Visitor

Thursday, June 20, 2013

quote of the day



Blaming Allah for your problems is like slapping away the hand of someone trying to help you up.

Sunday, June 16, 2013

:)


“Ada tiga golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya”. (HR. Ahmad 2:251, Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits No. 2518, dan Hakim 2:160)

Saturday, June 15, 2013

Subhanallah :)

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Siang ini, aku dan mama berbagi ayat. Keindahan ayat-ayat suci Al-Qur'an membuat aku dan mama begitu sejuk hatinya. Aku meminta mama untuk membacakan beberapa surah pendek untukku. Sekali pun mama mengaku belum hapal banyak, tapi aku membantu hingga mama menyelesaikannya dengan baik. Aku berkata, bahwa setiap surah yang dibacakan karena Allah, Insya Allah itu tidak akan membuat kita lemah, justru akan menjadi kuat. Mama memintaku untuk menuliskannya dengan tulisan yang besar, agar bisa dihapal. Subhanallah, bahkan itu baru dari sebagian ayat suci Al-Qur'an yang kami bacakan, bagaimana jika seluruhnya?

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Thursday, June 13, 2013

Acceptance in Relationship


Some people agreed that relationship needs understanding each other. Some needs candidate who is good with their religion, some needs material and money, some needs perfection, some needs a beauty like their first priority, and how many people agreed that Love doesn't need any, but One is Allah SWT to be loved and forever.

 

Wednesday, June 12, 2013

Pendamping Hidup Orang Shalih

Abu Muslim Al-Khulaniyah adalah tokoh Tabi’in asal Yaman. Yang telah memeluk Islam saat Rasulullah masih hidup. Namun belum sempat bertemu Rasulullah, keluasan ilmu, keshalihan, ketaatan dan kezuhudan Abu Muslim telah mengharumkan namanya. Kasih sayang Allah pun melimpah padanya. Hingga doa-doanya dikabulkan Allah. Beberapa kisah tentang karamah yang dimilikinya dikenang orang. Salah satunya kisah Abu Muslim yang tidak terbakar api. Sebagaimana Nabi Ibrahim, ketika seorang nabi palsu bernama Aswad Al-Anasi melemparkan Abu Muslim kedalam kobaran api karena dia tidak mau mengakui kenabian Aswad. Bersama suami yang shalih inilah Ummu Muslim hidup di Damaskus. Tidak ada catatan tentang nama aslinya. Ia hanya dikenal sebagai Ummu Al-Khulaniyah, merujuk nama suaminya. Ummu Muslim mendampingi suaminya dalam kebersahajaan. Namun, ia tak mau berpangku tangan. Ketika Aisyah RA ditanya tentang akhlak Rasulullah, maka ia menjawab, “Akhlaknya adalah Al-Qur’an.” (HR. Abu Dawud dan Muslim). Ia memanfaatkan keterampilannya memintal benang dan menenun kain untuk mendapatkan uang guna makanan bagi keluarganya.

Suatu hari, Ummu Muslim memberikan uang satu dirham dari hasil kerjanya kepada suaminya untuk dibelikan tepung. Tepung itu akan diolahnya menjadi roti. Abu Muslim pergi ke pasar dengan membawa kantong tepung. Namun, seorang pengemis meminta sedekah darinya. Abu Muslim menolak dengan halus karena yang dimilikinya hanyalah uang titipan sang istri. Pengemis itu terus mengikutinya hingga akhirnya Abu Muslim memberikan uang istrinya kepada pengemis itu. Tidak tahu harus berkata apa pada istri, ia memasukkan serbuk kayu bekas serutan dan debu ke dalam kantong tepung. Dan ia meletakkannya begitu saja di meja makan lalu pergi. Saat membuka kantong tersebut, Ummu Muslim malah mendapati tepung gandum yang sangat putih. Ia pun membuat roti untuk makan malam suaminya. Abu Muslim heran dan menanyakan asal tepung yang dibuat roti itu. Istrinya menjawab bahwa tepung itulah yang dibawanya tadi siang. Abu Muslim menyantap roti tersebut sambil menangis haru. Karena besarnya kasih sayang Allah kepadanya, Ummu Muslim terus belajar bertawakal kepada Allah. Ia belajar bagaimana suaminya hanya meminta kepada Allah, bukan kepada yang lain. Padahal saat itu ia kenal baik dengan khalifah Muawiyah yang akan memberikan apapun yang dimintanya berkali-kali. Ummu Muslim mendapati bahwa Allah tidak pernah mengecewakan hamba yang meminta kepada-Nya, sebagaimana dicontohkan Abu Muslim. Setelah Abu Muslim wafat, Ummu Muslim menikah dengan Amr bin Abd Al-Khulani yang juga orang shalih. Dan tidak ada catatan tentang akhir hidup perempuan shalih ini. Demikianlah kisah Abu Muslim dan Ummu Muslim. Semoga cerita ini dapat membuat mata hati kita terbuka bahwa pertolongan Allah itu nyata :)

source: @TeladanRasul

Tuesday, June 11, 2013

awaiting post :)


