Visitor

Wednesday, October 2, 2013

hadiah doa dari ibu penjual pecel di kampus

Assalamualaikum.

Hari ini tepat usiaku bertambah 1 tahun dan tentunya berkurang pula jatah hidupku di dunia. Bukan begitu? Aku amat bersyukur, Allah masih memberikanku napas hingga usia ke-21 ini. Subhanallah. Dan aku ingin cerita sedikit tentang hari ini.


Pagi ini aku dikabari oleh dosenku bahwa kelas pagi ditiadakan. Tetapi kami diminta untuk menyerahkan tugas, dan ujung-ujungnya aku lupa (hehe). Menjelang siang, aku mengikuti kelas selanjutnya. Ada beberapa teman yang mendatangiku sambil mengajak bersalaman. Tapi aku mengatupkan kedua belah tangan disusul mereka yang sudah paham. Selebihnya mereka hanya bercanda-canda biasa. Awalnya aku berniat untuk langsung pulang saja, karena takut menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat. Lagipula aku sudah selesai kelas pada saat itu. Tetapi, tiba-tiba saja saat aku ingin pulang, aku melihat ibu penjual pecel yang sedang melayani pelanggannya di sekitar kampus. Aku ingin bicara dengan ibu tersebut. Hingga duduklah aku di sampingnya. Tapi ketika hendak bercerita, pelanggan semakin banyak dan aku kesulitan untuk bicara. Aku tahu kenapa. Sudah beberapa menit yang lalu adzan Dzuhur berkumandang. Dan aku belum menunaikannya. Bangkitlah aku dan meminta izin untuk shalat terlebih dahulu. 

Setelah itu, aku kembali lagi. Dan benar, semua pelanggan ibu tukang pecel itu sudah kosong. Mungkin beberapa sudah ada yang masuk kelas. Aku jadi leluasa untuk bercerita dengan bude'. 

Bude' bertanya banyak tentang kuliahku. Bagaimana kabar ibuku di rumah, bagaimana dengan tugas-tugasnya, dan aku selalu menjawab dengan senyum bahagia. Aku merasa bude' seperti ibuku sendiri. Mulailah aku ditanya-tanya perkara jodoh. Aku hanya tersenyum kecil dan meminta didoakan. "Bude', aku lagi ulang tahun." ucapku berbisik malu. Wajah bude' pun berubah total. Semakin bersinar dan matanya berkaca-kaca. Aku senang melihatnya. Bude' amat jujur dengan perasaannya. Seraya aku memberitahukan tentang hari ulang tahunku, bude' malah mengangkat kedua telapak tangannya dengan mencoba menggenggam tanganku juga. Bude' berdoa:

"Ya Allah, berkahilah umur panjang dan kesehatan kepada hamba-Mu ini yang baru berulang tahun. Berikan ia kecukupan rezeki, kelancaran dan kemudahan dalam setiap urusannya, berikan ia kesempatan untuk menjadi hamba-Mu yang shalehah. Kabulkanlah setiap permintaannya ya Allah. Sungguh, hamba-Mu ini memohon dengan penuh harap. Jadikanlah ia anak shalehah untuk kedua orangtuanya, istri shalehah untuk suaminya kelak dan ibu yang bijaksana bagi anak-anaknya kelak. Aamiin."

Doa yang dipanjatkan beliau membuatku menitikkan air mata yang lama-kelamaan menjadi banyak. Aku kembali menunduk dan memberikan senyuman terbaikku padaku. Tidak sampai di situ, akhirnya aku bercerita banyak pada bude'. Dan beliau hanya berkata,

"Setiap masalah datangnya dari Allah. Mintalah petunjuk Dia, pasti akan diberi."

"Dek, serahkan masalah jodohmu kepada Allah. Maaf, bude' tadi nanya soal itu. Habis kamu kelihatan sendiri-sendiri saja sih. Dipikirnya kamu sudah mau dekat-dekat nikah makanya ndak ketemuan dulu. Subhanallah, kamu cantik, pintar, dan pasti jodohmu tidak akan jauh dari yang sepertimu."

Aku hanya menjawab dengan senyum. Sungguh, aku tidak berkata apa-apa lagi selesai aku bercerita tadi. Aku mengatakan, aku tidak terikat hubungan dengan lelaki mana pun. Apalagi pacaran. Tidak. Bude' mengira aku sudah memiliki calon atau, apalah itu namanya. Tapi, kuakui, aku sedang fokus pada kuliahku saja dulu. Mama lebih penting. Aku tidak ingin 'menelantarkannya'.

