Visitor

Sunday, October 20, 2013

Hajar Aswad


Kemarin, teman-teman daurah mengirimkan pesan di grup mengenai hajar aswad. Aku diam-diam membuka link yang diberikan temanku itu karena penasaran. Aku juga jadi ikut bertanya, apakah benar batu hajar aswad itu adalah super konduktor?

Encyclopedia Americana menulis: "Sekiranya orang-orang Islam berhenti melaksanakan thawaf ataupun shalat di muka bumi ini, niscaya akan terhentilah perputaran bumi kita ini, karena rotasi dari super konduktor yang berpusat di Hajar Aswad, tidak lagi memencarkan gelombang elektromagnetik.
Menurut hasil penelitian dari 15 Universitas menunjukkan Hajar Aswad adalah batu meteor yang mempunyai kadar logam yang sangat tinggi, yaitu 23.000 kali dari baja yang ada.
Beberapa astronot yang mengangkasa melihat suatu sinar yang teramat terang mememancar dari bumi, dan setelah diteliti ternyata bersumber dari Bait Allah atau Ka’bah. Super konduktor itu adalah Hajar Aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya.
Prof Lawrence E Yoseph – Fl Whiple menulis : "Sungguh kita berhutang besar kepada orang Islam, shalat, tawaf dan tepat waktu menjaga super konduktor itu.”

hajar-aswad
Hajar Aswad

  1. Benarkah informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan dan shahih? Atau hanya sekadar hoax?
  2. Pada halaman berapa dari Buku Encyclopedia Americana kutipan tersebut tercantum?
  3. Jika benar itu super konduktor, dan apa hubungannya dengan rotasi bumi dan berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya?
  4. Bukti apa yang bisa ditunjukan bahwa thawaf dan shalat berhubungan dengan rotasi bumi? Bagaimana dengan planet lain di luar bumi?
  5. Dari 15 Universitas yang melakukan penelitian tersebut, Universitas mana saja? Siapa penelitinya? Dimana jurnal ilmiah tersebut bisa dibaca?
  6. Karena artikel ini menyinggung masalah sains, haruslah mencantumkan nama peneliti yang bisa dihubungi, dan diumumkan hasil penelitian didepan para ilmuwan dan dibuatkan jurnal ilmiah. Di mana jurnal ilmiah tersebut bisa dibaca?

Dan nyatanya tidak ada satu pun postingan blog yang menjelaskan pertanyaan-pertanyaan di atas. Rata-rata hanya copy-paste secara berantai tanpa melakukan klarifikasi atas penelitian dan pernyataan tersebut. Bagi umat muslim kutipan artikel ini sangat menggembirakan seraya bagi pembacanya pastilah akan mengucap kalimat “Subhanallah, Allahuakbar, Masyaallah” tidak ada salahnya memang ketika kita menemukan sesuatu yang “amazing” dan membuat diri kita merasa heran akan kebesaran-Nya. Namun sebagai muslim, kita musti kritis terhadap berita atau kutipan seperti di atas. Jangan sampai terjebak dalam kekaguman semata. Kita hendaknya check and recheck terhadap berita sebelum turut menyebarluaskan. Jangan sampai kita terjebak seperti kejadian belasan tahun yang lalu, di mana sebuah kabar mengenai seorang astronot Amerika Serikat, Neil Armstrong menjadi mualaf usai mendengar suara adzan di bulan, ternyata dibantah oleh pria bersahaja itu. Armstrong menyatakan tidak pernah mendengar suara adzan ketika berada di bulan, apalagi mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai syarat masuk Islam. Bersama dua rekannya Buzz Aldrin dan Michael Collins, Armstrong disebut-sebut sukses mendarat dan berhasil menjejakan kaki di bulan. Lewat misi Apollo 11, trio astronot NASA itu mencatatkan namanya di buku-buku sejarah sebagai manusia pertama yang menginjakkan kaki di bulan tersebut. Tapi, dibalik kesuksesan tersebut, ada cerita yang masih menyisakan misteri, yakni kisah Armstrong menjadi muslim setelah mendengar suara adzan saat berada di orbit bumi. Entah dari mana kabar bila sekembali dari bulan Armstrong langsung menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Apalagi sepanjang hidupnya, Armstrong terkenal sebagai seorang yang tertutup kepada media. Tapi dugaan ia menjadi muslim berawal ketika Armstrong mengunjungi Mesir pada 1970. Sayangnya, ayah tiga anak itu tidak mengklarifikasi kabar tersebut. Armstrong tidak membenarkan atau menyanggah kabar tersebut. Sejumlah media, seperti answering-islam.org, Jurnal Arabia, dan wiki-islam menulis berita kontroversi Armstrong masuk Islam adalah i alias cerita bohong. (http://www.republika.co.id  tanggal 29-08-2012).