UAS week always made my mood up. Yeay! Alhamdulillah, with bismillah before doing something, you'll get better than you say nothing to Allah. I actually need 1 hour to write some story 'bout yesterday. Yes, I met my brother and we have quality timeeeeeee like one year ago x) I never been happier like this before. Seeing him straightly with his smiling face, Subhanallah I'm fully happy right now :-)

Well, then, see you tomorrow if I have a chance to write June 10! 


quote of the day


"Astagfirullah for your past. Alhamdulillah for your present. Insya Allah for your future."


Mengapa Aku Harus Mencintaimu?

Artikel ini kukutip berdasarkan alamat web yang kutemui beberapa menit lalu. Ceritanya sungguh menarik. Hanya saja, aku akan memberikan sedikit komentar di bagian akhir paragraf. Semoga bermanfaat :)

Kamis, 6 Jumadil Akhir 1434 H/3 Mei 2012 19:40
(Arrahman.com) – Ini adalah kisah seorang pemuda tampan yang shalih dalam memilih calon istri, kisah ini tak bisa dipastikan fakta atau tidak, namun semoga pelajaran yang ada didalamnya dapat bermanfaat bagi kita semua terutama Muslimah yang belum menikah semoga menjadi renungan.

Ia sangat tampan, taat (shalih), berpendidikan baik, orangtuanya menekannya untuk segera menikah.

Mereka, orangtuanya telah memiliki banyak proposal yang datang, dan dia telah menolaknya semua. Orangtuanya berpikir, mungkin saja ada seseorang yang lain yang berada di pikirannya.

Namun setiap kali orangtuanya membawa seorang wanita ke rumah, pemuda itu selalu mengatakan
“Dia bukanlah orangnya!”

Pemuda itu menginginkan seorang gadis yang relijius dan mempraktekkan agamanya dengan baik (shalihah). Suatu malam, orangtuanya mengatur sebuah pertemuan untuknya, untuk bertemu dengan seorang gadis yang relijius dan mengamalkan agamanya. Pada malam itu, si pemuda dan seorang gadis yang dibawa orangtuanya, dibiarkan untuk berbicara, dan saling menanyakan pertanyaan satu sama lain.

Pemuda tampan itu mengizinkan gadis itu untuk bertanya terlebih dahulu.

Gadis itu menanyakan banyak pertanyaan terhadap pemuda itu. Dia menanyakan tentang kehidupan pemuda itu, pendidikannya, teman-temannya, keluarganya, kebiasaannya, hobinya, gaya hidupnya, apa yang ia sukai, masa lalunya, pengalamannya, bahkan ukuran sepatunya.

Si pemuda tampan menjawab semua pertanyaan gadis itu tanpa terlihat lelah dan sangat sopan. Tidak terasa waktu sudah berjalan hampir satu jam mereka bercakap-cakap. Dan kemudian si gadis meminta pemuda itu untuk bertanya pada dirinya.

Pemuda itu mengatakan akan memberikan tiga pertanyaan kepadanya.

Pertanyaan 1:
Pemuda: “Siapakah yang paling kamu cintai di dunia ini?”
Gadis: “Ini adalah pertanyaan mudah, Ibuku.”

Pertanyaan 2:
Pemuda: “Kamu bilang, kamu banyak membaca Al-Qur’an, bisakah kamu memberitahuku surah mana yang kamu ketahui artinya?”
Gadis: “Aku belum tahu artinya sama sekali. Tetapi aku berharap akan segera mengetahuinya Insya Allah, aku hanya sedikit sibuk.”

Pertanyaan 3:
Pemuda: “Saya telah dilamar untuk menikah dengan gadis-gadis yang jauh lebih cantik daripada dirimu. Mengapa saya harus menikahimu?”
Gadis: Ia tidak menjawab. Justru ia merasa tersinggung dan marah. Lalu ia memberitahu orangtuanya dan tidak ingin menikahi pria ini.

