Visitor

Friday, October 18, 2013

Indahnya Bersenandung Ayat Suci-Mu



17 Oktober 2013
Assalamu’alaikum  saudara-saudariku.

Mari mendekat dan merapatlah. Aku ingin bercerita sesuatu seperti yang selalu kulakukan pada saat senggang bersama kalian. 

Di siang yang terik ini, aku amat bersyukur masih bisa merasakan angin semilir sejuk yang keluar setelah aku memasuki salah satu masjid di dekat kampus. Aku sudah telat satu jam untuk kelas pagi. Duh, bagaimana bisa aku masuk? Aku tidak enak dengan dosennya. Sedangkan kelasku biasanya hanya habis sampai satu setengah jam. Alhasil, aku mengurungkan niatku untuk tetap masuk. Aku mencari masjid terdekat dari kampus untuk shalat Dhuha. Setelah sampai di sana, kubasuh wajahku dengan air wudhu dan sesaat kemudian kurasakan kesejukan yang mendalam hingga merasuk di sum-sum tulangku. 

Entah angin apa yang membuatku menitikkan air mata di siang itu. Di luar masjid banyak yang mondar-mandir memakai payung atau menundukkan kepala karena tak tahan panasnya. Sedangkan aku menangis tersedu-sedu merasa hangat. Aku merasa bodoh jika aku meninggalkan satu waktu untuk kuberjumpa dengan Allah hanya karena tidur atau kegiatan lainnya. Sungguh, aku tidak mau seperti itu. Aku merasakan betul bagaimana Allah mencintai hamba-hamba-Nya. Cinta dan kasih sayang-Nya tidak pernah berhenti, terus-menerus. Dan di saat itu pula, aku merasa tidak ingin ke kampus—walaupun masih ada satu mata kuliah lagi. Aku merasa seperti: seharusnya aku pulang sekarang.

Aku mengikuti kata hatiku.

Kulangkahkan kaki perlahan menjauhi masjid. Aku pulang ditemani angin-angin sejuk yang membuat langkahan kakiku penuh keyakinan. Kemudian masuklah aku di dalam bus yang tidak begitu penuh. Sebelum sampai di halte itu, aku sempat menyenandungkan Surah Yusuf hingga mataku mulai berair lagi. Setelah aku menyandarkan tubuhku ke pintu dekat supir, aku mulai membaca buku tebal karya Kang Abik yang setiap hari kubawa ke kampus. Terlihat seperti kutu bukukah aku? Ya, aku merasa sangat perlu untuk membaca karya-karya seperti Ketika Cinta Bertasbih, Bumi Cinta dan juga Ayat Ayat Cinta. Penguasaan kosakataku semakin meningkat seiring intensifitas membacaku naik. Selagi aku asyik membaca, tiba-tiba aku dikagetkan oleh sapaan hangat seorang ibu yang baru saja terbangun dari tidurnya. Beliau adalah Ibu Eni. Masih ingatkah kalian yang pernah kuceritakan di tulisanku yang berjudul ‘Cerita Sedekah Part 2’? Beliau yang pernah kutolong ketika tiba-tiba datang kepadaku menceritakan masalahnya. YA, KAMI BERTEMU KEMBALI.

Aku jadi ingat, ucapan terakhirku pada beliau. “Semoga Allah mempertemukan kita kembali ya, Bu.
Insya Allah.

Dan terkabullah. Subhanallah.

Aku menitikkan haru tiada tara. Kami bercerita banyak di dalam bus. Aku duduk di sampingnya. Beliau pun sempat mengeluarkan hp mungilnya dan menanyakan nomerku. Indahnya. Sungguh indah nilai ukhuwah itu. Beliau tidak akan lupa pada orang yang pernah menolongnya. Beliau juga tidak pernah lupa untuk terus mendoakan orang-orang yang pernah menolongnya. Lantas saja Allah begitu mengizinkan kami untuk bertemu kembali. Di tempat dan di waktu yang tidak terduga. Tadinya kupikir takkan mungkin bertemu. Apalagi mengetahui ibu tersebut tinggal di Bogor dan berjualan di UI. Sedangkan kuliahku di daerah Kalibata. Mana mungkin ibu tersebut mampir-mampir ke Kalibata apalagi Tomang. Tapi, masya Allah, memang jika Allah berkehendak apa pun yang menurut kita mustahil, pasti akan terjadi. Pasti. Dan ibu tersebut sedang berjalan menuju Tomang, daerah rumahku! Ternyata beliau diminta mahasiswi Trisakti untuk diperiksakan giginya yang ompong. Aku jadi semakin terharu. Allah memang tidak pernah membuatku kecewa sedikit pun pada setiap janji-janjinya. Seusai duka, datanglah suka. Seperti inilah yang juga kurasakan. Aku merasa bahagia dengan pertemuan kedua ini.

Kami telah sampai di Halte Grogol 2, Tomang. Dan kami berpisah seusai mengucap salam. Sebelum benar-benar berpisah, beliau berkata seperti ini, “Ibu doakan semoga urusanmu dimudahkan ya. Dan juga semoga kelak kau berjodoh dengan lelaki mukmin—shaleh yang juga akan membawamu ke Jannah nantinya. Doa ibu takkan pernah putus. Insya Allah, dek Okta.” aku tersenyum simpul, bahagia. Hatiku sempat mengiris-ngiris. Bodoh sekali jika aku sempat memikir hal yang tidak-tidak yang membuat hatiku sakit dan tertekan, sementara ada yang mendoakan agar semuanya minta dikembalikan kepada Allah. Untuk apa menghabiskan waktu bersedih-sedih hati jika Allah sudah menjanjikan kebahagiaan setelah kesukaran? Kita saja yang terlalu dipengaruhi oleh pikiran. 

Sesampainya di rumah, aku merebahkan tubuhku di kasur. Aku ingin beristirahat sejenak agar malam ini aku bisa kembali fokus mengerjakan deadline-ku besok. Dan o ya, besok aku presentasi. Doakan ya. Ini perdana loh, untuk presentasi yang satu ini khusus aku maju di depan kelas seorang diri tanpa bantuan teman. Karena aku sudah tingkat empat, tidak lagi ada istilah kelompok-kelompok. Jadi, harus lebih mandiri. Sembari beristirahat, aku memutar murattal Surah Yusuf dari qori Fatih Seferagic. Aku berdoa, semoga aku bisa bermimpi bertemu Nabi Yusuf as. 

Aamiin.

Wassalamu’alaikum.

No comments:

Post a Comment