Visitor

Tuesday, October 8, 2013

Dauratul Qur'an Lisy-Syahab Generasi 1

Sebagai generasi muda, adakah hal yang membuat hati kita tergerak untuk mewujudkan perubahan? Menjadi salah satu peserta daurah misalnya. Di sini, kami bukan hanya belajar membaca Al-Qur'an, tetapi juga memahami dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Insya Allah, semakin banyak pemuda pemudi Indonesia yang mampu membuat perubahan kecil yang berdampak besar.

Ada yang menarik dan mengiris hati kecilku ketika pertemuan itu menjadi jembatan bagi kami untuk berinteraksi lebih dalam tentang Al-Qur'an. Ilmu yang bermanfaat inilah yang ingin kami bagi. Semula aku merasa diriku bukanlah seperti mereka yang ahli dalam bidang agama. Mengerti dan memahami Al-Qur'an saja sudah bagus. Tapi apa itu sudah cukup? Ternyata belum. Semakin aku mendalami, aku menyadari betapa fakirnya ilmuku. Alhamdulillah, Allah telah mempertemukanku dengan saudara-saudari yang Insya Allah menjadi penghuni surga. Semoga kita semua dapat mengambil hikmah dari cerita berikut ini.


Jumat, 4 Oktober 2013

Qur'anic Generation merupakan salah satu wadah bagi para kaum muda untuk lebih memahami Al-Qur'an dan mengajak masyarakat sebanyak-banyaknya untuk menjadi bagian dari Q-Gen. Acara ini bertempat di Ar-Rahman Qur'anic College, Mega Mendung, Bogor. Semula 45 peserta yang terdiri dari 21 ikhwan dan 24 akhwat daurah ini berkumpul bersama di AQL Tebet, kemudian pada pukul 23:00 barulah tiba di AQC. Perjalanan panjang tidak membuat para peserta terlihat lelah. Justru sebaliknya, mereka menyiratkan wajah-wajah antusias dan semangat yang tinggi untuk segera menuntut ilmu bersama Ustadz pembimbing.

Sabtu, 5 Oktober 2013

Selang keesokan harinya, materi pertama disajikan oleh Ust. Amrullah Jamil yang mengupas tema "Tadabbur Surah Al-Kahfi". Surah tersebut menceritakan tentang kaum pemuda yang meninggalkan daerah mereka yang penuh dengan hal-hal jahiliyah. Tentu ini menjadi pertanyaan sendiri bagi para peserta. "Tidakkah lebih baik jika pemuda-pemuda tersebut berdakwah di tengah-tengah masyarakat yang tidak lagi berada di jalan Allah?"

Pertanyaan demi pertanyaan mulai terjawab. Inilah yang dinamakan tadabbur. Ayat demi ayat dipenggal sedemikian rupa untuk memahami makna yang terkandung di dalamnya. Para peserta semakin terlihat kompak satu sama lain. Terlebih ketika akhirnya Ust. Utsman Baco memimpin Qur'anic Games "Ranking Satu Al-Qur'an" hingga keluarlah satu peserta yang menjadi juara pertama di acara tersebut. 

Mereka tidak hanya belajar dan memahami Al-Qur'an lebih dalam, tetapi juga menghafal. Jika ada yang bertanya "Oleh-oleh apa yang akan dibawa sepulang dari Pesantren?" mereka akan dengan sigap menjawab, "Hafalan Surah Ash-Shaff."

Di setiap sebelum dan sesudah shalat lima waktu, para peserta dibimbing untuk menghafal Surah Ash-Shaff dengan tepat dan sesuai makharij dan sifat huruf. Cara menghafalnya pun dilakukan dengan menggunakan metode muraja'ah. Bacaan diulang sebanyak mungkin hingga mulai terbiasa mendengarnya. Suasana masjid selalu penuh dengan bacaan Al-Qur'an yang khusyu' bersama para santri. Mereka sungguh bersemangat dalam menghafal Al-Qur'an.

Selanjutnya, acara puncak diisi oleh Ust. Bachtiar Nasir selaku pimpinan AQL Islamic Center yang juga menjabat sebagai pengasuh Qur'anic Generation. Dimulai sejak pukul 20:45-22:45 beliau menyampaikan motivasinya kepada pemuda Q-Gen tentang Islamic Leadership.