Dan akhirnya orangtua si pemuda sekali lagi tidak mencapai kesepakatan untuk menikah. Kali ini orangtua si pemuda sangat marah dan mengatakan, “Mengapa kamu membuat marah gadis itu? Padahal keluarganya sangat baik, mengerti agama, relijius dan menyenangkan. Mengapa kamu bertanya seperti itu padanya? Beritahu kami!”

Pemuda itu hanya mengatakan, “Pertama aku hanya bertanya padanya, siapa yang paling ia cintai? Lalu ia menjawab, ibunya.”

Orangtuanya berkata, “Apa yang salah dengan itu?”

Si pemuda menjawab, “Tidaklah dikatakan Muslim hingga dia mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi siapapun di dunia ini. Jika seorang wanita mencintai Allah dan Nabi lebih dari siapapun, ia akan senantiasa mencintaiku dan menghormatiku, dan tetap setia padaku. Karena cinta itu dan ketakutannya kepada Allah akan menjadikan cinta itu lebih suci. Dan cinta bukan tentang nafsu dan kecantikan.”

Orangtuanya diam mendengarkan.

“Kemudian aku bertanya, bisakah kau beritahu salah satu surah yang sudah diketahui artinya? Dan dia mengatakan tidak karena belum memiliki waktu. Maka aku pikir semua manusia itu mati, kecuali mereka yang memiliki ilmu. Dia telah hidup selama 20 tahun dan tidak menemukan waktu untuk mencari ilmu, mengapa aku harus menikah dengan wanita yang tidak mengetahui hak-hak dan kewajibannya? Dan apa yang akan ia ajarkan kepada anak-anakku kelak? Dan seorang wanita yang mengatakan tidak memiliki waktu untuk Allah, berarti ia juga tidak memiliki waktu untuk suaminya.”

“Pertanyaan ketiga yang aku tanyakan padanya, bahwa banyak gadis yang lebih cantik darinya yang telah melamarku untuk menikahinya. Mengapa aku harus memilihmu? Itulah mengapa ia mengadu dan marah. Nabi Muhammad SAW mengatakan ‘jangan marah, jangan marah, jangan marah’ ketika ditanya bagaimana untuk menjadi shalih, karena kemarahan itu datangnya dari setan. Jika seorang wanita tidak dapat mengontrol kemarahannya kepada orang asing yang baru ia kenal, bagaimana ia dapat mengontrol kemarahannya terhadap suaminya?”

Pelajaran akhlak dari kisah tersebut adalah, pernikahan berdasarkan:

1.       Ilmu, bukan hanya penampilan luar (kecantikan).
2.       Amal, bukan hanya berceramah atau bukan hanya membaca.
3.       Mudah memaafkan, tidak mudah marah.
4.       Ketaatan/ketundukan/keshalihan, bukan sekedar nafsu

Dan memilih pasangan yang seharusnya:

1.       Mencintai Allah dan Rasul lebih dari segalanya.
2.       Memiliki ilmu Islam dan beramal shalih.
3.       Dapat mengontrol kemarahan.
4.       Mudah diajak bermusyawarah sesuai dengan ketentuan Syari’at Islam.

Baiklah, aku akan mulai mengomentari beberapa hal di artikel ini. Sungguh, pada awalnya, aku tidak mengetahui mengapa aku sering mendapatkan suatu cerita di dunia maya tentang Islam. Bukan hanya pernikahan, tapi juga tentang cerita-cerita Nabi, ketaatan kepada orangtua, dan beberapa cerita menarik lainnya. Allah yang menggerakkan hati ini untuk terus mencari ilmu. Aku menyadari begitu banyak aku tidak berpengetahuan tentang agama. Dan bersama kakaklah, Alhamdulillah, kami bisa banyak belajar dan saling memperbaiki diri.

Pertama, aku sangat suka dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu kepada si gadis. Dan aku sudah bisa menduga jawabannya. Karena begitu pun yang pernah kualami ketika aku menjawab pertanyaan kakak bahwa aku belum bisa mengartikan do’a-do’a yang biasa kupanjatkan dengan bahasa Arab. Bukan tentang menghapal atau khatam dengan cepat. Allah tidak meminta kita untuk menghapal seluruh isi Al-Qu’ran. Tetapi Allah lebih menyukai umat-umat-Nya yang dengan sabar dan ikhlas mempelajari kandungan Al-Qur’an beserta artinya. Dan ini yang ditegaskan, bukan hanya sekedar membaca, tetapi dipahami artinya. Dan lebih baik lagi jika diamalkan di kehidupan sehari-hari.

