Visitor

Saturday, October 12, 2013

mencoba tadabbur



“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biar pun sebesar zarrah (atom) di bumi maupun langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak ada yang lebih besar dari itu melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauhul Mahfudz)”
(QS. Yunus [10]: 61)
 

Pernahkah kita terbayang bahwa Allah selalu mengawasi kita?

Mungkin sebagian dari kita ada yang pernah merasakan seperti ini. Namanya adalah sikap ihsan. Bahkan seorang yang memiliki kegetaran hati ketika bersujud kepada-Nya—ia selalu merasa Allah berada tepat di hadapannya. Coba tengok ke kita, apakah pada saat kita shalat kita turut merasakan getaran itu? Jangankan getaran, fokus pada bacaan saja tidak. Bagaimana kita mau “merasakan kehadiran” Allah?

Sungguh. Allah tidak pernah jauh dari kita. Bahkan sangat dekat. Sangat dekat sekali. Ada yang masih ingat di surah apa dekatnya Allah dengan kita itu?


“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
(Surah Qaf [50]: 16)


Nah, itu sudah benar-benar membuktikan bukan bahwa Allah lebih dekat dengan kita daripada urat leher kita sendiri. Bayangkan, kita merasa menyatu dengan tubuh kita saja masih disebut-sebut adalagi yang lebih dekat. Allah. Sebutlah nama-Nya. Berdzikirlah kepada-Nya. Masih banyak sekali kesalahan yang kita perbuat. Masih banyak sekali teman-teman kita yang jarang berinteraksi dengan Al-Qur’an. Masih banyak sekali saudara-saudara kita yang menghiraukan suara adzan. Innalillah, padahal Allah selalu memperhatikan kita. Allah tuh perhatian banget loh. Kalau Allah sayang sama hamba-Nya, pasti ditegur. Kalau Allah cinta sama hamba-Nya, pasti dikasih ujian. Kitanya saja yang selalu mengeluh. Padahal Allah perhatian banget sama kita. Coba kalau Allah tidak perhatian atau tidak peduli, Allah pasti akan membiarkan kita maksiat terus jalan, tidak ditegur, dan dibiarkan begitu terus sampai tiba waktunya kita diseret ke neraka. Naudzubillah!

Mari teman-teman, mulailah merasakan kehadiran Allah di setiap perjalanan hidup kita. Memang kita tidak dapat melihatnya secara kasat mata. Tapi Allah sungguh ada. Apa buktinya? Lihatlah sekelilingmu. Adakah yang membuat hatimu menangis bergetar melihat semua hasil ciptaan-Nya? Tidakkah kau menyadari bumi dan langit ini milik Allah?


Tuhan itu ada.
Jangan kau anggap tidak hidup.
Tuhan itu tidak pernah tidur.
Dia selalu mengawasi kita.
Jangan mencoba lalai.
Karena ‘kan tiba saatnya Hari Perhitungan.
Di mana semua manusia akan ditimbang amal baik dan buruknya.
Dan semoga kita termasuk dalam golongan kanan.


No comments:

Post a Comment