Visitor

Saturday, October 12, 2013

Ketika Kubersujud



Audzubillahhi minaash syaitaaniraajim
Bismillahhirahmanniraahim

Recition of the day: 
Al-Fajr by Summaya Eddeb & Surah Yusuf by (me)

Sebenarnya aku ingin sekali mem-post tentang kelas tadabbur hari ini. Tapi maaf, sepertinya aku baru bisa mengerjakannya esok hari. Berhubung aku pulang seusai Maghrib tadi, aku ingin langsung mandi wajib dan menyegerakan shalat. Tapi Mama mengatakan sebaiknya aku mandi setelah Isya saja biar aku bisa langsung mengerjakan Isya. Itu lebih baik untuk mewaspadai mens-ku yang datang lagi. Aku mengiyakan.

Aku menunggu Isya sambil menonton film Ayat Ayat Cinta. 

Walau itu film lama, tapi aku tidak pernah bosan untuk menontonnya. Lagipula baru kemarin aku menamatkan novelnya. Aku meminjam di perpustakaan. Di sela-sela membacanya, hatiku banyak menyiratkan decak kagum kepada sosok Fahri. Bukan karena ketampanannya--tapi karena imannya. Aku menangis kecil sambil tersenyum. Aku tidak ingin membahas film itu secara detil, aku ingin fokus pada ceritaku dulu.

Sembari meneliti novel yang baru kubaca, aku mulai menyiapkan beberapa kertas dan isinya adalah daftar kosakata baru yang kutemui di novel-novel karya Kang Abik. Aku benar-benar ingin serius di dunia tulis-menulis. Aku ingin menjadi penulis muda. Aku ingin menjadi penulis dakwah. Aku jadi teringat pesan Ustadz Bachtiar Nasir Lc, "Berdakwalah dan sampaikanlah walau satu ayat kepada mereka--dan berdakwalah dengan cara yang kau sukai, boleh dengan media tulis-menulis."

Masya Allah.

Nah, teman-teman, dengarkanlah ceritaku baik-baik ya. Sebenarnya dari setiap kelas tadabbur yang kuikuti, ada beberapa hal yang terkadang membuatku melipir malu. Apa itu?

Ilmu ikhlas.

"Allah tidak pernah salah memberikan takdir baik dan buruk bagi setiap hamba-Nya."

Jadi, bisa disimpulkan. 
Allah pasti lebih tahu mana yang terbaik untuk kita. Dan Allah lebih memahami kita. Allah paling tahu kita. Allah paling, paling, paling, paling, nomer satu. Itu saja.

Mindset.

Ketika seseorang terlalu fokus pada pemikirannya, maka ia akan dipengaruhi oleh itu. Semisal, seorang wanita yang sudah meyakini dan teguh pada pendiriannya. Dia merasa bahwa apa yang ia kerjakan itu baik. Ia juga sangat menyayangi sesuatu itu. Ia ingin memilikinya. Ia mampu menerimanya dengan sangat baik. Namun, tidakkah ia sadari bahwa ada yang lebih pantas memberikan kita takdir?

Allah.

Hanya Allah-lah yang mampu mewujudkan semuanya. 

Ketika seseorang mencintai Tuhannya, maka dia tidak akan melupakan; mengkhianati; menyakiti; dan mengecewakan Dia.  
Ia akan senantiasa menjaga cinta kasih yang Dia berikan.

Aku juga menyadari diriku lemah. Aku bahkan lebih kecil dari debu yang beterbangan. Aku tidak punya apa-apa. Aku terlahir dan akan mati dalam keadaan tidak membawa apa pun. Apa yang ingin kubawa nanti kelak? Inilah yang terus menjadi pertanyaanku.

Ikhlas. Aku telah berusaha dengan sekuat tenagaku, mengikhlaskan sesuatu yang amat kucintai. Dia di dunia mungkin berbeda dengan dia di akhirat. Maksudku, jika seandainya kita memiliki kekasih hati di dunia, belum tentu kita 'kan bertemu dengan orang yang sama di akhirat. Allah berjanji bahwa cinta kita kepada kekasih di dunia ini jika dilandasi cinta kita kepada Allah, maka di akhirat kelak kita mampu bertemu dengannya. Insya Allah.

Tidak percayakah kau?

Beberapa menit yang lalu, aku larut dalam sujud itu. Aku menangis meraung-raung. Tidak apa-apa. Aku sungguh rindu bersujud seperti itu dengan balutan mukena putih milikku. Sudah enam hari lebih aku tidak shalat. Dan begitu tiba waktunya haid-ku selesai, aku langsung menyegerakan diri untuk membasuh seluruh tubuhku untuk bersuci. Hatiku bergetar. Sebentar lagi aku akan bersujud kepada-Nya. Air mataku akan membasahi seluruh sajadahku. Aku amat mengharu-biru. Hatiku sungguh lega. Hatiku amat damai. Ikhlas. Sebuah pelajaran berharga yang tak pernah kulupa. 

"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus?"
(QS. An-Nisa [4]: 125)

No comments:

Post a Comment