Terakhir, pemuda tersebut terlihat sangat ingin memiliki pasangan yang sempurna agamanya. Dan memang benar, jika seorang wanita tidak memiliki cinta utama kepada Allah, bagaimana bisa wanita itu mencintai suaminya? Semua itu akan menjadi nafsu saja. Banyak sekali kejadian seperti itu. Mereka yang menikah karena harta, warisan, atau karena saling tertarik saja belum tentu cinta pertamanya kepada Allah. Itulah garis besar yang membedakan antara cinta dan nafsu.

Pertanyaanku adalah, apakah seorang pria yang shalih akan mencari wanita dengan kesempurnaan agama? Atau ia akan mencari wanita yang hancur masa lalunya, tetapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Justru, dengan ‘kehancuran’ tersebut, mereka bisa sama-sama membangun cinta yang suci, berpegangan dengan Al-Qur’an dan Hadist, dan percaya pada petunjuk Allah, serta menjalani kehidupan dengan prinsip, ‘yang kemudian itu lebih baik’. Bagaimana menurutmu? :)

Saturday, June 8, 2013

25 posts


I already deleted more than 25 posts on my blog today. Ya Allah, so many things in my life has already begun over here. I'm quite happy now, Alhamdulillahi Ya Rabb :-)


quote of the day


"Cukuplah Allah bagimu. Sesungguhnya, tak perlulah takut dengan penilaian manusia. Seburuk apapun engkau dimata mereka, jika Allah melihatmu lain, maka tak perlu ada yang dikhawatirkan." 

Friday, June 7, 2013

College Life

Task, final test, deadline, doing homework, what else? What else? What makes you think that college life is just for form's sake. I didn't agree with that. What I want to do is just because Allah let me in. Many things in life could make you completed as long as you enjoy your life--or blessing every 'gifts' from Allah. But for me, I feel so completed with this life, even I don't have any stuffs that makes me happy, even I don't have parents anymore, even I don't know who I will married with, even I don't have any friends or colleagues, but you know, Allah never leave you alone. So, from now on, I don't wanna think it over about trouble in life. Enjoy every moment and bless everyday! Alhamdulillah!

Thursday, June 6, 2013

Arti Bacaan Do'a

Hari ini aku sedang berusaha untuk menghapalkan beberapa do'a dan dzikir setelah shalat. Apakah kalian tahu apa arti di balik do'a-do'a yang dipanjatkan dalam shalat? Dulu, aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya membacanya saja. Ya, hanya membacanya. Namun, apalah artinya jika kita hanya ingin cepat-cepat menyudahi shalatnya tanpa mengerti sebenarnya apa yang ada dalam do'a-do'a tersebut. Misalnya, mulai dari bismillah, kemudian Surah Al-Fatihah, bacaan doa iftitah, duduk diantara dua sujud, sampai do'a kedua orangtua dan selamat dunia akhirat. Sedih, kalau hanya bisa shalat tapi tidak memaknai arti do'a-do'a tersebut. Bahkan, rasanya hatiku bergetar saat membaca arti demi arti. Sungguh, sangat dalam dan menyentuh. Aku tidak ingin menggurui siapapun. Tapi aku ingin mengajak bahwa setiap do'a yang kita panjatkan dalam bahasa Arab sekali pun jika tidak tahu artinya, lalu bagaimana kita bisa mengkhusyukkan diri? Banyak sekali rupanya yang mengaku, ya hanya shalat saja, tidak tahu artinya, kan yang penting shalat. Begitukah adanya?

Aku sangat sedih jika memang begitu keadaannya. Setiap orang pasti memiliki kesalahan-kesalahan di masa lalu. Dan bukan bermaksud ingin merubah, tapi lebih kepada memperbaiki kesalahan-kesalahan tersebut. 

Seperti salah satu bacaan do'a yang sedang kuhapalkan.

Allahumma innaa nas aluka salaamatan fiddiin, wa’aafiyatan fil jasadi, wa ziyaadatan fil ilmi, wa barakatan fir rizqi, wa taubatan qablal mauut, wa rahmatan ‘indal mauut, wa magfiratam ba’dal mauut, Allahumma hawwin ‘alainaa fii sakaraatil mauut, wan najaata minan naar, wal’afwa indal hisaab.

Ya Allah, ya Tuhan kami, kami mohon keselamatan agama, kesehatan jasmani, bertambahnya ilmu, dan berkah rezeki, dapat bertaubat sebelum mati, mendapatkan rahmat ketika mati, dan memperoleh ampunan setelah mati. Ya Allah ya Tuhan kami, mudahkanlah kami pada gelombang sakaratul maut. Ya Allah, bebaskanlah kami dari azab neraka, serta memperoleh keampunan ketika dihisab.