Ka'bah kebanjiran, 1941

Ka’bah, 1941

Barangkali banyak orang belum tahu. Ka'bah yang menjadi kiblat umat Islam ternyata pernah dilanda banjir pada 1941 setelah hujan deras mengguyur Kota Makkah, Arab Saudi. Situs wikiislam.net melaporkan air setinggi 152 cm ini menggenangi kompleks Masjid Al-Haram, termasuk Ka'bah. Musibah itu lantaran sistem pembuangan air belum bagus, apalagi Makkah berada di tengah lembah dikelilingi bukit-bukit batu. Tidak diketahui berapa jumlah jamaah haji waktu itu. Mungkin tidak banyak sebab pada 1920-an peziarah terus menurun. Pada 1922, jumlahnya 56 ribu orang. Banjir juga merendam Ka'bah di masa Khalifah Umar bin Khattab. Bencana itu merusakkan dinding batu yang direkatkan dengan lumpur dan tanah. Sekarang bangunan setinggi 13,1 meter itu diperkuat semen. Hal yang membuat kita ragu adalah, pada saat itu sedikit ada orang thawaf, atau mungkin tidak ada orang thawaf pada jam-jam tertentu lalu apakah rotasi bumi berhenti? Ternyata tidak dan Ka’bah beserta Hajar Aswad yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS; apakah sebelum Nabi Ibrahim AS bumi tidak berotasi? Nyatanya bumi tetap berotasi sesuai Ketentuan Allah dan Kehendak Allah.


Hajar Aswad = Batu Meteor?




Beberapa sifat dasar hajar aswad, seperti diketahui pada tahun 950 saat Gubernur Makkah Abdullah ibn Akim menguji batu-batu yang diduga Hajar Aswad yang dicuri sekte Ismailiyah Qaramithah 22 tahun sebelumnya, adalah terapung di air dan tidak pecah/terpanaskan meskipun dibakar di nyala api. Terapung di air menandakan densitas (massa jenis) hajar aswad lebih kecil dibanding densitas air, sehingga densitas hajar aswad kurang dari 1 gram/cc. Sementara tidak terpanaskan tatkala dibakar menunjukkan konduktivitas termal hajar aswad rendah dan tidak pecah akibat panas menunjukkan kekuatannya (daya ikat antar penyusunnya) cukup tinggi. Sifat lainnya, sebagaimana dipaparkan geolog Farouk el-Baz tatkala menunaikan ibadah haji, adalah tingkat kekerasannya yang tinggi (minimal skala Mohs 7 atau setara batu permata). Sifat lainnya lagi adalah warnanya yang putih susu, sebagaimana dipaparkan sejarawan Muhammad ibn Nafi al Khaza’i yang menyaksikan langsung kondisi hajar aswad menjelang restorasi Sultan Murad al-Utsmani di tahun 1631. Sementara meteorit yang ditemukan di Bumi, selalu memiliki densitas lebih dari 1 gram/cc. Meteorit batuan memiliki densitas antara 2 – 4 gram/cc, sementara meteorit besi jauh lebih besar yakni 7,8 gram/cc. Termasuk ke dalam meteorit batu misalnya meteorit palasit, yang unik karena tersusun dari kumpulan kristal berwarna putih susu dan jarang dijumpai. Densitas meteorit yang terkecil yang pernah ditemukan adalah 1,8 gram/cc yakni dari meteorit Tagish Lake yang jatuh di Kanada pada 18 Januari 2000. Tidak ada meteorit yang memiliki densitas lebih kecil dari 1 gram/cc. Selain itu, ketahanan dan kekerasan meteorit berbanding lurus dengan densitasnya. Sehingga jika hajar aswad adalah meteorit, dengan kekerasan Mohs 7 maka setidaknya ia harus memiliki densitas di atas 5 gram/cc, satu hal yang tak nyata karena di sisi lain akan menyebabkannya tenggelam ketika ditaruh di air. Hajar aswad semula dikira mineral olivine monolitik dalam meteorit palasit. Namun ciri-ciri keduanya sangat berbeda.

Meteor

Hajar aswad sebagai super konduktor yang mempengaruhi rotasi bumi tidak jelas sumbernya dan patut dipertanyakan. Anggapan bahwa hajar aswad sebagai meteorit terbantahkan oleh seorang pakar geologi Indonesia. Dalam blognya Pak Rovicky tampaknya senada seperti yang ditulis oleh Pak Ma’rufin Sudibyo bahwa hajar aswad bukanlah batu meteor. Kutipan tulisan Pak Ma’rufin Sudibyo bisa dilihat di http://kafeastronomi.com/hajar-aswad-batu-meteor-hoax.html


Benarkah hajar aswad, yang berfungsi bagai mikrofon yang sedang siaran dan jaraknya mencapai ribuan mil jangkauan siarannya?