Setelah mengetahui yang sebenarnya, bude' menangis kecil. Mungkin terharu, mungkin bingung, mungkin sedih, atau mungkin bahagia. Bude' hatinya sangat halus. Sehingga sangat mudah menangis. Kemudian bude' mengangkat kembali tangannya seraya berdoa sambil mengusapkan air matanya yang jatuh.

"Ya Allah, berikanlah anak ini jodoh yang baik ya Allah. Dia sangat jujur. Dia sangat menjaga diri. Tak pernah kulihat ia berbincang-bincang dengan teman lelakinya. Ya Allah, jagalah anak ini. Kabulkanlah setiap permintaan dan doanya. Berikanlah jodoh yang shaleh, yang cepat atau lambat 'kan datang. Luluskanlah dia dengan nilai yang baik. Cepat diberikan pekerjaan. Lancarkanlah urusannya. Lancarkanlah skripsi dan sidangnya ya Allah. Berikanlah kekuatan pada anak ini. Berikan dia kesabaran, ketabahan, agar kelak tetap berupaya untuk beriman kepada-Mu ya Allah. Aamiin."

Lagi-lagi, kami berdua menitikkan air mata bersamaan. Hatiku bergetar. Aku melihat wajah bude' yang begitu tegar dan turut merasakan apa yang kurasakan. Mungkin masalah jodoh adalah masalah yang kesekian yang tidak perlu diungkit-ungkit terlebih dahulu. Biarlah menjadi rencana Allah yang indah. Kata bude', Allah pasti kabulkan doa-doa kita. Beliau mengibaratkan seperti ini,

Ade sekarang coba bayangkan. Ade minta uang jajan setiap hari ke ibu, apa pernah tidak diberi? Kalau seandainya tidak diberi, besok pasti diberi. Atau jika besok tidak diberi, pasti besok-besoknya lagi diberi, asal ade sabar. Iya toh?

Begitu juga Allah, kita memohon ke Allah, meminta petunjuk, jalan yang lurus, rezeki yang lancar, kemudahan dalam setiap urusan, apa ade sadar bahwa Allah kabulkan semua itu secara perlahan?

Lalu aku mengungkit sesuatu. Aku bercerita seperti ini,

Bude', aku ingat sesuatu jadinya. Jadi, waktu aku isi KRS kemarin, aku baru tahu kalau aku hanya boleh ambil 16 sks. Aku sedikit takut bude', takutnya sks yang kuambil jadi banyak di semester akhir nanti. Padahal aku sudah mau masuk semester 7. Bisa-bisa aku lima tahun lebih bude'. Tapi, aku minta saja ke Allah, aku minta agar jadwal kuliahku tidak bentrok, agar aku bisa mengambil mata kuliah yang lain. Dan aku minta untuk mengambil 22 sks semester ini. Dan doaku dikabulkan bude'. Ternyata, jadwal kuliahnya pas dan aku bisa mengambil mata kuliah yang kuinginkan. Benar bude'. Allah mendengar doa kita.

Aku dan bude' duduk sambil menangis dan tersenyum saling mendengarkan cerita. Aku tidak lagi perhatikan orang-orang yang duduk di belakang kami atau di depan kami. Mungkin ada yang berlalu-lalang atau bahkan diam-diam mendengarkan cerita kami. Tapi, sungguh aku tidak pedulikan. Aku hanya fokus berbicara pada bude'. Lagi-lagi aku merinding. Tangan bude' meraih tanganku, kemudian berkata, "Ade, kamu 'kan lagi ulang tahun, maem pecel ya?" aku menjawab dengan malu, "Ndak usah bude', repot-repot." kemudian bude' bertanya lagi, "Kalau gitu mau apa?" aku menjawab dengan singkat, "Aku mau doanya bude' untuk aku di shalatnya nanti ya bude'." Bude' mengiyakan dan tetap membungkuskanku pecel.

Kemudian, jatuhlah kami di percakapan sebelum aku berpamitan pulang.

"Dek, kamu yang rajin dan fokus ya kuliahnya. Beda nih sama bude'. Bude' kerjanya cuma bikin pecel dan jualan aja. Kalau kamu mah, pasti bisa sukses. Lebih sukses dari bude'. Dapetin lelaki yang beriman, ganteng, shaleh, dan juga sayang sama keluarga. Bude' doain ya dari sini."

"Bude', aku ndak lihat dari pecelnya atau bukan. Tapi aku bahagia lihat kesederhanaan bude'. Buatku ini luar biasa. Nilainya jauh lebih dari makanan yang mahal. Bude' masaknya pakai hati, makanya banyak yang beli, rezekinya lancar. Karena bude' ikhlas menjalaninya, Allah juga ikhlas memberikan bude' rezeki."

