Visitor

Sunday, September 29, 2013

Cerita Tentang Sedekah Part 2

27 September 2013.


Assalamu'alaikum.

Bagaimana kabar kalian? Alhamdulillah aku baik. Ingin cerita sedikit ya tentang beberapa hari yang baru saja kulewati. 

Hari itu hari Jum'at. Aku berencana untuk ke kampus karena ada beberapa teman yang menitipkan kerudungnya untuk mereka beli. Aku menjualnya untuk menyedekahkan. Dan temanku itu meminta aku untuk datang ke kampus hari Jum'at. Begitu aku sampai di sana, aku sempat mengobrol sedikit dan berterimakasih kepada mereka. Seusainya aku pulang, tapi sepertinya aku tidak sungguhan pulang. Aku sempat berpikir untuk mencari teori yang kubutuhkan untuk skripsi di Perpustakaan UI.

FIB UI.
Aku langsung meluncurkan diri di Fakultas Sastra. Tetapi aku tersasar. Sepertinya aku hanya hapal rute ke FE deh, hehehe. Dan ini merupakan kali pertamanya aku memutari seisi FIB. Aku juga bertemu dengan gedung-gedung asing yang banyak. Aku segera mencari mushola. Rasa-rasanya aku ingin segera shalat di mushola FIB. Sekitar 10 menit lebih aku hanya berputar di tempat yang sama. Aku bingung, bagaimana ini. Di mana musholanya?

Akhirnya kuberanikan diri untuk bertanya ke mbak-mbak yang lagi bersih-bersih. Sampailah aku di mushola dan aku menyegerakan shalat Dzuhur. Cukup lama aku di sana dan tiba-tiba saja ada seorang ibu-ibu yang menyapaku dengan salam. "Assalamualaikum, dek." kemudian aku membalas, "Waalaikumussalam bu." jawabku.

Ibu tersebut menanyakan tentang Rohis FIB. Jujur saja aku kaget, aku bukan anak UI. Tetapi ibu itu malah mengiraku anak UI. Beliau cerita banyak padaku. Ia juga mengatakan biasanya ia mendatangi ketua Rohis FIB untuk memberikan bantuan kepadanya. Dan kali ini, ia begitu yakin untuk menghadapku. Katanya, tiba-tiba saja hatinya itu bergerak untuk membicarakan ini kepadaku. Aku gemetar, haru biru. Kemudian ibu ini juga memperkenalkan diri, namanya Bu Eni--namanya sama kayak nama Mama. Dan aku amat bahagia seusai aku shalat tadi, aku berdoa agar Allah mempertemukanku dengan orang yang membutuhkan bantuanku. Karena Alhamdulillah, uang yang sudah kukumpulkan dari hasil berjualan sekiranya cukup. Dan inilah doa yang terjawab. Ibu tersebut menangis karena sesungguhnya ia merasa sangat sedih harus meminta kepada orang lain. Tapi, mungkin ini sudah jalannya. Aku hanya berkata, "Ibu, Allah yang izinkan kita bertemu di sini. Ibu juga datangi saya karena Allah yang bisikkan ke hati ibu untuk bicarakan ini pada saya. Tapi maaf, saya tidak punya uang yang banyak. Mungkin hanya ini yang bisa saya berikan. Saya pun senang dapat membantu ibu. Saya merasa ini sudah lebih dari cukup. Semoga, ibu diberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi segala cobaan Allah. Semoga ini dapat membantu ibu melunasi biaya sekolah anak ibu ya." kuserahkan semua uangku yang ada di dompet dan kusisakan hanya beberapa ribu rupiah saja untuk ongkos pulang. Ibu tersebut lagi-lagi menangis haru dan langsung menengadahkan tangannya seraya berdoa kepada Allah untukku. Beliau juga berdoa agar aku bisa cepat lulus kuliah, kerja, rezekinya banyak, sidangnya pun diberi kemudahan, juga mengerjakan skripsinya tidak dibuat rumit. Ibu itu berdoa seperti itu. Aku pun merinding mendengarnya. Ibu tersebut mengeluarkan beberapa lembaran kertas, mulai dari KTP, surat tidak mampu, surat mengajukan ketidaksanggupan membayar uang sekolah, dan daftar biaya yang harus ditanggung orangtua pada sekolah anaknya. Ibu itu bercerita juga bahwa ia memiliki tiga anak yang masih kecil-kecil. Beliau bilang, sepulangnya nanti di rumah, ketiga anaknya akan diminta untuk mendoakan aku. Aku pun memberitahukan namaku, "Namaku Okta, bu." sambil tersenyum ibu tersebut menyalami tanganku. Subhanallah. Hari yang baik, dan juga hikmah yang datang kepada kami.

