Visitor

Wednesday, June 12, 2013

Pendamping Hidup Orang Shalih

Abu Muslim Al-Khulaniyah adalah tokoh Tabi’in asal Yaman. Yang telah memeluk Islam saat Rasulullah masih hidup. Namun belum sempat bertemu Rasulullah, keluasan ilmu, keshalihan, ketaatan dan kezuhudan Abu Muslim telah mengharumkan namanya. Kasih sayang Allah pun melimpah padanya. Hingga doa-doanya dikabulkan Allah. Beberapa kisah tentang karamah yang dimilikinya dikenang orang. Salah satunya kisah Abu Muslim yang tidak terbakar api. Sebagaimana Nabi Ibrahim, ketika seorang nabi palsu bernama Aswad Al-Anasi melemparkan Abu Muslim kedalam kobaran api karena dia tidak mau mengakui kenabian Aswad. Bersama suami yang shalih inilah Ummu Muslim hidup di Damaskus. Tidak ada catatan tentang nama aslinya. Ia hanya dikenal sebagai Ummu Al-Khulaniyah, merujuk nama suaminya. Ummu Muslim mendampingi suaminya dalam kebersahajaan. Namun, ia tak mau berpangku tangan. Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Rasulullah, maka ia menjawab, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim). Ia memanfaatkan keterampilannya memintal benang dan menenun kain untuk mendapatkan uang guna makanan bagi keluarganya.

Suatu hari, Ummu Muslim memberikan uang satu dirham dari hasil kerjanya kepada suaminya untuk dibelikan tepung. Tepung itu akan diolahnya menjadi roti. Abu Muslim pergi ke pasar dengan membawa kantong tepung. Namun, seorang pengemis meminta sedekah darinya. Abu Muslim menolak dengan halus karena yang dimilikinya hanyalah uang titipan sang istri. Pengemis itu terus mengikutinya hingga akhirnya Abu Muslim memberikan uang istrinya kepada pengemis itu. Tidak tahu harus berkata apa pada istri, ia memasukkan serbuk kayu bekas serutan dan debu ke dalam kantong tepung. Dan ia meletakkannya begitu saja di meja makan lalu pergi. Saat membuka kantong tersebut, Ummu Muslim malah mendapati tepung gandum yang sangat putih. Ia pun membuat roti untuk makan malam suaminya. Abu Muslim heran dan menanyakan asal tepung yang dibuat roti itu. Istrinya menjawab bahwa tepung itulah yang dibawanya tadi siang. Abu Muslim menyantap roti tersebut sambil menangis haru. Karena besarnya kasih sayang Allah kepadanya, Ummu Muslim terus belajar bertawakal kepada Allah. Ia belajar bagaimana suaminya hanya meminta kepada Allah, bukan kepada yang lain. Padahal saat itu ia kenal baik dengan khalifah Muawiyah yang akan memberikan apapun yang dimintanya berkali-kali. Ummu Muslim mendapati bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang meminta kepada-Nya, sebagaimana dicontohkan Abu Muslim. Setelah Abu Muslim wafat, Ummu Muslim menikah dengan Amr bin Abd Al-Khulani yang juga orang shalih. Dan tidak ada catatan tentang akhir hidup perempuan shalih ini. Demikianlah kisah Abu Muslim dan Ummu Muslim. Semoga cerita ini dapat membuat mata hati kita terbuka bahwa pertolongan Allah itu nyata :)

source: @TeladanRasul

No comments:

Post a Comment