"Menjadi pemimpin hakikatnya adalah jika kita telah meniatkan diri menjadi penerus estafet perjuangan Rasulullah Saw. Ini adalah maqam pemimpin tertinggi di dunia." kemudian beliau melanjutkan, "Ini bukan persoalan jenis kelamin, bukan juga persoalan segala kekurangan. Tapi ini persoalan untuk menegakkan agama Allah Swt. Jangan tanggung-tanggung dalam bercita-cita! Sebagaimana jangan setengah-setengah dalam berdoa. Minta yang terbaik kepada Allah semata!" terang Ust. Bachtiar Nasir menyemangati para peserta daurah. 

Seusai penjelasan yang begitu detail dari beliau, tak terasa malam semakin gelap dan para peserta diminta untuk beristirahat karena besok akan bersiap-siap untuk pulang ke Jakarta. Tepatnya kemarin, tenda biru tempat beristirahat para peserta diguyur hujan. Dan dengan terpaksa para akhwat dipindahkan untuk beristirahat di masjid sedangkan para ikhwan di aula tempat kami biasa berkumpul.

Suasana malam itu tetap dingin seperti biasanya. Namun semangat dan rasa juang itu tak luntur sedikit pun. Terlihat dari wajah-wajah para pejuang yang menjadikan sepertiga malam sebagai waktu mereka untuk menceritakan semua hal kepada Sang Ilahi. Dan pada malam terakhir, mereka dibangunkan pukul 02:00 lebih awal dari malam sebelumnya. Panitia menyiapkan satu kejutan yang tidak diduga-duga. Malam itu mereka dikumpulkan bersama untuk menikmati perjalanan menuju Curug. Jalan setapak yang licin dan penuh dengan batu-batu tidak membuat mereka menyerah begitu saja. Ada yang terpeleset, hingga tersungkur hampir terjatuh lemas. Tidak sedikit peserta akhwat merasa kedinginan menahan udara yang terus bertiup seolah berbisik-bisik. Mereka tetap berjalan sambil berpegangan tangan dengan erat. Terkadang mereka hanya bisa meraba karena tidak ada cahaya yang cukup dan saling memberikan arahan bagi peserta di belakangnya. 

Sesampainya di tempat tujuan, para peserta daurah diminta untuk berendam di salah satu sungai di sana. Tentu saja kita tidak bisa mengatakan air di sungai tersebut sama seperti pemandian air panas di Jepang. Semua peserta perlahan menenggelamkan tubuh mereka hingga yang terdengar hanyalah takbir dan doa.

Renungan malam itu diselingi dengan muhasabah oleh Ust. Abu Hasbi. Dalam munajatnya, beliau berkata:
"Ya Allah, takdirkanlah kami menjadi pemuda/pemudi Qur'ani pelanjut estafet dakwah Rasulullah Saw.
Ya Allah, istiqomahkanlah kami dalam mendirikan tahajud di setiap malam.
Jadikanlah setiap langkah kami pahala di sisi-Mu ya Allah.
Anugerahkanlah kami pasangan dan keturunan yang shaleh/shalehah ya Allah."

Tetesan air mata dan tangisan para peserta daurah menambah kekhusyu'an renungan malam tersebut. Seusainya, panitia meminta para peserta untuk menggelarkan plastik hitam sebagai alas sujud mereka. Tidak sedikit dari para peserta yang mengerjakan shalat sambil menggigil kedinginan. Baju mereka basah dan tersisa debu-debu yang menempel selepas mereka berendam di sungai tersebut. Tetapi itu tidak menjadi penghalang untuk terus melanjutkan tahajud. Semua pembimbing dan peserta melakukan qiyamul lail dan shalat subuh berjama'ah ditambah dengan dzikir pagi. Ini merupakan kali pertamanya bagi para peserta untuk melaksanakan shalat di alam bebas. Seiring matahari mulai naik, angin mulai sibuk meniupi alam semesta hingga membuat tubuh para peserta menggigil. Tidak ada yang membuat wajah mereka terlihat tersungkur letih karena harus kembali dengan berjalan kaki seperti ketika mereka meraba bebatuan di tengah dinginnya malam. Semoga ini menjadi pelajaran bermanfaat bagi semua pemuda-pemudi para pejuang Islam yang berdakwah demi membela agama Allah Swt. Tidak ada ilmu yang sia-sia jika kita mau membaginya kepada sesama. Dan itu pula yang diajarkan oleh Nabi kita, baginda Rasulullah Saw.

Insya Allah, ini menjadikan awal mulanya perjuangan para kawula muda dalam berdakwah di jalan Allah. 

Wallaahu a’lam bishshawaab.

No comments:

Post a Comment