang menghabiskan waktu untuk kesenangan dunia. Tidak lagi memikirkan bagaimana waktu itu sangat berharga. Allah memberikan kita kesempatan dalam banyak hal. Kesempatan bertaubat, kesempatan belajar, kesempatan berbakti kepada orangtua, dan yang paling utama adalah kesempatan untuk hidup.

Jika kita sia-siakan waktu yang berharga ini maka rugilah kita sebagai manusia. Rugi apa? Rugi waktu, rugi harta, rugi pikiran, rugi usia. Kebanyakan dari kita tidak paham betul akan kegunaan al-ashr. Menjalani kehidupan ini seperti air yang mengalir. Tidak ada tujuan dan goals. Orang seperti ini adalah ciri-ciri orang yang tidak memiliki motivasi hidup. Ia hanya menjalani apa yang ada di depannya saja. Padahal Allah senang dengan hamba-Nya yang mau berusaha dan berjuang.

Harta yang kita punya. Harusnya membantu usia kita. Bukan sebaliknya, usia habis untuk harta. Terlalu mengagung-agungkan harta. Kita butuh beli ini, beli itu. Jika ingin menikah, harus punya mobil dulu. Rumah belum ada. Nah, pemikiran-pemikiran seperti ini hanya akan berporos pada kesenangan duniawi. Toh, Allah tidak melihat harta kita. Tetapi bagaimana kita bersyukur atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya. Menikah itu tidak perlu mempersiapkan rumah atau mobil yang bagus. Karena bukan itu tujuannya. Jika kita diberikan harta lebih itu, ya syukurilah. Dan usahakan untuk berbagi pada mereka yang kurang mampu sebagai bukti rasa syukur kita kepada Allah.
Kemudian, kita beralih pada pertanyaan berikutnya yang berkesinambungan dengan al-ashr. Yaitu orang yang beriman.

Bagaimana agar kita dapat menjadi orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya?

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuatlah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia."
(Al-Anfal: 2-4)

Iman kita bertambah dengan ketaatan namun iman juga dapat berkurang dengan kemaksiatan. Mengenai hal ini ustadz bercerita tentang Imam Syafi'i yang suatu hari hafalannya mentok. Syafi'i kecil sudah menghafal Al-Qur'an di usianya yang masih sangat belia, 7 tahun. Masya Allah! Semoga kelak kita dapat kembali melahirkan Syafi'i muda dari rahim kita, aamiin. Dan pada saat itu, Syafi'i mengeluh pada gurunya. Ternyata ada dua hal yang dapat membuat hafalannya mentok. Yakni, Syafi'i pernah bermaksiat. Apa saja itu?
1. Tertinggal satu malam untuk tidak shalat tahajud.
2. Ketika di pasar, ia tidak sengaja melihat tumit perempuan.
Subhanallah. Walau secara fikih, meninggalkan shalat tahajud tidak masalah, tetapi ini tetap saja menjadi perhitungannya sebagai perbuatan maksiat. Masya Allah, bagaimana dengan kita yang sering lupa membaca Al-Qur'an atau bahkan shalat fardhunya?

Jadi, perbuatan maksiat juga dapat menutup pintu atau jalan dalam mencari ilmu loh. Ustadz menyarankan untuk para jomblowan/jomblowati, gunakanlah waktu dengan sebaik-baiknya. Sibukkan dengan kegiatan positif. Tentunya di masa-masa muda, kita bisa sangat produktif. Mumpung belum menua, mumpung belum pikun, mumpung masih bisa berlari, mumpung belum bungkuk. 

