Visitor

Thursday, October 10, 2013

Cerita Sedekah Part 3



Bismillahhirahmannirahhim


 

Alhamdulillah puja-puji syukur kami atas segala nikmat yang telah Allah curahkan. Sungguh, nikmat-Nya tiada tara. Bahkan aku bisa katakan, bodoh sekali mereka yang setiap harinya di waktu senggang bahkan—mengatakan tidak sempat berucap “Alhamdulillah”. Di sela-sela kesibukan, atau bahkan ketika kita sedang bengong—ucapkanlah kata syukur itu. Belum tentu sedetik kemudian kita masih diberi kehidupan. Belum tentu.

Pagi ini, tentunya, seperti biasa aku terbangun pada saat mendengar adzan Subuh. Tepat setelah itu aku ingin mengambil air wudhu hanya saja Mama memintaku beristirahat lebih lama. Hari ini aku sedang berhalangan. Jadi ibadah yang kukerjakan adalah yang selain shalat dan menyentuh mushaf Al-Qur’an. Dimulai beraktivitas tadi pagi, aku beristirahat cukup lama karena semalam aku menulis untuk official website AQL. Alhamdulillah, usahaku menulis sampai pukul 24:00 akhirnya berbuah baik. Tulisanku dimuat di website tersebut. Bagi yang ingin melihatnya, sila mampir ke: CLICK!!

Kuliah siang ini tidak begitu memberatkan. Aku hanya membawa novel Ayat Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Kurasa seluruh masyarakat pelosok tanah air sudah mengenal betul tokoh Fahri, Maria dan Aisha di novel tersebut. Ya, aku sedang memperdalam ilmu As-Sunnah. Bukan hanya itu, aku pun mulai berencana untuk aktif mengikuti kuliah tadabbur di AQL setiap Ahad. Selain Al-Qur’an, aku tidak pernah cukup puas untuk berhenti belajar. Aku pun mendapatkan saran dari beberapa teman untuk membaca buku-buku Islami yang sunnahnya kental. Sepertinya aku akan mulai mencanangkan memiliki buku sebagai catatan bahasa Arab. Aku sangat ingin belajar bahasa negara kelahiran Rasulullah. Mungkin aku akan berbangga hati kalau aku sampai lulus Nouryoku Shiken Level 1 atau TOEFL dengan skor di atas 550. Dua bahasa asing yang sudah kupegang sekarang tak membuatku berpaling untuk tidak belajar bahasa lainnya—termasuk Arab. Justru, aku ingin memfokuskan diriku dengan belajar banyak bahasa. Aku ingin memaksimalkan kemampuanku di bidang bahasa untuk terus berupaya belajar dan belajar lebih giat lagi. Ayo, aku bisa kok!

Oke, kembali ke novel Kang Abik. Ngomong-ngomong, diam-diam aku fans berat beliau loh. Bahkan, selain AAC, aku juga berencana meminjam buku KCB 1 dan 2 di Perpustakaan. Kemarin-kemarin aku tidak sengaja melihat buku-buku karya Kang Abik, jadi aku sempatkan untuk meminjam—lumayan, ujarku. Pagi tadi aku turun di halte Cawang, seperti biasa, dalam beberapa minggu ini aku sering sekali melihat ibu-ibu berkerudung hitam yang duduk di tepian dekat rel kereta. Ada pagarnya sih, hanya saja terlalu bahaya untuk ibu tersebut. Perasaan hatiku mulai mengais-ngais. Ibu tersebut sepertinya kelelahan atau lapar. Kemarin aku sempat memberinya sedikit uang yang kupunya. Aku mendekatinya, “Assalamu’alaikum Bu.” sapaku. “Wa’alaikumussalam, Nak.” ibu tersebut langsung menyiratkan sorotan mata bahagia. “Bu, ini aku ada sedikit uang titipan rezeki dari Allah. Semoga bermanfaat ya, Bu. Insya Allah, berkah.” ucapku sambil memegangi kedua belah tangan ibu berkerudung hitam itu. “Masya Allah, Nak, kamu baik sekali. Terimakasih Nak, terimakasih.” ibu itu berkali-kali mengucapkan rasa syukurnya dengan menengadahkan tangan perlahan. Aku senang menatapnya. Aku sungguh bahagia. Walau aku belum mampu memberinya banyak, namun kutahu ibu tersebut tidak melihat seberapa banyak ia peroleh rezekinya. Tapi beliau bahagia melihat gadis yang mendatanginya memberi sedekah sambil mendoakan beliau. Itu yang kubaca dari sorotan mata ibu tersebut. 