"Masya Allah. Masya Allah."

"Bude', aku boleh izin sama bude'?"

"Iya, apa dek?"

"Bude', aku lagi nulis buku. Insya Allah, jika lolos masuk penerbitan, aku boleh ya nulis cerita bude' di buku aku. Nanti kalau bukunya sudah jadi, aku mau kasih ke bude', nanti anaknya bude' suruh baca deh. Tuh, lihat, ibunya, begitu sederhana, sabar, dan penyayang. Hebat. Ibu yang benar-benar hebat...,"

Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, bude' langsung menarik napas panjang lebar dan berusaha menahan air mata yang mulai berjatuhan banyak. Bude' tak mampu menyembunyikannya lagi. Ia menangis di depanku. Dan terus menatapku sambil sesekali menunduk. Kemudian aku berpamitan. "Semoga Allah menjagamu, dek. Dan doaku menyertaimu." bude' mengambil selendangnya dan kembali mengusap air matanya. Aku menyalami tangannya.

"Assalamualaikum bude'."
"Waalaikumussalam warah.. matullahi.. wabarakatuh.."

Suara bude' mengecil. Aku tahu bude' sedang menahan air matanya. Kemudian aku membaca basmallah dan melangkahkan kakiku yang mulai bergetar kedinginan. Aku tidak tahu reaksi apa ini. Tapi yang jelas, aku amat bersyukur. Allah menyetuh hatiku sangat dalam. Allah juga menyentuh hati bude' sangat dalam. Sehingga kami dapat merasakan hal seperti ini.

Dan setelah aku hampir sampai di halte tempat ku menunggu bus, tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Jam tanganku tertinggal di mushola!

Sewaktu Dzuhur tadi, aku menaruhnya di sekitar pojokan jendela. Aku berjalan cukup jauh dari tempat ku berdiri tadi. Tetapi sebelum benar-benar sampai di mushola, aku melihat peralatan berjualan pecel. Dan ada sandal jepit berwarna putih juga di sana. Ini pasti punya bude'. Mushola tersebut terletak di lantai 2, sehingga kami harus menaiki anak-anak tangga terlebih dahulu. Begitu sampainya aku di mushola, tepat di depanku seorang ibu sedang berdoa menengadahkan tangannya sambil menangis. Ia memakai mukena putih. Dan pandangannya fokus. Dialah bude'.

Aku sempat mendengar lirihnya. Doa yang begitu terpanjatkan untuk seseorang yang tidaklah memiliki ikatan keluarga apa pun darinya. Doa itu untuk aku, di hari ulang tahunku. Aku hampir tidak sadar aku telah menuruni beberapa anak tangga. Kakiku melemas lagi, seperti tadi ketika aku melangkah ingin pulang. Aku sungguh-sungguh melihat bude' menangis di sujudnya, di doanya. Subhanallah. Ini hadiah terindah yang pernah kuterima. Sebuah doa. Doa yang amat tulus dari seorang ibu penjual pecel. Seperti mendoakan anaknya dan tidak memikirkan bagaimana dirinya. Hanya terus fokus pada anak itu saja.

Lagi-lagi aku berusaha menguatkan sendi ototku untuk segera bangkit. Aku melihat sekeliling. Aku lemas sekali. Bukan karena aku lapar. Tapi aku sungguh lemas melihat bude' berdoa seperti itu. Beliau mendoakanku hingga air matanya berkali-kali jatuh.

Aku sempat bertanya dalam hati, adakah seorang anak muda yang mengalami hal yang sama denganku? Pernahkah ia merasa amat beruntung dapat bertemu dengan ibu seperti bude'? Pernahkah anak muda tersebut menyadari bahwa kehidupan ibu seperti bude' yang berbeda dengan kita, nyatanya bisa lebih banyak mengundang senyum dan tawa? Bude' selalu berhasil membuatku tersenyum. Bahkan bukan dari hasil ucapan teman-teman yang sedang menghibur, atau bercanda. Tapi karena ketulusan hatinya. Ya, rasa syukur, haru, bahagia, dan keikhlasan yang sudah banyak mewarnai kehidupan orang-orang seperti bude' membuatku menyadari bahwa Allah senantiasa memberikan kebahagiaan dan kecukupan pada setiap hamba-Nya. Tidak pernah kurang, tidak pernah lebih. 


Sekian. Semoga ceritaku bermanfaat ya, dan bagi siapa pun di antara kalian yang masih memiliki ibu, sayangilah beliau. Hati seorang ibu sangatlah halus. Jangan sekali-kali menyakitinya. Allah pasti akan melaknat kita. 

Wassalamualaikum.

No comments:

Post a Comment