 
Stasiun Radio Malabar, 1923

Dan


Stasiun Bumi

Sebuah perangkat komunikasi yang berfungsi sebagai Pemancar (Transmiter) haruslah membutuhkan catuan (sumber energi). Apakah catuan itu berupa Arus Bolak-Balik (AC) maupun Arus Searah (DC). Dan untuk bisa memancarkan hingga ribuan mil dengan media perantara udara/angkasa dibutuhkan catuan yang cukup besar. Perangkat yang pernah digunakan manusia untuk mengirimkan gelombang dengan jarak ribuan mil adalah perangkat HF yang bekerja pada HF (High Frequency : 3 – 30 MHz, 10 – 100 m) dengan memanfaatkan lapisan atmosfir sebagai pantulan-pantulannya (Sky Wave). Di dunia broadcast dikenal dengan siaran SW (Short Wave), seperti BBC, VOA, Radio Australia (era1980-an). Tapi sekarang relatif jarang broadcasting yang memanfaatkan frekuensi ini. Di zaman penjajahan Belanda, Dayeuh Kolot Bandung pernah mempunyai perangkat ini pindahan dari Radio Malabar untuk komunikasi ke Madagaskar dan Negeri Belanda. Dengan catuan 2,400 KiloWatt (KW). Spektakuler besarnya.

Yang kedua adalah Komunikasi satelit. Jaraknya bisa mencapai 36,000 Km dari Stasiun Bumi ke Satelit. Dengan catuan 100 Watt, bekerja di Frekwensi 4 Ghz untuk downlink dan 6 GHz untuk Uplink.

Yang menjadi pertanyaan adalah:

  1. Berapa Watt yang dibutuhkan oleh hajar aswad untuk memancarkan siarannya?
  2. Jenis catuan apa yang digunakan untuk memancarkan siarannya?
  3. Pada frekuensi berapa hajar aswad bekerja?

Sampai saat ini belum ada penelitian untuk itu dan batu hitam hajar aswad bukan perangkat telekomunikasi. Dalam tataran keimanan, kita meyakini bahwa hajar aswad saat turun dari surga adalah batu yaqut dari sekian banyak batu yaqut yang berada di sana. Kemudian dihadirkan pada Nabi Ibrahim AS agar dia meletakkannya di salah satu rukun (sendi atau sudut) Ka’bah. Lalu, Rasulullah SAW mengambilnya dengan tangannya yang mulia dan meletakkanya di tempatnya semula saat dilakukan rehabilitasi Ka’bah oleh orang-orang Quraisy. Kemuliaan keutamaannya semakin bertambah karena Rasulullah SAW menciumnya sebagaimana yang dilakukan oleh para nabi sebelumnya.

Musafi bin Syaibah berkata, “Aku mendengar Abdulah bin Amru bin Ash radhiallahu ‘anhu berkata: ‘Aku bersaksi dengan nama Allah! (sambil meletakkan anak jarinya di telinga) aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,‘Sesungguhnya hajar aswad dan maqam adalah dua buah batu di antara batu-batu yaqut (batu mulia) di surga, yang dihilangkan oleh Allah cahayanya, andaikan Allah tidak menghilangkan cahayanya, niscaya sinarnya menerangi antara timur dan barat’.”


Dalam Shahih Bukhari juga disebutkan bahwa Umar bin Khathab mendatangi hajar aswad dan menciumnya. “Sesungguhnya, aku tahu bahwa engkau hanyalah batu biasa yang tidak memberikan manfaat dan mudharat. Andaikata aku tidak melihat Rasulullah menciummu, niscaya aku tidak akan pernah menciummu.” 


hajar aswad


Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : “Hajar Aswad diturunkan dari surga, dahulu ia berwarna lebih putih dari susu namun berubah menjadi hitam lantaran dosa anak-cucu Adam” (Sunan At-Tirmidzi dalam kitab Al-Hajj bab III/226, ia berkata ini hadits hasan shohih, dishohihkan Ibnu Khuzaimah (IV/220)


Semoga kita bisa menerapkan sikap kehatian-hatian (wara’i) untuk memeriksa dan membuktikan berita-berita yang kita anggap ”amazing”. Tetapi sebenarnya adalah HOAX.

Wallahu ’alam bissawab




Referensi :

  1. http://rovicky.wordpress.com/2011/11/18/hajar-aswad-batu-apakah-kalau-bukan-batu-meteor/
  2. http://kafeastronomi.com/hajar-aswad-batu-meteor-hoax.html
  3. Sudibyo. 2012. Ensiklopedia Fenomena Alam dalam al-Qur’an, Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah. Surakarta: Tinta Medina, dalam Bab 5: Gunung Berapi
  4. (Sudibyo. 2012. Sang Nabi pun Berputar, Arah Kiblat dan Tata Cara Pengukurannya. Surakarta: Tinta Medina, dalam Bab 1: Ka’bah)

No comments:

Post a Comment