Kali ini, aku telah sampai di tempat ibu berkerudung hitam duduk di dekat rel kereta api. Ia menggelar plastik berwarna hitam sebagai alas duduknya. Aku jadi ingat waktu perjalananku dan teman-teman dalam acara Daurah. Nah, kami menggunakan plastik hitam sebagai sajadah pada saat shalat tahajud bersama. Sedangkan ibu tersebut memakainya setiap hari. Aku berjalan perlahan mendekati lokasi ibu tersebut biasa duduk beristirahat. Tapi, kosong. Apa beliau belum datang? Aku hanya melewatinya seperti biasa. Uang yang sudah kugenggam tadi kutaruh kembali ke tasku. Kini aku hanya berharap aku bisa menemuinya seusai kuliah.

Aku mencari-cari kelas mata kuliah Kewarganegaraan. Sebenarnya aku bisa fokus pada dua hal di saat yang bersamaan. Tapi sepertinya aku ingin fokus satu saja. Aku mengambil novel Kang Abik untuk kubaca sembari menggarisi kosakata baru yang berbau Arab. Seperti, uzur, mabruk, wirid, ahlan wa sahlan dan masih banyak lagi. Rupanya aku mulai tertarik menelaah novel ini. Bahasanya ringan dan mudah dimengerti. Aku semakin dibuat penasaran walau aku sudah tahu alur ceritanya. Buku KCB 1 dan 2, serta Bumi Cinta sudah menunggu. Tanpa sadar, aku membaca dengan asyik hingga seperempatnya. Kupikir hari ini aku akan menghabiskan 50% isi bacaan ini.

Sembari memperhatikan dosen, aku terus menggarisbawahi beberapa kosakata yang masih rumit kumengerti. Aku juga memperhatikan gaya bahasanya—tulisannya. Aku tertarik untuk semakin mendalami cara menulis yang baik. Ejaan demi ejaan pun kucoba untuk pahami. Oh, ternyata begitu toh. Aku sangat bisa belajar sendiri. Lagipula, aku kan ingin menerbitkan buku. Tapi bukan novel yang berbau teenlit—sama sekali bukan. Aku ingin menjadi penulis dakwah.

Selang beberapa jam terlewati, akhirnya dosen mengakhiri perkuliahan. Aku senang bukan main. Akhirnya aku bisa lebih fokus membaca buku ini. Mungkin aku dibilang sombong oleh beberapa orang, atau jutek. Aku hanya berjalan sambil mendekap buku Kang Abik di dada. Dan pandanganku tidak lurus. Sesekali menunduk—justru lebih banyak menunduk. Takut-takut aku terpeleset karena tidak memperhatikan jalan, mungkin begitu kata orang. Atau sesungguhnya, aku terlalu takut memperhatikan orang banyak yang matanya terkadang picik. Apalagi kaum Adam. 