Ketika mentadabburi ayat Al-Qur'an, maka tidak cukup dengan satu atau dua ayat saja. Tetapi kita akan mencari ayat-ayat lain yang berkesinambungan. Termasuk yang ingin kujelaskan kembali tentang karakter Al-Mu'minuunaa haqqa. Ini masih berhubungan dengan karakter orang-orang mukmin yang tercantum dalam Surah Al-Anfal ayat 2 sampai 4.
Pertama.
Jika disebut nama Allah maka bergetarlah hatinya. Maksudnya adalah rasa takut seorang hamba pada siksaan Allah. Mereka merasa dipantau, dilihat dan diawasi sehingga mereka menjauhi dari perbuatan maksiat yang Allah larang. 
Kedua.
Dan apabila dibacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an maka bertambahlah keimanan mereka. Berarti ini bermaksud membaca Al-Qur'an. Orang-orang mu'minun akan senantiasa mengawali harinya dengan tilawah. Mereka merasa adalah kewajiban untuk membaca, memahami, menghafal, mengamalkan, dan mendakwahkan Al-Qur'an. Ibaratnya seperti permukaan air. Ketika kita membaca Al-Qur'an kita berada di permukaan air di lautan. Ketika kita menghafal, kita masuk pada pertengahannya. Tentunya menghafal di sini harus diiringi oleh pemahaman. Jangan hanya menghafal saja. Kemudian, ketika mentadabburi kita seperti sedang masuk ke dasar lautan. Dan ketika mentadabburi ayat Al-Qur'an sama seperti ketika kita mencari mutiara di lautan tersebut. Ambillah, kemudian jadikan karakter kita sehari-hari. Amalkan dari ayat-ayat tersebut dan jadikanlah; persembahkanlah untuk orangtua kita tersayang. Insya Allah makhota kehormatan akan kita raih. Masya Allah ya.
Ketiga.
Hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal. Apa yang disebut tawakal di sini?
Tawakal adalah menyerahkan keputusannya kepada Allah setelah diiringi usaha secara maksimal. Sedangkan berbeda dengan at-tawaakul. Artinya menyerahkan keputusannya kepada Allah tanpa ada usaha. Jadilah kita berjiwa tawakal seperti seekor burung. Pada pagi hari perutnya kosong dan ketika pulang di sore hari perutnya sudah kenyang. Kita berusaha, tetapi tetap Allah yang memutuskan. Dan percayalah, bahwa apa yang kita perjuangkan dan kita usahakan itu pasti Allah perhitungkan. Allah tidak sia-siakan usaha hamba-Nya.
Keempat.
Orang-orang yang mendirikan shalat dan menginfakkan sebagian dari rezeki yang ia peroleh.
Kata 'mendirikan' berbeda dengan 'mengerjakan'--yuqiimuuna shallata yaitu mendirikan shalat. Di mana letak perbedaannya?

Orang yang mengerjakan shalat itu baru sempurna rukun dan syaratnya saja. Sebenarnya itu sudah bagus. Kita pun sering melihat orang-orang di sekeliling kita banyak yang mengerjakan shalat. Ini bermakna present continues atau yang 'sedang berlangsung'. Tapi mengerjakan saja belum cukup. Kita juga harus mendirikan shalat dengan menerapkan nilai-nilai shalat dalam kehidupan sehari-hari. Shalat kita harus memiliki fungsi. Misalnya seperti ini:
Pada saat takbiratul ikhram. Kita merasakan bahwa tidak selamanya cantik. Tidak selamanya sehat, pasti kita akan sakit. Tidak selamanya kita kuat, pasti akan roboh.
Kemudian kita mulai ruku'. Pada posisi ini kita bisa mencoba untuk merendahkan hati kepada sesama. Kita bertawadhu. Atau merendahkan diri. Walaupun ilmu kita banyak, tapi jangan sombong. Seperti sebatang padi yang semakin menguning, ia semakin menunduk.
Sujud. Hinakanlah diri kita sehina-hinanya di hadapan Allah. Tapi nyatanya, banyak dari kita yang menjual diri dan menghinakan diri kita sendiri untuk mendapatkan dunia. Innalillah. Kita tidak pantas berlaku demikian untuk sebuah kesenangan duniawi. Maka dari itu, posisi sujud ini adalah posisi terdekat hamba dengan Rabb-Nya. Nabi Muhammad Saw. bersabda:

Posisi terdekat hamba dengan Rabb-Nya yaitu ketika sujud. Maka, perbanyaklah doa.