Aku pun berpamitan pada ibu itu karena aku harus pergi ke Perpustakaan. Kami berpisah di sana. Aku salami lagi ibu itu. Lagi-lagi, beliau berdoa dan berterimakasih kepadaku. Sungguh, ini adalah kebahagiaan berbagi. Aku amat amat amat terharu dapat bertemu dengan ibu tersebut. 

Tapi begitu aku memutari seisi Perpustakaan, aku seperti bingung untuk mencari apa. Sepertinya aku 'tersasar' lagi. Dan aku tahu, mungkin lain waktu aku harus membawa satu orang temanku yang cukup paham untuk mencari buku atau artikel di sana. Aku tidak menyita waktuku sia-sia. Sebaiknya aku segera pulang karena sudah tidak ada lagi yang dicari. Dan begitu aku sampai di stasiun, aku harus membayar Rp,8000 untuk tiket kereta. Sedangkan tiket tersebut sudah kubayar di Stasiun Cawang dengan harga yang sama. Aku bingung, katanya begitu sampai di stasiun tujuan, kita bisa menukarkan uang kembalinya di sana. Karena aku hanya punya Rp,2000 saja, aku terpaksa meminta kembali di stasiun itu. Akhirnya aku pulang dengan Rp,7000. Kutanya beberapa orang di sana bagaimana caranya aku bisa ke halte Transjakarta terdekat. Karena aku punya e-ticket, aku tidak perlu mengeluarkan ongkos lagi. Dan aku pun berjalan cukup jauh menuju jalanan besar ke Margonda. Aku buta Jakarta, apalagi Depok. Tapi aku berprinsip, Allah pasti bantu aku. 

Aku naik angkutan kecil berwarna biru dan menghabiskan Rp,4000. Aku juga memperhatikan jalanan dan aku melihat ada satu gedung Universitas Gunadarma, Depok. Oh, aku baru tahu kalau gundar ada di Depok. Akhirnya aku turun dan sampai di Pasar Rebo. Aku sudah kenal jalanan ini. Ini adalah daerah rumah kakak. Aku pun segera naik ke Transjakarta jurusan Cawang. Aku turun di BNN, dan transit ke Cawang-Ciliwung. Sudah waktunya shalat Ashar, dan aku mencari mushola terdekat. Seusai aku shalat, aku menyisihkan uangku lagi untuk membeli minuman air putih Rp,1000 untuk aku berbuka puasa. (Oh ya, aku sedang puasa Daud, hehe) dan sisanya Rp,2000 kumasukkan ke kotak tabungan (re: amal jariyah). Ya, dan aku pulang dengan Rp,0. Bahagianya. Semua yang kujalani hari ini begitu membuatku bersyukur. Aku semangat dan merasa sehat. Apalagi setelah pulang dan Mama memintaku untuk shalat Maghrib baru setelahnya makan malam. Alhamdulillah, siapa bilang berjalan-jalan sendiri itu tidak menyenangkan? Mungkin lain kali aku akan berjalan-jalan seperti itu lagi. Tapi ada satu hal yang harus diperhatikan: pulang ke rumah sebelum matahari terbenam. Itu pesan kakak.

Ya, akan kuusahakan. Aku pun tidak akan bepergian (safar) jika tidak benar-benar perlu.




Wassalamualaikum.

No comments:

Post a Comment