Sepulangnya dari kampus, aku kembali menelusuri jalan yang sama seperti aku berangkat tadi. Doaku dalam hati, semoga aku dipertemukan dengan ibu berkerudung hitam yang kucari-cari sebelumnya. Subhanallah. Ibu tersebut dari kejauhan sudah melihatku. Aku sontak mendekatinya perlahan. Aku tersenyum. Siratan senyuman ibu itu juga sangat membuatku damai. Aku senang sekali berbagi seperti ini. Kukepalkan tangan yang berisi uang lembar yang kupunya, kemudian kusalami ibu tersebut dan memberikannya dengan cepat. Ibu tersebut berucap syukur, lagi dan lagi—beliau terus tersenyum sambil membuka bibirnya yang sedikit kaku seperti tidak tersentuh air putih seharian. Kemudian giginya yang mulai rusak dan menguning membuatku menangis kecil mengiba kepadanya. Jilbabnya tetap berwarna hitam, sedikit kusam. Andaikan aku mampu membelikannya yang baru. Tapi, kurasa itu bukan hanya sekadar kata ‘andai’. Tapi aku bisa. Aku sangat bisa. Mungkin ibu tersebut membutuhkan jilbab yang baru. Begitu hatiku berkata-kata, ibu tersebut bertanya, “Mau pulang, Nak?” sambil menyiratkan rasa haru aku membalas, “Iya, Bu. Aku habis kuliah.” lalu beliau menyahut, “Subhanallah. Semoga kamu cepat lulus kuliah ya Nak. Rezekinya mengalir, urusannya lancar. Ibu doain.” ucapnya lirih.


Laa haulaa wa laa quwwata illaa billah. Subhanallah. Subhanallah.


Hatiku lagi-lagi mengais. Menangis dan menangis lagi. Ibu tersebut tetap pada kesederhanaannya. Tetapi beliau mendoakanku. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang Allah berikan ketika kami dipertemukan. Aku pun mendoakan yang sama. Semoga menjadi berkah, Insya Allah.

Ini yang dinamakan keindahan berbagi. Besok sudah Jum’at. Dan aku sangat suka hari penuh berkah itu. Hari di mana semua manusia akan merasakan Kiamat. Hari yang pasti akan terjadi—walau hanya Allah yang tahu. Hari di mana semua doa ‘kan terkabulkan. Hari di mana kita berlomba-lomba untuk perbanyak shalawat kepada Baginda Rasulullah. Hari di mana aku mendambakan seorang lelaki shaleh yang ‘kan datang seiring cintanya yang deras kepada Allah dan Nabi Muhammad. Aku pun bermimpi lelaki itu datang pada hari Jum’at.

Aku terus menelusuri jalan untuk menunggu bus. Sembari menunggu, aku kembali membuka slide lock hp-ku untuk membaca Al-Qur’an di aplikasi iQur’an. Kusentuh layarnya hingga muncul Surah Ash-Shaff. Sambil terus berdzikir dalam hati, kuutarakan rasa rinduku untuk Rasulullah kepada malaikat-malaikat yang menjagaku. Selepas memberikan salam kepada ibu tadi dan berpamit pulang, aku mencoba menegadahkan tangan, berdoa untuk beliau. Kemudian dilanjutkan dengan shalawat. Indah, sangat indah. Hatiku seketika adem. Memang sebenarnya cuaca siang tadi sangat panas. Tapi tak kurasakan sedikit pun terik matahari yang menyengat. Kalau memperhatikan orang-orang, mereka lebih senang sibuk dengan ponsel keren mereka untuk bermain games atau update their  status di Twitter. Sedangkan tak satu pun tergerak untuk membuka aplikasi Al-Qur’an. Jangankan membaca Al-Qur’an di hp, men-download aplikasinya saja tidak. Mungkin mereka kira membaca Al-Qur’an hanya bisa ketika seusai shalat dan pada saat memakai mukena. Atau ketika sudah berwudhu, atau ketika duduk di atas sajadah, atau ketika sedang menyentuh mushaf Al-Qur’an. Tidak. Tidak seperti itu. Dalam keadaan di perjalanan pun kita dapat membaca Al-Qur’an—atau sekadar mendengarkan murratalnya saja deh. Apa masih tidak sanggup? 