Doanya apa sih? Biasanya, untuk kita kawula muda yang belum dianugerahi pasangan, doanya adalah Rabbana hablanaa min azwajinna wa dzuriyyatina qurrata a'yuniw waj'alna lil mutaqqina imamaa. Betul atau betul? Ayo, yang sudah paham pasti nyengir-nyegir kan?

Tapi, ada satu hal yang menarik dari doa di sujud ini. Nabi kita, Muhammad Saw. sering berdoa di akhir hayatnya seperti begini:

Subhanallah wa bihamdihi astaghfirullah wa aatubu ilaihi.

Rasul mengamalkan Surah An-Nashr.

"Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sungguh, Dia Maha Penerima Taubat."
(An-Nashr: 1-3)

Kita sering membaca surah ini, tapi banyak juga yang tidak memahami kandungan ayatnya.

Maha Suci Allah dengan segala pujian-Mu dan aku memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Mu.

Salam. Jadilah orang yang menyebarkan keselamatan kepada orang lain. Inilah yang menjadi posisi terakhir ketika kita shalat. Yaitu salam. Salamnya umat muslim. Tetapi ternyata jika dilihat kenyataannya, masih banyak dari kita yang belum menjaga lisan, saling menyakiti, tangannya 'usil', dan ini menunjukkan bahwa salam kita belum benar. 

Kita lanjutkan. Karakter kelima.
Menginfakkan sebagian rezeki yang ia peroleh dari Allah. Bergaya hiduplah dermawan. Masih berhubungan dengan harta haram yang tadi kujelaskan, janganlah kita terlalu mengejar kesenangan duniawi. Memang pada zaman sekarang ini sudah banyak mereka yang mengagung-agungkan uang. Rasa-rasanya di mana pun kita berada, kita selalu akan berhubungan dengan uang. Apa-apa harus ada uang. Dan lagi, materi. Mau sampai kapan usia kita habis untuk harta?

Mereka yang sering membelanjakan hartanya untuk kebaikan, dan menyerahkan sebagian rezekinya untuk orang yang tidak mampu menunjukkan rasa syukur mereka terhadap harta yang dimiliki. Allah tidak melihat seberapa besar harta kita, melainkan rasa syukur.

Dan pada ayat selanjutnya dijelaskan reward untuk mereka al-mu'minuun.
1. Kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan mereka.
2. Diampuni segala dosanya.
3. Diberikan rezeki yang mulia--surga yang abadi.

Ini adalah jaminan untuk orang-orang mukmin yang dicintai Allah.

Semoga kita termasuk dalam golongan kanan yang akan mendapatkan reward ini. Aamiin.


Cukup sekian tadabbur kita siang ini. Maafkan aku karena aku baru sempat mem-post-nya hari ini--dengan bahasa santai, sederhana, mungkin juga tidak terlalu baku, semoga yang membacanya diberikan keberkahan dari Allah subhana wa ta'ala. Aamiin. Ternyata, mentadabburi Al-Qur'an itu menyenangkan, bukan? Satu ayat ke ayat yang lainnya saling berkesinambungan. Dan benar adanya, bahwa segala apa pun yang ada di dunia ini dijelaskan di Al-Qur'an. Mau cari ilmu mengenai zinah, kemaksiatan, pertaubatan, talaq, pembagian harta waris, obat dari setiap kegalauan yang dialami anak muda, hingga cerita-cerita Nabi sebelum Rasulullah pun dijelaskan dengan sangat indah di Al-Qur'an. Makanya, tak jarang orag mukmin yang sedang membaca Al-Qur'an, mereka menangis tersedu-sedu, terhanyut dalam keindahan ayat demi ayat dan pemahamannya. Subhanallah.



Silahkan share ke teman dan sahabat terdekat agar bermanfaat :D

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

No comments:

Post a Comment