Visitor

Tuesday, June 11, 2013

Mengapa Aku Harus Mencintaimu?

Artikel ini kukutip berdasarkan alamat web yang kutemui beberapa menit lalu. Ceritanya sungguh menarik. Hanya saja, aku akan memberikan sedikit komentar di bagian akhir paragraf. Semoga bermanfaat :)

Kamis, 6 Jumadil Akhir 1434 H/3 Mei 2012 19:40
(Arrahman.com) – Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.

Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.

Mereka, orangtuanya telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.

Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan
“Dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis yang relijius dan mengamalkan agamanya. Pada malam itu, si pemuda dan seorang gadis yang dibawa orangtuanya, dibiarkan untuk berbicara, dan saling menanyakan pertanyaan satu sama lain.

Pemuda tampan itu mengizinkan gadis itu untuk bertanya terlebih dahulu.

Gadis itu menanyakan banyak pertanyaan terhadap pemuda itu. Dia menanyakan tentang kehidupan pemuda itu, pendidikannya, teman-temannya, keluarganya, kebiasaannya, hobinya, gaya hidupnya, apa yang ia sukai, masa lalunya, pengalamannya, bahkan ukuran sepatunya.

Si pemuda tampan menjawab semua pertanyaan gadis itu tanpa terlihat lelah dan sangat sopan. Tidak terasa waktu sudah berjalan hampir satu jam mereka bercakap-cakap. Dan kemudian si gadis meminta pemuda itu untuk bertanya pada dirinya.

Pemuda itu mengatakan akan memberikan tiga pertanyaan kepadanya.

Pertanyaan 1:
Pemuda: “Siapakah yang paling kamu cintai di dunia ini?”
Gadis: “Ini adalah pertanyaan mudah, Ibuku.”

Pertanyaan 2:
Pemuda: “Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surah mana yang kamu ketahui artinya?”
Gadis: “Aku belum tahu artinya sama sekali. Tetapi aku berharap akan segera mengetahuinya Insya Allah, aku hanya sedikit sibuk.”

Pertanyaan 3:
Pemuda: “Saya telah dilamar untuk menikah dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik daripada dirimu. Mengapa saya harus menikahimu?”
Gadis: Ia tidak menjawab. Justru ia merasa tersinggung dan marah. Lalu ia memberitahu orangtuanya dan tidak ingin menikahi pria ini.

Dan akhirnya orangtua si pemuda sekali lagi tidak mencapai kesepakatan untuk menikah. Kali ini orangtua si pemuda sangat marah dan mengatakan, “Mengapa kamu membuat marah gadis itu? Padahal keluarganya sangat baik, mengerti agama, relijius dan menyenangkan. Mengapa kamu bertanya seperti itu padanya? Beritahu kami!”

Pemuda itu hanya mengatakan, “Pertama aku hanya bertanya padanya, siapa yang paling ia cintai? Lalu ia menjawab, ibunya.”

Orangtuanya berkata, “Apa yang salah dengan itu?”

Si pemuda menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim hingga dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi siapapun di dunia ini. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi lebih dari siapapun, ia akan senantiasa mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku. Karena cinta itu dan ketakutannya kepada Allah akan menjadikan cinta itu lebih suci. Dan cinta bukan tentang nafsu dan kecantikan.”

Orangtuanya diam mendengarkan.

“Kemudian aku bertanya, bisakah kau beritahu salah satu surah yang sudah diketahui artinya? Dan dia mengatakan tidak karena belum memiliki waktu. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa aku harus menikah dengan wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya? Dan apa yang akan ia ajarkan kepada anak-anakku kelak? Dan seorang wanita yang mengatakan tidak memiliki waktu untuk Allah, berarti ia juga tidak memiliki waktu untuk suaminya.”

“Pertanyaan ketiga yang aku tanyakan padanya, bahwa banyak gadis yang lebih cantik darinya yang telah melamarku untuk menikahinya. Mengapa aku harus memilihmu? Itulah mengapa ia mengadu dan marah. Nabi Muhammad SAW mengatakan ‘jangan marah, jangan marah, jangan marah’ ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan itu datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya kepada orang asing yang baru ia kenal, bagaimana ia dapat mengontrol kemarahannya terhadap suaminya?”

Pelajaran akhlak dari kisah tersebut adalah, pernikahan berdasarkan:

1.       Ilmu, bukan hanya penampilan luar (kecantikan).
2.       Amal, bukan hanya berceramah atau bukan hanya membaca.
3.       Mudah memaafkan, tidak mudah marah.
4.       Ketaatan/ketundukan/keshalihan, bukan sekedar nafsu

Dan memilih pasangan yang seharusnya:

1.       Mencintai Allah dan Rasul lebih dari segalanya.
2.       Memiliki ilmu Islam dan beramal shalih.
3.       Dapat mengontrol kemarahan.
4.       Mudah diajak bermusyawarah sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam.

Baiklah, aku akan mulai mengomentari beberapa hal di artikel ini. Sungguh, pada awalnya, aku tidak mengetahui mengapa aku sering mendapatkan suatu cerita di dunia maya tentang Islam. Bukan hanya pernikahan, tapi juga tentang cerita-cerita Nabi, ketaatan kepada orangtua, dan beberapa cerita menarik lainnya. Allah yang menggerakkan hati ini untuk terus mencari ilmu. Aku menyadari begitu banyak aku tidak berpengetahuan tentang agama. Dan bersama kakaklah, Alhamdulillah, kami bisa banyak belajar dan saling memperbaiki diri.

Pertama, aku sangat suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu kepada si gadis. Dan aku sudah bisa menduga jawabannya. Karena begitu pun yang pernah kualami ketika aku menjawab pertanyaan kakak bahwa aku belum bisa mengartikan do’a-do’a yang biasa kupanjatkan dengan bahasa Arab. Bukan tentang menghapal atau khatam dengan cepat. Allah tidak meminta kita untuk menghapal seluruh isi Al-Qu’ran. Tetapi Allah lebih menyukai umat-umat-Nya yang dengan sabar dan ikhlas mempelajari kandungan Al-Qur’an beserta artinya. Dan ini yang ditegaskan, bukan hanya sekedar membaca, tetapi dipahami artinya. Dan lebih baik lagi jika diamalkan di kehidupan sehari-hari.

Terakhir, pemuda tersebut terlihat sangat ingin memiliki pasangan yang sempurna agamanya. Dan memang benar, jika seorang wanita tidak memiliki cinta utama kepada Allah, bagaimana bisa wanita itu mencintai suaminya? Semua itu akan menjadi nafsu saja. Banyak sekali kejadian seperti itu. Mereka yang menikah karena harta, warisan, atau karena saling tertarik saja belum tentu cinta pertamanya kepada Allah. Itulah garis besar yang membedakan antara cinta dan nafsu.

Pertanyaanku adalah, apakah seorang pria yang shalih akan mencari wanita dengan kesempurnaan agama? Atau ia akan mencari wanita yang hancur masa lalunya, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Justru, dengan ‘kehancuran’ tersebut, mereka bisa sama-sama membangun cinta yang suci, berpegangan dengan Al-Qur’an dan Hadist, dan percaya pada petunjuk Allah, serta menjalani kehidupan dengan prinsip, ‘yang kemudian itu lebih baik’. Bagaimana menurutmu? :)

No comments:

Post a Comment