Aku mengiyakan diriku yang berpendapat “Al-Qur’an untuk di mana pun.” Kemudian kurogoh saku tas untuk mencari headset. Seusai membaca Surah Ash-Shaff, kebetulan busnya datang. Aku memulai ta’awudz dan basmalah. Lalu kupasangkan headset tersebut ke kedua telingaku. Semilir angin bertiup seketika. Aku memejamkan mata. Sungguh nikmat. Indahnya mendengarkan alunan ayat-ayat suci. Aku jadi teringat salah satu scene yang ada di novel Kang Abik.

“Maria lalu melantunkan Surah Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu membaca ta’awudz dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Qur’an.”

Maria sangat tertarik dengan Al-Qur’an. Ia mengakui keindahan Al-Qur’an. Walau hanya cerita rekaan, pernahkan kita berpikir sedikit saja tentang hal ini? Coba bayangkan, seorang non-muslim saja mengatakan bahwa Al-Qur’an itu sangat indah. Kata-kata yang terucapkan dari bibir mereka yang menyebut ayat-ayat suci tersebut terasa sangat menyejukkan hati. Tidak bisa disamakan dengan syair. Bahkan beberapa waktu lalu aku sempat mencoba diriku mengaji sambil membuatnya seperti nyanyian. Pada Surah Al-Fajr aku mencoba membuat recition. Nafasku yang cukup pendek tak membuatku menyerah untuk melantunkan ayat suci dengan tajwid yang tepat. Aku menangis kecil mendengarnya. Bulu kudukku merinding. Itu baru suaraku. Bagaimana jika aku mendengarkan sahabat Nabi membacakan Al-Qur’an? Sebut saja, Khalifah Umar bin Khattab. Masya Allah!

Ya, selama di bus, aku berusaha untuk terus membaca Al-Qur’an walau dengan lirih. Aku yakin, malaikat yang berada tepat di sebelah kananku tersenyum mendengarnya. Maafkan jika aku belum fasih dan lancar membacanya. Aku pun sedang giat dan menekuni untuk membaca Al-Qur’an dengan baik. Dibantu Bu Sati, guru mengajiku, aku banyak mendapatkan hikmah luar biasa setelah sebulan mengaji dan mencoba menghafalkan Al-Qur’an. Aku tidak ingin menyia-nyiakan masa mudaku begitu saja. Al-Qur’an yang kugenggam bukan hanya sekadar bacaan. Tapi pedoman. Aku sangat berharap semua teman-temanku mampu mendalaminya seperti para santri yang kutemui di Bogor. Mereka masih belasan tahun, tapi semangat menghafal Al-Qur’an sangatlah besar. 

Sampai tiba di dekat rumah, aku mencoba membaca Surah Ash-Shaff tanpa melihat bacaannya. Aku sedang mencoba menghafal. Sabtu ini aku akan menyetor beberapa ayat kepada Ustadz di AQL. Begitupun teman-teman Daurah lainnya. Mereka ada yang sudah hafal 14 ayat. Subhanallah. Aku masih jauh. Jika sudah mampu menghafalnya, kami akan coba untuk mengkaji dan mentadabburinya. Insya Allah, semoga Allah memperkenankan ini sebagai amal ibadah dan tabungan kami di Akhirat.

Alhamdulillahirabbil’alamin. Semoga cerita ini bermanfaat untuk kalian yang membacanya.

Bacalah Al-Qur’an, dan jangan tinggalkan sunnah lainnya. Berbagilah dengan orang yang tidak mampu—walau hanya memberikan seratus rupiah. Anggap saja kita sedang menabung. Dan tabungan itu kita simpan untuk kehidupan kita di Akhirat kelak. Allah yang akan menjadi saksinya. Jangan takut harta kita ‘kan habis. Karena itu berada dalam jaminan-Nya.

No comments:

Post a Comment